Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 26


__ADS_3

Aku sudah menjadi ajudan yang mulia raja sejak lama, tapi baru kali ini aku melihat tingkah yang berbeda dari sosoknya itu.


Yang mulia adalah laki-laki berhati dingin, selain itu beliau adalah orang yang gigih, jika ada sesuatu yang beliau inginkan, maka dia harus bisa memilikinya.


Seperti tahta....


Yang mulia raja, menaiki tahta dengan membunuh semua saudaranya, meskipun itu sudah menjadi ketentuan dari kerajaan, tapi aku tidak percaya....


Bahwa orang itu (Edward) tidak menangis sedikitpun ketika membunuh ke 3 saudaranya.


Tidak ada tanda-tanda menyesal atau kesedihan dalam ekspresinya.


Tapi sekarang.....


Aku baru melihat ekspresi aneh yang keluar dari wajahnya, saat aku perhatikan sejak tadi, yang mulia terlihat menunjukkan ekspresi khawatir dan cemas.


Dia bahkan sampai mau menggendong wanita, padahal dia tidak terlalu suka bersentuhan dengan orang lain.


Jangankan perempuan, beliau juga tidak suka di sentuh oleh laki-laki.


Kenapa beliau sampai sebegitu pedulinya dengan Marcioness Violet, padahal ini pertemuan pertama mereka.


Itulah yang menjadi tanda tanya yang ada di kepalaku saat ini.


Siapakah wanita itu bagi yang mulia raja.


...----------------...


Kamar Violet.


Violet pura-pura tidur sampai Edward pergi dari sisinya.


Setelah Edward pergi, Violet bangun dan mengingat bagaimana dia bisa memiliki hubungan yang seperti itu dengan Edward.


" Dia sudah pergi. " Gumam Violet.


...----------------...


Biar aku ceritakan sedikit kisah hidupku yang membosankan, dan bagaimana aku bisa bertemu dengan Pria itu.


Pria yang memiliki identitas yang menyeramkan bagi diriku yang seorang janda.


Mungkin orang lain akan menerima lamaran nya karena identitasnya yang agung dan tinggi, tapi berbeda denganku, aku seorang janda tidak bisa menikah dengan orang yang seperti itu.


Akan banyak desas desus dan larangan dari para bangsawan tinggi. Jika seorang janda menikah dengan raja yang belum menikah.


Karena pertemuan yang tidak di sengaja, aku harus mengenalnya.


Saat itu usiaku 11 tahun, aku sudah cukup mahir dalam pembasmian monster karena aku melakukan pekerjaan itu saat usiaku 10 tahun.


Tepat di usia 11 tahun aku bertemu dengannya.


Saat itu.....


Aku datang ke sebuah kedai yang ada di ibu kota, di sana tempat pemberitahuan pembasmian monster.

__ADS_1



Banyak poster yang tertempel di dinding kedai tersebut. Ada beberapa tawaran yang tertempel di dinding kedai itu.



" Hei!! apa tawaran ini masih berlaku? " Tanyaku berani dan tegas kepada penjaga kedai.


" Hei nak, lebih baik kau pulang saja, tawaran itu tidak sesuai dengan usiamu. " Hal yang wajar jika pemilik kedai itu berbicara seperti itu, karena aku saat itu berusia 11 tahun.


" Jadi ini tawaran yang masih berlaku? " Tanyaku sekali lagi.


" Ya!! memang kau bisa apa dengan tubuh mungil mu? itu bukan tempat main melainkan medan pertarungan, pulanglah dan minum susumu!! " Penjaga kedai itu menatap rendah ke arahku.


Yah, aku memang sering di tatap seperti itu oleh seseorang. Jadi hal itu sudah biasa terjadi.


" Aku akan mengambil ini. "


Tidak ada pilihan lain, karena uang dari pembasmian monster cukup untuk memenuhi tabungan hidupku.


Walaupun memang berbahaya, tidak semua monster kuat dan sulit di taklukkan.


Aku pergi mendaftar untuk tawaran itu dengan menuliskan namaku.


Tentu saja bukan nama asli, bagaimana mungkin seorang janda dan penyihir dewa yang terkenal melakukan pekerjaan seperti ini.


Para bangsawan akan heboh di buatnya.


Saat aku akan pergi dan mendaftar, saat itulah dia muncul, dia merebut kertas yang ada di genggamanku dengan kasar.


Aku tentunya langsung menatap orang itu dengan tatapan seperti bertanya, kenapa kau melakukan itu?


" Apa?...." Dan dia malah bertanya kepadaku dengan tatapan sangar dan dingin.


Aku langsung menegurnya karena dia mengambil sesuatu yang seharusnya milikku bukan miliknya.


" Kembalikan, itu millikku!!! " Tegurku tegas.


Aku berusaha mengambilnya, tapi dia malah merobek kertasnya, alih-alih meminta maaf dia malah tersenyum dengan seringai licik di bibirnya.


Saat itu aku benar-benar ingin merobek mulutnya selebar mungkin hingga dia tidak bisa tersenyum menyeringai seperti itu.


' Buaghhh......'


Karena aku kesal, aku menendang perutnya dengan kaki kananku, hingga dia terjatuh dengan tangan yang memegang perut.


Semua orang heboh melihat tingkah lakuku.


" Hei nak, kenapa kau menyerangnya? " Tanya pemilik kedai.


" Dia tidak selemah itu, ku pikir dia anak yang sok kuat. " Beberapa dari mereka ada pula yang berbicara seperti itu di belakangku.


Tapi aku tidak menghiraukannya, aku terus menatap ke arahnya.


Dia meringis meringkuk di bawah kakiku, aku menginjak dadanya seolah aku pendekar yang telah mengalahkan lawan.

__ADS_1


" Jangan pernah mengambil barang orang lain!! " Aku menekannya seraya berteriak di atasnya.


" Selain itu senyumanmu memuakkan, kau tahu itu!!! " Aku menambahkan kata lagi kepadanya, dari raut wajahnya dia sepertinya marah.


" Nak, sudah nak, lepaskan kakimu dari atasnya. " Seseorang mencoba melerai perkelahian kami, tapi aku tidak mundur.


" Diam paman!! mulutmu bau!!! kau terlalu banyak minum alkohol!! " Tegurku dengan tatapan tajam.


Paman itu langsung menciut, nah, maka lebih baik menonton saja.


" Kau!! beraninya kau menginjakku seperti ini!!! " Akhirnya orang yang kuinjak bersuara.


Dia menatap mataku dengan mata membulat, aku pun tidak mau kalah, aku lebih membulatkan mataku seakan bola mata itu akan keluar.


" Apa?!! jika kau mau mengambil tawaran itu seharusnya kau datang ke sini lebih dulu!! " Tegurku yang masih menatapnya dengan tatapan membulat.


" Grrrrtt...wanita ini!! " Dia terlihat menggertakkan giginya kesal, api amarah keluar dari dalam matanya.


" Menyingkir dari tubuhku!!....." Dia menyiku kakiku dan aku berteriak karena tubuhku tidak seimbang.


" Uwaaa!!


' Brukk!


Dan aku berakhir jatuh di atasnya, dengan posisi mata bertemu mata, aku melihat matanya berwarna abu kehitaman dan sedikit bercahaya.


Warna mataku yang hijau jamrud terpancar di matanya, aku terdiam seolah terhanyut dengan bola matanya.


Seperti dia menghipnotis diriku dengan mata abu-abunya.


Tapi aku tidak sepenuhnya di hipnotis, aku masih melihat bagaimana ekspresi marahnya dia, dia persis mengerutkan keningnya tanda tidak suka.


Beberapa saat kami saling bertatapan, dengan wajah sangar masing-masing, dia pun bertindak dengan mendorongku dari atasnya.


" Aku tidak tahu kau siapa, tapi kau jelas telah melakukan pelanggaran! " Dia menggerutu tidak jelas.


" Hei bocah!! apa yang kau katakan tadi? pelanggaran?....


Aku bertanya dengan sombong di depannya, anak sepertinya memang harus di perlakukan seperti itu.


" Ya!! kau melakukan pelanggaran, seharusnya aku membunuhmu saat ini!! " Ucapnya dengan kesal.


" Omong kosong apa lagi sekarang!! benar-benar, waktuku terbuang banyak karena mu!! " Aku mendengus kesal, karena dia sudah membuang waktuku.


Seharusnya saat itu aku langsung mendaftar saja dan pergi ke pembasmian. Jangan pedulikan anak itu.


" Justru waktuku yang terbuang banyak karenamu, aku sudah sibuk dengan berbagai macam hal, sekarang aku harus mengurus orang sepertimu....


" Sungguh hari yang sial dan buruk!!! "


Dia meludah kesal, sebenarnya siapa yang salah di sini.


" Sudahlah, aku juga muak meladenimu.. " Ucapku seraya pergi meninggalkan dia.


| Sial, aku tidak jadi ikut pembasmian karena bocah laki-laki itu. | Pikirku kacau.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2