
" Kak, kau saja yang masuk duluan dan meminta kepadanya. " Berick mendorong Jack, mereka sekarang tengah berada di depan kamar Violet.
Mereka ingin membujuk Violet untuk ikut sidang besok, jika tidak mewajibkan kepala keluarga untuk menghadiri sidang, mereka mungkin tidak akan sudi meminta bantuan dari Violet.
Dengan kekesalannya, Jack meludah di hadapan saudaranya.
" Aku tidak sudi meminta bantuan orang itu!!! dia pasti tidak akan mau....
" Atau mungkin dia akan menganggap bahwa kita membutuhkannya " Jack berbicara.
Arnold, dia terus menatap ke arah pintu kamar Violet.
" Apa yang kakak katakan benar, dia pasti akan berpikiran tinggi mengenai dirinya. " Berick mendukung perkataan Jack.
" Ayo masuk, tidak ada alasan untuk kita berdiam diri seperti ini. " Ucap Arnold.
Arnold dengan sigap memegang gagang pintu, lalu dia membuka pintu kamar tersebut.
Di balik tirai kamar tidur, terlihat bayang sosok kecil yang terduduk di atas ranjang.
Mereka masuk dan menghampiri sosok tersebut.
" Ada apa? " Suara yang terdengar tajam dan dingin.
Itu adalah suara yang tajam dan sensitif yang belum pernah mereka dengar.
Violet, itu adalah suaranya.
" Kenapa kalian kemari? " Violet bertanya dengan cara yang sederhana seolah dia hanya akan bertanya sekali.
Arnold, Jack, dan Berick mereka berjalan ke arah kasur Violet.
" Kau jangan terlalu bangga dengan kedatangan kami. " Ucap Berick yang menatap rendah ke arah Violet.
" ....Kedatangan kami bukan untuk melihatmu, jadi jangan salah paham. " Timpa Jack.
Arnold tidak berbicara, dia duduk di samping wanita yang menatap lurus ke depan dengan dingin.
" ...Maaf, tapi besok adalah sidang Henric, dan aku bukan kepala keluarga saat ini....
" Jadi, bisakah kau menghadiri sidang tersebut? " Arnold bertanya dengan lembut.
" Kau pasti tahu alasannya, kenapa aku memintamu. " Sekali lagi Arnold berbicara.
Violet terlihat diam dengan mata yang masih menatap lurus ke depan.
__ADS_1
" kenapa dia tidak menjawab? apa otaknya sudah rusak? " Berick bergumam dengan menatap Violet.
" Diamlah Berick!! " Arnold menegur Berick.
" Jika kakakku menjadi kepala keluarga mungkin kami tidak akan meminta bantuanmu, jadi kau jangan pernah menganggap bahwa dirimu sangat di butuhkan di sini. " Jack berbicara dengan sarkas.
Arnold kemudiam melirik Jack, dia seperti memperingati bahwa kata-katanya tidak seharusnya keluar.
" ...Jack, kau juga diamlah. " Ucap Arnold.
Violet yang sedari tadi menatap lurus kedepan, dia akhirnya melirik putra-putra nya.
Violet mengeluarkan seringai yang menyeramkan seolah dia telah di rasuki.
" ...Ke—kenapa dia tersenyum seperti itu? " Berick mengerutkan alisnya dan bertanya.
Violet terus menatap ke arah Berick dengan seringainya, itu terlihat sangat menyeramkan.
Berick pun tidak mengerti arti dari seringai yang di tunjukkan oleh Violet.
" Berhenti menatapku seperti itu!! " Teriak Berick.
Violet lalu berkata dan menghapus seringai di bibirnya.
" Berick, kau yang membuatku seperti ini. " Ucap Violet dingin.
" Ya!! aku melemparnya dengan sengaja!! karena kau memang pantas di pukul agar kau sadar akan posisimu!! " Berick tidak merasa bersalah.
Violet menggigit bibirnya, atas pernyataan Berick lalu dia berkata dengan sorot mata layu.
" Kenapa kau menyuruhku untuk menyadari posisiku?...
" Yang seharusnya menyadari posisi adalah kalian. Kalian seharusnya sadar bahwa keluarga ini tidak akan bertahan jika aku tidak ada. " Violet tanpa sadar mengatakan separuh rahasianya.
" Kalian tidak akan tahu jika aku sangat keras dalam memperjuangkan keluarga ini, tapi tidak ada balasan apapun, meskipun aku memang tidak mau menerima balasan apapun dari kalian....
" Tapi tolong, jika kalian muak melihatku dan jika kalian memang tidak mau percaya padaku....
" Tolong....
" Untuk beberapa hari tahanlah sebentar...
" Karena aku akan pastikan, aku akan menghilang dari pandangan kalian, sesuai dengan keinginan kalian.
Violet berkata dengan wajah dingin tapi serius. Seolah dia sudah tidak ingin menjelaskan semuanya, karena sia-sia.
Ke tiga putranya yang mendengar itu, mereka terdiam sesaat dengan bibir terkatup, entah apa yang mereka rasakan.
__ADS_1
" Kau akan pergi? " Tanya mereka.
" Ya, bukankah ini adalah keinginan kalian sejak dulu. " Jawab Violet.
" Seharusnya kau pergi sejak dulu!!! jadi keluarga kami tidak mendapat kesialan!! " Berick berteriak.
" .....Aku tidak tahu siapa yang seharusnya di sebut sebagai kesialan!! " Ucap Violet.
" Berick, hentikan kau tidak boleh terlalu kasar, dia masih sakit. " Jack memperingati.
" Lagi pula sudah bagus jika dia mau pergi. " Sekali lagi Jack berbicara.
Arnold kemudian membuka mulutnya.
" Jika kau ingin pergi, kau harus mengikuti sidang Henric. " Arnold dengan wajah serius berkata.
" Aku tahu, kalian pasti akan meminta itu. " Ucap Violet.
" Pergilah, aku akan menghadiri sidang itu besok. " Ucap Violet.
" Bagus, sebaiknya kau memang melakukannya, mungkin kami akan berterima kasih sedikit kepadamu. " Jack berbicara seolah mengejek Violet.
...----------------...
Sementara itu di ruangan kepala pelayan.
Eric terlihat memikirkan sesuatu di dalam ruangannya.
" Sial!! seharusnya aku terus menempel kepada wanita itu!! " Eric berbicara dengan wajah marah penuh emosi.
Seakan urat akan menonjol keluar dari kulitnya.
Ekspresi itu tidak pernah terlihat, dan tidak pernah dia perlihatkan kepada siapapun. Selama ini Eric selalu bersikaf baik dan patuh.
" ...Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku tidak boleh membiarkan wanita itu pergi dari kastil ini. " Eric terus bergumam dengan risau dan cemas.
" Dia harus terus bekerja di kastil ini, karena dengan begitu aku akan terus mendapatkan uang dari dirinya. " Ucap Eric, dengan penuh ambisi.
" ......Belum lagi, aku pasti akan menguasai kastil ini. Jadi sebelum itu aku membutuhkan wanita itu....
" Jika wanita itu mati ataupun pergi, aku tidak bisa mendapatkannya. Karena sangat sulit mempengaruhi ke empat putra-putra Sanjay jika bukan karena alasan wanita itu. "
...----------------...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1