
Kata-kata Henric dan kelakuan Henric kali ini sungguh keterlaluan. Dia melempar makanan, minuman, dan merusak Furniture lainnya.
Belum lagi, Henric mengatakan hal yang membuat ketiga saudaranya kesal dan emosi.
" Aku tidak tahu apa yang salah dengan anak itu!! " Arnold berbicara dengan nada tinggi.
Wajahnya terlihat marah saat Henric pergi setelah merusak pesta tersebut.
" ....Aku tidak tahu, tapi menurutku, Henric sudah terkena sihir dari wanita itu. " Berick dengan wajah tidak percaya berpendapat.
" Kau mengatakan omong kosong Berick, wanita itu tidak bisa menggunakan sihir. " Jack dengan wajah dingin menanggapi Berick.
Mereka bertiga masih belum sadar akan kebaikan Violet, berbeda dengan Henric, dia sudah sadar dengan kebaikan Violet, belum lagi, Henric mengetahui sesuatu, sehingga dia yakin akan kebaikan Violet.
...----------------...
Aku berjalan menaiki tangga, saat aku akan kembali ke kamarku. Para pelayan yang berpapasan denganku menatapku dengan mata iba dan kasihan.
Seakan aku gila di mata mereka.
" ......Tuan Muda?....." Pelayan yang memuakkan memanggil namaku, jika aku tidak salah dia adalah Dessy.
Aku tidak mau menanggapi mereka, aku mengabaikan mereka dan pergi ke kamarku dengan langkah kaki malas.
" ......Siapa yang gila di kediaman ini. " Aku bergumam dengan langkah malas menuju kamarku.
Lorong terus aku lewati, hingga tidak sadar ternyata aku sudah berada di lantai paling atas, entah kenapa langkahku membawaku ke lorong ini.
Bukan ke kamarku.
" .......Kakiku tanpa sadar membawaku kemari... " Gumamku yang menatap kedua kakiku.
Aku berhenti di lorong tersebut, keheningan dan kesunyian terasa di sini, dingin dan tidak ada suara.
Aku menatap setiap inci di lorong itu, dinding, lantai, atap-atap dan satu pintu kayu yang tua. Mereka terlihat lusuh dengan sarang laba-laba yang menutupinya.
" .....Pintu?....." Aku tertarik dengan satu pintu kayu yang tidak tertutup dengan sarang laba-laba.
Aku mendekat ke arah pintu itu, mataku terus menatap pintu tersebut dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Aku mulai mengulurkan tanganku dan memegang gagang pintu yang terlihat tua tersebut.
Ketika tanganku menempel di gagang pintu tersebut, butiran kasar terasa di kulitku. Itu adalah debu, tapi aku tidak peduli, aku mendorong gagang pintu tersebut, sehingga pintu tersebut terbuka.
" .......Ini?....." Aku terkejut dengan isi ruangan tersebut.
Saat pintu itu terbuka, ruangan di balik pintu tersebut terlihat rapi dan terawat. Barang-barang seperti, gordeng, jam, tempat tidur, lemari, dan meja rias serta barang lainnya.
Semuanya terlihat terawat, meskipun barang-barang itu tua dan ketinggalan zaman.
" ......Siapa yang tinggal di kamar ini. " Aku bertanya-tanya seraya melihat-lihat ruangan tersebut.
Aku menelusuri setiap ruangan yang ada di kamar tersebut, ruangan di dalam kamar itu terdiri dari ruang tidur dan ruang kerja.
Ruang kerja pun tidak bisa di sebut sebagai ruang kerja, karena kamar ini memang seperti gudang yang rapih.
" .....Seseorang pasti tidur di sini. " Gumamku.
Aku pun mulai membuka lemari yang ada di ruangan itu satu persatu. Tapi tidak ada barang apapun.
Kemudian aku melirik satu lemari yang lumayan kecil, lemari itu belum aku buka.
"....." Aku menatap lemari itu, seolah ada sesuatu di dalamnya.
Gaun itu berwarna hijau dengan kesan yang sederhana. Tidak ada permata atau barang mewah yang tertempel di Gaun tersebut.
" ......Ini.....gaun ini? " Aku perlahan mengambil Gaun tersebut. Karena sepertinya aku pernah melihat seseorang memakai Gaun ini.
Ketika aku terus mengingat, sosok wanita dengan rambut merah, mata hijau, sorot mata yang acuh dan terkadang hangat mulai muncul dibenakku.
".......Ibu sambung? " Ya, Gaun itu milik ibu sambungku.
Ibu yang selama ini aku acuhkan, dan selama ini aku benci. Ternyata aku berada di kamarnya, saat aku mengingat wajah itu, rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri.
" ...Heeuhhhkk..
Aku merasakan sesak di dadaku, rasa sakit ketika aku mengingat wajah yang selama ini hangat dan ingin di percaya olehku.
Mata hijaunya yang kadang sendu, berbinar dan layu. Seolah meminta agar orang lain mempercayai perkataannya.
Pemandangan itu terus melintas di kepalaku. Saat itu pula aku menangis karena ingatan tersebut.
Aku berpikir, bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan dan membenci Ibu sambung yang baik seperti dirinya.
__ADS_1
Meskipun dia Ibu sambung dia selalu merawat kami seperti anaknya sendiri. Dia selalu datang di malam hari untuk memastikan bahwa putra-putranya yang nakal tertidur.
Aku yang selalu bangun di malam hari karena kejang dan mengigau. Entah kenapa setelah Ibu sambung datang, tidurku menjadi nyaman dan tidak terganggu.
Kupikir aku sudah sembuh, tapi aku mulai menyadari ketika aku berada di penjara, bahwa aku belum sembuh.
Saat di penjara, aku mengalami kejang dan mengigau di malam hari, aku tidak bisa tidur dan sangat sulit untuk menutup mataku.
Tapi setelah aku keluar dari penjara, aku merasakan perbedaan yang terjadi. Saat aku tertidur aku merasakan tangan seseorang yang terasa familliar mengelus rambutku dengan lembut, saat itu aku pun membuka mataku untuk memastikan siapakah orang tersebut.
Meski saat itu mataku berat, tapi aku tahu siapa itu, dan ternyata itu adalah wanita yang selama ini aku benci.
Telapak tangan yang selalu terasa di malam hari, ternyata itu adalah tangan wanita yang aku benci.
Sebenarnya aku sudah sering melihat Ibu sambung berjalan di lorong gelap dengan membawa lilin, kadang dia selalu berhenti di depan pintu kamar kak Arnold, Berick dan kak Jack.
Aku tidak memperdulikan hal itu, saat dia mengatakan bahwa dia tidak pernah bersalah atas kematian ayahku. Kami pun tidak peduli dan menutup telinga atas perkataannya.
Dulu aku tidak percaya, dan tidak sadar akan perlakuannya. Aku seolah menutup mata dan telinga dengan apa yang dia lakukan dan katakan.
Setelah mengetahui hal itu, hal yang menjadi alasanku untuk tidak membenci Ibu sambung. Aku merasa bahwa aku bodoh dan tolol.
" .....Aku bodoh, karena menutup mata, telinga, dan hatiku. Bahwa kau ternyata memang berkata benar dan apa adanya. " Aku bergumam seraya mengelus pakaian hijau yang ada di tanganku.
" .....Seharusnya kau menamparku dengan tanganmu....Seharusnya kau tidak mengeluarkanku dari penjara. " Aku terus bergumam di ruangan yang sunyi dan kumuh.
Ketika aku bergumam aku tanpa sengaja melihat buku yang tergeletak di bawah kakiku.
Aku pun mulai menyimpan Gaun yang ku pegang, kemudian menggambil buku tersebut.
Buku itu tampak berdebu, aku membersihkan buku tersebut, lalu membalik dan membaca judul buku yang terpampang jelas.
".....Catatanku....." Aku membaca judul buku tersebut.
Karena aku sangat penasaran, aku mulai membuka setiap lembar yang ada di buku tersebut.
Halaman pertama, halaman pertama tulisannya terlihat tidak rapih dan terkesan acak-acakan. Tapi itu masih bisa terbaca.
Paragraf satu, dari halaman pertama—
' Hari ini adalah hari pernikahanku, hari di mana aku akan keluar dari rumah yang selama ini membelenggu diriku. Yang selama ini merusak tubuh dan mentalku. Bibiku, dia menjualku kepada bangsawan yang bergelar Marquess, saat itu sebenarnya aku menolak karena aku sangat muda dan tidak cocok. Tapi, setelah aku berpikir, mungkin akan lebih baik jika aku menikah, dan pergi dari rumah bibiku. Saat aku menikah, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi istrinya, walaupun aku tidak paham, bagaimana kehidupan setelah pernikahan. '
Dari sini aku sudah mengerti bahwa ini adalah buku harian atau catatan kehidupan.
...----------------...
__ADS_1