
" Bagaimana? Jawaban yang ku minta selama ini? Apa kau mau menikah denganku, dan menjadi Ratu di kerajaan Laontel? Aku tidak bisa menunggu lagi. " Edward tiba-tiba memegang kedua tangan Violet, dan menanyakan pertanyaan tersebut.
Pertanyaan yang membuat Violet berpikir keras, dimana pertanyaan itu tidak bisa di jawab sembarangan.
Banyak pertimbangan yang harus di pikirkan dengan matang.
Sementara Violet terdiam dengan bibir terkatup, Edward terus menanti jawaban Violet dengan wajah berharap.
| Bagaimana ini? Jujur saja, aku memang jatuh cinta kepadanya, tapi...Kita berbeda. | Pikir Violet.
Violet menutup matanya sejenak, lalu dia mengingat, kata-kata Sanjay sebelum dia meninggalkan kamar di malam terakhirnya.
— Vio, terlambat untukku mengatakan hal ini, setelah aku memberimu sebuah beban besar.
— Jujur saja, kau adalah anak yang manis, pintar, ramah, dan berjiwa besar.
— Aku harap kau bisa menemukan kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan di mana kau bisa bahagia.
— Meski awalnya berat, tapi aku yakin kau bisa melewati itu.....
Violet membuka matanya setelah mengingat kata-kata Sanjay. Lalu dia berkata dalam hatinya.
| Sebuah pemikiran singkat segera berubah menjadi harapan yang tidak berguna. Sanjay, harapanmu tidak akan terwujud kali ini. Karena orang yang aku cintai bukan orang sembarangan. Mustahil bagi kita untuk menjalin hubungan, dan berakhir bahagia. | Pikir Violet.
Segera setelah pikiran itu masuk, Violet melepaskan tangan Edward sepenuhnya, hal itu membuat Edward terdiam.
| Perasaanku terasa tidak nyaman? Kenapa? | Pikir Edward.
Perasaannya mulai tidak karuan, ada rasa sakit di hatinya ketika Violet melepaskan tangannya dengan dingin.
Itu terasa hampa, dan tidak nyaman.
Violet perlahan membuka mulutnya dengan berat, dan menjawab pertanyaan Edward.
" ...Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, aku hanya bisa menolak tawaranmu. Jawabanku adalah tidak, Yang Mulia. " Violet mengatakan dengan nada acuh, dan serius.
Mendengar penolakan Violet, Edward terdiam, dia merasa jika Violet terus mendorongnya ke dasar jurang yang teramat dalam.
" .....Apa kau sangat suka membuatku terpuruk? Kau terus mendorongku menjauh, kau terus menolak perasaanku. Apa itu adalah hobimu yang lain, selain melarikan diri?....." Edward berbicara dengan suara yang tenang, tapi itu tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa kemarahan yang nyaris tak tertahankan dari napasnya yang besar.
Violet tahu, Edward saat ini benar-benae marah.
" Jarak kita terlalu jauh, dan kita berbeda—
__ADS_1
Sebelum Violet menyelesaikan perkataannya, Edward dengan suara nyaring berbicara.
" Jangan membohongi perasaanmu sendiri Violet!! " Ucap Edward lantang.
" Kita berbeda? Apa yang membedakan? Gelar, hah? Statusmu, dan aku? Apa? Apa yang berbeda?!! Jawab pertanyaanku Violet?!! " Emosi Edward sudah tidak tertahankan lagi, aura biru dari tubuhnya sudah mulai keluar.
| Gawat, Yang mulia marah lagi....| Pikir Amon yang sedari tadi melihat kedua orang yang terus berdebat.
" Gelar, jelas berbeda. Aku bukan darah bangsawan, aku hanya rakyat biasa, sedangkan kau adalah Raja di kerajaan ini....
" Tidak hanya itu, status ku adalah Janda. Hanya itu saja sudah jelas terlihat perbedaannya. " Violet tanpa ragu menjawab pertanyaan Edward.
Saat jawaban itu keluar dari mulut Violet, suara tawa terkekeh terdengar.
" Ha..hahahah.." Edward tertawa, dan mengangkat tangannya untuk menggosok wajahnya.
Edward, yang telah menggosok wajahnya untuk sementara waktu, segera menurunkan tangannya, dan kembali menatap Violet. Matanya sedikit kemerahan.
" Hanya itu? Janda? Bukan bangsawan? Hanya itu saja?! " Ucap Edward.
" Aku tidak peduli mau kau bangsawan atau bukan! Aku tidak peduli mau kau Janda atau bukan! Itu tidak membuatku mundur.... " Ucap Edward dengan suara tegas, dan di tekan.
" Edward, berhenti memaksakan sesuatu yang tidak baik...."
" Kau tidak mengerti.....Kau adalah Raja Edward, kau memiliki rakyat. Kau hanya akan menjadi bualan bagi rakyatmu jika menikahi Janda. " Ucap Violet.
Edward berbicara dengan suara ramah, tetapi itu seperti lulucon yang serius.
" Jika itu masalahmu....Sepertinya aku harus menikah terlebih dahulu dengan wanita lain, lalu aku akan membunuhnya, maka status kita akan sama..." Ucapan itu terdengar seperti lulucon, tapi juga jelas seperti serius.
" Kau Janda, dan aku adalah Duda....Ya, sepertinya aku harus melakukan itu...Agar masalah penolakan ini selesai. " Edward menatap tajam ke mata Violet matanya sedikit merah, dan bergetar.
Saat itu Violet mengerutkan alisnya mendengar ucapan Edward.
" Benar, aku harus melakukan itu agar ini selesai....." Ucap Edward sekali lagi dengan wajah serius.
Violet tidak bisa berkata-kata terhadap ucapan Edward yang nekat akan melakukan hal itu.
Edward di depan Violet yang diam, dia melirik kasar ke arah Amon, dan berteriak memberi perintah.
" Amon!! " Panggil Edward.
Violet melirik wajah Edward yang dipenuhi ketidaksabaran.
" Ya, yang mulia. Saya di sini. " Amon maju.
__ADS_1
" Carikan aku wanita yang mau menikah denganku sekarang!! " Teriak Edward tidak sabar.
Saat itu juga Violet memegang lengan baju Edward dengan erat, menyadari itu, Edward berbalik menatap Violet.
" Kau tidak usah khawatir lagi, status kita akan sama....Jika perlu aku akan turun dari tahta sesegera mungkin. " Edward berbicara dengan wajah yang serius, seolah kata-katanya tidak bercanda.
Violet tidak mungkin menginginkan hal itu, dia hanya ingin membuat Edward mundur, dan berhenti mengejar dirinya.
" Apa kau gila? Jangan melakukan hal itu!! " Ucap Violet.
" Tidak masalah aku gila. Karena aku gila karena dirimu Violet. " Ucap Edward.
| Jika itu maumu, kenapa tidak. | Pikir Edward.
" Amon! cepat carikan aku wanita! " Sekali lagi Edward memerintah.
" Baik Yang mulia. " Amon menuruti perintah Edward.
" Tunggu! " Violet dengan lantang mencegah Amon.
" Jangan melakukan hal itu. " Ucap Violet sekali lagi.
" Kenapa? bukankah kau mau status kita sama? Aku akan mengabulkannya, agar kita bisa bersatu..." Ucap Edward seraya mengelus rambut Violet.
Violet sudah menyerah mendorong Edward, sejak dulu, Edward selalu nekat, setiap perkataannya adalah keseriusan.
Violet tidak bisa lari dari perasaannya, dia tidak bisa terus takut dengan pandangan orang lain mengenai hubungannya dengan Edward selaku Raja.
" .....Aku menyerah....Kau sangat sulit di dorong. " Ucap Violet.
Mendengar hal itu, Edward sempat bingung, apa arti dari perkataan Violet.
" Jadi? " Tanya Edward menjadi lebih tenang, aura biru yang ada di sekeliling tubuhnya mulai memudar.
" Aku mengakui bahwa aku mencintai mu, aku ingin menjalani masa depan denganmu. " Akhirnya Violet mengatakan perasaan yang sejujurnya.
Pernyataan yang membuat Edward bahagia akhirnya dapat dia dengar dengan jelas. Hatinya yang tadi hampa, sekarang kembali terisi dengan kehangatan yang membuat dirinya bahagia.
" ....Ini bukan kebohongan, atau cara penolakan lainnya? Apa ini nyata? " Tanya Edward.
" Ya, ini nyata. Tapi dengan 2 syarat. Yang pertama, jika rakyat tidak setuju dengan pernihakan ini, maka kita tidak bisa menikah. Yang ke dua, jika seandainya rakyat menyetujui pernikahan ini, aku akan menikah, dan menjadi Ratu. Tetapi, aku tidak akan melepas statusku sebagai Ibu Tiri dari keempat putraku. Mereka akan tetap menjadi putraku....." Itu adalah syarat Violet.
Edward berpikir itu hanya syarat mudah, untuk rakyat dia sudah memiliki rencana sejak dulu.
" Aku akan menyetujui ke dua syarat itu. Kau tidak usah khawatir Violet. Asalkan kau bersamaku, aku akan melakukan apapun. " Ucap Edward dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
...----------------...
Tunggu, beberapa ch lagi😅