
Aku keluar dari ruangan itu dengan cepat. Bahkan aku tidak tahu jika langkahku yang tadinya malas berubah menjadi penuh semangat.
|Aku harus segera memberikan buku ini, agar saudaraku tidak salah paham lagi.| Pikirku.
Aku terus melewati lorong demi lorong, aku bahkan berpapasan lagi dengan para pelayan, para pelayan itu memiliki ekspresi kaget di wajah mereka.
Kenapa tidak? karena Tuan muda yang mereka anggap sakit, dan gila. Sekarang sedang berlarian dengan membawa buku ditangannya.
" Tuan muda? kenapa anda berlari?....." Mereka bertanya saat aku melalui mereka.
Tapi aku tidak peduli, aku terus berlari dan membuka ruangan yang ada di setiap lorong, yang aku lewati.
" ....Huft.....Huft....Kemana mereka?....." Aku bergumam dengan nafasku yang tersengal karena berlarian.
Di setiap lorong yang aku lewati dan di setiap ruangan yang aku buka, aku tidak menemukan saudaraku.
".....Aku harus ke taman. " Karena itu aku memutuskan untuk keluar, dan mencari mereka di taman.
Aku berlari lagi keluar kastil, aku pergi ke taman.
Saat itu malam sangat dingin, angin malam terasa menyerang kulitku, tapi aku terus berlari di tengah angin yang dingin dan di bawah bulan yang bercahaya seakan mendukung ku.
" ......Kita harus bagaimana? Apa kita harus mengirim Henric ke rumah singgah khusus penyakit mental? " Ketika aku berjalan menuju gajebo yang ada di taman, aku mendengar suara kakakku Jack.
Saat itu aku diam dengan kedua kaki ragu untuk melangkah lagi, bagaimana bisa mereka ingin mengirim ku ke ruang singgah di mana tempat orang gila berada.
" .....Tapi, Kak Henric tidak terlihat seperti terkena sakit mental. Dia hanya butuh perawatan saja. Dia tidak akan gila untuk sementara waktu kak. " Berick juga ada, dia seperti menolak usulan Kak Jack, tapi aku tidak tahu, aku harus senang atau sedih dengan perkataannya.
" .......Sepertinya kita memang harus membawa Henric pergi dari kastil ini, Eric juga mengatakan. Jika penyakit mental harus di obati oleh ahlinya, jika tidak maka akan buruk. "
Itu adalah suara Kak Arnold, suaranya dingin dan terkesan serius.
Atas perkataannya, aku tidak bisa percaya, kakak ku yang paling dewasa bahkan sekarang dia sudah menjadi kepala keluarga di sini.
Dia mendukung Jack, dan ingin mengirimku keluar dari kastil ini.
Ketika dia berkata seperti itu, rasanya dadaku sakit, bagaimana mungkin sebuah keluarga ingin menendang keluarga lainnya.
__ADS_1
|Eric, apa selama ini kau benar-benar dalangnya?| Aku bertanya-tanya.
Saat Kak Arnold mengatakan nama Eric, aku semakin yakin. Bahwa keluarga kita berantakan dan tidak harmonis karena satu musuh yang pandai bersembunyi.
Tapi sekarang tidak, karena aku sudah mengetahui sesuatu.
Biar ku ceritakan bagaimana aku tahu, Eric adalah musuh yang bersembunyi dengan cukup baik.
Flessback di mulai.
Saat itu, dimana sudah 2 hari aku terbaring karena sakit setelah pulang dari penjara, aku tersadar di dalam kamarku, aku menatap langit-langit, karena aku masih berpikir apakah aku masih ada di penjara.
Aku takut di penjara, dan aku tidak tahan. Karena saat aku tidur, mimpi yang membuatku kejang terus bermunculan setiap malam.
Karena yakin, bahwa aku sudah kembali aku mencoba bangun, walau badanku lemas karena pengaruh obat yang di berikan oleh tabib.
Saat aku bangun, aku mulai mengingat, Ibu sambungku saat malam datang dan mengelus rambutku, sehingga aku tidur dengan nyaman. Dan ini pula yang membuatku sadar akan dirinya.
Sadar, bahwa selama ini yang datang ke kamarku saat malam adalah Ibu sambung.
Tadinya aku akan turun dari kasur yang aku tempati untuk bertemu dengan Ibu sambung, dan aku ingin meminta maaf kepadanya.
".......Berikan dia obat yang membuat dirinya sakit lebih parah. "
Ruangan kamarku terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama ruang tidur, ruang belajar, kamar mandi, dan ruang pakaian.
Aku masih tidak mengerti dengan perkataan mereka, kenapa mereka mengatakan hal itu.
Karena penasaran, aku pun berjalan ke arah mereka dan mencoba untuk melihat siapa yang berbicara seperti itu, bahkan di dalam kamarku sendiri.
Karena pintu kamar baca terbuka sedikit, aku pun mengintip mereka dengan hati-hati dan berusaha menangkap pembicaraan mereka.
Saat aku melihat kedua orang yang berbicara di dalam ruang bacaku melalui celah pintu, aku bisa mengenali orang itu.
Rambut abu-abu dan mati biru, dengan wajah yang terkesan serius dan layu. Itu adalah Eric, orang yang selalu menjadi kepercayaan kami setelah Ayah dan Ibu meninggal.
Dan satu pelayan, aku tidak tahu siapa pelayan itu, karena seorang Tuan muda tidak perlu mengingat pelayannya.
" ....Kau harus ingat, beri dia obat yang membuat dia semaki sakit mental. Aku sudah ingin merebut kastil ini, dengan menyingkirkan mereka satu-persatu. " Omongan yang tidak dapat aku percaya keluar dari mulut Eric begitu saja, saat itu aku tidak percaya bahwa itu adalah Eric, tapi setelah mendengar kata ini—
" ......Saya akan melakukan yang terbaik Tuan Eric, tapi saya mohon, agar anda bisa menjamin keluarga saya. " Pelayan itu menjawab dengan mengatakan nama Eric.
Seketika urat sarafku bereaksi, aku marah atas apa yang mereka bicarakan, jadi selama ini orang yang kita anggap keluarga ternyata adalah musuh sebenarnya.
__ADS_1
Saat aku di penuhi amarah dan emosi, Eric terdengar bicara lagi.
" .....Usahaku tidak gagal, wanita itu sudah pergi, yah.....walaupun pada awalnya aku tidak ingin dia pergi karena dia memang cukup berguna sebagai alat untuk membodohi Putra-putra Sanjay. Mereka membenci wanita itu hanya karena mendengar laporan palsuku. " Kata-kata ini, adalah kata yang paling aku benci, dimana aku tahu, bahwa aku sangat bodoh.
Ketika mendengar ini, aku terdiam dengan ketidak berdayaan yang menumpuk. Seolah aku di tampar oleh kenyataan dan kebenaran.
Apalagi saat aku mendengar bahwa Ibu sambung telah pergi dari kastil ini, aku semakin tidak berdaya. Selain itu, aku mulai marah dan emosional.
Aku pun mulai melirik barang-barang yang ada di ruangan kamarku dan aku melempar semua barang seperti pas bunga, lemari kecil dan buku-buku.
Karena kegaduhan terjadi, Eric dan pelayan itu keluar dari ruang baca dengan ekspresi yang bertanya-tanya, apakah aku mendengar perkataan mereka.
Tapi di sini, aku berpura-pura gila dan tidak mengetahui apa yang mereka katakan.
" .....Tuan muda?!! ada apa dengan anda? " Eric berteriak dengan wajah hinanya.
Saat itu aku tidak menjawab apapun, aku pun mengambil satu vas bunga dan melempar Vas itu ke arah mereka.
Vas itu pun mengenai mereka walaupun mereka hanya terjatuh dengan posisi terduduk.
" ....Diaman Ibuku? " Aki bertanya dengan sorot mata sangar.
" .....Apa? maksud anda Tuan muda? " Eric bertanya dengan wajah jijiknya.
" Kenapa dia tidak ada di sini? " Aku bertanya seolah aku tida tahu, padahal aku tahu.
" .....Nyonya sudah pergi Tuan muda. " Eric mengaku, karena dia ingin melihatku gila.
Di tengah ke kacauan, aku mendengar suara langkah yang menandakan bahwa itu adalah langkah kaki saudaraku, aku pun mengambil satu Vas bunga lagi, dan melempar vas itu ke arah pintu masuk.
Dan benar saja, saat pintu itu terbuka, dan Vas bunga yang aku lemparkan melayang ke arah wajah mereka, yaitu saudaraku.
Tapi mereka menghindar dengan cepat sehingga vas itu hanya menabrak dinding dan pecah.
Kakakku Arnold, dia bertanya kenapa ruanganku bisa hancur seperti ini.
Saat itu aku hanya berpura-pura lemah dan masih sakit, karena aku tidak mau Eric sampai mencurigaiku.
Aku menangis bertanya di mana Ibu sambungku, tentunya itu bukan pura-pura, karena aku memang benar-benar mencarinya.
Kakak-kakaku diam tidak memberi jawaban. Dari situ aku terus berpura-pura sakit dan lemah, agar aku tidak di curigai oleh Eric.
Flashback selesai.
__ADS_1