Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Hanya menebak!


__ADS_3

"Aku terpaksa menikahi dia karena mama yang memaksa dan saat itu aku tidak dapat melakukan apa-apa, karena mama mengiris nadinya sendiri. Jujur saat itu aku bingung antara harus tetap menepati janji ku kepada ayah mertuaku, atau mengorbankan nyawa mama." Pria itu sengaja mengjeda ucapannya, sementara Amanda menjadi pendengar yang baik. " Aku terpaksa melanggar janjiku dan memilih untuk menolong mama terlebih dulu. Walaupun saat itu aku begitu sangat marah kepada mama, tapi aku tidak bisa membencinya, dia mamaku, wanita yang telah melahirkan aku. Untuk itu aku tidak bisa memperlakukan dia dengan baik, apalagi saat aku tahu dari papa jika mama berani melakukan itu karena bisikan dari mamanya Nadine." Jelas Riyadh panjang kali lebar.


Amanda pun dapat memaklumi hal itu, sebab dia tahu Riyadh berada di posisi yang terdesak, tapi apa Icha bisa memakluminya? Itu masih menjadi misteri, mengingat kondisi mental Icha saat ini. Amanda hanya bisa berharap, disaat Icha mengetahui semuanya. Ia bisa menerimanya. Jika tidak Amanda Tidak dapat memprediksi akan se-hancur apa wanita itu nantinya.


Dia telah di lukai dengan begitu sangat keji oleh keluarganya sendiri, orang yang begitu sangat dapat dia percaya, jika kepercayaan itu kembali di hancurkan. Akan jadi seperti apa dia nanti. Yang pasti Amanda berharap Icha akan baik-baik saja.


Amanda begitu sangat peduli kepada Icha, bukan karena dia kasihan kepada Icha, wanita itu tahu betul, orang-orang seperti Icha tidak suka jika di kasihani. Dia peduli juga bukan karena di bayar mahal oleh Riyadh.


Amanda peduli karena dia sayang sama Icha. Dia sayang Icha sebagai sosok adik, dia sayang sama Icha karena sifatnya yang baik dan apa adanya. Dia sayang sama Icha karena wanita itu memang pantas di sayang siapa saja.


"Jangan terlalu lama menyimpannya, semakin cepat dia tahu, itu akan semakin baik. Dan pastikan kamu harus menjaga dia dari istri keduamu itu. Sikapnya yang arogan itu, bisa saja dia menyakiti Icha." Ucap Amanda mengingatkan Riyadh.


Pria itu mengangguk. " Aku tahu, untuk itu aku telah meletakkan beberapa orang untuk menjaganya dari kejauhan. Kehadiran mereka tidak akan di sadari oleh icha. Untuk itu mama dan Nadine tidak dapat menyentuhnya. Bahkan rumah yang aku tempati saat ini saja tidak di ketahui oleh mereka, padahal sudah sering aku melihat mobil yang mengikuti aku. Namun orang terpilih itu dapat mengelabui mereka, sehingga Icha ku, tetap aman. " Riyadh tak sungkan menjelaskan seberapa detail dia menjaga Icha kepada Amanda, karena pria itu tahu Amanda dapat dia percaya.

__ADS_1


Sekali lagi Amanda hanya mengangguk saja. Sebelum sebelum wanita itu pamit untuk pulang. Karena aman cukup sibuk hari ini tapi dia masih sempat menemui Riyadh untuk membicarakan kondisi Icha.


" Oh iya! Aku harap kamu tidak akan menceraikan Icha, karena dia telah jatuh cinta padamu." Riyadh membulatkan kedua matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. " Jika tebakan aku benar harusnya kalian akan mudah melakukan hal itu! Cobalah melakukannya tanpa memberitahunya, biarkan semua mengalir dan terbawa perasaan begitu saja. Karena dari yang aku lihat, Icha pasti akan terbeban Jika dia sudah tahu yang kalian lakukan untuk apa dan mengarah kemana, senyaman apapun kamu melakukannya. Tapi otaknya sudah lebih dulu mengoperasikan memori kelam itu. " Lanjutnya kemudian meninggalkan ruangan itu. Sementara Riyadh masih terdiam di tempatnya, memikirkan lagi ucapan Amanda, yang mungkin saja seratus persen benar, bisa juga seratus persen salah.


...🥀🥀🥀🥀...


Sore itu Icha begitu suntuk berada di dalam kamar, sehingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan sore di taman dekat rumahnya. Tentu saja tanpa memberi tahu Rista, Mimi dan nadia.


Di taman Icha duduk tak jauh dari pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih di sana. Membuat wanita itu teringat akan Riyadh suaminya.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang di naiki Icha kini sudah berhenti di depan rumahnya. Icha pun segera membayar ongkos taksi itu setelah itu, ia turun dan melangkah masuk kedalam rumahnya. Pintu rumah yang terbuka, membuat Icha berpikir jika Riyadh ada di rumah, sayangnya begitu ia melangkah masuk kedalam rumah, tidak ada siapapun di sana. Hanya ember dan kain pel terletak begitu saja di lantai.


Tak lama setelah itu seorang pembantu yang di tugas Riyadh untuk membersihkan rumah itu keluar dari kamar mandi, Icha pun bersembunyi di balik tembok, menatap pelayan itu berkerja dalam diam, hingga pelayan itu selesai dan pulang kerumahnya, wanita itu juga tidak lupa mengunci pintu rumah itu dari luar karena dia tidak tahu jika Icha masih berada di dalam rumah.

__ADS_1


Setelah ia di tinggal sendiri, Icha mencoba untuk masuk kedalam kamar, sayangnya pintu kamarnya terkunci, Icha pun mencari kunci kamar itu di tempat penyimpanan kunci cadangan.


Begitu menemukan kunci yang dia cari Icha langsung masuk kedalam kamar, kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang mereka. Aroma perpaduan antara dia dan Riyadh tercium jelas. Membuat Icha merasakan ketenangan yang begitu sangat dia rindukan beberapa waktu belakangan ini.


Hingga tak terasa Icha pun terlelap. Sementara di rumahnya sang kakak dan sahabat-sahabatnya telah sedang pusing mencari kebenarannya begitu mereka tahu Icha tidak ada di kamarnya.


Rista ingin langsung menghubungi Riyadh dan memberi tahu hal ini tapi Arga melarangnya, pria itu berkata-kata untuk menunggu terlebih dulu dan jangan membuat panik Riyadh. Mungkin saja Icha sedang berjalan-jalan ke taman atau mungkin saja dia sedang keluar membeli sesuatu, mengingat Icha keluar dengan membawa dompetnya.


Namun sampai menunjukkan pukul sembilan malam Icha tidak kunjung pulang, mereka pun mau tak mau harus keluar untuk mencari Icha.


Dan kali ini mereka lupa menghubungi Riyadh saking paniknya. Sementara itu di tempat lain. Tepatnya di rumah Icha dan Riyadh, wanita itu masih tertidur dengan sangat pulas-nya hingga ia lupa untuk menyalakan lampu rumahnya.


Riyadh yang baru pulang, menyalakan beberapa lampu saja sisanya ia biarkan tetap padam. Setelah itu ia melangkah masuk kedalam kamarnya. Tanpa membuka pakaian kerjanya Riyadh berbaring di samping Icha. Suasana kamar yang hanya di temani lampu tidur membuat Riyadh tidak menyadari keberadaan Icha di sana, postur tubuhnya yang kecil dengan tubuh yang di tutup selimut membuat Riyadh tidak menyadarinya.

__ADS_1


Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena begitu tubuh Icha menggeliat sembari bertukar posisi dan memeluk pinggangnya. Membuat mata Riyadh yang sudah tertutup kini terbuka kembali. Pria itu langsung meraih remote kecil di atas nakas samping tempat tidur, kemudian menyalakan lampu kamar itu.


" Icha."


__ADS_2