Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Pasangan yang serasi.


__ADS_3

Bagi Riyadh, ancaman mamanya itu bukanlah sesuatu yang harus ia takuti, jika ancaman itu tidak ada hubungannya dengan Icha. Dan kali ini Riyadh menuruti ucapan mamanya lagi, karena pria itu tidak ingin semua usahanya selama ini hancur begitu saja.


Riyadh pun segera menganti pakaiannya kemudian pulang ke rumah orang tuanya, setelah mengirim pesan kepada Icha, jika dia akan menginap di rumah mamanya malam ini.


Tidak ada balasan dari Icha, karena wanita itu belum melihat pesan darinya. Bahkan telpon Riyadh pun tidak dia jawab. Sehingga Riyadh memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nadia juga, meminta dia dan Mimi untuk menemani Icha malam ini.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam, akhirnya mobil Riyadh berhenti tepat di depan rumah orang tuanya.


Riyadh melangkah keluar dari dalam mobil, kemudian masuk kedalam rumah itu dengan ogah-ogahan. " Karena kamu sudah datang, cepat ganti baju, kita harus menghadiri pesta pernikahan anak rekan bisnis papa kamu. Kita sudah terlambat ayo." Ucap mama, wanita paruh baya itu menghampiri Putranya, kemudian menyerahkan jas untuk Riyadh pakai.


Jas itu senada dengan gaun malam yang di gunakan Nadine. Wanita itu sengaja mengunakan gaun dengan potongan dada rendah serta punggung yang terlihat, membuatnya terlihat begitu seksi, belum lagi belahan gaun itu, di bawah sana hingga memperlihatkan pahanya. Rambut yang sengaja di gerai untuk menutupi separuh punggungnya. Wanita itu terkesan cantik dan seksi. Sudah pasti ia akan menjadi pemuas mata pria yang akan menghadiri pesta malam ini. " Tunggu apa lagi, cepat sana ganti baju." Desak Megan, sembari mendorong tubuh anaknya itu.


Riyadh pun menurut ia segera menganti baju, setelah selesai ia menghampiri orang tuanya dan Nadine. Malam ini mereka terlihat seperti keluarga yang begitu serasi dan harmonis.


Setelah semuanya siap, mereka pun menuju hotel bintang lima di mana pesta pernikahan itu di gelar. Keluar Riyadh sedikit terlambat tapi mereka tentunya telah memiliki tempat yang di sediakan.


Sebuah meja bundar dengan dengan empat kursi mengelilinginya, berada di bagian paling depan sebagai mana deretan tamu-tamu penting malam itu. Tiga meja dari depan sengaja di khususkan untuk tamu penting seperti keluarga Riyadh.


Sisihkan meja kebelakang di khususkan untuk tamu undangan dari kedua belah pihak, seperti kenalan, rekan atau pun teman-teman kedua mempelai.


Riyadh tidak sadar jika pesta yang di hadiri-nya malam ini adalah pesta yang sama dengan yang di hadiri Icha.

__ADS_1


Bahkan wanita itu sudah menyadari kehadirannya di pesta itu saat Riyadh masuk sambil menggandeng tangan dengan Nadine, mengikuti langkah mama dan papa mertua.


" Mereka terlihat begitu serasi ya." Ucap Icha, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang suami dan wanita yang menemaninya.


Sedangkan Nadia dan Mimi yang tidak menyadari keberadaan Nadine dan Riyadh tersenyum sembari membenarkan ucapan Icha. Karena yang mereka tahu, Icha sedang memuji raja dan ratu sehari didepan sana.


Setelah memuji suaminya dengan wanita yang dia tahu adalah tunangan dari suaminya itu. Icha kembali diam, pandangannya lurus ke depan, melihat bagaimana Nadine mencoba terus menempel pada Riyadh layaknya ulat bulu.


Walaupun Icha tahu, pemandangan itu hanya akan membuatnya sakit hati, tapi wanita itu begitu sulit untuk mengalihkan pandangannya.


Setelah banyaknya sesi terlewati dengan baik, kini giliran satu persatu nama keluarga di sebut, untuk membersihkan ucapan selamat kepada Kedua mempelai.


"Cha," panggilan Nadia dan Mimi dengan begitu kompaknya! Saat nama keluarga Riyadh di sebut dan saat itu juga Nadia dan Mimi menyadari kehadiran Riyadh dan Nadine, begitu juga kedua mertua sahabatnya itu.


" Kamu istrinya." Sahut Mimi. Membuat Icha tersenyum samar.


"Istrinya."


" Tentu saja! Kamu itu istrinya, mau wanita itu berada dalam pangkuan mamanya sekali pun, kamu tetap pemenangnya." Sahut Nadia.


Wanita itu paling tidak suka jika Icha sudah merendahkan diri seperti ini, padahal wanita yang bernama Nadine itu belum tentu lebih baik darinya.

__ADS_1


Mungkin Nadine sedikit beruntung karena wanita itu di pilih langsung oleh mamanya Riyadh, tapi di sini Icha-lah yang paling beruntung karena wanita di pilih oleh Riyadh. Memangnya yang bakalan hidup berdua dengan Nadine mamanya Riyadh. Kan Riyadh, jadi kesimpulannya Icha lebih beruntung dari wanita itu.


"Sudah aah! Jangan dibahas lagi. Bentar lagi giliran kita yang ucapin selamat." Ucap Nadia lagi.


Wanita itu sengaja menyudahi obrolan mereka tentang Riyadh dan Nadine karena tidak ingin Icha semakin terluka.


"Hai, boleh gabung kan! Nanti kita sama-sama ya kasih selamanya." Seorang pria yang entah datang dari mana, tiba-tiba datang dan duduk di samping Icha. Membuat wanita itu sedikit risih dengan kehadiran pria itu. " Nama kamu siapa? Aku Reno, kakaknya mempelai wanita." Ucap pria yang mengaku namanya Reno itu, sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Icha. Namun Icha hanya menatap uluran tangan pria itu tanpa berniat menyambutnya.


" Aku Nadia," Nadia kemudian menyambut uluran tangan pria itu karena Icha tak kunjung membalas uluran tangannya.


" Kalau kamu siapa namanya." Lelaki yang bernama Reno terus saja mencoba untuk mendekatkan diri dengan Icha , hal itu membuat Icha merasa tak nyaman dan takut kepada kepadanya.


" Namanya Icha! Nggak usah di ganggu deh, dia udah yang punya." Sahut Mimi, saat menyadari ketakutan Icha.


"Nggak papa dong, orang cuma ingin kenalan aja. Lagian kita nggak tau Kan siapa jodoh kita, bisa saja kita memang berjodoh. " Pria itu masih sempat-sempatnya menggombal Icha, ia tidak melihat jika wanita itu semakin tidak nyaman dengan kehadirannya.


" Jangan ganggu aku." Tegas Icha, sembari menatap tak suka kepada pria yang bernama Reno itu.


Pria tidak Icha ketahui, sejak tadi telah mencuri perhatiannya, penampilan wanita itu begitu anggun dan formal, diantara semua wanita muda yang datang, hanya Icha saja yang terlihat paling berbeda. Pakaian wanita itu begitu sopan membuat Reno semakin ingin tahu sosok Icha ini.


"Kenapa? Aku hanya ingin berkenalan dengan kamu." Tanya pria itu lagi membuat ketiganya kompak menunjukkan ekspresi tidak suka mereka.

__ADS_1


" Tapi aku nggak mau." Icha terus menolak, sementara pria yang bernama Reno itu tidak mau menyerah begitu saja. Pria itu tidak sadar jika sikapnya ini hanya akan membuat Icha semakin takut kepadanya belum lagi suasana hati Icha yang sedang tidak baik-baik saja, melihat pemandangan yang membuatnya semakin terluka.


__ADS_2