
" Henric menghilang, Ibu sambung tidak kunjung di temukan, Eric berkhianat, dan kekacauan terjadi di mana-mana...." Arnold bergumam, terlihat di wajahnya jika dia kesulitan menghadapi semuanya.
| Itulah alasan kenapa setiap malam, aku selalu berpikir mengenai menjadi kepala keluarga. Aku sebenarnya tidak pernah tertarik dengan kedudukan ini. Tapi tetap saja, ini sudah menjadi kewajibanku selaku putra tertua dalam keluarga Marquess. | Pikir Arnold.
...----------------...
Kastil Violet.
Edward membawa Violet ke salah satu ruangan yang ada di kastil Violet. Saking tidak inginnya dia melihat Violet bersama dengan Henric, dia sampai menggunakan Teleportasi jarak dekat.
" Tetap seperti ini....." Suara serak, dan lelah keluar dari mulut Edward, dia terus memeluk Violet, dan membenamkan kepalanya di leher Violet, rambut merah Violet yang panjang menggelitik wajah Edward.
| Nyaman, dan tenang. | Pikir Edward yang terus menggesekkan kepalanya.
Violet mengangkat kedua tangannya, bersiap untuk memeluk balik tubuh pria yang lebih besar darinya.
Tapi tangannya yang sudah setengah terangkat, tiba-tiba terhenti dengan beberapa pikiran yang terlintas.
| Sadar Violet, kau tidak pantas untuknya. Kau seorang Janda yang ditinggal mati oleh suami. | Pikir Violet, yang membuat dia tidak jadi memeluk Edward.
Violet menurunkan kembali tangannya dengan hampa. Violet tidak bisa memeluk Edward.
" .....Beri aku alasan yang bagus untuk kembali ke Laontel. Jika itu alasan yang penting, dan masuk akal. Aku akan setuju untuk kembali. " Ucap Violet serius.
" Jika itu alasannya adalah aku, apa kau akan kembali? " Tanya Edward.
" Tidak......" Jawab Violet langsung.
" Heh....Kau jahat. " Ucap Edward.
" ...... " Violet tidak menjawab Edward.
Wajah Edward yang terus menempel di leher Violet, seketika meringis. Edward kemudian berbicara lagi.
" Putramu yang lain sedang kesulitan, apa kau yakin tidak akan pulang? " Edward akhirnya memukul titik lemah Violet.
Tentu saja, Violet dengan cepat mendorong Edward, dan bertanya dengan menatap wajah Edward untuk memastikan apa itu benar.
" Apa itu benar? Kenapa mereka kesulitan? " Tanya Violet tidak sabar.
| Aku tahu kau tidak akan tahan dengan mereka. Meski aku tidak suka perhatianmu hanya tertuju kepada 4 anak yang menyusahkanmu, tapi bila dengan cara ini berhasil untuk membujukmu. Maka itu tidak buruk. | Pikir Edward.
" Jawab aku Edward!! " Violet mengguncang tubuh Edward, dia tidak sabar mendapat jawaban dari mulut Edward.
" Benteng Timur rusak, Tambang milik Marquess juga sudah di pindah alihkan. " Jawab Edward.
__ADS_1
Edward mengetahui hal itu, karena semua urusan yang ada di kerajaan berputar di sekitar dirinya. Apalagi jika keluarga bangsawan, pasti masalah apapun akan sampai ke telinga Edward.
" .....Benteng Timur? Tambang emas? " Dengan mata yang tidak percaya Violet bergumam.
| Mereka pasti kesulitan sekarang. Tapi aku harus percaya bahwa mereka bisa melewati semua ini. | Pikir Violet.
" Baiklah, aku akan kembali. Tapi ini hanya demi putraku. " Akhirnya Violet mau kembali.
Tapi disisi lain, Edward tidak senang dengan kata-kata terakhirnya. Itu berarti Violet kembali hanya untuk putranya.
| Apa aku harus membunuh putra-putranya itu, agar dia hanya terus melihatku, dan memikirkanku? | Pikiran buruk keluar begitu saja.
| Tidak! Jika itu sampai terjadi, Violet hanya akan membenciku. | Pikir Edward sekali lagi.
" .....Meski aku sedikit tidak suka mendengar kata-katamu yang terakhir. Tapi aku tetap senang bahwa kau mau kembali. " Ucap Edward.
" Kita kembali sekarang. " Ucap Edward langsung, dia ingin kembali secepatnya.
" Edward, jangan memaksakan tubuhmu. Aku tahu kau lelah, tidak bagus jika tubuhmu tiba-tiba jatuh sakit. " Ucap Violet, dia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir nya.
Edward sangat senang mendengar hal itu dari Violet, dia berpikir, ternyata Violet masih bisa mengkhawatirkan dirinya.
" Itu yang aku suka dari dirimu Violet, tidak maksudku, Lee. " Gumam Edward rendah.
" Istirahatlah di sini, besok kita kembali. " Ucap Violet, seraya berbalik mencoba pergi.
Tapi Edward, sekali lagi menarik lengan Violet, dan menahannya untuk tidak pergi.
" ....Haah! " Violet menghela nafas, lalu dia berbalik, dan membawa Edward ke tempat tidur.
" Tidak ada gunanya menolak Violet. " Ucap Edward dengan senyum liciknya.
Ya, Violet tahu, tidak ada gunanya dia menolak. Karena laki-laki yang tengah bersamanya, tidak suka di tolak. Keinginan nya harus terpenuhi.
" Cepat istirahat! " Perintah Violet seraya menunjuk ke arah kasur.
Edward hanya melirik kasur tersebut, lalu dia berbicara lagi.
" Berbaring bersamaku...." Edward meminta Violet untuk berbaring bersamanya.
" Tidak...aku tidak bisa berbaring denganmu. " Violet menolak.
" Kalau begitu duduk di sini...." Ucap Edward, seraya menunjuk ke arah kasur.
Violet pun duduk di atas kasur, lalu dia bertanya, apa seperti ini.
" Apa begini? Kau puas? " Tanya Violet.
Edward naik ke atas kasur, lalu dia membaringkan kepalanya di atas paha Violet. Wajahnya menghadap ke atas tepat ke wajah Violet.
__ADS_1
" Begini lebih baik. " Ucap Edward.
" .....Tidurlah..." Ucap Violet.
| Apa dia akan nyaman dengan pakaian itu? atribut yang dia pakai juga lengkap. Masa bodolah!! Itu urusan dia. | Pikir Violet.
" .....Elus rambutku...aku pasti akan tertidur dengan mudah. " Ucap Edward dengan suara yang sudah lelah.
Violet dengan cepat mengelus rambut Edward lembut, sentuhan itu hampir sama dengan dia mengelus rambut putranya.
" ..... Jangan kabur...Lee..." Mata Edward perlahan mulai menutup, dan akhrinya dia pun tertidur.
Edward tidak bisa menyangkal bahwa dia tidak lelah.
" .....Kau menurunkan kewaspadaan mu Edward. Bagaiman jika aku ternyata berencana membunuhmu! " Gumam Violet yang terus menatap bulu mata yang lentik milik Edward.
...----------------...
Gavino, Ryu, dan Henric mereka berada di ruangan tamu.
" Henric, sejak kapan kau belajar sihir? " Tanya Gavino penasaran.
" Sejak kepergian Ibu sambung. " Jawab Henric.
" Aku tidak menyangka jika kau memiliki mana sihir, padahal di kerajaan Laontel jarang yang memiliki sihir. Hanya sebagian orang saja termasuk aku, dan Edward. " Ucap Gavino.
" Mana ini muncul begitu saja, mungkin bangkit karena emosiku yang terus memuncak, dan tidak sabaran. " Jawab Henric.
" Apa kau yakin karena itu? " Tanya Gavino.
" Ya, aku yakin. Dari pada itu, kenapa dia tidak muncul juga?!! " Jawab Henric seraya bertanya kenapa Edward tidak kunjung muncul.
| Dia benar, dia tidak sabaran. Padahal aku ingin mengalihkan perhatian, agar dia tidak menanyakan hal itu. | Pikir Gavino.
" Mungkin mereka masih berbincang. " Ryu merespon pertanyaan Henric.
" Nah! Kau dengar istriku bilang apa? " Ucap Gavino.
" Tapi ini sudah lama. " Ucap Henric tidak sabar.
" Henric! " Ketika mereka terus berdebat, akhirnya Violet muncul, dan dia segera bergabung dengan mereka.
" Ibu? " Henric menatap Violet yang sudah duduk.
" Kau kembali? kemana Raja gila itu? " Tanya Gavino.
" Jaga mulutmu sayang! " Ryu menegur Gavino, karena dia berkata kasar kepada orang yang lebih tinggi dari dirinya.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG........