
Lorong Kastil Violet.
Henric dengan kekuatan nya dia melawan prajurit berbaju jirah. Dari 5 prajurit Henric baru membunuh 3, dan 2 sisinya masih mengejar Henric.
" Kalian pikir aku akan menyerah!!! " Teriak Henric dengan terus berlari.
Kedua Prajurit itu mengejar Henric dengan pedang yang siap membelahnya kapan saja, mereka tidak kenal ampun.
' Dag!...
' Dag!...
" Sial!! kenapa mereka tidak berhenti. " Celoteh Henric.
|Kekuatanku akan habis jika melawan mereka terus menerus. | Pikir Henric.
Saat Henric terus berlari, tiba-tiba pisau melayang ke arahnya begitu saja, Henric tanpa sadar menekan tombol jebakan lagi.
" Apa?!! " Henric kaget dan dia segera menghindar dari pisau tersebut.
Saat dia menghindar, prajurit baju jirah dengan cepat mengayunkan pedang mereka ke arah Henric.
' Swooos!! ' Pedang di ayun.
" ? " Saat itu pula Henric harus menghindar lagi. Henric berguling ke kanan dengan cepat, tapi sayangnya kulit tangannya harus robek.
Henric berlutut dan memegang tangannya menahan darah yang bocor, darah keluar dari lengan bajunya yang putih.
Meski begitu, Henric tetap tidak menyerah.
" Ughhh!!! " Ringisan melengking bergema saat rasa sakit yang merobek kulitnya menyebar ke seluruh tangannya.
Henric tidak bisa terus berdiam diri di depan kedua prajurit yang siap membelah tubuhnya kapan saja.
Henric mundur beberapa langkah berturut-turut dengan mata waspada menatap kedua prajurit tersebut.
Makhluk itu terlihat mengerikan, mereka bahkan mengangkat lagi pedang nya, dan bersiap membelah tubuh Henric.
" Tidak!! Kalian tidak akan bisa membunuhku!! " Teriak Henric.
Henric dengan cepat membangun sihir pertahanan.
Cahaya keunguan membelenggu sekitar Henric.
Belenggu itu bisa menahan serangan apapun. Tapi sayangnya tidak bisa bertahan terlalu lama.
" Pertahanan ini tidak akan lama, apa yang harus aku lakukan? " Henric bertanya-tanya.
Saat itu pula cairan kental berwarna merah terus merambat keluar, Henric semakin meringis terutama ketika dia mengeluarkan energinya.
' Swooszzz!! ' Beberapa Pisau melayang dan mengarah ke arah Henric.
Mata Henric langsung terbuka lebar, dia pun memperkuat sihir pertahanan miliknya.
" Huffttt....Energiku terkuras habis. " Gumam Henric dengan sulit.
__ADS_1
| Jika aku melepaskan sihir pertahanan ini, aku bisa saja mati di sini. | Pikir Henric.
' Bang!!
' Bang!!
Pedang terus di pukul ke benteng pertahanan Henric. Pisau juga terus menusuk mencoba menerobos masuk.
| Mereka hanya benda yang di isi oleh sihir, jika aku ingin menghentikan mereka, aku harus menghentikan aliran sihir ini. | Pikir Henric.
Henric benar, dia harus menghentikan aliran sihirnya, akan tetapi dia tidak tahu berasal dari mana aliran sihir tersebut.
| Aku tidak boleh mati di sini, aku yakin Ibu sambung ada di sini. | Pikir Henric.
Dengan kesungguhan hatinya, Henric membaca mantra.
" Luce blu spenta!! Rompili, Presto!! " Teriak Henric.
Saat itu pula, api biru keluar dari tangannya.
" Distruggere!! " Henric membuka pertahanannya.
Lalu dia mengarahkan api birunya kepada lawan.
' Whooossssshhh!! '
' Bum!! ' Dengan cepat kedua prajurit berbaju jirah terpental jauh, hujan pisau pun berhenti.
" Aku harus segera mencari titik aliran sihir nya. " Gumam Henric yang terus berlari dalam keadaan yang terlihat rapuh.
...----------------...
Gavino dengan Ryu, mereka tidak kuasa melihat Henric yang harus melewati jebakan demi jebakan.
" Apa dia akan bertahan? Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Khazan. Khazan adalah jebakan yang paling mematikan di antara yang lainnya. " Ucap Ryu.
Gavino yang terus melihat bola sihirnya dia juga berpikiran yang sama.
| Khazan sebenarnya bukan jebakan, dia hanya batu penjaga yang kejam. Ciri-cirinya yaitu, dia memiliki 8 tangan, masing-masing tangan memegang senjata yang berbeda. | Pikir Gavino.
" Aku tidak yakin, Violet!! Lebih baik kita sudahi ini. " Ucap Gavino.
Violet yang juga ada di sana, dia masih diam dengan pikiran yang mulai kacau.
| Kenapa? Kenapa kau terus maju?!! Apa kau ingin mati!! | Pikir Violet yang melihat Henric di dalam bola sihir.
Violet berdiri dari duduknya, dan dia pun bergegas pergi untuk menemui putranya yang keras kepala.
" Gavin, hentikan aliran sihirnya, sebelum anak itu benar-benar berhadapan dengan Khazan. " Ucap Violet seraya pergi.
Ryu dan Gavino saling memandang dan tersenyum merekah.
| Akhirnya Violet luluh juga. | Pikir Gavino.
...----------------...
" Huftt...Huft...." Napas sesak keluar dari mulut Henric.
__ADS_1
Dia terus berlari, sembari memegang lengannya yang robek.
Di tangannya yang luka, dia masih memegang bunga putih. Bunga itu sudah ternodai darah, entah untuk apa bunga tersebut, tapi yang jelas, Henric tidak pernah melepaskannya.
" Kemana sekarang? " Henric di sela langkahnya bertanya-tanya.
Karena lelah, Henric berhenti dan menyenderkan tubuhnya di dekat pintu.
' Kreeettt!! ' Tapi tiba-tiba, pintu itu terbuka begitu saja dan membuat Henric jatuh.
Saat itu Henric segera berbalik dan menatap ruangan tersebut.
" Aāapa itu? " Henric kaget, matanya melebar melihat batu pahatan yang menyeramkan.
Ternyata patung itu adalah Khazan, batu yang di maksud Gavino.
' Kretek...' Suara retakan terdengar, Henric yang masih melihat Khazan, dia pun menjadi waspada.
' Groooooooohhhh!! ' Dan benar saja, Khazan hidup dan meloncat ke arah Henric.
Pada saat itu, Henric segera berlari keluar dari ruangan tersebut, dia tidak bisa melawan karena kekuatannya sudah habis.
' Ggrooookhhhk '
' Scccreettttttt '
Khazan terus mengejar Henric, bukan hanya Khazan, prajurit berbaju jirah pun terlihat di belakang khazan.
Dengan jantung yang terus berdetak keras, dan dengan ketakutan yang berlimpah Henric terus berlari.
" Ini.....kenapa mereka tidak bosan mengejarku!! " Teriak Henric yang terus berlari.
Saat Henric berlari, bunga putih yang dia pegang tiba-tiba terlepas dari tangannya.
" Bunga?!! " Henric refleks berhenti dan berbalik ke arah bunga putih.
Khazan, dan prajurit baju besi sebentar lagi datang, tapi Henric tetap tidak mau meninggalkan bunga putih itu.
" Aku tidak peduli!! " Henric kembali untuk mengambil bunga putih tersebut.
Khazan berdiri tepat di depan Henric yang akan mengambil bunga putih, senjata yang ada di setiap tangannya segera di arahkan ke arah Henric.
Di saat itu pula, Violet datang dan melihat Henric yang akan di serang oleh Khazan.
" Tidak!!! Henric!!! " Teriak Violet yang berlari ke arah Henric.
Henric pun berbalik ke arah Violet dengan mata yang kaget, menyadari itu Violet, Henric pun menebar senyumnya.
" Menyingkir Henric!! " Teriak Violet dari jauh.
Henric tidak tahu jika Khazan sudah mengangkat senjatanya, dia terus tersenyum ke arah Violet.
...----------------...
BERSAMBUNG.......
Hikssrootttš¤§š¤§
__ADS_1