
Berick yang menggenggam buku Violet, dia mengangkat tangannya dan menatap buku tersebut.
Berick dengan mata redup berbicara.
" Andai saja aku tidak keras kepala, mungkin kau masih berada di kastil ini. " Gumam Berick.
...----------------...
Setelah kebenaran terungkap, hidupku di penuhi dengan rasa bersalah yang amat besar. Rasa bersalah karena aku sudah menghina orang yang begitu baik kepadaku.
Tanpa tahu apapun....
Aku menghina nya, aku mencela dirinya seperti sampah dan kotoran. Bukan hanya itu, aku sampai mencelakainya beberapa kali.
" Mungkin ketika kita bertemu kau tidak akan sudi melihat wajahku. Kau pasti muak melihat wajah putra yang tidak tahu diri ini. " Aku bergumam dalam kesunyian yang menakutkan.
Menatap ke arah jendela luar, berharap bisa melihat dirinya di bawah sana. Tapi itu hanyalah harapan yang sia-sia.
Ibu sambung tidak mungkin kembali, dia pasti muak dan marah kepada putra-putranya.
Ketika aku menatap buku harian di tanganku, aku semakin merasakan kepedihan di hatiku.
Seakan aku membayangkan bagaimana Ibu sambung yang selama ini aku hina, menuliskan semua keluh kesahnya ke dalam buku hariannya, karena di kastil ini tidak ada tempat untuknya bercerita.
Selama bertahun-tahun, dia pasti menahan dirinya, karena janji yang di bebankan oleh ayah.
Saat itu dia pasti sangat kesepian dan hampa, tapi dia tetap kuat dan tegar, meski kami menghina dirinya dengan mata yang menatapnya hina dan kotor.
" ....Apa aku berhak memintanya kembali, meski kesalahan yang telah aku perbuat sangat keterlaluan? " Aku bertanya-tanya dengan terus memegang erat buku harian milik ibu sambung.
Walau aku tahu aku tidak berhak meminta dirinya kembali, tapi aku sangat ingin dia kembali.
Aku merindukan suaranya yang hangat, aku merindukan ceramahannya.
Aku ingin memohon pengampunan darinya, aku ingin melihat dirinya meski hanya sebentar.
Tapi jika boleh, aku ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku salah, jangan pergi lagi, dan tinggallah di sini bersama putra-putramu.
Karena putra-putramu ini, sudah menyadari kesalahannya. Bahkan putramu yang satu menghilang begitu saja.
" .....Aku mohon dimana pun kau berada, ingatlah kami, dan kembalilah. Meski hanya sedikit hal yang kau ingat dari putra-putramu ini, dan mungkin yang kau ingat dari kami hanya keburukan kami. Kami tidak peduli.....
" Tapi jika kau kembali, kami pastikan tidak ada keburukan yang akan membekas di dalam ingatkan mu....
" Hanya ada kebahagiaan dan kehangatan. Aku berjanji Ibu sambung......"
...----------------...
Di istana kerajaan Laontel.
" Jika kau tidak bisa bekerja, lebih baik mati saja!! " Pria dengan sorot mata berbinar dan dingin berbicara kepada salah satu abdinya.
Pria itu tidak lain adalah Edward.
Edward yang tidak dapat menemukan Violet, dia berubah menjadi Tiran yang dingin.
" Mengecewakan! " Ucap Edward tidak puas.
Setelah dua tahun lamanya Edward mencari Violet, dia mulai muak dan tidak sabar.
Hasrat posesifnya bangkit hingga batas akhir, mengubah suasana hatinya menjadi dingin dan lebih intens.
Dia dibutakan oleh obsesinya kepada Violet. Menunggu sudah tidak bisa lagi dia lakukan. Maka dari itu, insiden terjadi di kerajaan Laontel, setahun lalu setelah kepergian Violet.
Edward membunuh para menteri secara brutal dengan pedangnya, menteri itu adalah mereka yang mengatakan hal buruk tentang Violet, sekaligus menentang keputusan Edward mengenai pencarian Violet.
Awalnya, Edward ingin mengerahkan para Shadow untuk mencari Violet, namun itu di tentang oleh para menteri.
Mereka berkata—
' Tidak perlu mencari wanita itu, karena dia hanyalah seorang janda, dan bukan darah bangsawan asli. ' Mereka mengatakan itu.
Belum lagi mereka menghina Violet di depan Edward. Dan di situlah Edward murka dengan penghinaan mereka.
__ADS_1
Pedang dengan ujung yang mengkilat membelah tubuh mereka tanpa adanya peringatan. Semua menteri yang ada di ruangan itu mati dengan tubuh terpotong-potong.
Kemarahan Edward bukan hanya karena itu, dia sudah muak di atur oleh menterinya. Jadi dia membunuhnya.
Untuk mengganti menteri baru yang tidak banyak menentang keputusan dirinya.
Tapi setelah dia berubah menjadi Tiran dan mengerahkan Shadow untuk mencari Violet. Tetap saja, dia tidak bisa menemukan Violet.
Sehingga hal itu mengubah dirinya lebih banyak menjadi Tiran yang dingin tanpa perasaan.
Mata Edward hanya dingin dengan bibir tidak bergeming sedikit pun.
Bukan hanya mata ramah dan mata manis. Itu dingin dan tidak berperasaan. Mata dingin yang membakar ini semakin menjadi-jadi.
Semua abdinya merasakan hal itu, raja Laontel yang sekarang lebih menyeramkan di banding dengan dulu. Meski dulu memang menyeramkan, tapi sekarang lebih menyeramkan lagi.
Amarahnya selalu meledak-meledak, apalagi saat Shadow melaporkan tentang pencarian mereka yang tidak membuahkan hasil.
Emosinya kadang tidak terkontrol.
" Violet......dimana kau! " Sekarang dia menutup matanya sambil memanggil orang yang membuat dia terobsesi.
" Senyumanmu, matamu yang dingin, dan ambisimu....semuanya membuatku mabuk, hingga aku tidak bisa melupakan dirimu...
" Tapi...
" Kau terus menolak ku dan pergi dariku. Sepertinya aku harus memperlihatkan kepadamu bahwa aku tidak bisa terus bersabar...
" Saat aku melihatmu, aku akan menangkapmu, lalu aku akan mengikat mu di sisiku. Tidak akan pernah membiarkanmu pergi walau hanya sebentar. " Dengan obsesinya dia mengatakan hal yang menakutkan.
Apa jadinya jika Edward menemukan Violet, apa dia benar-benar akan mengikat Violet di sampingnya.
...----------------...
Keesokan harinya di Pulau Hibria.
Saat itu adalah Festival tepi pantai, di mana petinggi pulau Hibria yang merupakan penyihir akan membuka sihir transparan yang menyelimuti pulau Hibria.
Para penduduk di sana, akan bermain di tepi pantai sambil merasakan indahnya pulau luar yang terlihat dari jauh.
" Mayat!!
" Ada mayat di sini!! "
Seorang penduduk pulau berteriak histeris, dia menjerit mengatakan bahwa dia melihat mayat yang terkapar di tepi pantai.
Maka dari itu, semua orang ricuh dan mulai berkumpul di tepi pantai tempat di temukannya mayat tersebut.
" Ada apa? "
" Dimana mayatnya? "
" Apa benar ada mayat? "
Para penduduk mulai bertanya-tanya saat mereka sudah sampai di tempat di temukan nya mayat tersebut.
Mereka akhirnya memastikannya sendiri.
Tubuh laki-laki yang terkapar tidak sadarkan diri, pakaiannya terlihat cukup mewah, rambut pirang basahnya berserakan di atas pasir.
Garis dagu yang tajam, dengan bibir yang sedikit pucat. Bulu mata yang lentik, dia terlihat seperti pangeran yang tertidur.
Semua yang melihatnya terpesona dengan ketampanan laki-laki yang terkapar di atas pasir tersebut.
" Apa pria tampan ini benar-benar mayat? " Tanya nyonya muda.
" Coba di cek kembali, siapa tahu dia hanya pingsan. " Salah satu penduduk menyarankan.
Salah satu penduduk di sana kemudian mengecek kembali denyut nadi laki-laki tersebut, untuk memastikan apakah dia masih hidup atau tidak.
Saat di cek ternyata denyut nadinya masih terasa meski lemah, seolah ingin memastikan lagi, penduduk tersebut mengecek nafasnya juga.
Dan dia ternyata masih bernafas.
" Dia masih hidup!! " Teriak penduduk tersebut memberi kepastian.
__ADS_1
" Kalau begitu, cepat selamatkan dia dengan sihir. " Ucap salah satu penduduk yang ada di sana.
Di waktu bersamaan, Violet yang juga ada di festival tersebut, dia penasaran dengan kerumunan yang menarik perhatiannya.
" Kerumunan apa itu? " Violet bertanya-tanya.
" Katanya ada seseorang yang terdampar di pesisir pantai, dia tidak memiliki identitas. Apa kau mau ke sana?" Tanya Gavino yang juga ada di sana.
" Jika anda mau, kami akan menemani anda. " Istri Gavino juga ada.
Karena Violet penasaran, dia pun mengangguk tanda kepastian.
" Hanya sebentar saja. " Ucap Violet seraya menuju kerumunan tersebut.
Saat Violet mendekat, suara penduduk yang cemas terdengar di telinga Violet.
" Cepat tangani dia, walau hanya dengan sedikit sihir. Siapa tahu dia akan bangun. "
" Apa dia Bereaksi? "
" Tidak, masih belum!! "
" Lebih berusaha lagi!! "
Violet menyusup ke arah kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Saat dia semakin masuk, dia mulai melihat sosok laki-laki yang terbaring tidak sadarkan diri tersebut.
Sosok laki-laki itu masih di tangani oleh penduduk di sana.
" .....Siapa laki-laki itu? " Violet memfokuskan matanya pada laki-laki yang terbaring lemah.
|Rambut pirang, dia seperti seseorang yang ku kenal. | Pikir Violet mencoba mengenali laki-laki yang terbaring tersebut.
Semakin di lihat, Violet semakin mengenalinya.
" ....Tidak, dia tidak mungkin berada di sini. " Gumam Violet.
Saat Violet terus melihat laki-laki itu dengan wajah cemas bercampur takut. Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya perlahan.
" Dia sadar!! " Penduduk yang mengerahkan sihirnya berteriak.
|Dia sadar? | Violet dalam hatinya.
Laki-laki itu membuka matanya perlahan, mata biru seindah lautan muncul, namun terlihat lesu dan lemah.
Laki-laki itu kemudian berbalik ke arah Violet dengan lemah. Matanya menatap ke arah Violet tanpa sengaja.
Violet pun melihat mata milik laki-laki tersebut, dengan tatapan membulat seperti piring. Tangannya refleks menutup mulutnya karena tidak percaya.
| Henric?!!!| Violet dalam batinnya kaget.
Ternyata laki-laki itu adalah Henric, putra sambungnya yang ke 3.
Henric yang melihat ke arah Violet, dia mengangkat tangannya perlahan dengan lemah seolah di akan menunjuk ke arah Violet.
Henric pun sedikit membuka mulutnya.
" ......I—bu......
Panggil Henric lemah tidak ada tenaga, matanya yang sayu membuat Violet sakit hati.
Tanpa sadar Violet mulai mengeluarkan air mata, karena dia tidak menyangka bahwa itu benar-benar Henric.
Meski begitu, Violet tidak mau bertemu dengan Henric.
Maka dari itu, Violet membalikkan badannya dan pura-pura tidak tahu.
" Maaf.....tapi aku tidak mau bertemu denganmu. " Ucap Violet seraya pergi dari kerumunan tersebut.
Saat Violet berbalik, Henric dengan tangan terulur mencoba meraih Violet, matanya yang sayu seakan bisa menutup kapan saja terus menatap sosok wanita yang berbalik pergi menjauh dari pandangan nya.
| Ibu.....| Hatinya juga memanggil Violet.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG........