Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 84


__ADS_3

Pasar Ibu kota Laontel.



Edward bersama dengan Amon menyamar sebagai rakyat biasa, mereka berdua menunggangi kuda untuk mengetahui apa reaksi dari orang-orang yang membaca berita dari koran yang telah di sebar.


" Amon, sepertinya aku harus turun dari kudaku. Aku ingin mendengar dengan jelas bagaimana tanggapan mereka mengenai berita tersebut. " Ucap Edward.


" Saya mengerti tuan. " Jawab Amon paham, seraya turun dari kuda.


Edward juga turun dari kudanya, meski dia memakai pakaian sederhana, penampilannya tetap saja mencolok di antara orang-orang.



| Bagaimana bisa tanpa jubah, dan pakaian resminya, beliau tetap saja gagah, dan tampan. Sulit sekali untuk tidak menarik perhatian. | Pikir Amon yang melihat Edward.


Amon juga melihat sekeliling pasar, dia menyadari bahwa orang-orang terus menatap Edward, terutama wanita.


" Tuan, sepertinya anda terlalu mencolok. " Ucap Amon.


" Apa maksud mu? " Tanya Edward.


" Lihatlah di sekeliling anda, orang-orang menatap anda, terutama wanita. " Jawab Amon.


Edward tidak peduli, mau orang lain menatapnya atau tidak, yang terpenting, mereka tidak tahu bahwa dia adalah Raja Laontel.


" Jangan memusingkan hal itu, aku sudah sering di tatap seperti itu. " Ucap Edward acuh seraya berjalan ke arah kerumunan.


Amon sebagai ajudan Edward, dia pun mengikuti Edward.


Saat itu, banyak sekali rakyat yang sedang berkerumun, mereka terlihat sedang membaca koran harian.


Edward mencuri dengar, dia menyenderkan tubuhnya ke dinding, dengan tangan terlipat.


| Apa reaksi mereka? Apa ini akan berhasil? | Edward bertanya-tanya dalam hatinya.


Saat Edward mencuri dengar, Edward akhirnya mendapat apa yang dia inginkan, rencananya berhasil dengan menyebarkan berita tentang Violet yang sudah berjasa.


" Hebat! Marcioness, yang di cap sebagai janda muda kaya raya ternyata sudah berjasa besar. " Suara heboh terdengar dari laki-laki yang sedang memegang koran di tangannya.


" Dia bahkan melakukan pembasmian monster untuk menyelamatkan orang-orang. Dia wanita yang harus di beri gelar tinggi. " Ucap salah satu wanita yang seorang pedagang.


" Jika dia menjadi Ratu di kerajaan ini, itu mungkin adalah hal yang baik. Selain itu, dia juga terkenal akan kesabarannya menghadapi ke empat putranya. Tidak hanya itu, dia juga berhasil mengubah keuangan keluarga Marquess dengan caranya sendiri. " Para rakyat saling mengungkapkan rasa kagum mereka terhadal Violet.


Berita yang Edward buat, memang berita nyata, Edward sengaja membuat berita yang membuat masyarakat bisa menerima Violet.


Karena respon dari rakyatnya cukup bagus, Edward tentunya sangat senang, ketika dia mendengar respon tersebut, dia tersenyum puas.


| Sepertinya, aku akan mengadakan pernikahan secepatnya. | Pikir Edward senang.


" Tuan, sepertinya keinginan anda sebentar lagi akan terwujud. " Ucap Amon dia pun ikut senang mendengarnya.


Syarat pertama yang di ajukan oleh Violet sudah terselesaikan. Syarat kedua itu pun sangat mudah untuk di lakukan.


" Amon, ayo kita ke kastil Marquess. Aku ingin bertemu dengan calon Ratuku. " Ucap Edward seraya berjalan ke arah kudanya.


Edward menaiki kuda dengan gagah, begitu pula dengan Amon.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke kastil Maruqess, sesuai dengan permintaan Edward.


...----------------...


Kastil Marquess Sanjay.


Tepatnya di rumah kaca.



Edward, dan Violet tengah berbincang mengenai pernikahannya.


" Violet, semua syarat sudah aku patuhi, tidak ada alasan untuk mu menolakku lagi. 3 hari lagi aku memutuskan untuk menikahimu Violet. " Edward langsung ke inti.


" Jika memang semua syarat sudah di lakukan, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi, 3 hari itu terlalu cepat, aku tidak bisa Edward. Eric, dia belum tertangkap, aku harus menangkapnya terlebih dahulu. " Ucap Violet.


Violet tidak mungkin mempercepat pernikahannya, masih ada yang harus Violet selesaikan.


Eric, dia belum tertangkap, Violet menginginkan Eric. Edward pun menjelaskan kepada Violet, mengenai Eric yang sedang berusaha menaklukkan Naga.


" Kau tenang saja Violet, Eric sebentar lagi akan mati, dia berencana menaklukkan Naga terakhir yang kita selamatkan. " Ucap Edward.


Mendengar hal itu, Violet terlihat terkejut, sekaligus bingung, kenapa Edward tidak menangkapnya, dan malah membiarkan Eric mati tanpa di lakukannya pengkapan.


" Kenapa kau membiarkan di mati? Aku masih memiliki pertanyaan untuknya. " Ucap Violet.


" Jadi, kau ingin Eric di tangkap terlebih dahulu? " Tanya Edward.


" Ya, aku memiliki pertanyaan untukknya. " Jawab Violet.


Edward langsung melirik Amon yang berdiri di sampingnya sedari tadi.


" Amon, kau tahu apa maksud ku bukan? " Tanya Edward.


" Saya mengerti yang mulia. " Jawab Amon, mengerti.


Amon mengerti, bahwa dia harus menghubungi Shadow lewat Artefak komunikasi.


...----------------...


Gunung timur, kerajaan Laontel tepatnya di wilayah Marquess.



Eric dengan beberapa prajurit bayaran nekay datang ke gunung timur, gunung itu bernama gunung Azura.


Gunung di mana tempat Naga terakhir tinggal, Eric datang dengan prajurit bayarannya tentunya untuk menaklukkan Naga tersebut.


" Kita harus secepatnya mencari Naga tersebut, jangan sampai rencana ini gagal! " Ucap Eric yang berada di atas kuda.


" Kami mengerti! " Jawab prajurit bayaran.


Mereka turun dari kuda masing-masing, karena jalan menuju ke dalam gunung, sangat sempit.


" Cepat! " Teriak Eric, dia sudah tidak sabar untuk menaklukkan Naga.


Eric, dan prajurit bayarannya menyusuri setiap sisi gunung tersebut. Tetapi Naga itu tidak ada.

__ADS_1



Di sisi lain, ada Shadow yang terus mengawasi Eric.


Karena Edward menyuruh mereka untuk menangkap Eric, maka Shadow pun harus segera menangkap Eric bagaimana pun caranya.


" Sisi kiri, dan kanan pasang formasi dengan benar, kita akan mengepung Eric. " Ucap Shadow yang siap turun untuk mengepung Eric beserta prajurit bayaran.


Akan tetapi, sebelum itu terjadi, gunung itu mulai berguncang hebat.


" Apa itu? " Eric bertanya-tanya, dia terus menghadap ke kiri dan ke kanan.


| Apa itu Naga? | Pikir Eric.


" Gunung ini akan meletus!! " Teriak prajurit bayaran.


" Bodoh!! Ini bukan akan meletus!! " Teriak Eric.


Saat mereka berdebat, makhluk yang Eric harapkan akhirnya muncul. Dragon, atau Naga, dengan tubuh besar, dan sangar muncul tepat di depan mereka.


Sayap yang terjulang besar, Naga itu menghembuskan Nafas kasar yang membentuk asap.



" Be—besar sekali! " Dengan suara ketakutan Eric berbicara.


Ini pertama kalinya Eric melihat Naga, dia pikir Naga itu kecil. Tetapi nyatanya tidak.


| Apa ini akan berhasil? Tidak, ramuan yang kubeli dengan harga mahal pasti akan berhasil. | Pikir Eric yakin.


" Cepat!! serang dia!! " Teriak Eric.


Prajurit bayaran yang di suruh untuk menyerang, mereka maju dan menggunakan senjata mereka.


' Groauhhh!!!! ' Raungan Naga terdengar dan mengguncang wilayah tersebut.


" Tidak ada efek sama sekali! " Teriak prajurit bayaran.


Senjata yang mereka gunakan tidak mempan sama sekali, kulit Naga yang keras, tidak mudah untuk lukai.


" Sia-sia aku membayar kalian!! " Teriak Eric sekali lagi.


Saat para prajurit lengah, Naga tersebut, melempar para prajurit bayaran, ke lahar api.


Suara teriakan terdengar nyaring, ketika para prajurit itu terlempar, dan terbakar oleh panasnya lahar api.


' Gruuauhahhhhhh!! ' Dengan aura yang marah, Naga itu menatap Eric.


Eric yang di tinggal sendirian, dja gemetar ketakutan. Tetapi itu tidak membuatnya mundur.


" .....Aku tidak boleh mundur....prajurit bodoh itu mati dengan sia-sia, dasar tidak berguna!! " Eric dengan marah berbicara.


Karena dia tidak bisa melawan Naga tersebut sendiri, akhirnya ramuan Naga yang dia beli, di keluarkan.


...----------------...


Bentar lagi Ending, 2 chapter lagi, tapi besokšŸ˜€

__ADS_1


__ADS_2