Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 54


__ADS_3

" Aku tidak bisa bertemu dengan Henric, aku harus pergi secepatnya. " Gumam Violet seraya menerobos keluar dari kerumunan.


Gavino dan Ryu yang berpapasan dengan Violet dia bertanya, kenapa Violet balik lagi.


" Kenapa kau kembali lagi? " Tanya Gavino


" Benar Nyonya, apa ada masalah? " Ryu juga bertanya.


Violet menjawab dengan gugup.


" Kembali, aku tidak ingin berada di sini. " Ucap Violet.


Gavino dan Ryu heran, dengan tingkah Violet. Mereka pun memutuskan untuk kembali sesuai dengan keinginan Violet.


Sementara itu, mata Henric terus menatap Violet yang berangsur-angsur mulai menghilang dari pandangannya.


" .....Ibu......" Panggil Henric dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.


" Apa yang pemuda ini bicarakan? " Penduduk di sana bertanya-tanya.


" Cepat bawa dia kerumah petinggi! " Penduduk menyarankan agar Henric di bawa ke rumah petinggi.


Di saat penduduk akan membawa Henric, tiba-tiba Henric memegang pundak salah satu penduduk.


Sontak itu membuat penduduk bertanya-tanya, apa yang Henric inginkan.


" Ada apa Nak? apa yang kau inginkan? " Tanya penduduk yang di pegang pundaknya.


Henric yang masih lemah, dia terus menatap ke tempat di mana Violet menghilang.


| Itu pasti Ibu sambung......Jangan lari. Kenapa kau lari setelah melihatku? | Henric dalam batinnya sedih.


Henric berusaha berdiri, dia ingin mengejar Violet. Dengan kakinya yang gemetar seolah tubuhnya akan tumbang jika di colek sedikit saja.


Henric berdiri tidak simbang, dia mulai berjalan ke arah kerumunan tempat Violet menghilang.


" .....Kumohon jangan pergi....." Gumam Henric dengan suara rendah nyaris tidak terdengar.


Satu langkah, dua langkah....


Henric berjalan sangat lambat, matanya tidak bisa menahan lagi untuk tetap terbuka. Pada akhirnya, dia tumbang di depan keramaian tersebut.


Penduduk ricuh kembali, mereka menangkap tubuh yang tumbang tersebut. Setelah itu Henric di bawa ke rumah petinggi dan di beri penanganan.


...----------------...


Kediaman Violet di pulau Hibria.




Violet yang cemas terus berjalan bolak balik seraya memikirkan bagaimana bisa Henric berada di pulau Hibria.


" Aku tidak percaya dia ada di sini. Kenapa dia bisa terdampar di pulau Hibria. " Violet bertanya-tanya.


" Apa dia baik-baik saja sekarang? "


" Tidak, aku tidak usah mengkhawatirkan Henric. Aku harus menjauh dari Henric sebisa mungkin. Dia tidak boleh tahu bahwa aku tinggal di pulau ini. " Violet tetap tidak ingin Henric tahu jika dirinya ada di pulau Hibria.

__ADS_1


Tapi sayangnya Henric tahu bahwa Violet ada di pulau Hibria. Karena dia melihat Violet.


" Aku hanya perlu tinggal di kastil ini, dan tidak keluar untuk sementara waktu. " Ucap Violet.


Bagaimana pun, cepat atau lambat Henric akan tahu jika Violet tinggal di kastil besar Hibria. Kastil milik Violet sudah sangat terkenal di Hibria, tidak hanya Kastil bahkan pemiliknya juga terkenal.


' Tok,tok,tok!!


Pintu tiba-tiba di ketuk dari luar.


" Siapa? " Tanya Violet dari dalam kamarnya.


" Ini aku Gavino. " Ternyata itu adalah Gavino.


" Masuklah, kebetulan aku ingin berbicara denganmu. " Ucap Violet.


Gavino masuk dan dia menutup pintu kamar tersebut.



" Sebenarnya ada apa? kenapa kau pergi begitu saja tadi? " Tanya Gavino.


Violet duduk di sopa, dan dia menjawab pernyatan Gavino.


" Henric, dia ada di sini. " Jawab Violet dengan suara dingin.


Gavino mulai mengubah ekspresi nya, dan dia bertanya dengan nada serius.


" Apa? Henric ada di sini? " Tanya Gavino.


" Ya, dia adalah pria yang terdampar di pesisir pantai itu. Aku tidak tahu kenapa dia bisa terdampar di sini. " Violet dengan nada bingung.


" ..Itu mungkin kebetulan, karena hari ini adalah Festival pesisir pantai. "Ucap Violet menebak.


" Tidak Violet, sepertinya Henric adalah penyihir. Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam pulau Hibria. " Gavino menebak jika Henric penyihir.


" Petinggi membuka belenggu yang menyelimuti pulau ini, jadi Henric di temukan begitu saja di pesisir pantai. " Violet berasumsi.


" Iya, itu bisa jadi juga. Lalu, bagaimana sekarang. Apa dia melihatmu tadi? " Tanya Gavino.


Violet dengan wajah datar menjawab.


" Ya, dia sepertinya melihat ku meski matanya kabur. " Jawab Violet.


" Apa kau akan menemuinya? " Tanya Gavino.


Violet dengan suara tegas berbicara.


" Tidak...


" Aku tidak akan menemuinya, karena aku sudah selesai dengan semua urusanku dengannya. " Violet dengan nada tegas tanpa ragu berbicara.


Gavino yang mendengarnya dia mengerti. Karena dia tahu, luka yang di goreskan oleh putra-putranya sangat dalam dan menyakitkan.


Wajar saja jika Violet menolak untuk bertemu.


" Aku akan memasang sihir penghalang di seluruh kediaman ini. Agar siapapun yang melihat kedimana ini mengira bahwa kediaman ini hanya kediaman kosong. " Ucap Gavino.


Violet mengangguk.

__ADS_1


...----------------...


" Apa dia sudah sadar? "


" Dia terlalu menelan banyak air, nafasnya juga lemah. "


" Tapi sebentar lagi dia akan bangun dan pulih. "


Suara siapa itu, kenapa berisik sekali. Dadaku sangat sakit, tubuhku lemas. Mataku tidak mau terbuka.


" Lihat, bulu matanya bergerak. Mungkin dia sebentar lagi akan bangun. Jadi mari kita tinggal dia dulu. "


Mereka pergi? tidak ada suara lagi.


...----------------...


4 hari kemudian.



Di sebuah kebun anggur, yang lebat. Terlihat beberapa orang yang sedang memanen anggur.


" Hey Nak, apa tubuhmu sudah pulih? " Tanya seorang kakek tua.


" Saya sudah pulih, jadi jangan terlalu khawatir. " Jawab pemuda dengan rambut pirang bercahaya.


" Sudahlah, istirahatlah dulu sejenak. Baru setelah itu kau boleh memanen lagi anggurnya. Kulihat kulit putihmu juga akan terbakar. " Kakek itu terus memperingati pemuda tersebut.


" .....Kulit saya tidak akan terbakar, jadi jangan khawatir. " Ucap pemuda itu yang masih anteng memetik anggur.


" Sudahlah, pemuda memang penuh energi!! biarkan saja dia. Itu adalah kemauan nya. " Kakek lainnya juga ikut berbicara.


" Setidaknya minumlah dulu, kau akan dehidrasi karena tidak minum. " Kakek yang tadi berbicara lagi.


Karena kakek itu terus memaksa, pemuda itu akhirnya menuruti permintaan nya.


" Baiklah kakek, aku akan minum airnya. " Ucap pemuda itu seraya berjalan menuju kakek tersebut.


" Ya ampun, wajah tampan mu itu sangat di sayangkan jika terkena sinar matahari. " Kakek itu berbicara seraya memberikan air minum.


Pemuda itu dengan tenang mengambil air tersebut dan meminumnya.


Rambut pirang nya sedikit tertutup dengan topi jerami, pakaiannya yang sedikit terbuka terhempas oleh angin.


Mata birunya sedikit redup terhalang bayangan topi. Pemuda yang di maksud adalah Henric.



| Ini tidak buruk sama sekali. Ibu, aku akan segera membawamu kembali dengan caraku sendiri. Aku tahu, ibu berada di sini dan sedang bersembunyi dariku. | Pikir Henric.


" Kakek, apa aku bisa tinggal di sini untuk beberapa waktu lagi. Aku tidak bisa pergi, karena tidak tahu ke mana harus pergi. " Henric dengan wajah memelas berbicara kepada kakek tersebut.


" Tinggallah, jika kau memang tidak tahu ke mana harus pergi. " Ucap Kakek tersebut menerima Henric.


...----------------...


BERSAMBUNG....


__ADS_1


" Ibu!! jangan pergi!! "


__ADS_2