
Ibu sambung menikahi ayahku karena dia ingin pergi dari rumah bibinya, dan alasan lain karena dia di jual oleh bibinya sendiri.
"....Jadi memang benar, Ibu sambung tidak menggoda ayah, akan tetapi ayahlah yang memaksa untuk menikahi Ibu sambung. " Gumamku yang mulai beralih ke paragraf kedua.
Paragraf kedua, dari halaman pertama—
' Hari setelah aku menikah, ternyata tidak seindah yang di bayangkan. Suamiku memang memperlakukanku dengan baik, dia memberi makan aku dengan makanan yang layak dan enak, tidak hanya itu dia juga sangat sopan kepadaku, walaupun usianya sangat berbeda jauh denganku. '
' Yang membuatku tidak nyaman adalah, para pelayan yang menatapku dengan mata sinis dan dingin, seolah mereka melihatku sebagai serangga, selain itu, suamiku memilik 4 putra, dan mereka semua menyebalkan. '
' Mereka tidak menyukaiku, mereka tidak menerimaku dengan baik, tentu saja aku mengerti itu. Bagaimana pun mereka dan aku umurnya tidak berbeda jauh, jadi wajar saja mereka tidak menyukaiku. '
' Tapi aku akan berusaha agar mereka menyukaiku dan menganggapku sebagai teman mereka. '
" ...Ya, kami saat itu sangat membencimu, bahkan sampai mau membunuhmu. Tapi untung saja hal itu tidak terjadi, jika itu terjadi, aku pasti akan sangat menyesal. " Gumamku.
Aku dan saudaraku, memang pernah berniat untuk membunuh Ibu sambung, tapi karena suatu alasan kami menarik kembali niat tersebut.
Alasannya karena, Eric mengatakan bahwa kita tidak boleh membunuhnya, lebih baik kita membiarkan dia tersiksa secara perlahan di kastil ini.
Selama ini kami melakukan berbagai macam perlakuan kepada Ibu sambung, mulai dari mengucilkannya dan menjahilinya.
Belum lagi, kamilah yang memerintahkan agar pelayan memberi makanan basi kepada dirinya.
__ADS_1
Selama ini kami memperlakukan dia dengan buruk, padahal dia sangat baik kepada kami.
Aku mulai membuka halaman demi halaman, dan saat itu, tidak ada catatan penting di halaman yang aku buka.
Tapi saat aku membuka halaman ke empat belas, aku menemukan sesuatu yang membuatku kaget. Sesuatu yang seharusnya di ketahui olehku selama ini.
Paragraf ke dua, dari halaman ke empat belas.
' Saat ini hati, dan pikiranku sangat kacau. Pikiranku tidak karuan dan air mataku terus mengalir begitu saja. Hari ini, tepat satu minggu setelah aku menikah dengan suamiku. Suamiku tiba-tiba datang dengan wajah murung, dia pun mengatakan bahwa dia akan MATI.
' Saat itu aku tidak percaya dengan kata-katanya, aku hanya tersenyum dan berkata ' Jangan bercanda. ' Itulah kata-kata yang aku lontarkan kepada seseorang yang berbicara tentang kematiannya sendiri. '
' Tapi, di tidak merespon dan mengatakan lagi, bahwa dirinya benar-benar akan mati. Aku di situ diam dengan mulut terkatup dan ekspresi wajah yang mulai serius. '
' Tapi wajah suamiku yang murung dan putus asa telah membuatku tidak bisa menolak. Dia mengatakan siapa lagi jika bukan aku yang cocok untuk memenuhi keinginannya, dia mempercayakan semua itu kepadaku, karena dia yakin bahwa aku bisa. '
' Aku dengan hati yang masih ragu dan berat, menerima beban yang di berikan oleh suamiku. '
' Setelah aku menerima beban tersebut, benar saja, suamiku meninggal keesokan harinya. '
" ....Ini?......Jadi, selama ini ayahlah yang membuat Ibu sambung harus terus di kastil ini? padahal dirinya juga tidak menginginkan hal itu. Dan apa kutukan yang di maksud? " Aku yang kaget bertanya-tanya dengan wajah syok.
Ternyata alasan yang sebenarnya adalah ayahku dan keinginan ayahku. Kenapa dia harus mengikat Ibu sambung, padahal saat itu ibu sambung juga belum dewasa.
__ADS_1
Rasanya aku ingin menggali kuburan ayahku, dan bertanya kenapa dia melakukan hal ini.
Kenapa dia mengikat Ibu sambung hanya untuk putra-putranya yang tidak punya otak. Jika bukan karena ayah, Ibu sambung pasti akan pergi dari kastil ini hari itu juga.
".....Aku tidak pantas menunjukkan wajahku di depan Ibu sambung, aku tidak pantas untuk meminta Ibu sambung kembali ke kastil ini
" Mungkin baginya, kastil ini hanyalah neraka dan tempat pengujian mental.....
" Tidak ada kenangan baik di kastil ini, yang ada hanyalah kenangan buruk tentang putra-putranya. "
Aku meremas buku itu karena kesal mengingat bagaimana kita memperlakukan Ibu seperti dirinya.
" .......Perlakuan yang buruk, yang tidak seharusnya dia terima, kenapa aku tidak sadar ketika dia mengatakan bahwa dia memang ingin pergi dari dulu. Bodoh!!!......Henric kau bodoh!! " Aku berteriak mengguncang tubuhku karena emosi atas kebodohanku.
Tapi aku berpikir, karena aku menemukan buku ini, sebaiknya aku menunjukkan buku ini kepada saudaraku, agar mereka sadar, bahwa perlakuan mereka selama ini adalah kesalahan yang fatal.
" Ya....aku harus memberikan buku ini. Mereka pasti akan sadar. " Gumamku dengn penuh semangat.
Aku pun dengan cepat berdiri dan berlari menuju pintu keluar.
...----------------...
BERSAMBUNG........
__ADS_1