Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 59


__ADS_3

Mata Henric menatap Nicole dengan mata curiga, dia pun berbicara.


" Baiklah, saya mengerti. " Ucap Henric dengan mata yang curiga.


Nicole yang masih merokok, dia mengangguk. Tapi setelah itu, Nicole kembali bertanya soal kepulangan Henric.


" Ahh....itu, kapan kau akan pulang? " Tanya Nicole penasaran.


Henric menjawab dengan alis terangkat.


" Sebelum membawa orang itu, saya belum bisa pulang. Entah itu takdir atau apa, tapi yang jelas terdampar di pulau ini adalah keberuntungan bagi saya." Jawab Henric.


" Lalu? bagaimana jika orang itu ternyata bukan orang yang kau maksud? Apa kau akan menyesal terdampar di sini? " Tanya Nicole dengan wajah serius.


Mendengar itu, Henric terdiam dengan wajah kaku. Lalu dia menjawab dengan wajah seolah tidak perduli.


" Ya, saga akan menyesal. Kenapa saya tidak tenggelam dan mati saja. " Ucap Henric tidak peduli.


Saat itu Nicole tertekan dengan ungkapan Henric, dia bahkan tidak percaya ada orang yang bilang mati dengan wajah yang tidak peduli.


" .....Kau aneh. " Ucap Nicole.


" Saya pergi dulu, ada yang harus saya pastkan. " Ucap Henric seraya pergi.


Nicole tahu kemana Henric akan pergi, maka dari itu Nicole berteriak dan memperingati Henric.


" Jangan memaksa masuk!! Jika kau memaksa, maka kau akan di tahan!!! " Teriak Nicole.


Henric terlihat tidak peduli, dia terus berjalan meninggalkan Nicole.


" Anak yang terdampar itu bukan anak biasa, dia adalah penyihir sama sepertiku. Mungkin mana miliknya masih kecil, tapi nanti akan bertambah besar. " Gumam Nicole.


...----------------...


Kerajaan Laontel.



Amon Ajudan Edward, dia melaporkan kekacauan yang terjadi di wilayah Marquess.


" Yang mulia, para monster lagi-lagi bertindak. Mereka menghancurkan benteng timur wilayah Marquess. " Lapor Amon.


Edward yang duduk di singgahsananya, dia hanya menyeringai.


" Yang mulia? Apa anda tidak akan membantu? " Tanya Amon.


" Aku sudah membantu mereka dengan mengirim pasukan khusus dan Tabib. Seharusnya itu sudah cukup. " Jawab Edward dengan mata acuh.


" Kenapa anda tidak bilang sama sekali?!! " Amon kesal.


" Diam Amon!! Kau tidak usah banyak bicara!!! " Tegur Edward dengan nada tinggi.


Amon yang di bentak, dia pun diam mengunci mulutnya.


Dari pada memusingkan hal itu, Edward lebih tidak sabar untuk menemukan Violet. Dia akan pergi ke pulau Hibria setelah melakukan semua tugasnya.


" Amon, kau harus berpura-pura menjadi diriku untuk beberapa waktu. Karena aku memiliki hal penting yang harus di urus." Ucap Edward.


" Hal penting apa hingga anda menyuruh saya berpura-pura menjadi anda? " Tanya Amon penasaran.


Sontak mata Edward menatap tajam ke arah Amon, itu tandanya Edward tidak suka jika Amon banyak bertanya.

__ADS_1


" Saya mengerti yang mulia. " Jawab Amon yang mengerti setelah di tatap tajam oleh Edward.


...----------------...


Sore Hari Pulau Hibria.



Henric dengan nekad datang ke kastil besar di mana pemilik tersebut adalah Violet. Karena rasa penasaran dan keyakinan yang tinggi, dia datang.


" Sebelum aku memastikan kastil ini, aku tidak bisa tenang. Kastil ini terlalu mencolok di mataku. " Ucap Henric.


Dia saat ini berdiri di depan kastil Violet, yang aneh adalah, kenapa Henric bisa tahu bahwa Kastil itu mewah dan besar.


Padahal Gavino sudah menyembunyikan kastil tersebut agar terlihat tidak mencolok.


" Aku harus masuk, tapi di sana ada beberapa penjaga. " Ucap Henric yang memantau situasi.


Kastil tersebut terlihat besar dan indah, berbeda dari yang lain.



Henric berencana masuk lewat belakang menggunakan sihirnya. Karena dia tidak bisa masuk lewat pintu depan di mana penjaga berada.


" Lewat belakang, mungkin aku akan kelelahan setelah menggunakan sihir. " Gumam Henric.


Henric menuju ke belakang kastil, dan dia menemukan gerbang yang terkunci oleh beberapa lapis sihir.


Melihat hal itu, Henric semakin yakin bahwa kastil itu bukan kastil biasa.


Tanpa membuang waktu, Henric langsung membaca mantra pertama.


" Estolaciostal Latparagus!.....



" Con La Magia Si Apre!! " Henric membaca mantra kedua.


kemudian mantra terakhir dengan keyakinan dan keteguhan hati.


" Presto Aperto!! " Ucap Henric.


Seketika kunci pintu tersebut terbuka dengan sisa cahaya sihir. Henric yang baru selesai memakai sihir, dia mengusap keringatnya lelah.


" Fyuh!! Akhirnya terbuka. " Ucap Henric.


Henric mulai masuk ke dalam kastil tersebut. Saat masuk, ternyata pintu belakang terhubung langsung dengan taman.



" Aku harus secepatnya mencari Ibu sambung. Aku harap dia memang ada di sini. " Gumam Henric dengan penuh harapan.


...----------------...


Sementara itu di dalam kastil Violet.


Tepatnya di ruangan santai milik Violet.



" Nyonya, apa anda akan terus di dalam kastil sampai putramu pergi dari pulau ini? " Tanya Ryu yang sedang menuangkan teh ke cangkir Violet.

__ADS_1



Violet menatap Ryu dan berbicara menjawab pertanyaannya.


" Ya, Karena aku tidak mau dia tahu bahwa aku berada di pulau ini. Aku tidak peduli dia mau apa, dan apa keinginannya. " Ucap Violet seraya mengambil cangkir teh dan meminumnya perlahan.


" Baiklah, tapi bagaimana jika dia tidak menyerah dan terus mencari di pulau ini, pulau ini tidak luas Nyonya. " Ucap Ryu.


" Biarkan saja, lagi pula Suamimu sudah melindungi kastil ini dengan sihirnya. Dia tidak mungkin tahu keberadaanku di sini. " Violet kira Henric tidak akan tahu tentang kastilnya.


Tapi ternyata, Henric bisa menemukan kastil milik nya begitu saja.


' Brak!! ' Tiba-tiba Gavino masuk menggebrak pintu dengan panik.


Hal itu membuat Ryu dan Violet kaget dan segera bertanya apa yang terjadi.


" Ada apa? " Tanya Ryu.


" Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat panik? " Tanya Violet ikut panik.


" Henric....Dia ada di sini. " Ucap Gavino dengan suara yang gugup.


Mata Violet melebar ketika mendengar laporan Gavino, dari pada kaget, Violet lebih tidak percaya bahwa Henric bisa sampai di kastil miliknya.


" Apa yang kau bicarakan?!! Kenapa dia bisa ada di kastil ini?!!! " Tanya Violet dengan suara panik.


" Bagaimana kau tahu jika itu Henric? " Tanya Ryu.


" Karena aku memasang beberapa alat sihir di gerbang depan dan gerbang belakang. Alat itu bisa melihat siapa yang datang dan keluar. " Gavino menjawab Istrinya.


Violet lalu mengungkit soal Gavino yang sudah menyamarkan kastilnya.


" Bukankah kau sudah menyamarkan kastil ini?!! Kenapa Henric bisa masuk?!! " Tanya Violet.


Gavino dengan cepat menjawab.


" Dia adalah penyihir. Sihir saya hanya untuk rakyat biasa, jika penyihir maka tidak akan berpengaruh. " Jawab Gavino.


" Hah?!!! Penyihir? Tidak bisa di percaya? Henric tidak bisa sihir!! Bagaimana mungkin dia penyihir!! " Ucap Violet tidak percaya bahwa putra sambungnya bisa sihir.


" Dari pada itu, sebaiknya kita pergi dari Kastil ini. Sebelum Henric melihatmu!! " Ucap Gavino.


" Ya, Nyonya, sebaiknya anda pergi. Jika anda memang tidak mau bertemu dengan Henric, anda lebih baik pergi saja. " Ryu berbicara.


Violet terdiam sebentar dengan mata yang tertuju kepada pintu masuk ruangannya.


" Tidak, biarkan dia masuk dan mencariku. Lagi pula, pintu belakang yang dia lewati di penuhi dengan jebakan. Dia pasti tidak akan sampai di sini. " Ucap Violet.


" Ta—tapi, jebakan itu sangat berbahaya, apa kau yakin? " Tanya Gavino ragu.


Violet pun ragu, tapi dia dengan berat mengangguk.


" Aku yakin, lagi pula aku tidak pernah memintanya untuk mencariku. Aku tidak mau bertemu dengannya!! aku muak dengannya!! " Ucap Violet serius, walau kedua tangannya terlihat mengepal.


Gavino dan Ryu tidak yakin dengan itu, setiap jebakan yang ada di ruangan pintu belakang sangat berbahaya.


Apakah Henric akan berhasil masuk dan menemui Violet. Kita akan tahu nanti.


...----------------...


BERSAMBUNG......

__ADS_1


SEE YOU NANTI MALAM😉😉😉😉


__ADS_2