
Hakim agung kemudian melanjutkan pertanyaan lagi. Dia berbalik dan menatap Henric yang masih diam dengan pandangan lurus tanpa ada aura kehidupan.
".....Tersangka, Tuan muda Henric. Apa pernyataan yang di tuduhkan kepada anda adalah kebenaran? " Tanya Hakim agung.
"......." Henric tidak menjawab, dia diam seperti tubuh tanpa jiwa. Matanya yang kosong terus menatap lurus dan bibir itu tidak bergeming sedikit pun.
Berick yang menonton dari atas dia bergumam.
" Jawab kak!! jangan diam seperti itu. " Berick bergumam melihat Henric yang diam tidak berbicara.
Hakim agung bertanya sekali lagi.
" Apa pernyataan yang dituduhkan benar adanya, tersangka? mohon di jawan. " Hakim itu bertanya.
Tapi pertanyaannya tidak di jawab, Henric diam membisu.
" Sepertinya dia sudah sangat stres. Hingga jawaban seperti itu pun tidak di jawab. " Gumam Edward yang melihat dari atas singgahsananya.
" ...Padahal kita tidak memperlakukannya dengan buruk. Hanya mengurungnya saja di dalam penjara. " Amon ikut berbicara.
" Baiklah, sepertinya, tersangka tidak mau memberikan pernyataannya. " Hakim agung melanjutkan.
Hakim itu kembali menatap Gulie, dia pun mulai bertanya lagi.
" Lalu, kapan pelecehan itu terjadi? dan sudah berapa kali? " Tanya Hakim agung.
" Gulie....
| Aku harus menjawab berapa dan kapan. Aku hanya akan mengarangnya. | Pikir Gulie.
" Gulie di lecehkan sebanyak 3 kali, dan itu terjadi di tanggal 2, 8, dan 19. " Jawab perempuan itu, dia hanya mengarang tanggal.
Hakim itu sedikit mengerutkan dahinya, dia pun membuka buku catatannya. Hakim tersebut terlihat membaca catatannya.
" ....Apa anda tidak salah ingat? " Tanya Hakim Agung.
" ..Ke-kenapa? " Tanya Gulie mulai gugup.
" Tidak, saya hanya ingin memastikan. " Ucap Hakim Agung.
" Kak, tanggal 8, 2 dan 19. Bukankah kak Henric selalu di rumah? " Tanya Berick.
" Kau benar, Henric tidak keluar rumah di tanggal itu, dia hanya akan pergi ke kedai itu di tanggal 3, 5, 7,13, dan 25. Selain dari tanggal itu dia tidak pernah pergi kekedai tersebut. Karena tanggal itu adalah tanggal di mana dia harus berlatih pedang." Arnold bergumam.
| Kemana wanita itu, sidang sudah berlangsung, jika aku menjadi kepala keluarga aku bisa mengeluarkan Henric dan tidak perlu bergantung kepadanya.| Pikir Arnold.
__ADS_1
Tangan Arnold mengepal pegangan kursi dengan kuat, dia kesal karena Violet masih belum muncul.
" Wanita itu berbohong!! " Jack tiba-tiba berteriak, dia menatap ke arah Gulie dengan tatapan sangar.
Semua yang ada di aula, mereka memandangi Jack, Edward pun melirik ke arah Jack.
" Tolong tenanglah. " Amon menenangkan.
" Sudah kubilang dia berbohong!! " Jack terus berteriak.
" Jika kau terus berbicara, aku akan mengeluarkanmu!! " Edward menegur Jack.
" Yang mulia, dia berbohong!! gadis itu berbohong!! " Jack masih kekeh.
" Kau tidak punya hak untuk berbicara, jadi diamlah!! " Edward sekali lagi menegur.
" Jack, sabarlah. Jika kau terus berteriak, kau akan di tendang keluar. " Arnold memperingati.
Dengan tatapan tidak puas, Jack diam dan duduk kembali.
| Wanita itu harus di beri pelajaran, dia tidak datang sama sekali. | Pikir Jack.
Di tengah sidang, dan keributan yang telah di buat oleh Jack, tiba-tiba penjaga istana berteriak melaporkan kehadiran seseorang.
" Marcioness Violet telah tiba!! " Seru penjaga tersebut.
Ketika mendengar nama itu, semua orang berbalik dan menatap ke arah pintu masuk ruangan.
Mereka ingin melihat Violet.
Perempuan dengan pakaian putih polos, rambut merah dan mata hijau. Perempuan itu berjalan dengan anggun, dia menatap lurus ke hadapan Edward.
" .....Penyihir itu? " Berick melihat Violet dengan tatapan terkejut, dia pikir Violet tidak akan datang.
" ...Dia datang?! " Jack melebar, dia tidak menyangka bahwa Violet akan datang.
" Hah! syukurlah dia datang. " Arnold pun merasa lega.
" Apa dia wanita yang di sebut sebagai Janda muda kaya raja? " Bangsawan saling bergunjing.
" Marcioness Violet menghadap. " Violet menyapa Edward.
"....." Edwad diam.
" Maaf, saya terlambat. " Ucap Violet.
__ADS_1
" Tidak apa, kau boleh duduk di kursimu. " Ucap Edward.
| Aku pikir dia tidak akan datang, kenapa kau harus datang. | Pikir Edward.
Violet berbalik dan dia menatap Henric dengan wajah cemas. Violet berpikir bagaimana putranya bisa terlihat seperti itu, dia seperti kehilangan jiwanya.
| Apa yang sebenarnya dia alami. Kenapa dia separah ini? | Violet bertanya-tanya.
" Karena anda sudah datang, maka sidang akan berlanjut. " Hakim agung menegaskan.
Violet kemudian memberikan beberapa berkas kepada hakim tersebut.
" Apa ini? " Tanya hakim itu.
" Putraku tidak bersalah, perempuan itu hanya mengarang saja. " Violet berbicara dengan suara yang dingin.
" Bagaimana bisa anda mengatakan bahwa Gulie berbohong, anda ternyata sama seja dengan putra anda. " Gulie mulai kehilangan kepolosannya.
Violet menatap Henric yang mematung, lalu dia berjalan ke arahnya.
" Henric?....." Violet berbisik di telinga Henric dengan suara lembut.
Henric tidak menanggapi, dia hanya bengong saja.
| Sepertinya, dia sudah kena mental. | Pikir Violet.
" Saya tidak akan membela yang salah, jadi omongan saya tadi tidak ada kebohongan. " Violet menjawa pertanyaan Gulie.
Hakim agung menghentikan permbicaraan tersebut, dia pun berbicara kepada Violet.
" Apa anda memiliki bukti lain. " Hakim tersebut bertanya kepada Violet.
" Heh!! aku tidak ingin melakukan ini, tapi karena sudah terlanjur....
" Aku akan melakukannya.
Violet bergumam, entah apa yang ingin dia lakukan.
" Gavino, keluarlah!! " Violet berteriak, dia memanggil nama sahabatnya.
Cahaya hijau mulai terlihat setelah Violet memanggil nama sahabatnya.
Cahaya itu berangsur-angsur memuncak, dan perlahan menampilkan seseorang dengan pakaian khas penyihir.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
" Eughhhhhh.....aku tidak mau di penjara!!! "