Aku Ibu Tiri Yang Baik

Aku Ibu Tiri Yang Baik
CHAPTER 62


__ADS_3

| Ibu sambung, akhirnya aku menemukan mu....| Batin Henric puas.


Dari depan Violet terlihat melambaikan tangannya dan berteriak.


" Henric!! Menyingkir!!! " Teriak Violet seraya melambaikan tangannya.


Henric menyipitkan matanya, lalu dia mulai melihat sebuah bayangan besar di depannya. Henric pun segera berbalik—



" ?!!!! " Mata Henric melebar kaget ketika senjata sudah berada di atasnya.


Henric segera memejamkan matanya bersiap menerima serangan tersebut.


Saat dia memejamkan matanya, tiba-tiba suara pedang terdengar di telinganya.


' Trang!! ' Sangat dekat dan nyaring.


Henric dengan berani membuka matanya dan melihat ke arah Khazan dan prajurit baju jirah.


Ketika lehernya memutar, Henric menangkap Violet yang berdiri di depannya menahan serangan tersebut dengan pedang yang di kelilingin api ungu.



Pedang itu sangat istimewah, karena pedang itu sangat kuat.


Henric kagum sekaligus terpesona dengan Violet, dia terus memandangi Violet, sampai suara bentakkan Violet menyadarkan dirinya.


" Bodoh!!! cepat menyingkir!!! Apa kau ingin


mati??!! " Teriak Violet yang menahan Khazan dengan pedangnya.


Henric sadar, dia dengan cepat menyingkir seraya memegang tangannya yang luka.


"......Diam di situ dan jangan bergerak!!! Dasar bocah bodoh!!! " Teriak Violet marah.


| Aku jarang menggunakan pedang ini, karena pedang ini terlalu berbahaya jika di gunakan. | Pikir Violet serius.


Violet dengan pedangnya mendorong Khazan, dengan tekanan yang kuat, hingga Khazan terpental jauh.


Kekuatan dari pedang tersebut sampai membuat kastil Violet bergetar hebat.


| Sepertinya Gavin masih belum memutus aliran sihirnya. | Pikir Violet yang masih fokus melihat ke arah Khazan.


Khazan masih bisa berdiri dengan badan yang sudah tidak sempurna seperti tadi, sementara prajurit baju jirah mereka hancur berkeping-keping.


" ......Akan sangat di sayangkan jika Khazan hancur, karena dia adalah koleksiku yang paling bagus. " Gumam Violet seraya melirik tajam ke arah Henric.


Henric kaget mendengar gumaman Violet, dia baru tahu jika Violet suka mengoleksi barang yang menyeramkan.


" Tsk!! Lama sekali Gavin memutus aliran sihirnya!!! " Violet kesal.


Khazan terus berjalan ke arah Violet, Henric yang melihatnya dia pun memaksa berdiri untuk membantu Violet.

__ADS_1


" Diam di sana!!! Jangan coba-coba kemari!! " Sebelum berdiri, mulut Violet sudah berkobar pedas.


" T—tapi....


" Dengan kondisimu yang seperti itu, kau hanya akan menjadi beban!! Lebih baik dia saja!! " Violet dengan nada dinginnya langsung menusuk titik lemah Henric.


Menyadari hal itu Henric pun diam, karena yang dikatakan Violet benar. Kondisi Henric tidak memungkinkan untuk bertarung.


Khazan semakin dekat ke arah Violet, Violet pun segera memasang ancang-ancang.


Saat Khazan berlari ke arah Violet, tiba-tiba dia terhenti dan berubah kaku, begitu saja.


" .....Ada apa? Kenapa dia berhenti? " Violet bertanya-tanya.


" .....Ah


" Sepertinya dia sudah memutus aliran sihirnya. " Gumam Violet.


Menyadari hal itu, Violet melepas kewaspadaanya, dia pun mulai menurunkan pedangnya.


Henric menatap punggung wanita yang berdiri di depannya, dia juga memperhatikan pedang yang di pegang Violet.


Pedang itu di aliri cahaya ungu.



| Wanita yang berdiri di depan ku sangat hebat, dan aku lebih tidak menyangka bahwa wanita itu adalah Ibu sambungku. Alangkah baiknya jika dia bukan ibuku, maka aku akan memilikinya. | Pikir Henric yang terus menatap punggung Violet.


| Bunga!!! Bunga itu untuk ibu sambung. | Pikir Henric.


Henric pun berdiri dari duduknya, dia berjalan dengan lemah, tangan satunya memegang luka yang robek.


" ?! " Violet melihat Henric melintas begitu saja, dia pun membuat ekspresi heran.


| Apa yang akan dia lakukan? | Violet bertanya-tanya.


Dengan wajah herannya Violet terus menatap Henric, Henric terlihat menatap bunga putih yang sudah terendam darah.



"....Kotor....." Gumam Henric.


Henric menjulurkan tangannya yang penuh darah untuk mengambil bunga tersebut.



Seketika darah itu menetes tepat di atas bunga putih tersebut.



| Bunganya ternodai darah......Apa yang harus aku lakukan? Bunga ini adalah favoritnya. | Pikir Henric.


Violet dari belakang terus menatap Henric, sesekali matanya menyipit melihat darah dari tangan Henric yang terus mengalir begitu saja.

__ADS_1


Tapi Violet dengan cepat berubah pikiran lagi, dia pun berbalik acuh dan berubah dingin lagi.


"......Untuk apa kau kemari? " Tanya Violet dingin dengan wajah berpaling acuh.


Henric seketika berhenti mengambil bunga tersebut, lalu dia berdiri sedikit tegak, dan menjawab pertanyaan Violet dengan suara yang rendah.


" ....Maaf.....Jika mungkin, tolong maafkan aku. " Ucap Henric.


Violet hanya menyeringai mendengar perkataan Henric.


" Selama dua tahun, aku mencarimu. Aku sangat tidak tenang, aku ingin meminta pengampunan darimu. " Sekali lagi Henric berbicara.


Violet menaikan alisnya dan dia menjawab dengan suara yang paling acuh.


" Pergilah.....Aku sudah memaafkan mu sejak dulu. " Ucap Violet seraya berbalik mencoba pergi.


Saat itu pula Henric diam termenung melihat Violet, sisi dingin dan acuhnya sangat menusuk hati Henric, karena selama Violet menjadi Ibu sambungnya, dia selalu ramah.


" .....Tunggu!! " Henric mencegah Violet.


" Aku tahu kau tidak benar-benar memaafkanku. Kau masih marah...." Ucap Henric.


" Haaaaaaah!! " Violet menghela nafas panjang.


" Aku tidak marah, lebih baik kau kembali. " Ucap Violet.


" K—kalau begitu, pulang bersamaku.....Jika memang kau tidak marah....Tolong kembali..." Henric dengan suara yang sulit mulai membujuk Violet.


Tangan Violet mengepak erat, dan bibirnya terkatup.


| Mudah sekali kalian mengusirku dan memintaku untuk kembali. | Pikir Violet.


" Tidak, aku tidak mau. Hubungan kita sudah selesai ketika aku meninggalkan kastil Marquess. Untuk apa aku kembali. " Ucap Violet.


" Apa kau tidak merindukan putramu? " Tanya Henric.


" Putra? Mereka bukan putraku, mereka hanya iblis yang terus menggangguku. Kau juga sama Henric, saat ini aku benar-benar muak melihat wajahmu. Rasanya aku ingin muntah di buatnya. " Dengan berat Violet mengatakan hal itu.


Henric yang mendengarnya dia semakin murung, dia tidak menyangkalnya, karena itu adalah kebenaran.


"......Walau aku memohon dengan kedua lututku, apa kau akan tetap menolak? " Tanya Henric murung.


" .... " Violet diam, dia tidak bermaksud untuk melakukan itu.


...----------------...


BERSAMBUNG.......


Author tadinya mau bikin Henric Dead, tapi takut di amuk sama pembaca😌. Jujur aja tadi udah bikin 5rtu kata, tapi Author hapus lagi.


Kali ini nyawa Henric aman, kok🙂


Tenang🤭

__ADS_1


__ADS_2