Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 38


__ADS_3

Istana Kerajaan Laontel.



Surat dari Kastil Marquess tiba-tiba saja datang, dalam surat tersebut tertulis bahwa kepala keluarga yang dulu yaitu Violet, memutuskan untuk turun dari kedudukannya.


Violet menyerahkan kembali hak Arnold, dengan datangnya surat pergantian kepala keluarga, istana menjadi sedikit ricuh.


Terutama di bagian kantor istana.



" Apa benar, janda itu mengembalikan hak Tuan muda Arnold sebagai kepala keluarga? " Bangsawan dari keluarga Count bertanya.


" Aku tidak percaya dia benar-benar melepaskan kedudukannya sebagai kepala keluarga. " Salah satu pekerja istana yang bergelar Baron berbicara.


Mereka bertanya-tanya, apakah wanita yang selama ini di gosipkan sebagai Janda muda kaya raya dan penyihir dewa, benar-benar melepas kedudukannya.


Saking buruknya Violet di mata mereka, rata-rata, mereka tidak percaya dengan kabar tersebut.


Mereka tidak percaya, wanita penggoda seperti Violet melepaskan kedudukannya begitu saja.


Lalu di sisi lain, Edward. Dia saat ini berada di ruang kerjanya, tentu saja dia juga tidak percaya Violet melepaskan kedudukannya.



" Apa dia benar-benar melepaskan kedudukannya sebagai kepala keluarga? " Edward bertanya karena tidak percaya.


Amon yang ada di ruangan itu, dia merespon.


" Ya, yang mulia. Surat itu sudah datang, berarti itu adalah kebenaran. " Amon menjawab dengan sopan.


" ....Sebenarnya ada bagusnya Marcioness Violet turun dari kedudukannya. Jika seperti itu, akan mudah menjadikannya Ratu. " Gumam Edward.


Edward ingin menjadikan Violet sebagai ratu, Edward terlalu memaksakan hal itu. Ada sebuah ketentuan yang berlaku dalam kerajaan, bahwa seorang janda tidak bisa menjadi ratu.


Jika itu sampai terjadi, ratu itu tidak akan di hormati meskipun kedudukannya tinggi.


Janda ratu akan di cemooh oleh seluruh rakyat. Jika Edward memaksa mengambil Violet sebagai Ratu, dia tentunya hanya akan menyakiti Violet.


Violet akan di hina, dia tidak akan di hormati, terutama keturunan mereka, tidak akan di anggap sebagai keturunan bangsawan.


Sekalipun separuh darah mereka adalah darah Raja.


" Yang mulia itu, tidak mungkin bisa. " Amon berbicara mengenai gumaman Edward.


Edward berbalik dan bertanya dengan wajah bingung.


" Kenapa? apa karena ketentuan itu? " Tanya Edward.


Amon menggelengkan kepalanya, lalu dia menjawab.


" Beliau sudah pergi. " Jawab Amon.


Wajah Edward seketika berubah menjadi mendung. Edward menyipitkan matanya dan bertanya.


" Kemana? kemana dia pergi?.....


" Kemana dia pergi, Amon?!! " Tanya Edward dengan suara tinggi.


Amon menjawab dengan serius. Jawaban itu bukan jawaban yang Edward inginkan.


" Saya tidak tahu Yang mulia, tidak ada yang tahu kemana beliau pergi. " Jawab Amon.


Jawaban Amon tidak memuaskan, Edward menghela nafas dan menggosok wajahnya kasar, seraya bergumam.


" Haaaaa.....


" Di mempunyai hobi yang aneh. Selalu menghilang, tanpa tahu kemana dia pergi. " Gumam Edward.


" Cari dia Amon!! " Perintah Edward.


Amon mengangguk mengerti, meskipun tindakan mereka tidak akan membuahkan hasil.

__ADS_1


...----------------...


Kastil Marques Sanjay.



Setelah kepergian Violet, putra-putra Sanjay akan mengadakan pesta atas kepergian Violet. Pesta itu akan di lakukan 3 hari lagi.


Sebenarnya, usulan pesta itu datang dari mulut Berick. Dia memaksa untuk di adakan pesta besar-besaran atas kepergian Violet.


Karena dia putra bungsu, Arnold dan Jack mengabulkannya.


Dan saat ini mereka sedang berada di ruang tamu keluarga.



" Kak, coba hirup udara yang ada di kastil ini. " Berick yang sedang bersantai, dia berbicara kepada kakaknya Jack dan Arnold.


Arnold yang sedang melihat dokumen-dokumen penting mengenai kepala keluarga, dia merespon.


" Memangnya kenapa? " Tanya Arnold yang masih menatap dokumen di tangannya.


" ....Udara di kastil ini tidak menyesakkan dan memuakkan. " Jack seolah menjawab pertanyaan Arnold.


" Benar! karena penyihir itu sudah pergi, udara di kastil ini terasa segar dan tidak memuakkan. " Berick mendukung perkataan Jack.


Arnold terdiam, dia saat ini sedang memikirkan semua dokumen yang ada di tangannya.


|Dia mengerjakan semua ini sendirian? selain itu, dia juga mengerti akuntansi. Padahal dia tidak menerima Tutor.....Apa aku sudah salah menilainya? | Arnold bertanya-tanya dalam pikirannya.


" .........Tuan Muda!........


Saat Arnold larut dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara berisik dari ruangan sebelah.


Seketika mereka saling bertatapan seolah bertanya-tanya. Di sebelah ruang tamu keluarga, adalah kamar Henric.


" Ada apa? " Tanya Berick dengan wajah cemas.


" Sepertinya itu suara pelayan." Jack menebak.


Mereka pergi dari ruang tersebut, dan melihat ke kamar Henric di mana suara pelayan terdengar.


Saat mereka datang, sebuah Vas bunga dari pintu kamar Henric melayang di udara begitu saja. Untung saja mereka segera menghindar.


' Praanggggg......' Vas itu menabrak dinding, dan pecah.


Berick, Arnold, dan Jack kaget. Langkah mereka terhenti dan melihat pecahan vas bunga yang berserakan di lantai.


|Hampir saja Vas itu mendarat di kepalaku.| Pikir Jack.


Mereka pun masuk ke dalam kamar Henric.



Begitu mereka masuk, mereka terkejut.


"Apa ini?! ” Arnold berbicara serius.


Lantai ditutupi dengan pecahan kaca. Arnold mencoba melihat sekeliling untuk melihat apa yang terjadi.


Ketika mata mereka menyusuri setiap sudut ruangan.


Semua cermin di kamar tidur Henric rusak, bahkan barang-barang lainnya rusak, kamar Henric bagai kapal pecah.


“ Tidak, apa ini…” Jack bertanya-tanya kaget.


" Apa yang sebenarnya terjadi?!! " Arnold bertanya dengan wajah khawatir.


" .....Ada apa ini, kenapa di sini berantakan? " Tanya Berick.


Jack melirik adiknya Henric, dia duduk dengan kedua tangan melingkari lututnya. Tangannya terlihat di penuhi luka karena pecahan kaca.


" Apa yang kau lakukan?!! " Jack meraih tangan Henric seraya bertanya.

__ADS_1


Arnold melirik ke sisi lain, dia melihat Eric dan pelayan terduduk di lantai dengan kondisi terluka.


" Apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya Arnold, kepada Eric.


" .....Saya tidak tahu Tuan, tiba-tiba Tuan muda Henric mengamuk. " Jawab Eric.



" Keluarlah!! " Perintah Arnold.


Pelayan dan Eric keluar dari ruangan tersebut. Setelah mereka keluar, Jack bertanya lagi dengan mengguncang tubuh Henric.


" Henric, apa yang sebenarnya terjadi?! " Tanya Jack seraya mengguncang tubuh Henric.


Henric dengan tatapan kosongnya dan bibir yang kering mencoba membuka mulutnya.


" ......Kemana.....


" ......Dia pergi?.......


Henric dengan tatapan kosong dan sendu bertanya, dia menanyakan seseorang kepada saudaranya.


Berick dengan wajah bingung sekaligus cemas bertanya.


" ....Siapa?


" Siapa yang kakak, maksud? " Tanya Berick.


Henric diam sekejap, lalu setelah itu dia menjawab dengan suara pelan.


" .......Ibu.....


" Kemana ibuku?.....


" Kemana dia?!!!


Ketika mendengar perkataan itu, mereka seketika diam. Mereka tidak tahu, ibu yang di maksud Henric siapa.


" .......Ibu, ibu sudah meninggal Henric. Sejak lama, ibu sudah meninggal. " Arnold mencoba menjelaskan.


" .....Ya kakak, ibu sudah tidak ada. " Timpa Berick.


Ketika perkataan itu keluar dari mulut Berick dan Arnold, Henric seketika mengatupkan bibirnya.


" ......Bukan, bukan itu.......


Henric menggelengkan kepala nya pelan, lalu dia menatap mereka dengan mata penuh arti.


" ......Kak....


".....Ibu yang selalu mengelus rambutku?.....


" Dia selalu membelai rambutku dengan sentuhan yang lembut......


" Dia selalu datang tengah malam? kemana dia kak?!...


" Kemana kak?!!!......


Henick bertanya dengan tangan yang memegang ujung pakaian Arnold.


Mereka tidak tahu siapa yang di maksud oleh Henric.


" Siapa Henric?!! " Tanya Jack.


Henric melepas tangannya lemah dari pakaian Arnold, lalu dia menatap mereka dengan tatapan dingin dan kosong.


" Apa kalian......


" Mengusirnya? " Henric bertanya dengan suara yang tidak bertenaga.


...----------------...


BERSAMBUNG.......

__ADS_1



__ADS_2