
Masih dengan suasana weekend setelah drama sakit kepala pagi tadi. Siangnya Riyadh berencana mengajak Icha untuk menghabiskan waktu bersama dengan berwisata ke pantai. Namun Icha menolaknya kerena tidak ingin suaminya itu sakit lagi seperti pagi tadi, wanita itu justru menyarankan mereka untuk belanja bulanan saja. Kebetulan stok makanan mereka mulai menipis dan beberapa hari ke depan Icha akan mulai sibuk. Maklum saja dia sudah mulai memasuki semester akhir jadi harus mempersiapkan ini dan itu.
"Sayang, harusnya weekend begini kita kencan berdua. Masa belanja bulanan sih " Sepanjang perjalanan mereka, pria itu terus saja mengeluh.
"Kencan itu hanya berlaku untuk orang yang pacaran saja! Sedangkan kita sudah menikah, mana bisa kencan lagi." Sahut Icha sambil menggeleng-geleng kepalanya. Ternyata Suaminya itu bisa bertingkah kekanak-kanakan juga.
"Siapa yang ngomong gitu." Tanya Riyadh.
"Aku yang ngomong, mas kan dengar sendiri tadi aku yang ngomong." Jawab Icha.
" Mas?" Riyadh langsung memelankan laju mobilnya, kemudian menatap tak percaya kepada istrinya. " Kenapa kamu panggil aku mas?"
Icha langsung mengerutkan keningnya bingung. " Bukannya mas sendiri yang minta sama Nadia dan Eva untuk memanggil mas saat berada di luar kantor?" Tanya Icha.
" Sayang, beda dong mereka itu teman-teman kamu! Sedangkan kamu itu istri aku, masa iya kamu juga ikut-ikutan panggil aku mas. Sayang dong, kan kita saling sayang." Makin meresahkan sih Riyadh ini. Sudah mulai masuk kategori kepedean plus bucin akut yang tidak tertolong.
"Tapi_"
" Nggak usah banyak tapi, mulai sekarang kamu harus belajar memanggil aku sayang! Aku maksa dan nggak ada penolakan." Tegas Riyadh, membuat Icha mendesah panjang dan tidak dapat meneruskan kata-katanya. " Dan satu lagi, kencan itu bukan hanya untuk orang pacaran saja, tapi orang yang sudah menikah juga boleh sangat boleh Mala. " Lanjutnya mengingat obrolan mereka sebelumnya.
" Kamu paham kan?" Tanya Riyadh lagi.
__ADS_1
" Emang gitu ya? Kok aku nggak tahu." Jawab Icha sekaligus bertanya, lagian wanita itukan selama ini hanya larut dalam dunianya saja, jadi mama mungkin dia tahu, kencan yang boleh dilakukan atau tidak, di dekat saja tidak bisa.
Jika mengingat kembali awal-awal pertemuan mereka dulu, rasanya Riyadh tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Wajah ketakutan Icha terlihat begitu sangat mengemaskan." Sudahlah lupakan saja, ayo kita turun. " Ajak Riyadh begitu mobilnya terparkir di depan sebuah mall.
Riyadh melepas sabuk pengaman yang ia kemudian keluar dari mobilnya. Pria itu berjalan mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk Icha. Setelah itu menutup kembali pintu itu dan melangkah bersama-sama memasuki mall sambil berpegangan tangan.
"Kita langsung belanja atau jalan-jalan dulu." Tanya Riyadh, saat mereka berada di dalam mall.
Dan jawab yang sudah bisa ia tebak dari istrinya itu, pasti langsung belanja. " Kita belanja aja! Terus pulang ya." Benarkan dugaannya.
Tapi kali ini tidak menurut ucapan istrinya itu, Riyadh justru sengaja menarik Icha ke arena bermain.
Awalnya Icha menolak, tapi begitu mereka menikmati beberapa pemain yang ada di sana. Seperti balapan mobil, dance, lempar bola basket dan jepitan boneka. Icha pun lupa jika tujuan mereka datang ke mall itu untuk belanja bulanan.
Kebahagiaan itu begitu sederhana tapi mampu membuat Icha melupakan, keadaannya. Ditambah rasa yang telah tumbuh di hatinya, membuat Icha terbiasa serta mau disentuh oleh suaminya.
" Sayang, nih minum dulu, kamu hauskan." Ucap Riyadh, kemudian memberi botol air kemasan yang dia beli untuk Icha. Padahal pria itu baru sebentar saja menghilang. Namun tak sampai lima menit ia sudah kembali dengan dua botol air mineral untuk mereka. " Sayang duduk di situ yuk." Ajak Riyadh, sembari menunjuk bangku yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Icha mengikuti arah yang di tunjuk Riyadh, kemudian mengangguk kepalanya. Mereka pun duduk di sana.
" Ma, lihat deh boneka kakak itu banyak ya.." Ucap seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun sembari menunjuk kepada Icha. Dan Hal itu di sadari oleh Riyadh dan Icha. " Ma, aku mau boneka Seperti punya kakak itu." Ucapnya lagi, suaranya terdengar mulai merengek namun, Icha tidak menunjukkan respon apa-apa.
__ADS_1
Sementara mama dari anak kecil itu, terlihat mulai kesulitan membujuk putrinya yang sudah menangis menginginkan boneka milik Icha. Mamanya juga sudah menawarkan untuk membeli boneka lain namun putrinya itu tetap menolak dan tetap kekeuh dengan pendiriannya. Tangisannya yang tadi pelan kini semakin menjadi.
Melihat hal itu, Riyadh pun berinisiatif untuk membujuk Icha agar mau memberikan boneka yang mereka dapat untuk anak itu." Sayang kasih aja ke dia, nanti ganti yang lebih besar buat kamu." Ucap Riyadh sembari mengusap kepala Icha dengan penuh kasih sayang. Namun Icha mengeleng kepalanya, tidak mau. " Sayang boneka itu tidak bisa di peluk, aku akan membeli yang bisa kamu peluk." Rayunya lagi.
Sementara anak kecil itu mulai sesegukan, Icha yang iba pun memberi semua bonekanya kepada anak itu. " Terima kasih ya nak, semoga hubungan kalian berdua selalu Langgeng dan di beri rejeki yang berlimpah oleh yang maha kuasa." Ucap ibu dari anak itu sembari mendoakan Riyadh dan Icha dengan begitu tulusnya.
" Amiin," Icha dan Riyadh kompak mengamini ucap ibu itu.
" Kakak, terima kasih ya." Ucap anak perempuan itu, walaupun ia sudah tidak menangis lagi, namun ia masih terdengar sesegukan. Karena terlalu lama menangis.
" Sama-sama adik cantik. Siapa namamu?" Sahut Riyadh seraya menanyakan nama anak kecil itu.
" Nama aku Bella."
" Hai Bella." Sapa Icha. Mereka terlihat mengobrol sebentar sebelum berpisah. Ibu dan anak itu pula Sementara Riyadh dan Icha masuk ke salah satu restoran yang ada di dalam mall itu untuk makan.
Riyadh sengaja mencari meja yang agak pojokan untuk kenyamanan sang istri tercinta. Setelah mereka duduk di tempat masing-masing, Riyadh langsung memanggil pelayan untuk memesan. Pelayan itu pun datang untuk mencatat makanan yang di pesan Icha dan Riyadh.
" Tunggu sebentar ya mas, mbak." Ucap pelayan itu kemudian meninggal meja Riyadh dan Icha untuk mengambil pesanan mereka.
Dan begitu sang pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi. Seseorang menghampiri mereka.
__ADS_1
Bruk.
" Riyadh, siapa wanita ini." Tanya orang itu sembari mengebrak meja di hadapan mereka, membuat Icha maupun Riyadh terkejut di buatnya.