Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 25


__ADS_3

" Cih...kenapa yang mulia sangat peduli kepala penyihir itu? " Berick bertanya-tanya dengan wajah juteknya.


Berbeda dengan Arnold, dia terlihat memikirkan ucapan dari Edward.


| Apa maksud dari keluarga ini akan di hapus dari daftar keluarga bangsawan? apa yang sebenarnya terjadi? | Arnold bertanya-tanya dalam batinnya.


Mungkin karena dia lebih dewasa dari adik-adiknya yang lain, Arnold sekarang semakin hati-hati, dia mulai peka dan merasa ada sesuatu yang salah dengan keberhasilan keluarganya itu.


" Berick, apa kau tidak berpikir jawabanmu kepada yang mulia sangat tidak sopan? " Jack bertanya seolah menegur Berick.


" Memang apa salahku, beliau menjawab seperti itu, jadi aku menjawabnya dengan jujur. " Ucap Berick.


" Ha! Bocah ini!! " Jack menghela nafas atas perilaku adiknya sendiri.


" Berick?!! perhatikan jawabanmu saat kau menjawab pertanyaan baginda raja. " Ucap Arnold.


Berick yang di tegur atas sikapnya tadi dia pun mengangguk mengerti.


" Baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi. " Ucap Berick.


...----------------...


Kamar Violet.



Edward memindahkan Violet ke kamar tamu yang ada di kastil.



Kamar tamu itu sangat mewah, sudah jelas bahwa Violet tidak di perlakukan dengan baik di keluarga ini.


" Kamar tamu saja lebih bagus di banding dengan kamar kepala keluarga. " Gumam Ludwig yang terus menatap sekeliling ruangan itu.


" Ugh....kepalaku? " Violet sudah sadar.


Dia memegang kepalanya dengan tangannya, saat itu Violet masih tidak menyadari bahwa Edward ada di sana.


" Apa kepalamu masih sakit? " Tanya Edward.


Saat suara Edward terdengar, Violet melirik ke arah suara itu dan dia berkata dengan mata yang melebar.


" Anda?! " Violet terkejut.


" Nyonya, beliau adalah Yang mulia raja Edward Charless Laontel. " Eric memberi tahu Violet.


Violet dengan wajah bingung bercampur kaget, dia memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.


" Salam Yang mulia. " Hormat Violet.


Edward pun langsung berbicara menanggapi.


" Kau tidak perlu melakukan itu. " Ucap Edward.


" Ludwig?! cepat periksa lagi keadaannya. " Perintah Edward.


Ludwig pun maju, dan dia mulai memeriksa Violet.


| Jadi, dia adalah Raja, selama ini yang selalu aku temui saat pembasmian monster adalah yang mulia raja. | Violet bertanya-tanya.

__ADS_1


Violet memalingkan wajahnya, dia tidak mau menatap Edward.


Ludwig yang sedang memeriksa Violet, dia sedikit merasa iba, dalam hatinya dia berkata.


| Saat aku memegang pergelangan tangannya, itu terasa kecil dan kurus. Aku merasa jika aku memegangnya terlalu kuat itu akan patah dan remuk. | Pikir Ludwig seraya memeriksa Violet.


| Aku dengar wanita ini memiliki reputasi yang buruk di lingkaran sosial. Mereka bilang jika dia adalah wanita jahat. Tapi aku tidak melihat adanya aura jahat dari wanita ini. | Sekali lagi Ludwig berpikir.


"....Beliau baik-baik saja, hanya perlu istirahat. " Ucap Ludwig yang sudah selesai memeriksa kesehatan Violet.


Mendengar hal itu, Edward merasa lega.


" Pergilah. " Ucap Edward kepada Ludwig.


Ludwig pun pergi dari ruangan tersebut.


Edward menatap Violet yang memalingkan wajahnya, dia seolah menghindari tatapan Edward.


| Sepertinya dia sangat terkejut. | Pikir Edward.


Violet hanya diam, dia tidak mau menatap Edward. Maka dari itu, Edward sendiri yang harus bertindak.


" Bisakah kita bicara? " Tanya Edward.


Eric dan Amon yang mendengarnya, mereka pun saling bertatapan.


" Lebih baik kita pergi. " Bisik Amon kepada Eric.


" Kenapa saya harus pergi? " Tanya Eric dengan berbisik.


| Jika aku pergi, Nyonya takutnya akan membicarakan sesuatu kepada Yang mulia. | Pikir Eric.


" Kita harus pergi, karena yang mulia ingin berbicara dengan Marcioness. " Bisik Amon.


" Baiklah, saya akan keluar. " Bisik Eric.


" Bagus. " Bisik Amon.


Mereka akhirnya keluar dari ruangan tersebut, dan sekarang hanya ada 2 orang di dalam ruangan itu.


Keheningan terasa nyata di dalam ruangan itu, tidak ada yang berbicara keduanya hanya diam.


Edward yang tadinya berdiri, dia pun beralih ke pojok dan menarik sebuah kursi.


Lalu dia pun duduk di samping Violet.


Edward tidak bisa diam saja, dia akhirnya membuka mulutnya perlahan dan berbicara.


" Lee....


" Kau adalah Lee kan? " Tanya Edward dengab menatap Violet.


Violet masih memalingkan wajahnya, dia pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa wajahnya harus di sembunyikan.


| Kenapa dia datang ke sini? seharusnya dia tidak mengenaliku. | Pikir Violet.


" Jawab aku?!!....." Edward menekan suaranya.


" Siapa yang anda maksud? " Violet akhirnya berbicara.

__ADS_1


Dia bertanya dengan tatapan kosong kepada Edward, seolah tatapan itu tidak memiliki arti apapun.


Suara Violet tenang tapi cukup tegas. Juga, dia tidak terlihat menyesal sama sekali.


Edward yang melihatnya, dia heran sekaligus bingung.


| Matanya tidak menyiratkan sesuatu, itu kosong dan aku nyaris tidak bisa membaca ekspresi wajahnya. | Pikir Edward.


" Jangan berbohong, Lee.....kau adalah Lee..." Edward bersihkukuh bahwa Violet adalah Lee yang dia kenal.


| Kenapa kau menyembunyikan identitasmu. | Edward bertanya-tanya.


Violet diam dengan ekspresi yang kaku dan acuh.


Setelah lama diam, Violet akhirnya menjawab.


" Maaf Yang mulia sepertinya anda mengenal orang yang salah. " Jawab Violet dengan suara tenang dan acuh.


" Kenapa aku bisa salah mengenal orang? " Tanya Edward yang belum menyerah.


" ..... " Violet diam, dia pasti mempunyai alasan kenapa dia tidak mau mengaku bahwa Lee yang Edward maksud adalah dirinya.


" Baiklah, jika kau hanya akan diam....


" Aku sendiri yang akan membawa setiap bukti yang menyatakan bahwa kau adalah Lee yang aku kenal. " Edward berbicara dengan wajah serius.


Ketika Violet mendengar itu, dia langsung menatap Edward dengan wajah yang menunjukkan ketidaksenangan.


" .....Saya memang Lee, jadi mau apa? " Akhirnya Violet mengaku.


" Akhirnya kau mau mengaku, Lee. " Ucap Edward puas.


" Pergilah yang mulia, saya butuh istirahat. " Ucap Violet.


" Apa ini alasan kau menolakku? " Tanya Edward.


| Aku belum melakukan pemilihan putri mahkota karena terus menunggumu, meski aku di tolak olehmu waktu itu, aku tidak bisa menyerah begitu saja. | Pikir Edward.


" Jika sudah tahu, kenapa anda masih bertanya. Saya bersyukur waktu itu telah menolak anda. " Ucap Violet dengan acuh.


" Apa maksud dari ucapanmu?.." Tanya Edward.


" Ternyata saya bukan menolak perajurit bayaran, tetapi Penguasa Laontel, Yang mulia raja. Saya sangat bersyukur karena telah menolak anda waktu itu...." Ucap Violet.


" Apa kau menolakku karena kau adalah seorang janda? " Tanya Edward.


" Tidak, masih banyak lagi, alasan saya menolak perasaan anda. " Ungkap Violet.


" Apapun alasannya aku tidak peduli. " Ucap Edward.


" Anda memang tidak peduli, tapi saya peduli. " Ucap Violet.


| Aku tidak bisa menikah, karena aku adalah seorang janda. Akan banyak masalah yang terjadi jika aku yang seorang janda menikah dan menjadi ratu di kerajaan ini. Syukurlah aku menolak nya waktu itu. | Pikir Violet.


" Baiklah, silahkan tolak perasaanku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. " Ucap Edward yakin.


" .....Tolong pergilah yang mulia, saya butuh istirahat. " Violet berkata seraya berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Edward yang di acuhkan begitu saja, dia masih diam dan menatap tubuh yang terbungkus dengan selimut itu.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG......


__ADS_2