
Suasana awalnya hening, dan serius, terutama Arnold. Karena ini bersangkutan dengan dirinya.
Violet menoleh, mengarahkan matanya ke arah Arnold, Jack dan Berick. Tampaknya situasinya belum dapat di prediksi.
Entah apa yang mereka pikirkan mengenai pernyataan Violet.
Di saat suasana hening dan serius, tiba-tiba tawa terkekeh terdengar dari mulut salah satu putranya.
" Pffftttttthahahahah!!!.....
Itu adalah tawa Berick, putra bungsu Violet, dia tertawa seolah itu hanya lelucon.
" .....Ya ampun perutku....
Berick masih tertawa, dia sesekali menghapus air mata yang keluar akibat tertawa.
Lalu dia bertanya kepada Violet, seolah pernyataan Violet adalah lelucon dan candaan.
" Apa kau bercanda?.....
" Oh? atau ini taktik mu saja..." Berick bertanya kepada Violet.
" Ya...
" Kau mungkin menganggap ini sebagai candaan, tapi tenanglah, ini bukan lelucon. "
Violet berbicara dengan suara yang tenang, seolah beban yang selama ini dia tanggung sudah lunas dan selesai.
" Apa yang kau rencanakan lagi?!! " Jack bertanya dengan wajah cukup serius.
" Tidak ada yang ingin aku rencanakan, karena ini sudah waktunya aku pergi. " Jawab Violet.
" Jadi kau benar-benar akan pergi? " Tanya Arnold memastikan.
Violet dengan sorot mata tegas dan yakin menjawab pertanyaan Arnold.
" Ya, kalian tidak akan mendengar suara nafasku, wajahku, dan segalanya tentangku. Aku akan menghilang dari kehidupan kalian....
" Mungkin setelah aku pergi, kalian pasti akan berpesta pora.....
" Ini yang kalian inginkan, bukan?....
Violet menatap putra-putranya dengan wajah dingin seakan muak.
Kemudian Violet mengangkat mulutnya lagi.
" Akhirnya wanita murahan pergi dari sini, akhirnya penyihir itu pergi.....
" Itukan yang ada di pikiran kalian.....
" Apa tebakanku benar? " Violet bertanya dengan senyum pahitnya.
Seberapa keras dia mencoba memberi kasih sayang kepada mereka, tidak ada satupun yang menempel di hati mereka.
Ketiga putranya tidak ada yang beraksi, mereka hanya diam dengan rekasi biasa saja.
" Rawat Henric, dengan baik Arnold....
Violet pergi dari ruangan tersebut, dengan pesan singkat. Dia harus mengemas barangnya.
Saat Violet pergi, Berick bertanya kepada Arnold.
" Kak? apa benar penyihir itu akan pergi? " Tanya Berick kepada kakaknya.
" Dia terlihat serius, sepertinya dia memang akan pergi. " Jack menjawab pertanyaan adiknya.
Arnold terlihat merenung, dia memikirkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Violet, terlebih setelah sidang tadi.
| Dia selalu mengawasi kita, dia juga mengatakan bahwa dia ingin menyelesaikan janji. Sebenarnya apa yang dia sembunyikan, apa dia benar-benar tulus selama ini. Lalu kenapa Eric mengatakan bahwa wanita itu licik dan penuh manipulasi. | Pikir Arnold.
" ....Entah kenapa aku merasakan firasat buruk..." Gumam Arnold.
" Setelah dia pergi, kita harus merayakannya kak. " Berick mengusulkan.
__ADS_1
" Aku ingin bertanya, apa alasanmu begitu membenci wanita itu Berick? " Tanya Arnold.
Berick menjawab dengan cepat.
" Karena dia berusaha menggantikan tempat ibuku, dia juga licik, dan wanita yang tidak tahu malu. " Ucap Berick dengan mata yang di penuhi kebencian.
" Kenapa kau menanyakan itu kepada Berick? " Tanya Jack.
Arnold tidak menjawab, dia diam.
...----------------...
Tengah malam di kastil Marquess Sanjay.
Saat itu bulan pun tidak terlihat, aku berada di dalam kamarku, di kamar yang penuh cerita. Mengemas pakaianku ke dalam koper.
Saat aku mengemas pakaian tersebut, aku sempat berpikir bagaimana nasib mereka jika aku pergi, apa keluarga ini akan berjalan baik jika aku pergi.
Tapi ketika aku mengingat kelakuan mereka dan penghinaan yang mereka lontarkan, seketika pikiran itu buyar begitu saja.
Aku berpikir kenapa aku harus peduli, sedangkan mereka juga tidak peduli kepadaku.
Awalnya aku berpikir seperti itu, tapi lagi-lagi aku malah datang ke kamar mereka seperti dulu.
Datang secara diam-diam hanya untuk memastikan apakah mereka tidur dengan baik.
" Arnold...." Aku sekarang tepat berada di depan kamar Arnold.
Aku membuka pintu kamar tersebut perlahan hanya untuk memastikan.
Saat aku membukanya, Arnold ternyata masih terjaga seperti dulu, aku hanya bisa melihatnya dari balik pintu.
Arnold selalu seperti itu, untuk membuatnya tertidur, aku selalu membawa lilin terapis, dan menyalakannya.
Jadi Arnold tidak curiga, selama bertahun-tahun aku selalu melakukan ini.
Setelah kamar Arnold, aku pergi ke kamar Berick. Iblis yang selalu membuat ulah dan menjahiliku.
Aku masuk kedalam kamar Berick, saat itu terlihat.
Iblis berambut merah muda seperti gulali itu sekarang tengah tertidur, tapi sesekali dia meringis, saat itulah, aku bisa mengelus rambutnya.
Aku selalu menenangkan nya, aku juga selalu menyiapkan air minum di sampingnya, karena dia sebenarnya penakut, dan pelupa.
Berick tidak berani keluar malam untuk mengambil air minum, dia juga suka lupa menyuruh pelayan untuk menaruh air di kamarnya.
Meskipun kadang kala ada keinginan untuk menjambak rambut merah mudanya, karena aku juga manusia, aku juga bisa marah.
Tapi, ketika melihat iblis itu tertidur, aku jadi tidak tega.
Kamar selanjut nya adalah kamar Jack, saat aku tiba di dalam, aku sudah tahu apa yang akan terjadi.
Jack pasti tidur diatas meja kerjanya, dia adalah akuntan istana. Dia harus bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya.
Saat aku melihat ke arah dokumen yang ia tiduri, ternyata pekerjaannya belum selesai.
" ....Biar ku bereskan... " Gumamku pelan.
Karena aku sangat mengerti tentang perhitungan, aku selalu membantunya, jadi ketika dia bangun pekerjaan nya sudah selesai.
Setelah kamar Jack, aku beralih ke kamar Henric.
Putra laki-laki yang pertama kali berlari dan memelukku dari belakang.
__ADS_1
Dia masih terbaring sakit, Henric selalu mengalami kejang saat tidur, dan aku selalu menenangkannya.
Mengelus rambutnya, membelainya dengan sentuhan yang lembut.
" Henric.....cepatlah sembuh...." Bisikku.
Saat aku berbisik tiba-tiba Henric bangun, dan dia menatap wajahku lekat.
Aku yang kaget sontak berdiri dari dudukku, dan bersiap pergi, tapi Henric meraih tanganku.
Dia menarikku dengan lemah, aku pun berbalik dan menatap pria yang berbaring di ranjang tersebut.
" .....Maaf, ada barang yang aku tinggalkan di sini. " Ucapku sebagai alasan.
" ....... " Henric tidak merespon, dia diam.
" Aku akan pergi, dan cepatlah sembuh. " Ucapku.
" ......Tetap di sini, dan temani aku Ibu....." Henric tiba-tiba mengatakan hal itu dari mulutnya.
Aku sempat terpaku dengan ucapannya, tapi aku berpikir kembali, mungkin dia hanya mengigau saja.
" Baiklah, aku akan disini sampai kau tidur. " Ucapku.
Henric pun mengangguk ringan, dia pun menutup matanya lagi, dengan posisi tangan memegang lenganku.
Setelah beberapa saat aku pun melepaskan tangannya, karena dia sudah tertidur.
| Ibu kau bilang, aku lebih cocok di panggil kakak. | Pikirku.
Aku kembali ke kamarku, dan aku sedikit bergumam.
" Bagaimana jadinya jika aku pergi, siapa yang akan melakukan hal ini setiap malam. " Gumamku.
Aku merasa jika aku sangat bodoh, karena menghawatirkan mereka. Padahal mereka tidak mengkhawatirkan ku.
" Tidak Violet, kau harus pergi...."
...----------------...
Keesokan harinya.
Violet turun dari kamarnya, dia terlihat membawa koper dan tas yang berisikan pakaian nya.
Semua berkumpul di sana, tapi bukan melepas kepergian Violet, melainkan untuk menyorakinya.
" Akhirnya Jal*ng itu keluar dari rumah ini... "
" Dia pasti akan hidup miskin setelah ini, bagus lah, jadi gaji kita akan terus mengalir tanpa adanya potongan. "
Para pelayan malah berbicara buruk di depan Violet yang akan pergi.
Violet tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan keluar dari kastil tersebut.
" Nyonya! " Eric datang.
" Jangan pergi Nyonya. " Eric menahan Violet, bukan semata-mata ketulusan melainkan maksud terselubung.
" Aku harus pergi, karena tugasku sudah selesai. " Ucap Violet.
" Periksa dulu tas dan barang bawaannya. " Tiba-tiba suara Berick terdengar.
Violet menatap Berick, dengan wajah tidak suka.
" Aku tidak mengambil apapun. " Ucap Violet.
" Aku tidak percaya!! " Berick tetap kekeh.
...----------------...
__ADS_1