
" Ibu dia membunuh kedua orang tuaku! Aku tidak bisa diam saja! " Teriak Henric, dia terlihat sangat marah.
" Aku tahu, tolong bersabarlah. " Ucap Violet.
" Aku tidak bisa bersabar, dia selama ini sudah menjadi penghianat!! Bahkan ibu dan ayah kandungku mati di tangannya! Mana mungkin aku bisa bersabar! " Teriak Henric.
Henric dengan penuh amarah yang menguasai dirinya dia membaca mantra untuj membuka jeruji besi yang menghalangi dirinya.
" Henric, berhenti! " Violet memegang tangan Henric seraya menggelengkan tangannya.
Saat mereka tengah ribut, tiba-tiba Edward datang bersama dengan Amon, dan Naga.
" Tuan! " Naha tersebut segera mendorong Henric menjauh dari Violet.
Sontak hal itu membuat Henric kaget, dan bertanya-tanya siapakah laki-laki yang beraura merah di depannya.
" Siapa kau?! Beraninya kau mendorongku!! " Teriak Henric penuh emosi.
" Tuan, menjauh darinya, dia sedang mengalami luapan emosi. Sihir, dan mananya akan membesar jika dia terus emosi, itu bisa membuat dia melukai anda. " Ucap Naga tersebut melindungi Violet.
" Kau membuat dia semakin emosi, aku harus segera menenangkan dirinya, sebelum hal yang kau katakan terjadi. " Ucap Violet.
Edward yang sedari tadi memperhatikan keempat putra Violet, dia pun berbicara.
" Jangan Violet, dia benar. Kau sebaiknya diam di belakang, aku yang akan mengurus mereka. " Ucap Edward dengan wajah serius, dan sedikit menyeramkan.
Edward maju ke hadapan putra-putra Sanjay, Amon yang berada di belakang, dia berbicara kepada Violet.
" Yang mulia, tidak akan mengadakan sidang jika tahanan sudah mengakui sendiri kesalahannya. Jadi, eksekusi akan segera di tetapkan. Mohon bersabar Yang mulia Ratu.. " Ucap Amon, dia memberi tahu Violet.
Amon bahkan sudah memanggil Violet dengan gelar Ratu, sepertinya Edward benar-benar akan mempercepat pernikahan.
Violet yang mendengar Amon memanggil dia dengan gelar Ratu, dia terdiam dengan seribu pertanyaan.
" Kenapa jeruji besi ini memakai sihir!! Aku ingin segera membunuhnya!! " Teriak Berick.
Edward yang sekarang berada di depan jeruji besi, dia memperhatikan Eric, seraya berkata.
" Kau sudah mengakui kejahatanmu Eric. Sidang tidak akan di lakukan, karena kau sendiri sudah mengakuinya. " Ucap Edward.
" Karena sidang tidak akan di lakukan! Aku boleh membunuhnya sekarang bukan? " Tanya Arnold dengan ketidak sabarannya.
Edward melirik Arnold, dan dia menanggapi perkataannya.
" Kau hanya ingin menebas lehernya saja, dan membuat dia mati? Hanya itu saja? " Edward dengan suara yang dingin bertanya.
Pertanyaan itu membuat putra-putra Sanjay terdiam, mereka berpikir lagi, hanya menebas leher Eric, itu terlalu biasa, rasa sakitnya hanya sesaat.
" Bunuh aku sekarang!! Aku sudah muak hidup di dunia ini!! " Di saat mereka diam, dan suasana hening, Eric berteriak kencang.
" Cepat bunuh aku dengan senjatamu!! Brengsek!! " Teriak Eric.
| Terlalu mudah jika aku menggunakan pedangku untuk membunuhmu Eric, kai harus mati dengan cara yang paling menyakitkan! | Pikir Arnold.
Arnold menghembuskan nafasnya, untuk menenangkan dirinya, setelah dia tenang, Arnold berbicara kepada adik-adiknya.
__ADS_1
" Redakan amarah kalian, yang mulia raja benar, terlalu ringan jika Eric mati hanya dengan satu penggalan dari pedang kita. Kita harus menghukumnya hingga dia memohon mati secepatnya. " Ucap Arnold.
Jack, Berick, dan Henric, mereka akhirnya setuju, mereka juga berpikir terlalu ringan jika mereka membunuh Eric begitu saja.
Violet yang melihat mereka dari belakang punggung Naga tersebut, dia pun akhirnya mulai tenang.
" Tuan, putra-putra anda sudah tenang, emosi dari Tuan muda Henric juga sudah mulai reda. " Ucap Naga tersebut.
" Karena mereka sudah tenang, bisakah aku mendekati mereka? " Tanya Violet.
Naga tersebut pun segera menyingkir dari hadapan Violet. Violet pun berjalan mendekati putra-putranya.
Saat itu pula, putra-putra Sanjay memohon ampun kepada Violet karena sikap mereka yang tidak sabaran, dan emosian.
" Ibu?....maafkan kekasaran kami, karena emosi yang meluap, kami membentakmu begitu saja. " Ucap Berick.
" Tidak masalah, wajar jika kalian marah, karena ini menyangkut kematian kedua orang tua kalian. " Ucap Violet.
" Jadi, apa hukuman yang pantas Eric dapatkan? " Violet melirik Edward dan bertanya.
Edward pun menjawab dengan tegas, dan serius.
" Dia akan di hukum seberat-beratnya. Hukumannya adalah, kematian dengan seribu luka. " Edward akhirnya menetapkan hukuman tersebut.
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan penetapan hukuman tersebut, mereka tahu apa itu hukuman 'kematian seribu luka'
Hukuman itu adalah hukuman paling lambat, dan menyakitkan lebih dari apapun.
" Tidak....
" Jangan, jangan beri aku hukuman tersebut!! Aku...
Tapi sayangnya, Edward sangat tegas, dia jarang menarik perkataannya.
" Besok, hukuman itu akan di lakukan. Aku tidak akan menarik keputusanku. " Ucap Edward.
Putra-putra Sanjay akhirnya puas, meski mereka memiliki sedikit rasa kasihan terhadap Eric, tapi tetap saja, kedua orang tuanya mati karena Eric.
Rasa kasihan tersebut hilang begitu saja, jika mengingat perkataan Eric yang telah membunuh kedua orang tuanya.
" Bagus, aku ingin melihat bagaimana kau memohon untuk mati berkali-kali. " Ucap Henric dengan wajah marahnya.
Mereka pun meninggalkan Eric sendirian di dalam jeruji besi tersebut. Eric yang tidak mau menerima hukuman tersebut, dia lagi-lagi berteriak.
" Apa aku salah jika ingin hidup tanpa harus mengabdi kepada kalian? Apa aku salah jika aku ingin mengubah kehidupanku menjadi lebih baik, aku ingin hidup kaya....Apa itu salah? " Eric berteriak.
" Jika kau ingin berhenti untuk hidup miskin, maka berjuanglah dari titik terendah, kau ingin hidup kaya dengan cara cepat, itu tidak akan pernah berhasil, apalagi jika kau harus membunuh seseorang hanya karena obsesimu terhadap kekayaan. Caramu salah Eric, dan juga, jika kau berkata ingin berhenti mengabdi kepada keluarga Marquess, kami pasti akan mengijinkan nya, dan mungkin akan memberimu kompensasi yang sangat besar. Aku tahu, saat ini kau pasti sangat menyesali perbuatanmu. " Ucap Arnold, dia berhenti, dan berbicara tanpa berbalik.
Setelah Arnold menanggapi Eric, Arnold pun pergi menyusul yang lainnya di depan.
Eric yang mendengar perkataan Arnold, dia terdiam, penyesalan mulai menguasai dirinya, Eric menatap punggung Arnold yang perlahan menghilang dari pandangannya.
" Aku salah......" Eric berbicara dengan nada rendah di penuhi penyesalan.
Matanya mulai merah, dan butiran air mata mulai keluar membasahi pipi Eric. Penyesalan selalu datang di akhir, jika di awal, maka tidak akan ada manusia yang membuat kesalahan.
__ADS_1
...----------------...
Keesokan harinya, hari hukuman tiba.
Penjara khusus eksekuti mati, di mana penjara ini memiliki pemandangan yang buruk, dan mengerikan.
" Salam Yang mulia. " Penjaga memberi salam kepada Edward, dia baru saja tiba.
Edward yang menerima salam, dari penjaganya dia mengangkat tangannya.
Edward pun bertanya, apa Eric sudah siap menerima hukuman tersebut.
" Apa tahanan sudah siap? " Tanya Edward.
" Sudah yang mulia, tahanan ada di kursi penghukuman dengan tubuh telanjang. " Jawab penjaga tersebut.
" Bagus, Algojo! lakukan eksekusinya. " Ucap Edward, dia pun memutuskan untuk tidak menyaksikan eksekusi tersebut.
| Aku tidak suka berisik, jeritan dan rintihan sebentar lagi pasti akan terdengar. | Pikir Edward.
" Amon, apa mereka akan datang, dan melihat eksekusi ini? " Tanya Edward kepada Amon, yang sedari tadi mengikuti dirinya di belakang.
" Hamba menjawab, mereka mengatakan tidak akan melihat eksekusi ini. Saya juga tidak tahu apa alasannya. " Jawab Amon.
| Mungkin mereka masih mengingat sosok Eric yang dulu pernah bersikap baik kepada mereka. Secara Eric sudah berada di kediaman Marquess sejak kecil. Tentu hal itu sangat berat bagi mereka. | Pikir Edward.
Edward, dan Amon pun pergi dari ruangan eksekusi. Penjaga, dan Algojo pun mulai masuk ke dalam ruang penghukuman.
Hukuman kematian dengan seribu luka, adalah hukuman di mana pisau memotong lambat setiap inci dari kulit, dan anggota tubuh lainnya.
Kematian yang paling biadab, dan paling buruk yang pernah terjadi di kerajaan Laontel.
Algojo mendekati Eric dengan pisau mematikan di tangannya. Eric yang duduk dengan tubuh terikat di kursi, dia terus bergerak dengan tidak nyaman.
" Hukuman ini baru pertama kali di lakukan dikerajaan. " Ucap penjaga tersebut, seraya menutup matanya.
Eric pasrah dengan nasibnya sendiri, meski dia mencoba melepaskan diri, itu tidak akan membuahkan hasil.
| Beginikah aku akan mati, di neraka nanti, aku pasti akan di ejek oleh keluargaku, kehidupan di dunia, dan di akhirat sama-sama menyakitkan. Nasibku sangat buruk......| Pikir Eric.
Algojo mulai mengangkat tangannya, dan mengarahkan pisau ke tubuh Eric.
" Arrgghhh! " Teriakan pertama terdengar.
Eric menarik napas dalam-dalam saat tebasan pertama dilakukan oleh Algojo.
Penyiksanya terus berlanjut, naik dari anggota badan ke dada, leher, dan wajah.
Eric dibantai dengan sangat hati-hati dan hati-hati. Algojo melanjutkan dengan hati-hati, memastikan bahwa tahanan selamat untuk menerima pukulan terakhir.
Jeritan, dan raungan terdengar memekik telinga, dan terdengar penuh penderitaan. Eric di perkirakan akan mati 3 hari setelah penghukuman.
__ADS_1
...----------------...
End...