Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 51


__ADS_3

2 Tahun Kemudian.


Pulau Hibria.



Pulau indah dengan hamparan pasir dan lautan. Cahaya matahari yang hangat dan pedesaan yang rakyatnya hanya penyihir.


Di sebuah kediaman yang besar dan mewah, di situlah Violet tinggal selama 2 tahun.



" Gavin, dimana Nyonya berada? dari tidak melihatnya. " Seorang pelayan wanita


bertanya kepada laki-laki yang tidak lain adalah Gavino.



" Violet pergi ke pasar Tradisional, dia pasti sedang mengobrol dengan nyonya yang ada di pasar itu. " Jawab Gavino.


Gavino tinggal dengan Violet sebagai sahabatnya, dia juga tinggal bersama dengan istrinya, yang tidak lain adalah pelayan wanita yang berbicara dengannya.


" Sejak beliau datang ke Hibria, beliau awalnya pendiam dan tidak banyak bicara, tapi setelah beberapa bulan, beliau akhirnya mau bergaul dan berbicara banyak dengan penduduk Hibria. " Pelayan yang merupakan istri dari Gavino berbicara.


" Sulit bagi dirinya untuk terbuka, karena suatu alasan yang selalu dia pikirkan. " Ucap Gavino.


" Dalam kepalanya banyak sekali pertanyaan dan gambaran yang terlewat. Terlebih mengenai putra-putranya. Walaupun bukan darah dagingnya, Violet sampai sekarang masih tetap memikirkan mereka.


" Padahal putranya tidak pernah melihat kebaikan Violet, tidak ada yang bersikaf baik kepadanya. Mereka hanya menutup mata dan telinga mereka. " Gavino terlihat kesal ketika membahas putra-putra Sanjay.


Gavino kemudian menatap istrinya, dia berbicara lagi dengan penuh keseriusan.


" Ryu, kita harus melayani Violet sebaik mungkin. Dia adalah orang yang patut di layani dengan baik dan setia. " Ucap Gavino Serius.


Ryu adalah nama dari istri Gavino.



Istri Gavino menjawab dengan penuh ketegasan.


" Aku pasti akan melayaninya dengan baik. Karena beliau adalah orang baik. " Ryu menjawab Gavino.

__ADS_1


Pasar Hibria.....



Sementara itu, orang yang sedang mereka bicarakan, sekarang tengah berada di antara kerumunan penduduk Hibria.



Saat itu pasar sangat padat akan penduduk Hibria, mayoritas penduduk di sana adalah penyihir dan nelayan.


Di antara penduduk di sana, ada perempuan yang terlihat mencolok, perempuan itu memiliki rambut merah. Rambut merahnya berkibar terkena angin, sosok belakang yang familiar.



" Nak, kemana kau akan pergi dengan keranjang itu? " Wanita paruh baya bertanya kepada perempuan berambut merah tersebut.


Perempuan itu berbalik, saat dia berbalik senyum merekah terlihat dari bibirnya, mata hijaunya terlihat cerah dan penuh semangat ketika menatap wanita paruh baya tersebut.



Wanita itu tidak lain, dan tidak bukan adalah Violet, mantan kepala keluarga Marqueess.


Wanita yang dulunya tidak memiliki tatapan cerah dan terkesan sunyi dan hampa.


" Anda bertanya kepada saya? " Tanya Violet.


" Benar. Keranjang yang kau bawa terlihat penuh dengan pakaian. Apa kau akan mencuci pakaian di pinggir laut? " Tanya wanita paruh baya.


Violet menjawab dengan suara lembut dan terkesan ceria.


" Tidak Bibi, saya hanya membawa pakaian ini untuk seseorang. " Jawab Violet.


" Anak yang baik, kau membawa itu untuk seseorang. Siapa orang itu? " Tanya Wanita paruh baya seraya memuji Violet.


" Itu—


Saat Violet akan menjawab, tiba-tiba seseorang memanggilnya.


" Violet! tunggu nenek tua ini!! kau berjalan dengan sangat cepat. " Panggil seseorang dari belakang Violet.


Violet kemudian berbalik.

__ADS_1


" Ini dia pemilik keranjang pakaian yang saya pegang. " Ucap Violet seraya menatap sosok wanita yang lumayan tua.


" Bibi Lizy......" Panggil Violet kepada wanita yang lumayan tua tersebut.


" Ada apa Violet? " Tanya wanita yang di panggil Bibi Lizy tersebut seraya menatap wanita paruh baya.


" Tidak, bibi ini hanya bertanya siapa pemilik keranjang pakaian yang saya bawa. " Jawab Violet.


Wanita paruh baya itu tersenyum, dan dia berbicara.


" Anak muda ini sangat baik, apa dia putri anda? " Tanya wanita paruh baya kepada Bibi Lizy.


Bibi Lizy kemudian menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut.


" ....Tidak, dia bukan putri saya. Dia adalah Violet, anda tahu rumah besar yang ada di ujung sana? " Tanya Bibi Lizy.


" ..Bibi, jangan lakukan itu. " Violet seolah melarang Bibi Lizy untuk mengatakan itu.


" Rumah besar yang mewah itu? Saya tahu, katanya pemiliknya sangat murah hati, penduduk di sini pun sangat menghormati dirinya. Memangnya kenapa? " Tanya Wanita paruh baya tersebut.


" Pemilik yang anda maksud adalah Violet.....wanita ini. " Bibi Lizy mendorong Violet.


" Bibi.....jangan seperti itu..." Violet tidak suka menyombongkan diri.


Wanita paruh baya itu kaget ketika mengetahui hal itu, awalnya wanita paruh baya itu mengira bahwa Violet hanyalah pelayan yang bekerja di salah satu rumah besar yang ada di Hibria.


" Apa itu benar? gadis ini adalah pemilik ruma besar itu? " Tanya wanita paruh baya tidak percaya.


" Benar, dia adalah Violet. Meski dia orang berada, dia tidak pernah menunjukkan sisinya tersebut. Dia selalu tampil sederhana dan sopan terhadap orang tua. Selain itu, dia juga selalu membantu penduduk Hibria. " Bibi Lizy membanggakan Violet.


" Terima kasih Bibi, tapi ini terlalu berlebihan. "


Violet hanya berterima kasih, dia tidak mau di sanjung dan di banggakan, karena menurut dia itu tidak berguna.


" Violet ini tidak berlebihan. Kau memang baik. " Ucap Bibi Lizy seraya mengelus pundak Violet.


" Tidak, Nak. Bibimu benar, itu tidak berlebihan. Semua orang sudah tahu jika pemilik rumah besar mewah itu sangat baik. Saya juga tidak menyangka bahwa pemilik rumah itu, adalah anda. " Ucap Wanita paruh baya terkesan.


Violet terkenal di pulau Hibria, dia juga di anggap sebagai sayap dewa di pulau Hibria.


Sayap dewa yang berarti perlindungan dan pertolongan. Violet di cap seperti itu oleh petinggi di pulau Hibria.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG........


__ADS_2