Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 58


__ADS_3

Benteng Timur bertepatan di wilayah Marquess.



Malam sangat kacau karena semuanya hancur, para korban bertebaran dimana-mana akibat serangan monster.


Ada yang mengalami patah tulang, kulit sobek, dan bahkan ada pula yang sebagian tubuhnya hancur di makan monster.


" Marquess!! Selamatkan saya, saya mohon!! "


Teriakan terus terdengar di mana-mana.


" Selamatkan saya!!! Selamatkan saya!! "


" Tolooonggg!!!! Tolonggg saya!!! Saya tidak mau mati!!! "


Semua ricuh, mereka berteriak meminta pertolongan, dan menjerit kesakitan.


" Tuan muda, kita kekurangan Tabib, banyak sekali korban yang harus kita selamatkan. " Salah satu Tabib yang menangani korban, mereka mengadu kepada Jack.


" Kalau begitu aku akan memanggil lebih banyak Tabib dan beberapa orang lagi. " Ucap Jack dengan panik.


" Lalu bagaimana dengan para monster? " Tanya Berick, dia juga ikut membantu para korban.


" Monster sedang di tangani oleh Arnold, fokus saja di sini. " Ucap Jack.


" Baik kak. " Jawab Berick yang sibuk membalut luka para korban.


|Semakin hari, entah kenapa kehidupan kami semakin tidak damai. Banyak sekali masalah yang bermunculan setelah kepergian Ibu Sambung. Entah itu karena kita yang tidak becus mengurus wilayah Marquess, atau mungkin ini balasan atas kejahatan kita selama ini.| Berick berpikir di sela-sela kesibukannya.


Yang di pikirkan Berick ada benarnya, setelah Violet pergi, terjadi banyak kekacauan di wilayah Marquess. Entah itu karena kepemimpinan Arnold yang terkesan tidak becus, atau karena alasan lain.


Semuanya terjadi begitu saja, tanpa peringatan dan pemberitahuan.



Sementara itu, Arnold yang sedang membereskan para Monster, dia kesulitan karena monster tersebut tidak kunjung habis, mereka terus menyatu meski tubuhnya di potong-potong.


" Raaauuuuuhhhhhgghhh!!!! "



" Ggrrooaaaarrrr!!!!! " Raungan monster yang mengamuk dan teriakan para ksatria yang hampir terdengar tidak manusiawi dan biadab bergema di kawasan tersebut.


Sekali saja lengah, nyawa mereka pasti akan melayang. Monster itu sangat ganas, dengan kukunya yang tajam, mereka menusuk tubuh manusia dan mengkoyaknya hingga tidak berbentuk.



" Sial!! Mereka terus bertambah!! " Para kesatria meludah panik sekaligus kesal.


" Buat benteng pertahanan yang benar, agar para monster tidak masuk ke kawasan para korban!! " Teriak Arnold yang terus mengayunkan bilah pedang.


" Baik Marquess!! " Seru para kesatria yang dengan rela membuat benteng dengan tubuh mereka.


| Mereka tidak musnah meski aku sudah memotongnya beberapa kali. Sepertinya kita harus membakarnya. | Pikir Arnold.


Arnold memotong semua monster dengan ngeri ujung pedangnya terlihat bercucuran oleh darah, darah tersebut berasal dari para Monster.


" Semuanya!!! monster ini harus segera di bakar, agar semuanya musnah, jika kita memotongnya saja, mereka hanya akan menyatu kembali!! Itu hanya akan membuang tenaga kita!! " Teriak Arnold yang sibuk mengayunkan pedang memotong tubuh para monster.

__ADS_1


Para kesatria yang ikut bertarung menjawab mengerti, mereka pun segera menyalakan api untuk membakar para Monster.


" Marquess!! kita harus membakar tubuh para Monster yang sudah terpotong!! " Teriak salah satu kesatria.


Arnold yang masih menahan para monster, dia pun segera menyelesaikannya, agar tubuh si Monster bisa langsung di bakar.


Dengan pedang yang Arnold kuasai, Monster berukuran besar dengan mudah terbelah menjadi dua.


Gerakan pedangnya seringan bulu, cepat tetapi tidak meleset. Meski dalam pikirannya kacau, Arnold masih bisa berkonsentrasi.


" ....Sebentar lagi......ini akan selesai. " Ucap Arnold yang masih sibuk.


Ketika Arnold sibuk dengan Monster yang ada di depannya, tiba-tiba Monster besar berbentuk Naga muncul dari belakang Arnold.



" Grroooaaarrrrrrrr!!!!!!!!!! " Raungan keras dan menyeramkan terdengar begitu nyaring.


Menyadari hal itu, Arnold dan para kesatria berbalik dengan ekspresi wajah yang kaget dan panik.



" Apa?!!! " Semua orang kaget melihat monster berbentuk naga tersebut.



" Gruoaaaaaahhh! " Monster itu dengan ganas melahap para Monster dan membanting para kesatria dengan ekornya yang besar.


' Gedebum!! ' Semuanya jatuh tidak berdaya, termasuk Arnold.


" ....Ughh..." Semuanya terbujur kaku di tempat.


" Grouahhhhhhhh!!!! Ggrouuaaah!!! " Naga itu meraung ke langit, dan dengan cepat membuka mulutnya lebar.



Cahaya keorenan keluar dari mulut Naga tersebut.



Menyadari bahaya, Arnold yang berada di pinggir, berteriak untuk menyikir, jika tidak mereka pasti akan ikut terbakar.


" Menyingkir!! cepat menyingkir!!! " Teriak Arnold kepada para kesatrianya.


Sesuai dengan aba-aba, mereka menyingkir dari sana dan berlindung.


' Swoosshhh! ' Naga tersebut dengan semburan apinya, membakar semua Monster yang ada di sana.


' Roarr!!! ' Raungan para Monster yang terbakar.



" Ada yang aneh, kenapa dia hanya membakar Monsternya saja? " Arnold menyadari ke aneh dari naga tersebut.


" Kami tidak tahu Marquess..." Para kesatria yang bersembunyi juga tidak tahu.



Naga itu terus menyemburkan apinya, mahluk itu membakar semua monster, tidak ada yang tersisa, bahkan monster yang kabur pun tidak dapat melarikan diri.

__ADS_1


Arnold memberanikan diri untuk melihat situasinya, dia pun keluar dan melihat naga tersebut.


" ?!! " Arnod kaget, naga itu menatapnya dengan tajam.



" Grouahhhh!! " Raungan naga tersebut terdengar lagi.


Arnold segera bersembunyi.


Naga tersebut berhenti menyemburkan apinya, sayapnya yang besar menjulang dan mengepak sehingga membuat angin kencang terjadi.


Arnold dan para kesatria, keluar dengan waspada takut naga tersebut datang dan mengamuk kepada mereka.



Tapi saat mereka keluar, naga tersebut malah terbang tinggi dan melewati mereka begitu saja.


" Apa? kenapa dia pergi begitu saja? " Arnold bertanya-tanya.


Naga yang jarang terlihat itu tiba-tiba pergi, dan tidak menyerang lagi. Hal itu membuat Arnold dan para kesatria heran.


" ......Tidak usah di pikirkan, yang lebih penting semuanya sudah selesai karena naga tersebut. " Gumam Arnold dengan wajah lelah.


Para kesatria pun tidak memusingkan hal itu lagi, mereka bersyukur tidak mati terpanggang oleh naga tersebut.


" Semua Monster sudah habis terbakar, kita harus membereskan sisanya!! " Teriak Arnold.


" Baik Marquess!! " Jawab kesatria yang tersisa.


Tanpa di sadari, hari pun mulai pagi, dan matahari mulai naik.


...----------------...


Pulau Hibria.



" Saya ingin tahu siapa yang tinggal di kastil besar yang ada di pulau ini? " Tanya Henric kepada petinggi pulau Hibria.


" Kenapa kau menanyakan hal itu? " Tanya Petinggi tersebut.


Petinggi itu memiliki penampilan yang sedikit tua, rambutnya putih panjang, matanya berwarna biru muda, garis rahangnya cukup tajam.



Dia bernama Nicole Sarfagus, petinggi pulau Hibria, serta pemilik sihir yang paling kuat di pulau Hibria.


" Saya sedang mencari seseorang, mungkin saya hanya bisa menemukan nya di kastil itu. " Ucap Henric.


" Kastil itu milik seorang perempuan, dia tidak ada hubungannya denganmu. Kau hanya pendatang baru, jangan coba-coba masuk ke sana. " Ucap Nicole dengan suara yang terdengar dingin.


Henric semakin yakin bahwa Violet berada di kastil besar tersebut, dia pun berpikir dalam hatinya.


| Aku yakin Ibu sambung ada di kastil itu, karena setiap aku bertanya mengenai kastil itu, orang lain berusaha menutupinya, seolah mereka tidak mau aku tahu lebih banyak tentang kastil itu. | Pikir Henric curiga.


...----------------...


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


Siap-siap ch nanti kita bakal di suguhi dengan kemarahan Violet terhadap Henric.


__ADS_2