Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Jangan menolak.


__ADS_3

" Icha, pantas atau tidaknya, hanya dia yang dapat menilai hal itu, jika dia memilih kamu. Itu tandanya kamu memang pantas untuk dia." Balas Rista, ia sudah cukup kehilangan kesabaran untuk adiknya itu.


Rista juga mengerti apa yang menimpah adiknya itu bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan dan dia cukup sadar, hal itu begitu sangat berdampak untuk Fisik maupun psikis Icha, Tetapi jika terus di biarkan, Rista takut selamanya adiknya akan seperti ini, menutup diri dari lawan jenis serta dunia yang ingin mengenalnya.


Salahkah jika ia sedikit mendorong adiknya itu keluar dari masa kelam yang selama ini membelenggunya. wanita itu bisa saja membiarkan sang adik seperti, tapi mau sampai kapan, ia tidak bisa selamanya bersama Icha, menjaganya karena di pun memiliki kehidupan sendiri.


" Percayalah Cha, Kaka, Kaka Arga dan ayah! ingin yang terbaik buat kamu." Sahut Nadia, ikut mendorong Icha untuk menerima semua ini, mereka lupa jika masih ada Nadine yang beberapa hari lalu mereka temui.


" Kita berdua juga menginginkan hal yang sama Cha, aku yakin kamu bisa melalui ini." Ucap Mimi langsung memeluk tubuh Icha, diikuti Nadia dan Rista.


" Permisi, Apa kalian melihat Temanku." Keempat wanita itu langsung melirik sekilas ke arah suara itu." Hello, ada yang bisa jawab pertanyaan ku." Lelaki itu kembali bertanya lagi sembari mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan mereka .


" Kamu bisa Tunggu sebentar, soalnya pak Riyadh ada didalam." Tunjukkan Mimi kearah ruangan ICU. Pria yang mereka tahu assiten Riyadh itu mengangguk kepalanya.


" Duduk dulu." Rista mempersilahkan lelaki itu untuk duduk. bersama dengan lelaki paruh baya yang berada di belakangnya. Kedua pria berbeda generasi itupun duduk pada bangku yang sebelumnya di duduki Arga dan Riyadh,


Walaupun dalam benak Rizky dan papanya Riyadh, bertanya tanya tentang siapa yang di kunjungi Riyadh di dalam sana.


Sementara itu, didalam sana dengan suara yang terbata-bata Ayah Rifky, menitipkan kedua putingnya untuk Arga dan Riyadh.

__ADS_1


" Jika Icha mau, Aku akan menikahinya malam ini juga." Ucap Riyadh begitu yakin, saat ia melihat kondisi ayah Rifky yang begitu memprihatinkan.


Ayah Rifky mengangguk, pertanda setuju, " Iii ich haa." Arga yang mengerti maksud ayah mertuanya. langsung melangkah keluar ruangan untuk memanggil Icha.


Setidaknya pria itu di hadapan Icha ia langsung membujuk Icha." Cha, tolong katakan ya. Setidaknya biarkan ayah menjalankan tugas terakhirnya, Setelah itu kamu boleh memilih jalan mu sendiri jika kamu tidak ingin terlalu jauh dalam ikatan ini. Tapi kakak mohon untuk kali ini saja jangan menolaknya." Tangan Arga terulur untuk menepuk pundak Icha, memberinya dukungan, tetapi Icha langsung menghindari sentuhan itu sebelum Arga sempat menyentuh pundaknya.


Wanita itu bahkan tidak mengiyakan atau pun menerima saran Agar, Dia hanya berjalan layaknya orang linglung, sebelum menghilang di balik pintu ruang ICU.


......🥀🥀🥀🥀......


Sekeras apapun Icha berusaha untuk menghindari dan melawan. takdir yang dia punya akan tetap berjalan pada garisnya.


Setelah melewati perdebatan panjang, Riyadh kini duduk di tepi ranjang Ayah Rifky sembari berjabat tangan dengan seorang penghulu yang berada tepat di hadapannya, Sementara Ayah Rifky yang terbaring lemah dengan selang ventilator sebagai penunjang nafasnya serta mesin Ekg menitor yang terus menunjukkan grafik semakin menurun. Berbaring di tempat tidurnya menyaksikan semua itu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Raicha Indrawati binti Refky Ananda permana dengan maskawin satu set perhiasan di bayar tunai." Ucap Riyadh dalam satu tarikan nafas.


Ayah Rifky mengangkat tangannya kemudian meletakkan tangannya itu, dia atas tangan Riyadh. bersamaan dengan Kata " SAH." Yang keluar dari bibir penghulu dan beberapa orang yang ada di ruangan itu sebagai saksi. Mesin Ekg menitor menunjukkan garis horizontal. Menandakan pria yang baru saja menyerahkan putrinya ke tangan pria lain, telah meninggalkan mereka untuk selama lamanya.


Riyadh menggenggam tangan ayah Rifky yang kini telah dingin, ia teringat ucapan lelaki itu beberapa saat lalu.

__ADS_1


" Ayah titip Icha, seandainya kamu tidak bisa mencintainya, tolong jaga dia sampai dia menemukan lelaki baik yang mau terima dia apa adanya! Kalau pun tidak ada yang mau menerimanya, tolong perlakuan dia seperti adikmu sendiri, jangan sakiti dia. Seandainya kamu tidak bisa membuatnya tersenyum, jangan pernah membuatnya menangis, karena ayah sudah tidak ada untuk menghapus air matanya." Kalimat yang sama pun Rifky ucapkan kepada Arga.


Semua orang Seketika bingung dengan situasi yang ada, Riyadh Melirik Icha, sekilas! wanita yang baru sah menjadi istrinya itu hanya diam membisu dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. lain halnya dengan Kakak dan kedua sahabatnya. mereka menangis dan meraung sejadi-jadinya. panutan, pelindung dan tempat mereka bersandar kini sudah tidak ada lagi.


......🥀🥀🥀🥀......


Pagi harinya, rumah yang biasa sepi kini di penuhi kerabat, dan orang-orang yang datang untuk melayat dan Tepat pada jam sepuluh pagi, Jenazah Ayah Rifky di makamkan.


Selesai pemakaman, mereka semua pulang ke rumah, setibanya di rumah, Icha langsung masuk ke kamarnya. Melihat hal itu Nadia memilih menyusul Icha sedangkan Mimi menemani Rista. Walaupun keduanya juga merasakan kehilangan sosok ayah Rifky, Namun kedua kakak beradik itu lebih kehilangan dari mereka.


" Minum dulu." Nadia menyodorkan gelas berisi air putih, kepada Icha. " Kamu harus ikhlas dan jangan salahin diri kamu, semua ini sudah takdir."


" Makasih ya Nad." Icha mengambil gelas dari tangan Nadia, lalu meneguk air dalam gelas itu sampai habis." Maaf jika selama ini aku selalu ngerepotin kalian." Icha berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Wanita itu itu sadar kini sudah tidak ada lagi, orang yang akan menurutinya dan melindunginya. Dia harus kuat dan melindungi dirinya sendiri dengan melawan rasa takutnya, walaupun itu sulit.


" Jangan berbicara seperti itu, aku dan Mimi nggak merasa di repot kan ko." Ucap Nadia lagi, " Jika kamu ingin menangis, menangis lah, kamu butuh itu agar perasaanmu lebih baik." Icha mengangguk.


" Ya sudah aku keluar dulu, jangan terlalu di pikirkan ya." Pamit Nadia saat melihat Riyadh berdiri tepat di belakang mereka.


" Mau ke_" Icha langsung terdiam saat menyadari kehadiran Riyadh. Ia sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya, tapi entah kenapa Dia kembali merasakan hal itu saat melihat Riyadh berada di kamarnya.

__ADS_1


tatapan matanya mulai gelisah dan waspada, tubuhnya mulai bergetar hebat serta kering dingin yang mulai memenuhi dahi dan kedua telapak tangannya yang mulai dingin. Ternyata tidak mudah untuk Icha melawan semua itu.


__ADS_2