Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 21


__ADS_3


" Nyonya!!! " Eric berteriak saking paniknya.


Violet tumbang begitu saja di depan Eric, dengan darah yang bocor dari kepalanya. Pakaian hijau yang di kenakan Violet sekarang bercampur dengan merahnya darah.


" Bawa tandu dan panggil tabib secepatnya!!!!!! " Eric berteriak merangkul tubuh Violet yang terkulai.


Pelayan yang ada di sana tidak ada yang mendengar perintah Eric, mereka hanya melihat Violet yang terkulai dengan tatapan sinis.


" Biarkan saja, wanita itu memang pantas mendapatkannya. " Pelayan lain malah menggunjingkan Violet dengan buruk dan penuh dengki.


Tidak ada yang peduli dengan Violet, Eric terus berteriak meminta bantuan.


" Kenapa kalian diam saja!!! cepat panggil tabib dan bawakan tandu kemari!! " Teriak Eric.


Mereka hanya melihat dengan tangan melipat dan tatapan sinis.



Eric pun tidak ada cara lain dia mengangkat Violet sendiri.


" Sialan!!!!......" Eric meludah kesal.


| Mereka tidak ada yang mau membantuku, jika kalian tahu siapa yang memberi kalian upah, kalian akan menyesali ini. | Pikir Eric.


Di waktu bersamaan.


" Berick...kenapa kau melakukan itu?!! " Jack memarahi Berick.


Berick tidak menyesal atas perlakuannya.


" Kenapa? dia berhak mendapatkannya. " Ucap Berick tanpa ada sesal.


Mereka kemudian menatap lagi ke bawah. Terlihat Eric sedang membawa Violet.


Dia segera membawa Violet dengan kedua tangannya.


" Ada apa ini? " Tanya seseorang.


Eric yang bersiap membawa Violet masuk, dia berbalik dan menatap pemilik suara itu.


" Yang mulia?!!! " Eric membelalak, dia melebarkan matanya kaget saat melihat sosok pria dengan rambut panjang hitam dengan mata abu-abunya, dia memakai seragam lengkap.


Para pelayan yang ada di sana juga seketika bungkam dan menunduk dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


" Kakak, bukankah itu. " Berick dari atas melihat sosok tersebut dengan wajah panik.


" Apa, ada apa? " Tanya Jack, dia segera melihat ke bawah lagi.


| Bukahkah itu, tidak mungkin beliau sampai kemari. | Gumam Jack.


Pria dengan rambut panjang hitam dan mata abu-abu, siapa lagi jika bukan Yang mulia raja Edward Charless Laontel.



" Hormat—


" Jangan...." Edward mengangkat tangannya, seolah Eric tidak perlu memberi hormat dengan keadaan yang seperti itu.


Edward datang bersama dengan Amon, padahal tadi Amon sudah pergi tapi dia kembali lagi.


" Kenapa Marcioness bisa menjadi seperti itu? " Amon bertanya-tanya.

__ADS_1


| Kenapa dia bisa berakhir seperti itu? baru beberapa menit aku meninggalkan kastil ini. Aku kembali karena titah yang mulia, kereta kami berpapasan dan yang mulia menyuruhku untuk ikut bersamanya. | Pikir Amon.


Edward, dia dengan mata serius menatap ke arah Violet yang terkulai. Lalu dia berbicara dengan ekspresi datar.


" Kau kesulitan membawanya, kemari...


" Biar aku yang menggendongnya. " Ucapnya dengan mata yang terus menatap wanita yang terkulai lemah itu.


" Ta—tapi....itu tidak sopan yang mulia. " Ucap Eric.


Edward menatap Eric datar dan dingin, hawa dingin itu seakan mengelilingi Eric. Mata abu-abunya yang menatap dingin lebih terlihat menyeramkan.


" ... Jika kau menolak titahku, maka itu lebih tidak sopan. " Ucap Edward dingin.


Eric pun dengan gemetar memberikan Violet ke pangkuan Edward.


Edward menatap wanita yang ada di pangkuannya, dia terlihat tidak bertenaga dengan tubuh ramping layaknya perempuan.


| Bagaimana dia bisa menjadi kepala keluarga di usia muda, dan mengurus ke empat anak yang di tinggalkan oleh mendiang suaminya. | Edward bertanya-tanya dengan mata yang menatap Violet.


" Pimpin jalannya, dia harus segera mendapat pengobatan. " Ucap Edward.


Eric segera memimpin jalannya.


Tapi saat Edward melangkahkan kakinya, dia melirik sinis ke arah pelayan yang menunduk dengan badan gemetar.


Dengan hawa dingin dan tatapan sinis, yang seakan melahap seseorang, Edward berbicara dengan nada yang mengancam.


" Melihat pelayan yang tidak kompeten, rasanya aku ingin memotong telinga dan mencongkel mata mereka......


" Entah kenapa rasanya aku ingin ikut campur....


Edward mengatakan itu, dan kemudian pergi dengan membawa Violet di pangkuannya.


Mendengar ucapan Edward, para pelayan ketakutan, mereka sudah pasti tahu, bahwa ucapan yang Edward lontarkan mengarah kepada mereka.


" Apa mungkin wanita itu menggoda Yang mulia raja? " Pelayan itu terus berpikiran buruk.


Di waktu yang bersamaan, Berick dan Jack. Mereka tidak menyangka bahwa Edward yang merupakan penguasa Laontel akan datang ke kastil mereka.


" Tidak bisa di percaya, kenapa beliau sampai datang kemari? " Berick bertanya-tanya dengan risau.


" Aku tidak tahu, beliau tidak pernah menunjukkan wajahnya jika bukan suatu hal yang penting. " Jawab Jack dengan pemikiran keras.


Jack yang selama ini bekerja sebagai akuntan di istana kerajaan, dia tahu betul bahwa Edward yang merupakan raja dari kerajaan Laontel, dia jarang menunjukkan wajahnya.


" Ini aneh.... " Gumam Jack.


...----------------...


Kamar Violet.



Rambut merah berserakan di atas bantal, tubuh kecil itu terbaring tidak sadarkan diri.


" Nyonya. " Eric memanggil Tuannya.


Violet berbaring di atas ranjang nya, dia mendapatkan bantuan dari tabib istana.


Tentunya itu permintaan dari Edward, Edward meminta Tabib pribadinya untuk datang ke kastil Marquess dan mengobati Violet.


" Apa dia baik-baik saja? " Tanya Edward dengan wajahnya yang acuh.

__ADS_1


Tabib dengan rambut putih abu-abu panjang dan mata biru itu, dia menjawab dengan sopan.



" Beliau baik-baik saja yang mulia, hanya saja ada sedikit robekan di kepalanya. " Jawab Tabib itu sopan.


Tabib itu bernama Ludwig.



" Itu namanya bukan baik-baik saja, berikan dia penanganan yang baik....


" Jika perlu, beri dia penawar suci agar lukanya cepat sembuh. "


Edward memerintahkan hal yang tak terduga, ketika dia mengatakan itu, semua orang manatap Edward dengan mata melebar.


Terutama Ludwig dan Amon, mereka tidak percaya bahwa Edward akan melakukan ini.


Bagimana mereka tidak kaget, penggunaan penawar suci hanya di gunakan untuk Raja saja, selain itu tidak ada yang berhak.


" .....Yang mulia, pemberian ramuan suci.....


" Itu.....agak berlebihan.....


Ludwig berbicara dengan hati-hati, matanya berputar-putar gugup.


" Ramuan suci hanya di gunakan untuk raja, bukan untuk orang lain. " Amon berbicara.


Edward dengan suara dingin nya dia merespon atas tolakan mereka.


" Ramuan suci itu milikku, mau aku apakan itu urusanku.Jadi jangan banyak berkomentar. " Ucap Edward.


" Ha." Ludwig menghela nafasnya.


Helaan itu terdengar di telinga Edward, dia menatap Ludwig dengan tatapan menyeramkan.


" .... " Edward menatap Ludwig seram.


" Ma—maaf yang mulia, saya tidak sengaja. " Ludwig dengan gemetar meminta maaf.


| Hii!!!! menakutkan, matanya sampai mau copot!! | Pikir Ludwig ketakutan.


Ludwig segera memberikan ramuan suci agar Violet cepat sembut, ramuan itu hanya di gunakan satu tetes saja.


Karena ramuan itu jarang ada di dunia, satu tetes saja, dapat menyembuhkan penyakit apapun.


" Saya sudah meneteskan ramuannya, beliau akan bangun sebentar lagi. " Ucap Ludwig.


" Bagus. " Edward puas.


Eric yang berada di sana, dia bertanya-tanya kenapa yang mulia raja bisa begitu perhatian kepada Violet.


| Kenapa yang mulia begitu perhatian, padahal ini pertemuan pertama mereka. | Pikir Eric.


" Aneh....." Edward melihat sekeliling kamar Violet.


Kamar Violet sangat sederhana, bahkan di katakan sederhana juga tidak.


" ......Dia menempati kamar yang buruk rupa seperti ini....." Gumam Edward.


" Kamar ini tidak layak di gunakan. " Gumamnya sekali lagi.


...----------------...

__ADS_1


Malam 2 Chapter lagi, untuk novel yang lainnya juga sama, author bakal Crazy up di setiap novel author.😆😆😆😆



__ADS_2