
Ketegangan di taman malam tersebut terjadi dengan begitu menyeramkan, Henric yang memberi ke tiga saudaranya pukulan.
Dia pergi begitu saja, dengan meninggalkan buku yang dia temukan di kamar Violet.
Arnold dengan wajah mengeras menatap buku yang ada di bawah kakinya, buku milik Violet terlihat tua dan sedikit lapuk.
Berick yang pipinya masih panas karena tamparan Henric, dia meludah kesal atas perlakuan Henric kepadanya.
" Dia menamparku?!! hanya demi wanita penyihir itu?!! " Teriak Berick.
" Seharusnya kita membunuh wanita itu sejak dulu!! hubungan persaudaraan ini bisa rusak karena wanita penyihir itu!! " Sekali lagi Berick berteriak.
Sedangkan Jack, dia menatap punggung Henric yang berangsur-angsur menghilang. Jack, masih menatap jalan yang di lewati Henric.
Seolah Jack, berharap Henric kembali, dan meminta maaf atas perlakuannya. Tapi itu tidak terjadi.
Lalu dia menatap buku yang ada di bawah kakinya.
" .....Henric tidak mungkin melakukan ini....Jika bukan karena hal penting." Ucap Jack.
Jack merasa jika Henric tidak mungkin menampar dan memukul saudaranya hanya karena masalah sepele. Dia mulai yakin, bahwa Henric berusaha untuk meyakinkan mereka atas sesuatu.
"......Itu karena dia gila. " Arnold masih menganggap Henric gila.
Entah kenapa dia masih merasa jika adiknya gila, padahal sudah jelas Henric mengatakan bahwa dia tidak gila.
Jack yang mendengar perkataan Arnold, dia langsung menyambar.
" Apa kakak tidak dengar, Henric bilang dia tidak gila!!....
" Lagi pula, aku merasa jika dia memang sudah sembuh, sorot matanya yang teguh, dan yakin saat tadi Itu cukup membuktikan bahwa dia memang tidak gila. " Jack meyakinkan bahwa Henric memang tidak gila.
Dia melihat bagaimana mata Henric yang penuh keteguhan dan keyakinan berkobar saat berbicara dengan mereka.
__ADS_1
Lagi pun mana ada orang gila yang berbicara dengan begitu lancar.
Arnold dan Berick diam dengan wajah mengeras seolah tidak ingin mendengar lagi.
Jack pun mulai membungkuk dan mengambil buku yang tergeletak di atas hamparan rumput.
" .....Buku ini...
" Dia bilang bahwa bukti-bukti perkataannya ada di sini. " Ucap Jack dengan memegang buku tersebut.
" Buka bukunya dan bacakan secara lantang!! " Ucap Arnold dengan yakin dan tegas.
Lalu dia berbicara lagi dengan nada sedikit rendah seolah meremehkan.
" Bukti apa yang tersimpan di dalam buku lusih tersebut, sehingga dia berani memukulku. " Ucap Arnold meremehkan.
" Ya, coba kak bacakan, jika itu tidak terlalu penting kita harus membakar buku tersebut. " Ucap Berick dengan mata tajamnya.
Jack mulai membalik buku tersebut sama hal nya dengan Henric. Jack pun membaca judul buku tersebut.
" ......Catatanku..." Jack membacanya dengan lantang sesuai dengan keinginan Arnold.
" Ini paragraf pertama dari halaman pertaman. Tulisannya terkesan tidak rapih dan acak-acakan. Tapi ini, masih bisaku baca. " Ucap Jack dengan alis mengerut ketika melihat tulisan di halaman pertama.
" Bacakan! " Tegas Arnold.
Jack pun mengangguk, dia pun mulai membaca paragraf satu, dari halaman pertama secara lantang, agar Berick dan Arnold mendengarnya.
" Hari ini adalah hari pernikahanku, hari di mana aku akan keluar dari rumah yang selama ini membelenggu diriku...
" Yang selama ini merusak tubuh dan mentalku. Bibiku, dia menjualku kepada bangsawan yang bergelar Marquess, saat itu sebenarnya aku menolak karena aku sangat muda dan tidak cocok—
Baru kalimat pertama Jack berhenti dan melirik Arnold, saat itu Arnold hanya menaikan alisnya, sedangkan Berick, dia hanya berpangku tangan.
Seolah itu tidak penting, tapi berbeda dengan Jack, dia merasa bahwa kalimat itu sama dengan perkataan Violet dulu.
Perkataan saat Viole baru saja tiba di kastil Marquess.
Seketika perkataan Violet dulu terlintas di dalam ingatan Jack.
__ADS_1
— Jika bukan karena paksaan wanita itu dan situasi yang buruk atas kehidupanku, aku pasti tidak akan pernah menerima tawaran ayahmu!!
— Dari segi umur pun, ini bisa saja di sebut pernikahan tergila sepanjang masa.
|Aku ingat dia pernah mengatakan hal itu kepadaku, tapi aku menolak untuk percaya.| Pikir Jack dengan tatapan yang masih menatap buku di tangannya.
" ...Kenapa kau diam, cepat teruskan! " Arnold memerintah lagi.
|Aku tidak yakin jika buku ini benar adanya. Tapi yang jelas, catatan di buku ini memang terlihat kusut, seolah tulisan itu sudah ada bertahun-tahun.| Pikir Arnold dengan serius.
Jack mulai membaca lagi.
" Tapi, setelah aku berpikir, mungkin akan lebih baik jika aku menikah, dan pergi dari rumah bibiku. Saat aku menikah, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi istrinya, walaupun aku tidak paham, bagaimana kehidupan setelah pernikahan. " Paragraf pertama sudah selesai di bacakan.
" Dengar, dia tidak paham dengan pernikahan tapi dia malah menikah di usia muda. Dasar wanita menjijikan. " Berick mendecakkan lidahnya dan mencela tindakan Violet.
Jack mulai beralih ke paragraf kedua, dari halaman pertama.
" Paragraf kedua, dari halaman pertama.
" Hari setelah aku menikah, ternyata tidak seindah yang di bayangkan. Suamiku memang memperlakukanku dengan baik, dia memberi makan aku dengan makanan yang layak dan enak, tidak hanya itu dia juga sangat sopan kepadaku, walaupun usianya sangat berbeda jauh denganku...
" Yang membuatku tidak nyaman adalah, para pelayan yang menatapku dengan mata sinis dan dingin, seolah mereka melihatku sebagai serangga, selain itu, suamiku memilik 4 putra, dan mereka semua menyebalkan. " Jack menyelesaikan paragraf kedua.
" Itu hal yang wajar jika kita menyebalkan, karena kita tidak pernah menerimanya. Saat dia masuk ke kastil ini dengan status 'Istri' dan 'Ibu Tiri' aku sangat membencinya, apalagi ketika aku mendengar dari Eric, bahwa dia hanya mengincar uang. Rasanya aku ingin menerjang kepalanya hingga jatuh dan berguling di tanah. " Arnold dengan sorot mata berkobar berbicara.
" Kakak benar, perlakuan pelayan juga menurutku wajar. Karena mereka bergerak atas perintah kita, dan juga mereka hanya setia kepada tuan yang benar. Lagi pula, untuk apa wanita menjijikan itu menulis catatan seperti ini. Dasar bodoh! " Ucap Berick dengan suara yang mencela.
" .....Ada alasan kenapa dia menulis catatan ini. Jangan mencela sebelum kita membaca semua isi buku yang ada di sini. " Ucap Jack, sepertinya perlahan dia mulai sadar.
Mereka masih ragu akan tulisan di halaman pertama dan paragraf pertama. Apa jadinya saat mereka membaca Paragraf kedua dari halaman keempat belas, dimana Violet menuliskan kematian ayahnya dan alasan kenapa Violet tidak pergi dari kastil tersebut.
Jack mulai meneruskan ke halaman-halaman berikutnya, sama halnya dengan Henric, setiap halaman setelah halaman pertama, tidak ada yang penting.
...----------------...
BERSAMBUNG......
See You besok yah😉
__ADS_1