
Keras apapun icha berusaha untuk membuat dirinya nyaman di rumah mertuanya. Hal itu justru semakin membuat dia tertekan. Walaupun selama dia berada di sana semua keinginannya di turuti juga Megan yang selalu memberikan perhatiannya layaknya seorang ibu kepada putrinya sendiri. Tetap saja itu tidak akan cukup untuk membuat Icha Beta.
Namun wanita itu tidak pernah mengatakannya, hingga dia harus berakhir di rumah sakit, padahal belum ada tiga bulan dia tinggal di rumah mertuanya.
"Kok, bisa sampai kontraksi, sih Cha." Tanya sang kakak ketika mengunjungi adiknya itu di rumah sakit.
"Maaf ya kak! Soalnya Akhir-akhir ini Icha sedikit mikirin desain baru, aja."Jawabnya berbohong, karena di ruangan itu ada Megan dan Riyadh.
Sedangkan dirinya sudah lama tidak pernah merancang desain baru lagi karena desain yang sebelumnya dia buat Masih sangat di minati dan Mimi maupun Nadia hanya berkerja menggunakan desain yang ada.
Mereka tidak pernah memaksa Icha untuk membuat desain baru, bahkan untuk mengurangi pekerjaan Icha, Nadia dan Mimi sengaja menambah karyawan.
Dan mereka hanya membutuhkan pendapat Icha, Setelah semuanya rampung.
Kedua gadis itu juga memikirkan calon keponakan mereka sehingga mereka tidak ingin merepotkan sahabat mereka, walaupun saat ini perusahaan kecil-kecilan yang mereka bangun sedang dilirik-liriknya, mereka bekerja sama dengan perusahaan Riyadh.
" Astaga Icha-icha kamu ini kok nyesel banget ya! Cuma di suruh istirahat sebentar, apa susahnya sih?" Ucap Rista sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir. " Kamu kekurangan uang?" Icha pun dengan cepat menggeleng kepalanya.
" Kamu nggak bisa di biarkan kaya gini! Syukurnya anak kamu baik-baik saja. Huuuffhh, biar kakak telpon Nadia dan Mimi, kakak akan marahi mereka dan melarang mereka untuk melibatkan kamu dalam pekerjaan sampai anak kamu lahir, kakak nggak mau terjadi sesuatu sama, kamu dan calon keponakan kakak. " Tanpa Menunggu sahutan dari Icha, Rista langsung beranjak dari tempat duduknya, wanita itu melangkah keluar ruangan untuk menghubungi Nadia.
" Kak," Panggil Icha, namun Tidak di hiraukan oleh wanita itu.
Riyadh pun sejak Icha dilarikan ke rumah sakit, pria itu tidak banyak bicara, dia sempat kecewa karena Icha bisa sampai mengalami kontraksi, padahal selama ini dia selalu menahan diri untuk menyentuh Icha, karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya. Bahkan semua keperluan Icha terpenuhi dengan baik. Kerjaannya hanya duduk manis, Rembang dan berjalan. Jika ingin ke bathroom untuk melakukan segala ritual yang berhubungan dengan tempat itu.
Bisa di bilang dia sudah seperti seorang putri di rumah, tapi kenapa? Semua ini bisa terjadi. Dan saat di tanya jawabnya karena pekerjaan, makin kecewa saja Riyadh.
Pria itu tidak sadar, Jika istrinya itu tidak lahir dengan sendok perak seperti dirinya. Dia adalah wanita biasa yang terlahir dari pasangan sederhana. Namun berkat pekerjaan sang mama dan sang papa! Kehidupan mereka sedikit lebih baik. Walaupun tidak ada seujung kuku pun jika di bandingkan dengan keluarga suaminya. Itulah mengapa saat dia di perlakukan seperti putri, tidak membuatnya terbang, karena kehangatan kehangatan dalam kesederhanaan lebih ia sukai.
" Sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat dulu ya. Jangan terlalu memaksakan diri kamu untuk berkerja! Kasihan anak kamu." Ucap Megan wanita itupun menghampiri Icha, duduk di samping ranjang menantunya itu, sembari mengusap kepalanya dengan sayang.
Icha pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan mertuanya, sebelum memejamkan matanya. Wanita itu tidak tidur tapi dia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sementara itu di luar sana, Rista langsung menghubungi Nadia seperti yang dia katakan kepada Icha.
__ADS_1
Wanita itu pun harus menunggu beberapa saat karena Nadia tidak langsung menjawab panggilannya.
" Halo kak." Sapa nadia dari seberang sana begitu panggilan itu tersambung.
" Halo Nad, Kakak ganggu nggak?" Tanya Rista walaupun, wanita itu sempat kesel karena adiknya dibuat sibuk oleh sahabat adiknya itu, namun sebisa mungkin Rista berusaha untuk menahan emosinya.
"Enggak kok kah ada apa?" Sahut Nadia dari sebelah sana selalu sekaligus bertanya.
" Begini Nad, kalau kakak boleh saran untuk sementara waktu, kalian jangan dulu melibatkan Icha dalam urusan pekerjaan kalian. Karena itu sangat membahayakan kandungan dia, sekarang aja Icha harus dirawat karena tiba-tiba kontraksi." Ucap Rista, membuat Nadia yang berada di seberang sana bingung.
" Kak_"
" Nad kakak tahu usaha kalian sedang maju-majunya, sedang dilirik-liriknya Tapi tolong pikirkan kondisi Icha dan anaknya juga. Kakak melakukan ini bukan karena kakak marah sama kalian, atau ingin menyalakan kalian, Kakak itu khawatir terjadi sesuatu sama Icha dan anaknya kamu mengerti kan Nad." Nadia yang berada di seberang sana pun mengganggu kepalanya walaupun hal itu tidak dapat dilihat oleh Rista.
" Iya kak, aku paham kok tapi jujur Saja Icha sudah lama tidak kami libatkan dalam pekerjaan, dia hanya kami tanyakan pendapatnya di saat finishing aja, selebihnya tidak ada dan desain yang kami punya saat ini masih menggunakan desain Icha yang sebelum-sebelumnya belum ada rancangan baru sehingga harus melibatkan Icha dalam pekerjaan. Karena kami tahu kondisinya saat ini." Jelas Nadia , wanita itu tidak ingin Kakak dari sahabatnya itu salah paham dengan mereka.
Mendengar penjelasan Nadia, Rista pun terdiam, sejenak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya, jika bukan karena pekerjaan lantas apa yang membuat adiknya itu pikiran hingga mengalami kontraksi.
" Kak." Panggil Nadia dari seberang sana membuyarkan lamunan Rista. " Kemarin Icha sempat cerita, kalau dia tidak betah tinggal bersama mertuanya, Icha juga mengatakan jika mertuanya memang baik dan tulus sayang sama dia tapi dia tidak terbiasa hidup seperti itu. Dia ingin pulang ke rumah ayah atau paling nggak dia ingin tinggal berdua bersama pak Riyadh di rumah mereka sendiri." Nadia langsung menceritakan, keluhan Icha saat wanita itu menghubunginya kemarin.
"Kamu benar Nad, Kenapa Kakak nggak kepikiran ke situ ya." Ucap wanita itu sembari menepuk jidatnya sendiri. Saking khawatirnya dia dengan kondisi Icha wanita itu sampai lupa seperti apa tabiat adiknya.
"Nanti Kakak coba bicara lagi dengan Icha lagi tapi, kakak harus pastikan di ruangan itu tidak ada pak Riyadh maupun mama nya."
" Yah kamu benar! Nanti Kakak coba untuk berbicara sama Icha lagi, maaf ya kakak udah nuduh kalian yang nggak-nggak?" Ucap Rista, wanita itu sungguh merasa tidak enak kepada sahabat adiknya itu.
"Tenang aja kak, Kakak nggak usah merasa nggak enak hati gitu, kayak sama siapa aja." Sahut Nadia wanita itu memang terkenal paling tenang saat menghadapi masa seperti ini.
" Terima kasih ya nad udah mau cerita ke kakak, kakak tutup dulu ya! Sekali lagi kakak minta maaf."
" Iya kak." Rista pun mengakhiri panggilan itu, setelah Nadia mengiyakannya.
Begitu selesai menelpon dengan Nadia, Rista melangkah kembali ke dalam ruang rawat sang adik.
__ADS_1
Di sana itu sedang tertidur sedangkan mertuanya duduk di tempat yang sebelumnya diduduki oleh Rista, Riyadh sendiri Masih betah duduk di sofa, pria itu menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa sembari memejamkan matanya dengan lengan yang sengaja dia letakkan di atas dahinya.
"Tante, sebaiknya tante istirahat Icha biar aku yang jagain." Ucap Rista kepada wanita paruh baya itu.
" Nggak papa kok sayang, Tante nggak lelah sampai harus istirahat segala, lagian tante masih ingin menemani Icha di sini." Sahut Megan membuat Rista tidak dapat memaksanya lagi mau tak mau, wanita itu pun harus mengalah.
Dia memiliki menunggu Icha sembari duduk di sofa yang sama dengan Riyadh. Tentunya dengan jarak beberapa jengkal, Dan ruang itu kembali Hening.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore harinya Megan pamit untuk pulang diantar oleh Riyadh, begitu Nadia dan Mimin datang untuk menjenguk Icha.
Setelah Megan dan Riyadh pergi, Rista langsung duduk di tempat wanita itu, Tujuan tidak lain tidak bukan untuk menanyakan alasan sebenarnya, kepada Icha bisa sampai mengalami kontraksi seperti ini.
Dan Icha pun menceritakan sama seperti yang dia ceritakan kepada Nadia. Icha tidak menjelek-jelekkan mertuanya sedikitpun, Tidak ada sama sekali, dia hanya mengatakan Jika dia tidak nyaman tinggal di sana dan semua itu tidak ada hubungannya dengan mertuanya, membuat Rista merasa lega! Karena apa yang di takutkan tidak pernah terjadi.
" Terus kamu maunya gimana?" Tanya Rista, Namun Icha hanya menggelengkan kepalanya.
" Kalau kamu takut untuk berbicara dengan suami kamu biar abang yang ngomong sama Riyadh." Arga yang sejak tadi hanya diam dan menjadi pendengar setia. Ikut menimpali ucapan mereka.
" Jangan bang, Icha masih bisa kok tinggal di sana." Tolak Icha, wanita itu sungguh merasa tidak enak hati kepada mertuanya.
" Tenang saja! Abang tidak akan membicarakan tentang kenyamanan kamu ini, Abang hanya ingin menyarankan agar kalian kembali ke rumah kalian yang sebelumnya." Jelas Arga.
Karena Arga Yakin ini, jalan satu-satunya untuk masalah adik iparnya itu. Dengan mereka kembali ke rumah mereka sendiri.
Icha pun mau tak mau, setuju dengan usulan Arga. Dia berharap Riyadh maupun mertuanya tidak akan mencegahnya.
Tapi sayangnya begitu, Riyadh kembali dan Arga membicarakan masalah ini, Riyadh langsung menolaknya dengan alasan tidak ingin Icha sendiri di rumah.
Membuat Icha kecewa, karena wanita itu sudah terlanjur berharap, bisa kembali ke rumah mereka, menikmati hari-hari mereka hanya berdua saja.
" Kamu yakin ingin pulang ke rumah kita?" Tanya Riyadh saat menyadari raut wajah kecewa Icha. " Tapi ada satu syarat? Kamu nggak boleh kerja sama sekali, sampai anak kita lahir." Tegas Riyadh membuat Icha melihat Nadia dan Mimi secara bergantian.
__ADS_1
Keduanya mengangguk meminta Icha untuk mengiyakan syarat dari Riyadh. Icha pun mau tak mau mengiyakannya, toh hanya beberapa bulan saja.