
Dan benar saja, seperti janji Riyadh di mall waktu itu setiap harinya, saat jam pulang kerja, pria itu akan mampir terlebih dulu, untuk membeli istrinya itu boneka. Terkadang ia juga membeli buket kadang juga coklat atau perhiasan sebagai teman boneka yang akan dia berikan kepada Icha, sama seperti halnya seperti hari ini, Riyadh sengaja membeli coklat yang di ukir berbetuk hati. Untuk istrinya itu.
"Hadiah lagi,?" Tanya Icha tak habis pikir dengan apa yang di lakukan suaminya itu. " Padahal satu kamar yang kamu siapin udah, penuh sama boneka yang kamu kasih." Keluh Icha, bukannya dia tidak bersyukur dengan pemberian suaminya itu.
Tapi masa ia harus setia hari, walaupun ia suka boneka, bukan berarti Riyadh harus membelinya tiap hari memangnya dia anak kecil yang doyan koleksi mainan.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, besok dan seterusnya nggak boleh bawa boneka lagi, nanti aja kalau ada hari spesial gitu. Baru boleh beli boneka." Tegas Icha. Wanita itu menerima Hadiah yang di berikan Riyadh tak lupa untuk mencium punggung tangan suaminya seperti biasa dan riyadh pun mencium punggung tangan Icha.
" Baiklah, sesuai permintaan kamu sayang." Sahut Riyadh.
Keduanya pun melangkah kedalam rumah mereka dengan tangan Riyadh yang melingkar pada pinggang istrinya itu.
" Hari ini kamu masak apa?" Tanya Riyadh, begitu keduanya duduk di ruang tamu.
" Tidak banyak hanya udang goreng tepung dan SOP aja."Jawabnya " Mas mau mandi dulu atau mau langsung makan?" Tanya Icha lagi. Wanita itu sudah mencoba untuk memanggil Iyad dengan panggilan sayang, namun dia tidak nyaman dengan panggilan itu. Hingga akhirnya Iyad membiarkan Icha memanggilnya mas saja, seperti Eva dan Mimi.
" Kayaknya mandi dulu deh, soalnya tubuh aku udah gerah banget nih! Tunggu sebentar ya." Riyadh pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Icha.
Satu jam menunggu, keduanya kini sudah berpindah ke ruang makan dan mulai menyantap hidangan yang di siapkan Icha untuk mereka.
Begitu selesai makan malam. Dan beristirahat sejenak diruang keluarga, Riyadh mengajak Icha kembali ke kamar mereka, ia ingin mengajak istrinya itu untuk lebih dekat lagi. Dengan cara ia duduk di tepi ranjang sementara Icha diminta untuk duduk di pangkuannya. Tidak seperti biasanya dimana Icha memunggungi suaminya itu.
Sebab kali ini, Riyadh sengaja meminta Icha untuk menghadap kepadanya. " Kamu yakin ingin meneruskan ini " Tanya Riyadh lagi, untuk memastikan kesiapan Icha.
Icha pun dengan yakin mengangguk kepalanya. Toh dia sudah bertekad untuk sembuh dan dia tidak ingin membagikan suaminya itu dengan siapa pun terserah orang akan menganggapnya apa.
__ADS_1
Yang Icha tahu, dia harus mempertahankan apa yang menjadi kepunyaannya, termasuk Riyadh, karena pria itu adalah suaminya, miliknya. Hanya miliknya tidak akan ia bagikan kepada siapapun karena dia memang se-egois dan seposesif itu.
" Ya aku yakin, bukan kah aku sudah berjanji untuk menjadi istri mas sepenuhnya." Sahut Icha dengan begitu yakinnya.
Dari tatapan mata itu, Riyadh dapat melihat tekad icha yang kuat." Pejamkan mata kamu, jika kamu tidak sanggup atau dorong aku jika kamu merasakan sesuatu." Icha mengangguk kepalanya
Dan perlahan namun pasti, Riyadh pun semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Icha. Tatapan matanya menelisik setiap bentuk pahatan wajah istrinya itu, yang entah mengapa terlihat sempurna di matanya.
Jarak keduanya semakin dekat, hingga bibir mereka saling menempel satu sama lain. Tapi sayang begitu Icha memejamkan matanya, setiap kepingan-kepingan ingatan kelam itu langsung menari-nari di kepala Icha dan membuatnya menjerit ketakutan.
" AAEEKKKHHH, lepas.. lepaskan Icha. Icha mohon." Teriaknya bergema diruang itu dengan wajah yang mulai berlinang air mata dan pias. Tubuhnya pun kembali bergetar.
Namun kali ini Riyadh tidak melepaskannya, pria itu justru memeluk erat tubuh Icha, untuk menenangkannya." Sayang, sayang Hei bukan mata kamu lihat ini aku, suami kamu." Ucap Riyadh sambil menepuk-nepuk pipi istrinya dengan lembut. Namun Icha tidak kunjung memberikan reaksi apa-apa, hingga Riyadh memutuskan untuk tetap memeluk erat tubuh Icha, berharap hal itu bisa membuat istrinya kembali tenang lagi.
Setelah memastikan Icha telah benar-benar terlelap Riyadh pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Amanda dan menceritakan apa yang terjadi kepada Icha. Dan kalau boleh Jujur, dia begitu panik dan ketakutan saat melihat Icha seperti itu.
Tapi tanggapan yang di berikan dokter Amanda justru biasa saja. Wanita itu, mengatakan jika itu bukan sesuatu yang perlu ia takutkan, justru dengan adanya ingatan, Icha dapat melawannya bukan menghindar seperti yang selama ini dia lakukan, karena jika seseorang ingin benar-benar sembuh ia harus menerima masa lalunya. Amanda yakin jika Icha bisa melewati ini, wanita itu dapat kembali ke kehidupan wanita normal pada umumnya.
Setelah selesai berbicara dengan dokter Amanda, Riyadh pun berbaring di samping Icha. " Selamat malam sayang, semoga mimpi indah ."Bisik Riyadh di telinga Icha. Sebelum pria itu ikut memejamkan matanya.
...🥀🥀🥀🥀...
Keesokan paginya, icha terbangun dengan perasaan bersalah, wanita itu sudah mencoba untuk menyambut sang suami, namun bayang itu tiba-tiba terlintas di benaknya begitu saja.
" Maaf." Ucap Icha sendu. Saat melihat Riyadh membuka matanya.
__ADS_1
Mendengar Suara Icha, Riyadh pun mengubah posisinya dari terlentang, menjadi miring untuk menatap wajah istrinya itu." Maaf untuk apa Hmmm? Kamu tidak melakukan kesalahan, kenapa harus minta maaf sayang."tanya Riyadh sembari mengusap kepala Icha dengan penuh kasih.
"Tapi semalam aku_"
" Stthhhsst, nggak papa nanti kita coba lagi ya, sayang." Sela Riyadh, sengaja tidak ingin Icha kepikiran toh nggak ada yang nggak mungkin. Buktinya sejauh ini hubungan mereka semakin membaik.
"Hari ini kamu ke kampus?" tanya Riyadh, sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya aku ada kelas jam sepuluh nanti." Riyadh terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hari ini mau sarapan apa? biar aku yang buat?" Tanya Riyadh lagi.
" Terserah mas aja sih! aku ikut aja." Riyadh kembali mengangguk sembari tersenyum.
" Baiklah aku akan membuat sarapan spesial untuk Istriku tercinta. kamu bisa memilih ingin mandi Sekarang atau menunggu hingga aku selesai di sini." Ucap pria itu sembari mengacak-acak rambut Icha, kemudian beranjak dari tempat tidur mereka.
" Mau di bantu?" Tanya Icha.
" Tidak sayang, kali ini aku ingin membuatnya sendiri."
" Baiklah terserah mas saja! kalau tidak mau di bantu, aku akan mandi." Wanita itu pun ikut beranjak dari tempat tidur dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Dihadapan Riyadh Icha berusaha untuk tetap tersenyum dan bersikap seakan dia baik-baik saja, sedangkan di belakang pria itu. Icha justru sering menangis, ia takut ucapannya bersama Mimi dan Nadia waktu itu benar-benar terjadi.
Takut kehilangan, dia takut Riyadh akan berpaling, dia takut kehilangan tempat ternyamannya lagi. Sedangkan dia sendiri tidak memiliki alasan apa-apa untuk membuat suaminya itu bertahan di sisinya. Melakukan kewajibannya saja tidak bisa, apa yang dapat di harapkan darinya, bukankah sebaiknya dia membebaskan suaminya dari pada membebaninya atau menyiksanya seperti ini.
__ADS_1