Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 35


__ADS_3

Hati Violet terasa sakit melihat Henric dalam keadaan seperti itu, meski Henric selalu menghinanya Violet tidak bisa menyangkal bahwa dia sudah menyayangi Henric..


" Henric......" Violet melihat wajah Henric, dan tatapan Henric.


Melihat wajahnya yang pucat pasif seperti lilin, matanya yang kosong seperti tidak ada semangat hidup, tubuhnya yang lemah.


Bagaimana bisa seorang ibu tidak tersentuh melihat putranya dalam keadaan yang menghawatirkan seperti itu.


Meskipun Violet hanyalah ibu tiri, tapi dia sudah menganggap semua putra-putra Sanjay, sebagai putranya sendiri.


" Henric.....sadarlah..." Panggil Violet lembut, suaranya sangat menenangkan, bisikan itu layaknya sihir.


Putra-putra Sanjay, Arnold, Jack dan Berick. Mereka bergabung turun dari atas tempat duduk mereka.


" Kak Henric!! " Berick dengan gembira berlari menuju Henric.


" Henric? " Jack juga berjalan ke arah Henric dengan senyum seumringah.


" .....Akhirnya masalah ini selesai. " Arnold bergumam.


Mereka sekarang berada di samping Henric, tapi Henric tidak kunjung menengok, dia diam, diam, dan terus diam.


" Kenapa kak Henric hanya diam saja? " Berick bertanya.


" Dia pasti sangat trauma. " Ucap Arnold.


Violet yang terasingkan, dia hanya menatap Henric, dan bergumam memanggil namanya.


" Henric....." Panggil Violet.


Saat itu pula, panggilan yang Violet bisikkan membangunkan Henric.


Henric perlahan menatap ke arah Violet, dengan tatapan kosong. Pada saat itu, Berick, jack dan Arnold.


Mereka terkejut dengan reaksi Henric yang tiba-tiba bereaksi.


" ........Kak Henric " Panggil Berick yang melihat Henric menatap ke arah Violet.


" Ada apa? " Jack dan Arnold bertanya-tanya.


Violet yang di tatap oleh tatapan kosong tersebut dia hanya menebar senyum, karena Violet pikir Henric sudah mulai bereaksi dan sadar.


Violet memutuskan untuk berbalik dan pergi. Violet berbalik dengan membawa senyumannya.


Henric yang melihat Violet berbalik, dia mulai bereaksi lagi, dia membuka mulutnya perlahan.


" T.....Tida..k......

__ADS_1


Matanya seketika di genangi air mata, Henric terus menatap sosok Violet yang akan melangkah pergi.



" .....Ti—tidak.....


Putra-putra Sanjay bingung dengan Henric, mereka bertanya-tanya.


" Kenapa? " Arnold bertanya.


Henric mulai melangkahkan kakinya perlahan, langkahnya terasa berat. Dia ingin mengejar orang yang telah menyelamatkannya.


| Sepertinya, ini saatnya aku pergi. Karena Henric sudah bebas dari penjara. | Pikir Violet, dia berjalan pergi.


' Bruk!! ' Tiba-tiba, seseorang memeluknya dari belakang.


" ? " Violet kaget, dia pun menatap tangan yang melingkari pinggangnya.


Tangan itu terlihat kurus, pergelangan tangannya merah dan sedikit berdarah.


Itu adalah tangan Henric.


" .....Henric?!! " Violet memanggil nama putra sambungnya.


" ....Eughhh...jangan pergi!! " Henric berbicara dengan suara serak. Dia merengek.


" Eugghh.....aku tidak mau di penjara. Selamatkan aku......" Henric terus bergumam dan menangis. Dia bahkan masih memeluk Violet dengan erat.


Violet yang mendengar suara serak yang di paska untuk keluar, dia seketika menangis. Dia berbalik ke arah Henric dan memegang bahunya.


Sosok Henric yang terlihat di mata Violet berbeda dengan sosoknya yang dulu selalu menghina dan menjahilinya.


" ...Hei....kenapa kau menangis? " Tanya Violet.


Henric dengan kaki gemetar, dia merosot ke lantai, begitu pula dengan Violet.


" Henric?...." Violet panik.


" Selamatkan aku....aku tidak mau di penjara. " Henric dengan suara lemah berbicara.


Putra-putra Sanjay yang melihatnya, mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Saat melihat Henric sadar dan berlari menuju Violet, entah kenapa mereka seperti melihat Henric berlari dan memeluk ibunya sendiri.


" Henric?!! " Violet memanggil Henric.


Henric pingsan tidak sadarkan diri, di pangkuan Violet. Violet terus mengguncang badannya dan meneriaki nama putranya itu.


" Cepat bawa Henric pulang!! " Arnold berteriak.

__ADS_1


...----------------...


Kastil Marquess Sanjay.


Malam Hari.



Tabib sudah memeriksa kondisi Henric, dia bilang bahwa Henric terkena serangan mental, selama di penjara dia terus memikirkan bagaimana dia bisa keluar.


Henric juga banyak memikirkan kenapa kakak-kakaknya tidak mempercayainya.


Untuk sekarang Henric hanya bisa istirahat di dalam kastil.


" Arnold, jaga adikmu. " Ucap Violet.


Putra-putra Sanjay, masih bersikaf acuh kepada Violet.


" Aku akan menjaganya, terima kasih karena kau telah mengeluarkan Henric. " Arnold berterima kasih atas kerja keras Violet.


Lalu Berick, dia masih saja bersikap buruk.


" Heh, dia pasti hanya bersandiwara saja. Ini pasti hanya siasatnya saja, agar kita percaya bahwa dia baik dan tulus. " Ucap Berick sinis.


" Terima kasih, karena kau mau menyelamatkan Henric. Tapi walau begitu, aku tetap tidak percaya kepada mu. " Jack juga masih sama.


Violet yang masih menatap Henric dengan kondisi yang tertidur.



Violet, dia bergumam seraya menatap Henric.


" Tidak masalah. " Jawab Violet.


" Arnold, sudah saatnya kau mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. " Violet sudah mulai membicarakan hak Arnold.


Wajah mereka seketika berubah menjadi lebih serius di banding dengan tadi.


" Apa maksudmu? "Tanya Arnold.


" Aku akan turun dari kedudukanku sebagai kepala keluarga sementara. Ambilah hak mu Arnold, karena kau sudah cukup dewasa. " Violet akan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada Arnold.


Tanggung jawab sebagai kepala keluarga..


| Aku sudah menyiapkan berkas dan hal lainnya di meja kerjaku. Besok aku harus keluar dari rumah ini. | Pikir Violet.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2