Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Khawatir.


__ADS_3

"Cha kita jadikan ziarah ke makam ayah?" Tanya Nadia begitu kelas mereka selesai, Ketiga wanita itu melangkah keluar kelas mereka, menyisir koridor kampus menuju parkiran dimana mobil Nadia terparkir disana.


"Entahlah aku bingung, ini aja udah jam tiga soalnya." Jawab Icha, sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tapi kita udah niat loh untuk pergi, pamali kalau kita sampai nggak pergi." Sahut mimi. Walaupun ucapan Mimi terdengar kolot tapi baik Icha maupun Nadia pernah mendengar ucapan Seperti itu dari orang tua mereka.


Sehingga mereka pun, tetep memutuskan untuk berziarah ke makam mendiang ayah Rifky. Walaupun perjalanan yang harus mereka tempuh kesana, cukup jauh dari kampus mereka.


Waktu yang di tempuh biasanya sejam jika tak macet. Namun jalanan sore itu begitu macet karena terjadinya kecelakaan lalulintas. Hingga ketiga wanita itu baru tiba di area makam pukul setengah enam sore.


...🥀🥀🥀🥀...


Langit jingga sudah hampir menghilang sepenuhnya tapi ketiga wanita itu belum juga beranjak dari makam ayah Rifky, Hingga seorang penjaga makam menghampiri mereka dan menyuruh mereka untuk pulang, barulah mereka mau beranjak dari sana.


"Cha, lapar nggak! Kita mampir makan dulu yuk, Nad! Aku udah lapar nih." Ucap Mimi sembari mengusap perut ratanya, saat di perjalanan pulang.


" Kita antar Icha pulang dulu, nanti setelah itu barulah kita berdua mampir untuk makanan malam, ya mi." Bukannya apa, Nadia sendiri juga sudah sangat lapar, mengingat hari ini mereka hanya makan nasi goreng di pagi hari dan sandwich buat Icha siang tadi. Mana dia juga baru ingat jika mereka belum mengabari Riyadh, sedang ponselnya kehabisan daya sedang Icha, wanita itu sengaja tidak membawa ponsel tadi, ponsel Mimi memang ada tapi wanita itu tidak mau bertukar nomor ponsel dengan Riyadh. Alasannya dia masih takut dengan suami Icha itu, setelah kejadian di cafe dan di kantor waktu itu, dimana dia di bentak Riyadh.


Nadia khawatir, Riyadh akan kebingungan mencari Icha, mengingat ponsel mereka tidak dapat di hubungi.


"Okelah, mana baiknya aja." Ucap Mimi, mengalah. Toh rumah Icha juga sudah dekat, nggak papa lah, jika dia tahan sedikit lagi.


"Nad, gimana Kalau aku di marahi karena telat pulang." Tanya Icha. Sebab dia sendiri juga cemas untuk pulang ke rumah. " Antar aku ke rumah ayah aja deh, aku takut, kecuali kalian berdua mau nginap lagi malam ini." Pintanya, mulai cemas yang tidak-tidak.


" Icha sayang itu nggak mungkin. Memangnya kamu anak kecil, pulang telat langsung diomelin emak-nya." Sahut Mimi sedikit becanda.


" Tap_"

__ADS_1


" Udah nggak usah banyak berpikir, aku yakin pak Riyadh bukan orang seperti itu." Sahut Nadia dengan yakinnya, membuat Icha terdiam dan hanya menuruti saja.


Dan tak sampai lima menit, mobil Nadia sudah berhenti di depan pintu rumah Icha, bersamaan dengan Riyadh yang keluar dengan terburu-buru. Pria itu yang tadinya ingin masuk kedalam mobilnya. Mengurungkan niatnya, kemudian menghampiri mobil Nadia. Membukakan pintu mobil dimana Icha duduk lalu memeluk tubuh Istrinya itu, membuat tubuh Icha membeku seketika.


" Sayang kalian dari mana, aku begitu khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Kenapa tidak membawa ponsel heem." Tanya Riyadh begitu ia mengurai pelukan mereka. Tangannya menggenggam kedua pipi istrinya itu. Sungguh rasa takutnya membuat ia melupakan trauma Icha dan menyentuh istrinya itu, seenak jidatnya. " Maaf sayang." Riyadh langsung menarik kedua tangannya, begitu melihat wajah Icha berubah pucat dengan dahi yang berkeringat dingin.


" Maaf mas, kami lupa mengabari mas, karena ponsel aku kehabisan daya. Icha juga tidak membawa ponselnya." Jawab Nadia, Sembari menengok kebelakang, untuk melihat pasangan suami istri itu.


" Memangnya kalian dari mana. Aku sudah minta Rizky untuk ngecek kalian ke kantor dan ke kampus kalian juga! Tapi kalian tidak ada disana." Tanya Riyadh.


Karena pria itu sudah seperti orang kebakaran jenggot, sejak pulang ke rumah dan tidak menemukan Icha dimana pun. Ia bahkan telah mencoba untuk menelpon Icha, tapi ponselnya berada di atas nakas samping tempat tidur mereka. Nadia juga tapi nomor wanita itu tidak aktif bahkan kak Rista dan Amanda pun ia hubungi untuk menanyakan keberadaan Icha . Tidak hanya itu saja, Riyadh bahkan meminta Rizky untuk mengecek kantor mereka, kampus sampai apartemen Nadia dan Mimi sesuai yang dia katakan barusan.


" Maaf mas, tadi kita ke makam ayah dulu, karena Icha kangen sama ayah. Dan karena macet kita jadi kemalaman deh." Jawab Mimi membuat Riyadh bernafas lega. Pria itu sudah takut akan terjadi sesuatu kepada Icha. Mengingat sang istri yang begitu rapuh membuatnya tidak tenang sebelum melihat dengan matanya sendiri jika istrinya itu baik-baik saja.


Riyadh membantu Icha untuk turun dari mobil Nadia dengan menahan pintu mobil itu, setelah itu menutupnya kembali dengan perlahan. " Terima kasih ya, Nad,Mi. Oh iya kalian nggak turun?" Tanya Riyadh karena kedua wanita itu tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduk masing-masing.


" Nggak deh mas! Lain waktu aja, lagian udah malam juga, kita mau cepat-cepat pulang. Ya udah kita balik ya." Jawab Nadia, sekaligus pamit untuk pulang.


" Sama-sama mas. Cha kita balik ya." Nadia pun melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah restoran setelah mendapat anggukan dari Icha.


Begitu mobil Nadia tidak terlihat lagi, Riyadh mengajak Icha untuk masuk kedalam rumah. Wanita itupun hanya menurut dan mengikuti langkah sang suami yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah mereka.


" Sayang kamu sudah makan?" Tanya Riyadh, Icha pun hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.


Hari ini pria itu sengaja pulang lebih awal untuk menemani Icha memasak, tapi karena panik tidak menemukan Icha dimana pun, ia lupa untuk menyiapkan makan malam mereka berdua.


"Malam ini kita makan spaghetti aja ya. Nggak papa kan." Tanya Riyadh begitu lembut, sembari mengusap kepala Icha penuh cinta, tatapan pria itu begitu tulus entah Icha menyadarinya atau tidak.

__ADS_1


Icha mengangguk kepalanya lemah sebagai jawaban." Kamu ke kamar gih ganti baju, aku akan ke dapur, membuat spaghetti untuk makan malam kita." Ucap Riyadh memberi tahu, setelah itu dia meninggalkan Icha yang masih terdiam di tempatnya.


Begitu Riyadh pergi, Icha pun berbalik masuk kedalam kamar mereka tak lupa untuk mengunci pintu setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi begitu selesai menggantung tas yang dia pakai pada tempatnya.


•


•


Setengah jam kemudian, Keduanya kini sudah berada di meja makan dengan aneka hidangan yang telah tersedia di atas sana. Karena riyadh tidak jadi membuat spaghetti untuk makan malam mereka dan memilih memesan saja di restoran sekitar sini. setelah memperkirakan waktu antar pesanan mereka.


" Bukannya_" Tanya Icha menggantung.


"Aku sangat lapar sayang, rasanya spaghetti tidak akan bisa membuat aku kenyang, untuk itu aku memutuskan pesan saja. Nggak papa kan? Atau kamu ingin memakan spaghetti. Tunggu sebentar ya aku akan membuatnya untukmu sayang."


Riyadh pun segera beranjak untuk membuat spaghetti tetapi Icha mencegahnya.." Tidak perlu, ini saja sudah lebih dari cukup, aku hanya sedikit terkejut tadi."Ucapnya. " Ayo kita makan." Lanjutnya lagi. Kemudian mengambil piring Riyadh, kemudian mengisinya dengan nasi dan lauk yang sesuai dengan selera suaminya itu. Setelah itu ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Riyadh pun mau tidak mau kembali ke tempat duduknya dan keduanya pun menikmati makan malam itu dengan hening.


Setelah selesai makan malam, Icha mencuci piring bekas makan mereka, sementara riya merapikan meja makan. Keduanya sudah terbiasa saling membantu seperti ini. Walaupun begitu Riyadh tetap mempekerjakan pembantu untuk membersihkan rumah agar istrinya tidak kelelahan membersihkan rumah mereka.


Begitu pekerjaan dapur mereka selesai keduanya duduk terlebih dulu di ruang keluarga dan kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing, karena tidur saat kekenyangan itu, tidak baik untuk kesehatan, jadi baik Iyad mau pun Icha menerapkan kebiasaan ini di kehidupan sehari-hari mereka.


" Sayang, kalau kamu kangen sama ayah, ngomong ya ke aku? Biar aku yang temani kamu kesana." Ucap Riyadh, sengaja memecah keheningan diantara mereka berdua. " Atau kita buat jadwal ziarah ke makam ayah sebulan sekali." Tawar Riyadh.


"Apa itu nggak terlalu berlebihan?" Tanya Icha.


" Tantu saja tidak! Bukannya bagus kita sering-sering kesana untuk mendoakan orang tua kita." Astaga, Icha tidak menyangka pria yang dulu pernah membentak Mimi hingga membuatnya ketakutan setengah mati. Ternyata bisa semanis ini. Sungguh rasanya bagaikan mimpi untuk Icha percaya, " Kenapa sayang? Ada yang salah dari kata-kata ku." Icha mengeleng kepalanya dengan cepat, kemudian menunduk. Siapa yang tidak akan luluh jika di perlakukan seperti Icha.

__ADS_1


" Baiklah, sudah aku putuskan kita akan mengunjungi makam ayah sebulan sekali di waktu weekend, aku akan memasukkan itu ke agenda aku, sehingga kita tidak lupa." Ucap pria itu lagi. Icha pun hanya menarik nafas panjang tanpa berkata-kata.


Sebab dia merasa Riyadh sangat kelewatan dalam mengistimewakan dirinya dan merasa tak pantas menerima itu semua. Padahal apa yang dilakukan Iyad sudah merupakan suatu hal yang wajar.


__ADS_2