Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Sayang, kenapa?


__ADS_3

" Tapi jika kamu tetap ingin menghukum aku untuk masalah ini, nggak papa sayang! Aku terima, karena aku memang salah, tidak jujur sejak awal sama kamu." Lanjutnya lagi.


"Kalau mama nggak bisa menerima aku, sebaiknya mas ceraikan aku! Aku tidak ingin membuat mas durhaka sama mama." Ucapannya begitu lirih dengan kedua mata yang terpejam. Berharap hal itu dapat mengurangi sesak di dadanya.


Dia mengajukan perceraian, sementara dia sendiri saja tidak yakin bisa hidup tanpa Riyadh, cintanya untuk pria itu seakan telah bersatu dengan nadi nya, Jika terputus, maka berakhir sudah dunianya. Namu melawan restu dan mengorbankan orang yang paling berharga untuk suaminya, adalah sebuah kesalahan yang sulit untuk di benarkan. Karena yang Icha tahu, anak laki-laki adalah milik ibunya hingga maut memisahkan, sementara anak perempuan adalah milik sang ayah hanya sampai dia menikah. Itu adalah satu hal yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Tapi kita tidak bisa bercerai, aku tidak ingin menceraikan kamu, aku ingin kita tetap bersama." Sahut Riyadh dengan begitu yakinnya.


" Tapi aku nggak mau, aku nggak mau merebut kamu dari mama! Aku nggak mau kamu memilih di antara aku dan mama mas! Lebih baik aku yang mengalah, dari harus mengecewakan mama. Kita masih bisa menjadi teman atau kakak adik. " Ucapannya, menawarkan hubungan lain di antara mereka.


"Tidak aku tidak akan menceraikan kamu." Tegas Riyadh, membuat Icha semakin di lemah.


" Kenapa mas, kenapa kamu begitu keras kepala! Apa yang kamu pertahankan dari hubungan ini. Apa mas?" Teriaknya, tidak peduli orang-orang di luar sana akan mendengarnya.


" Dia." Ucap Riyadh sembari mengusap lembut Perut Icha yang masih rata. " Hubungan ini bukan lagi tentang aku dan kamu sayang! Karena ada dia di antara kita, dia yang hadir untuk menguatkan hubungan kita, mari sama berjuang untuk mendapatkan restu mama! Demi masa depannya." Tangan Riyadh masih berada di perut Icha, mengusap-usapnya lembut.


"Apa?" Tanya wanita itu, tidak mengerti apa yang di maksud Riyadh.


" Kamu hamil!"


Mendengar kabar bahagia itu, Icha langsung menangis, wanita itu sedih sekaligus senang, karena akan mempunyai anak dari orang yang dia cintai, tapi di satu sisi, dia begitu takut untuk mencoba berjuang, dia takut kecewa lagi dengan penolakan mertuanya.


Padahal Riyadh selalu ada, untuk menggenggam tangan. Dia juga tidak berjuang sendiri, ada Riyadh bersamanya. Namun tidak berpikir sampai disitu, keadaan membuatnya selalu overtaking.


" Sayang, Kenapa? Kenapa menangis! Apa kamu tidak suka dengan kabar bahagia ini." Tanya Riyadh, saat Icha kembali menangis dalam Diam.


Wanita itu menutup rapat kedua matanya, mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri tapi tetap saja! Rasa takut itu tidak bisa ia lupakan.


Belum lagi bayang-bayang Megan dan Nadine menyiksanya kembali terlintas di benak, membuatnya semakin tertekan, hingga kepala dan perutnya terasa sakit secara bersamaan.


Icha mengigit bagian dalam bibirnya sendiri, untuk menutupi rasa sakitnya, tapi hal itu dengan cepat di sadari oleh Riyadh, semua gerak-gerik, Icha telah terekam dengan baik di kepala Riyadh.

__ADS_1


"Sayang, kenapa? Mana yang sakit!" Tanya Riyadh dengan paniknya. Tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk dengan istrinya lagi, Riyadh langsung berlari keluar untuk memanggil dokter. Padahal ia bisa memanggil mereka dengan menekan tombol yang berada di sisi kanan tepat di atas kepala Icha.


Dokter pun segera datang, untuk memeriksa Icha, sementara pria itu kembali menunggu di luar bersama Nadia.


"Kenapa pak?" Tanya Nadia khawatir. Namun Riyadh hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. " Icha baik-baik saja kan pak! Apa sebaiknya kita segera menghubungi kak Ista." Tanya Nadia lagi.


"Ya, segera hubungi kak Ista! Apa kamu membawa ponsel?" Jawab Riyadh sekaligus memerintah. Sahabat istrinya itu.


"Mama pak, saya lupa membawa ponsel saya, soalnya tas saya ketinggalan di ruangan pak Rizky." Jawab Nadia, membuat Riyadh Hanya bisa bernafas berat.


Mereka tadi begitu panik, hingga lupa membawa apapun, untung saja, Rizky membawa dompet di sakunya, jika tidak! Mungkin istrinya itu sudah terlambat di bawah ke rumah sakit.


" Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan calon anakku." Lafal Riyadh, di dalam hatinya, entah sudah berapa kali pria itu memohon dengan kalimat yang sama.


"Iyad, Nad ngapain disini?" Tanya Rizky yang baru saja datang, sembari membawa apa yang di minta Riyadh dan juga tas Nadia. " Tas kamu." Ucapannya, sembari menyerahkan tas itu, kepada pemiliknya.


"Terima kasih pak." Sahut Nadia, sembari mengambil tasnya dari tangan Rizky. Rizky pun tersenyum sembari mengangguk kecil.


"Doakan saja, Ky." Sahut Riyadh, pria itu terlihat tidak ingin banyak bicara dan hanya menjawab singkat pertanyaan sepupunya itu .


" Iyad." Panggil Rizky, kemudian menyerahkan ponsel dan dompet Riyadh, begitu juga tas Icha.


" Terima kasih Ky." Ucapannya, seraya meraih ponselnya, untuk menghubungi Amanda, sahabatnya.


Sayangnya pas di telpon Riyadh, Amanda sedang berada di luar kota untuk menemui, pasiennya yang ada di sana! Wanita itu berkata, dia baru akan kembali dua hari lagi.


Riyadh sudah memaksanya! Tapi Amanda menolak dengan berkata, Icha sangat berarti untuk kamu, begitu pun dengan pasian-nya yang begitu berarti untuk orang-orang terdekatnya.


Hingga Riyadh pun, mengalah dan tak bisa memaksa Amanda. Pria itu berharap Icha akan baik-baik saja! Sampai Amanda datang.


Disaat Riyadh sedang berbicara dengan Amanda Nadia justru menghubungi Mimi dan kak Ista, untuk mengabari kondisi Icha saat ini.

__ADS_1


Mimi berkata akan segera ke rumah sakit, sementara kak Ista baru bisa datang besok, karena wanita harus menemani Arga.


Setelah menghubungi mereka, Nadia kembali menyimpan ponsel. " Gimana? Sudah kasih kabar kak Ista." Tanya Riyadh usai menghubungi, Amanda.


"Sudah pak! Mimi sedang di jalan menuju kesini, sementara kak ista, baru bisa datang besok karena sedang menemani bang Arga." Jawab Nadia.


" Ya udah nggak papa, yang terpenting, mereka sudah di kasih tau kabarnya.


...\=\=\=\=\=...


"Kondisi, kehamilannya sangat lemah! tolong Jangan membuatnya tertekan, apalagi sampai stress, ini akan sangat membahayakan kandungannya." Ucapan Dokter, terngiang-ngiang di kepala Riyadh, membuat pria itu, memilih menunggu Icha di luar.


Sebab Riyadh yakin, yang membuat Icha stress dan tertekan adalah dirinya, sehingga dia meminta Nadia untuk menemani Icha di dalam, sementara dia akan menunggu di luar. Nadia pun tidak keberatan melakukan hal itu.


Dia dengan senang hati menunggu Icha di ruangannya, hingga Mimi datang dan ikut menemaninya menunggu Icha.


" Nad, ini ada apa sih! kok bisa Icha masuk rumah sakit lagi?" tanya Mimi, sedikit berbisik agar suaranya, tidak membangunkan Icha, yang sedang tertidur.


" Ceritanya panjang! nanti aja aku ceritanya." jawab Nadia. Wanita itu sengaja tidak langsung bercerita kepada Mimi karena tidak ingin Icha mendengarnya dan membuatnya semakin tertekan.


" Udah sih! cerita aja! aku juga nggak akan kemana-mana, waktu aku panjang untuk mendengarkan cerita kamu." Desak Mimi tak sabaran, sementara Nadia hanya menggelengkan kepalanya. Jiwa kepo sahabat itu, memang sulit untuk di tahan.


"Nanti aja, kalau kita udah balik ke rumah! tapi aku punya satu berita baik." Bisik Nadia.


" Apa tuh."


" Icha Hamil."


"Haah ser_hmmffhh." Nadia langsung membekap mulut Mimi, karena wanita itu spontan menaikkan volume suaranya.


" Ssstthh." Nadia meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya. Mimi mengangguk, barulah Nadia melepaskan bekapannya pada mulut Mimi.

__ADS_1


" Nad, serius." Tanya Mimi, volume suaranya kembali, ke mode berbisik. Dan Nadia pun mengangguk, Membuat bibir Mimi melengkung sempurna, rasanya wanita itu ingin salto-salto cantik di ruang itu, karena turut bahagia atas kehamilan Icha.


__ADS_2