
" Jawab aku?
Henric terus bertanya, dia meminta jawaban kepada ketiga saudaranya.
Berick, Arnold, dan Jack. Mereka mengatupkan bibir mereka dengan ekspresi kaku.
Mereka tidak tahu kenapa Henric mengatakan kata Ibu dan menanyakan keberadaan Violet.
Padahal dia sama seperti mereka, Henric juga membenci Violet, dia juga berharap Violet keluar dari keluarga Marques.
" Henric, kau masih sakit.....Jadi, beristirahat. " Arnold tidak memberi jawaban, dia malah menyuruh Henric beristirahat.
| Henric, dia masih sakit, jadi cukup masuk akal jika dia bertingkah seperti itu. | Pikir Arnold.
" Kak Arnold benar, seharusnya kakak istirahat saja. " Berick mendukung.
" Benar, tubuhmu belum pulih sepenuhnya. " Ucap Jack.
Henric tidak mendapatkan jawaban, dia malah di suruh istirahat oleh saudarannya, tapi di saat ini Henric hanya butuh kepastian dari mereka.
" ........ " Henric diam, dia terlihat mengepal tangannya.
Henric terlihat marah, dia beranjak dari tempat tidurnya dengan tubuh terhuyung mencari arah.
" Apa yang ingin kau lakukan?........" Tanya Berick dengan wajah dingin.
" .....Aku harus memastikan sendiri. " Henric berdiri dengan kesulitan.
" Jangan memaksa Henric! " Arnold menegur Henric.
Jack yang melihat adiknya, dia mengerutkan kening dan bertanya dalam pikirannya.
|Ada apa dengan Henric, kenapa dia begitu gigih menanyakan wanita itu?!!| Pikir Jack.
Henric melangkahkan kakinya di atas tumpukan kaca yang berserakan di lantai. Dia tidak merasakan apapun meski pecahan kaca menusuk kakinya.
Henric dengan langkah kaki tidak seimbang dan wajah lelah yang hampir roboh, dia berbicara.
".....Aku harus memastikan.....
" Bahwa itu tidak benar......
" Mereka pasti tidak benar.....
Ke tiga saudaranya mencoba menghentikan Henric.
" Hentikan Henric!! " Teriak Arnold.
Henric menutupi telinganya, dia terus berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Berick dengan langkah cepat menghadang jalan Henric.
" Hentikan!! apa kau sudah gila?!! " Berick berteriak kepada kakaknya Henric.
Henric dengan mata sangar dan serius, dia berbicara.
" Minggir! " Ucapnya serius.
Berick tidak mau menyingkir, dia maju dan memegang bahu Henric kuat seraya berteriak.
" Kenapa?!! dia bukan ibu kita Henric!!! " Teriak Berick.
" Aku bilang minggir!! " Masih dengan tatapan seriusnya, Henric meminta Berick untuk menyingkir.
" Dia hanya wanita murahan yang berusaha menghancurkan keluarga kita!! sadarlah!! " Berick terus berteriak dengan kata yang tajam.
Mengetahui bahwa jika dia terlalu bersemangat, Berick berkata dengan suara lebih lembut, seraya menyapu rambutnya dengan kasar.
" Jadi sadarlah, kak. Wanita itu adalah pembawa masalah..." Ucap Berick.
Henric dengan tangan pengepal tanpa kekuatan, dia berbicara.
" Sadar?.....
" Kau yang seharusnya sadar Berick!! " Henric dengan sisa kekuatannya mendorong tubuh Berick dari jalannya.
" Si brengsek ini!!!....." Berick dengan suara terendam bergumam dengan mata tajam.
Arnold dan Jack yang sedari tadi diam, dia segera memisahkan kedua adiknya itu.
" Hentikan!! apa kalian akan ribut seperti ini?!! " Arnold dengan cepat menghentikan mereka.
" Henric hentikan, aku akan mengatakannya. " Jack berbicara di hadapan Henric.
Henric melirik Jack dan menunggu jawaban.
" Dia pergi, dia sudah pergi. Jadi berhentilah berpikir tentangnya. " Jack memberi jawaban kepada Henric.
Wajah Henric berubah seketika, wajahnya mengeras dengan mata yang lesu. Dia tidak percaya, bahwa Violet sudah pergi.
" Dia sudah pergi......
" Bagaimana ini......
Henric dengan ketidak percayaannya bergumam kacau. Matanya mulai kabur, berat dan tidak kuat untuk terus bertahan.
Henric pun tumbang ke lantai setelah mengetahui hal itu. Semua yang ada di sana panik, mereka berteriak melihat tubuh Henric tumbang begitu saja.
" Henric!!! " Teriak mereka.
__ADS_1
" .....Cepat panggil tabib! " Arnold berteriak dan menghampiri tubuh yang tergeletak tak sadarkan diri.
" Kenapa ini bisa terjadi? apa wanita itu menaruh kutukan kepada keluarga ini!! " Berick dalam situasi seperti itu, dia masih saja menyalahkan Violet.
| Walau wanita itu pergi, kenapa rumah ini tidak bisa tenang. | Pikir Jack.
Karena yang seharusnya pergi bukan Violet melainkan Eric. Dia adalah dalang dari segala masalah yang timbul.
...----------------...
Di atas kapal, menuju pulau Hibria.
Aku saat ini berada di atas kapal, yang akan menuju pulau Hibria, setelah aku pergi dari kastil, aku langsung keluar dari wilayah kerajaan.
" Apa kau menikmati angin laut? " Tanya seorang pria dengan pakaian khasnya.
" Ya, laut di sini juga sangat biru dan indah. Banyak sekali burung yang terbang di atasnya. " Jawabku seraya menatap indahnya suasana laut.
Aku tidak pergi sendiri, aku pergi bersama dengan Gavino. Hibria adalah pulau yang di tempati oleh banyaknya penyihir.
Gavino menyarankan pulau itu, karena pulau itu sulit di jangkau dan jarang diketahui. Pulau itu di lindungi oleh sihir, sehingga tidak dapat di lihat jika bukan oleh penyihir.
" Pulau itu hanya bisa di lihat olehku, jadi kau akan heran ketika aku tiba-tiba menunjuk ke arah lautan lepas. " Ucap Gavino.
" Jika aku menunjuk ke arah lautan lepas, berarti itu adalah pulau Hibria. " Sekali lagi Gavino berkata.
" Apa benar, pulau itu sulit untuk di ketahui? " tanyaku.
Gavino mengangguk, lalu dia bertanya.
" Apa kau yakin akan menetap di Hibria? " Tanya Gavino.
Tentu saja aku menjawabnya.
" Ya, aku ingin merasakan kehidupan tanpa adanya beban. " Ucapku seraya menghirup udara laut.
...----------------...
__ADS_1