Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 47


__ADS_3


Eric....


Dia membodohi kita selama ini, dan itu cukup sampai di sini. Saudaraku harus sadar bahwa mereka telah di hasut oleh Eric.


" Kak? Berick? " Aku melangkah dan memanggil mereka dengan buku di tanganku.



Saat itu, Kakakku Arnold dia melirikku duluan, dia melirikku dengan tatapan sinis. Mungkin dia masih marah karena kejadian tadi.


" Henric? " Kak Jack memanggilku dengan wajah bingung seperti bertanya-tanya.


Lalu Berick, dia yang merupakan adikku, yang seharusnya di beri contoh yang baik olehku, dia tidak melirikku sama sekali.


Aku tahu sifat Berick bagaimana, dia pemarah, dan tidak gampang menerima sesuatu. Tapi sekalinya dia sudah merasa nyaman dan menerima seseorang, dia akan menjadi orang yang paling setia.


" Ada apa kau kemari? " Kakakku Arnold bertanya dengan wajah di tekuk.


Aku mendekat ke arah mereka dan berbicara menjawab pertanyaan kakakku Arnold.


" ....Ibu sambung tidak jahat seperti yang kita kira. Itulah yang ingin aku katakan. " Sebagai permulaan agar mereka tidak kaget saat menerima buku yang aku bawa, aku mengatakan kebenaran itu.


Tapi, dari reaksi mereka bertiga, tidak ada tanda-tanda peduli dan percaya.


Kakakku Arnold, dia berekspresi dingin, dan dia juga membuang wajahnya acuh seolah dia malas mendengarnya.


Berick adikku, dia pun hanya menatap langit malam dengan tangan terlipat. Lalu kakakku Jack, dia hanya memutar bola matanya dengan tangan terlipat.


Mereka semua tidak tertarik dengan perkataanku. Rasanya aku ingin membuka kepala mereka dan mencuci otaknya.


" .....Sudahlah Henric, kau masih sakit. Jadi lebih baik kau istirahat saja. " Kakakku Jack malah menyuruhku istirahat.


" .....Kau sudah mengacaukan pesta tadi, sekarang kau mau apa Henric?! " Kakakku Arnold menegurku dengan ekspresi kesal.


Aku tidak menyerah, aku mengatakan hal lain lagi.


" Aku ingin menyadarkan kalian!! bahwa selama ini kita telah salah kepada Ibu sambung!! dengarkan aku untuk kali ini saja!!!Aku memohon sebagai adikmu. " Aku berkata dengan penuh perasaan.


Tapi usaha itu tidak membuahkan hasil, mereka malah tertawa mendengar perkataanku.


" Kak? sepertinya, kak Henric memang harus di pindahkan ke rumah singgah khusus bangsawan yang memiliki penyakit mental. " Berick adikku sampai berani mengusulkan hal itu kepada Kakakku Arnold.


Saat itu aku emosi, kenapa mereka sangat keras kepala, maka dari itu tidak ada cara lain dengan ini.


Aku mulai tidak menghormati kakakku dengan memanggil nama mereka, aku bersumpah jika mereka belum sadar, aku tidak akan memanggil mereka sebagai kakaku.


" .....Jack?...." Panggilku dengan mata dingin sedingin es.


Kakakku Jack, menatapku dengan sorot mata tajam, seolah dia bertanya-tanya kenapa aku bicara dengan tidak sopan kepadanya.

__ADS_1


" Arnold? ........" Panggilku kepada kakak tertuaku.


Ekspresinya juga hampir sama dengan kakakku Jack.


" Apa-apaan ini Henric?!!! " Sambaran teriakan keluar dari kakakku Arnold.


" Kenapa? " Tanyaku dengan seringai di bibirku.


" Kenapa kau bilang?!! Dimana sopan santunmu Henric?!! Apa otak mu sudah hilang, sehingga sopan santunmu juga ikut hilang?!! " Kakakku Jack mulai menangkap bahuku, dan dia meremas bahuku.


Dia mengguncang bahuku dengan sangat keras, karena aku muak, aku menepis tangannya.


" Jangan menyentuh tubuhku!! aku tidak mau orang sepertimu menyentuh tubuhku!! " Ucapku dengan sangar.


" Cukup Henric!! Cukup!! Aku tidak mau mendengar ocehanmu lagi!! Sekalinya kau membuka mulutmu, kepalaku seakan mau pecah!! Kau tahu itu?!! " Kakakku Arnold dengan kacau berteriak.


Karena situasi sudah seperti ini, aku pun berani meninggikan suaraku lebih tinggi dari kakakku Arnold.


" Ibu sambung tidak pernah mau tinggal di sini!!! Dia hanya tinggal karena kemauan ayah!!......


" Jadi berhenti untuk membencinya!! Karena dia tidak seharusnya di perlakukan seperti itu!!......


Di sini aku belum selesai, mereka masih terlihat biasa saja, lalu aku melontarkan pertanyaan yang membuat mereka berpikir.


" Jack? apa kau merasakan perbedaan saat ibu sambung pergi?.....


" Arnold? Apa kau merasakan sesuatu saat Ibu sambung pergi?......


" Jawab aku?!!!.....Karena aku menduga kita sama, kita sama merasakan perbedaan ketika Ibu sambung pergi. Seakan sesuatu terasa menghilang, seperti ketenangan di kala malam, kelembutan dan ketenangan....


Ketika teriakanku terdengar, kakak-kakakku dan adikku terlihat diam dengan wajah yang serius serta bertanya-tanya.


Suasana malam tersebut, semakin dingin dan sunyi, seakan kesunyian mengelilingi kita, aku pun berbicara lagi seolah memecah keheningan.


" ....Ibu sambung memang sudah berniat pergi selama ini, tapi karena suatu alasan dia tidak bisa pergi. Padahal alasan itu, hanyalah alasan kecil dan menurutku tidak berguna untuk di jadikan alasan.....


Aku melihat masing-masing ekspresi wajah saudaraku, wajah mereka mengeras seolah ketidak pahaman melanda.


" Apa kalian ingin tahu? Apa alasan yang aku maksud? " Aku bertanya dengan wajah serius kepada mereka.


" Apa....Alasannya? " Tanya Kakakku Jack dengan tatapan kosong.


" Itu karena kita....dan ayah kita yang egois. " Ucapku pelan.


" Dia menjadikan kita sebagai alasan untuk tetap di kastil ini, dia rela membuang masa kecilnya dan menjadi dewasa hanya karena kita. Hanya karena anak yang bodoh seperti kita!! " Aku mengatakan itu dengan kedua tangan yang mengepal.


Gambaran-gambaran terlintas di benakku, ketika kita menghinanya, dan menuduh dirinya dengan kata-kata yang tidak pantas.


Aku menatap saudaraku, aku ingin melihat reaksi mereka dan juga tanggapan mereka tentang kebenaran ini.


Tapi—

__ADS_1


" ......Aku tidak tahu apa itu kebenaran atau hanya imajinasimu saja Henric. " Kakakku Arnold dengan suaranya yang dingin, menganggap bahwa perkataanku adalah imajinasi saja.


Di sini aku benar-benar marah, dan aku juga mulai berpikir.


|Ternyata begini rasanya....Mencoba membuat orang lain percaya kepada perkataan kita. Meski mulutku berbusa dan meleleh, mereka tidak akan pernah percaya....| Pikirku pahit.


Karena kemarahan ku memuncak dan tidak bisa di tahan, aku mengepal tanganku dan mendaratkan tinju di wajah kakakku Arnold.


' Bughhh!!! ' Tinju itu mendarat di pipi mulus kakakku Arnold.


" Seharusnya kau sebagai kepala keluarga bisa sadar!! kau tidak pantas menjadi kepala keluarga, Arnold!! " Aku meludah marah kepada Kakakku Arnold.


Lalu aku mulai melirik Kakakku Jack dan Berick, yang pada saat itu syok karena aku meninju kakak tertuaku.


' Bughh!! ' Tanpa pemberi tahuan aku meninju kakakku Jack.


" .....Kau tidak pantas di sebut kakak!! " Ucapku kepada Jack.


' Plakk ' Satu tamparan keras melayang di wajah Berick.


" Ini untuk membuatmu sadar, bahwa kau itu bodoh Berick!! " Teriakku dengan memaki Berick.


" Henric!!! " Kakakku Arnold mulai berteriak dan menerjang kerahku kasar.


Aku dengan mata menyolot dan tidak mau kalah menatap mata Kakakku, seraya berkata penuh tantangan.


" Apa?!!....


" Apa kau marah?!! karena aku mengatakan bahwa kau tidak cocok memimpin keluarga Marquess?!! " Ucapku dengan mata nyolot.


" ...Henric...Kau!! " Dengan gertakan giginya, dia berkata penuh emosi.


Saat itu pula aku melihat buku yang berada di tanganku. Aku pun dengan cepat melepaskan cengkraman Kakakku Arnold dengan mendorongnya menjauh.


' Brak!! '


Kemudian aku melempar buku tersebut ke arah mereka yang masih memberikan ekspresi wajah emosi dan kesal.


Buku itu jatuh tepat di depan kaki mereka.


" Di sana adalah bukti dari perkataanku, aku tidak gila, dan satu hal lagi. Kalian harus berhati-hati dengan Eric, karena dia tidak sebaik yang kita kira. " Ucapku sedaya pergi.


Saat aku pergi, aku sekilas melihat jika mereka bertiga mulai menatap buku tersebut.


" ......Aku akan pergi dari kastil ini, dan membawa ibu sambung kembali. " Gumamku seraya pergi begitu saja.


...----------------...


BERSAMBUNG.......


__ADS_1


" ...Bagaiman ini? Apa yang harus kita lakukan kakak?.....


__ADS_2