
Pertengkaran itu tidak berhenti sampai di situ, keesokan harinya, lalu keesokan harinya lagi, dan seterusnya, selama 3 hari aku bertemu lagi dengan bocah itu.
" Kau lagi?!! Arrgghhhh!!! kenapa kau selalu muncul di hadapanku " Aku berteriak frustasi.
" Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kenapa kau selalu ada di sini dan bertengkar denganku?!! " Dia meninggikan suaranya dengan keras lebih dariku.
Para pengunjung dan pemilik kedai sudah terbiasa dengan pertengkaran kami, karena kami selalu bertengkar saat bertemu.
" Minggir aku ingin melihat poster hari ini!! " Gerutu diriku dengan sinis.
Dia bukannya menyingkir malah mengikutiku dari belakang, selalu seperti itu, dia akan mengambil poster tawaran yang sama denganku entah apa motifnya.
" Kenapa kau mengambil poster yang sama lagi?!! " Tanyaku kesal.
" Karena ini lebih menantang!! " Ucapnya seraya menulis dan mendaftarkan diri.
Aku pun merebutnya dan mau tidak mau mendaftar kan diri juga, meskipun aku memang sedikit muak dengannya.
" Lee? " Dia membaca namaku dengan mulutnya.
Aku langsung melirik dan bertanya ketus.
" Kenapa?!! " Tanyaku.
" Namamu aneh." Ucapnya mengejek.
Padahal dalam bahasa asing Lee adalah Singa pemberani, ada pula Lee sebagai kesejahteraan dan kekuatan.
Beraninya dia menghina nama itu.
| Pria ini memang seenaknya!! | Pikirku marah.
Aku pun melihat namanya, namanya tepat berada di atasku. Aku membacanya dengn susah, karena itu nama yang menurutku sulit di ucapkan.
" Apa ini, D..wer...Dewar...
" Drawde!! " Dia berteriak membenarkan nama yang aku sebutkan.
" Oh, Dewer. " Ucapku yang masiu salah.
" Bukan Dewer, tapi Draw!!! " Ucapnya tegas.
Aku tidak peduli, mau itu Dwer, Dewer ataupun apa.
" Yah, Dewer!! " Ucapku.
Aku pun pergi meninggalkan dia, karena jika sudah mendaftar, aku harus segera melakukan tugasku, aku pergi membasmi monster.
Tentu saja dia ikut denganku, karena kita satu rombongan, kami harus bergabung dengan orang yang mendaftar di poster tersebut.
Jika tidak salah, ada 20 yang mendaftar. Dan mereka rata-rata berbadan kekar dan sudah dewasa.
__ADS_1
Hanya ada 3 orang yang masih di bawah umur, yaitu aku, Dewer, dan satu anak laki-laki yaitu Gavino, dia adalah anak laki-laki yang seumuran dengan Dewer.
...----------------...
Singkat cerita, kita sampai di pembasmian monster.
Aku selalu tahu bahwa medan pertempuran adalah tempat yang bergejolak, tanpa ampun dan tak kenal ampun.
Tetapi melihat tumpukan mayat berserakan di mana-mana, itu makna yang sebenarnya dari pembasmian baru sekarang mulai terlihat.
Saat itu banyak sekali monster yang ada di sana, bukan hanya monster tapi parasit lain pun ada.
" Apa kau yakin akan menang? " Dewer bertanya dengan sedikit sombong.
" Siapa peduli, jika sudah di sini tidak peduli mau kalah atau pun menang. Kita tetap harus berjuang. " Ucapku seraya menarik pedang dari sarungnya.
Aku menatap tajam dengan mata membara penuh semangat, aku menerjang setiap inci dari tubuh mereka, meski menjijikan melihat tubuh monster yang terpotong-potong, aku tetap harus melakukan ini.
Para monster bukan hanya berbentuk hewan, tetapi mayat yang seperti zombie, mereka rata-rata adalah mayat hidup dari tentara bayaran yang terkena gigitan monster.
" Aku memberi tahumu jangan sampai kau tergigit oleh monster tersebut, jika kau tergigit kau akan sama seperti mereka!!! " Aku yang sudah berpengalaman menasehati Dewer.
Suara dentangan senjata terdengar di mana-mana, aku dengan tangan yang memegang pedang menghabisi mereka, saat aku melihat ke arah Dewer dan Gavino aku terkejut, mereka memainkan pedang dengan lihai.
Berbeda dengan Gavino, dia mahir dalam pedang, tapi dia masih menggunakan sihir, dia memiliki sihir api.
" Gavino, cepat bakar semuanya, mereka akan bangkit kembali jika tidak di bakar!!! " Aku menyuruhnya untuk membakar semua monster yang sudah di taklukkan.
" Baik!!! " Gavino menjawab, dia langsung membaca mantra, seketika cahaya keemasan keluar dari tangannya.
Gavino langsung mengarahkan mantra tersebut ke arah para monster, seketika moster tersebut terbakar.
" Lihat, bukan kah kita berhasil membunuh semuanya? " Ucapku seraya menghela nafas panjang.
Dewer dan Gavino mereka mengangguk, awalnya kami pikir itu sudah berakhir, tapi nyatanya tidak.
' Groahhhhhh!!!!! ' Suara para monster terdengar dalam jumlah banyak.
Para Monster mulai bertambah banyak, sedangkan kami hanya menyisakan 9 orang.
Mereka bukan monster yang sebelumnya, melainkan regenerasi baru, entah dari kubu bagian mana.
Di tengah kegelisahan, salah satu kelompok kami berteriak dengan suara gugup.
" Ini—
__ADS_1
" Ini di luar tawaran!! "
" Lebih baik kita kembali!!! " Kelompok ku yang lain pun bersorak untuk mundur.
" Kita harus mundur!! " Aku pun berpikir sama, karena kekuatan kami tidak cukup untuk melawan mereka.
Dewer dan Gavino pun menyadarinya, mereka mengangguk dan bersiap pergi.
Kami bertiga berlari mengejar para rombongan yang sudah di depan.
" Cepat!! Kita harus cepat!! " Kami berlari layaknya orang gila.
Saat kami akan mencapai rombongan kami, tiba-tiba mereka malah mendorong kami. Mereka bahkan menendang kami dengan kaki busuknya.
" ....Pergi!!! " Pria botak itu dengan keji berbicara.
" Harus ada yang menjadi umpan agar kami bisa pergi, maka kalian lebih baik mati!! " Pria botak itu meludah dengan kata yang sangat hina.
Bagaimana mungkin mereka menjadikan kami umpan agar mereka bisa kabur.
" Ka—kau!! " Aku menatap mereka dengan tatapan kesal dan marah.
Mereka pergi begitu saja, sedangkan kami bertiga di tinggal begitu saja.
" Mereka mengorbankan kita agar mereka bisa lari. Dasar manusia yang tidak mempunyai hati. " Ucapku.
Aku melihat ke arah Dewer dan Gavino, mereka terlihat kesulitan, apalagi Dewer.
Karena dorongan para rombongan itu, dia terpental hingga jauh, kepalanya bocor karena benturan yang keras, belum lagi kakinya tertindih oleh tumpukan mayat rombongan yang mati.
Pemandangan sosok anak yang banyak bicara, Dewer yang tak bergerak di antara tumpukan mayat iblis dan tentara lain membuatku terguncang.
Aku memang kesal dengannya, tapi melihat dia seperti itu, aku tidak bisa menutup mata untuk tidak menolongnya.
Lalu di sisi lain, Gavino dia juga kesulitan karena perutnya terluka, perutnya robek sangat besar meski tidak terlalu dalam.
Dia meringis di tengah medan pembasmian, aku sendiri pun terluka di bagian tangan dan kepala.
" Sialan!! " Aku meludah kesal, itu adalh perkataan kasar yang benar-benar keluar dari mulutku.
Saat aku sedang kebingungan dengan situasi sekarang, tiba-tiba suara raungan monster semakin nyaring.
' Groaaarrrrrr!!!!!! ' Mereka semakin mendekat ke arah kita.
Suara berat bergema di telingaku, menyebabkan kepalaku sedikit berdering. Suara itu mengguncang udara beberapa detik.
Padahal kita sudah berlari sejauh mungkin, tapi karena manusia itu, kami harus berguling lagi ke belakang dalam keadaan terluka.
" Bagaiman ini?!! " Aku bertanya-tanya di situasi tersebut.
...----------------...
__ADS_1