
" Dia sedang istirahat....." Violet menjawab pertanyaan Gavino.
" Sepertinya dia sangat lelah setelah mengamuk tadi. " Ucap Henric.
| Ada-ada saja. | Pikir Henric heran.
" Dari pada itu, aku sudah memutuskan akan kembali ke Laontel. " Ucap Violet serius.
" Benarkah?! " Henric meloncat kager, sekaligus senang.
" Ya, Henric. Saudaramu dikatakan sedang kesulitan, kau mungkin tidak tahu itu. " Ucap Violet.
" Ada apa dengan mereka? " Tanya Gavino, bersamaan dengan Henric.
" Benteng Timur rusak oleh monster, Tambang emas juga di pindah alihkan. " Jawab Violet.
" Kenapa bisa? " Henric tidak percaya.
" Aku tidak tahu, makanya kita harus kembali. Saudaramu pasti mencarimu Henric. " Ucap Violet.
Henric saat itu terdiam, dia tidak menyangka bahwa saudaranya yang lain akan mendapat kesulitan seperti itu.
Lalu dia mengingat sesuatu, dia mengingat Eric.
" Eric......" Gumam Henric, seketika Violet menyipit dan bertanya.
" Ada apa dengan Eric? " Tanya Violet serius.
" Dia penghianat, Ibu. Aku sudah memperingati mereka untuk berhati-hati kepada Eric. Tapi sepertinya mereka tida mendengarku. " Ucap Henric.
" Bagaimana mungkin dia penghianat? " Tanya Violet.
Henric lalu menatap Violet.
" Itu kenyataan, karena aku mendengar langsung. Dia ingin merebut kasti dengan memecah belah hubungan kita. " Jawab Henric.
Henric kemudian mengingat kata-kata yang dia dengar 2 tahun lalu, di mana Eric mengatakan dia harus menyingkirkan mereka satu persatu.
— Kau harus ingat, beri dia obat yang membuat dia semaki sakit mental. Aku sudah ingin merebut kastil ini, dengan menyingkirkan mereka satu-persatu. /(CH46)
" Ya, aku ingat itu. " Ucap Henric.
" Dia juga yang sudah menghasut kita untuk membenci dirimu. Baru setelah kau pergi Eric perlahan mulai menunjukkan jati dirinya. " Ucap Henric.
Saat itu Violet jatuh ke dasar jurang kekecewaan, dimana dia juga percaya kepada Eric pada saat itu. Tapi ternyata semua kesalahpahaman yang terjadi di antara putra-putranya, itu semua ulah Eric.
"....Hah! aku tidak percaya sebelum menanyakan nya secara langsung. Tapi jika itu benar, aku sangat bodoh telah menaruh kepercayaan yang tinggi kepadanya. " Gumam Violet.
" Kita akan kembali besok, jadi bersiaplah. " Ucap Violet, matanya menyiratkan sebuah kesedihan yang bercampur kemarahan.
...----------------...
Sementara itu, Berick.
Dia sedang mencari Eric, para pelayan bilang jika Eric tidak ada di kastil. Barang-barang, seperti pakaian juga tidak ada.
__ADS_1
| Kemana dia sebenarnya?!! Beraninya dia melarikan diri setelah membuat satu keluarga pusing di buatnya. | Pikir Berick yang berada di atas kuda.
Berick saat itu sedang menuju ke rumah Eric di mana dia tinggal. Tapi saat dia sudah tiba, rumah itu sudah kosong.
" Kemana Eric?! " Tanya Berick kepada seseorang yang ada di sana.
" Saya tidak tahu, saya di sini untuk menemui Eric juga. " Jawab orang tersebut.
" Sialan!! " Berick meludah kesal, dia terlambat.
" Apa kau tahu siapa yang sering Eric temui? " Tanya Berick sekali lagi.
" Ada satu orang, saat Eric kembali dari kastil Marquess, dia selalu menemui wanita pemilik toko Furniture. " Jawab orang tersebut.
" Kau siapanya Eric?! " Tanya Berick tidak sabar.
" Sa—saya hanya teman Eric. Saya datang ke sini juga untuk bertemu Eric. Tapi dia tidak ada. Percayalah, saya benar-benar tidak tahu apa-apa. " Ucap orang tersebut.
Berick awalnya curiga, tapi setelah dia perhatikan, sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu.
" Siapa namamu?! " Tanya Berick.
Laki-laki dengan rambut putuh, dan mata emas itu menjawab.
" Terril. " Jawabnya gugup.
" Terrl? Kau ikut denganku, dan bawa aku menemui wanita yang kau maksud. " Ucap Berick.
...----------------...
Violet berjalan-jalan sesuai dengan kebiasaan nya. Dia mendatangi kamar Henric, untuk melihat apa dia tidur nyenyak atau tidak.
" Apa kau tidur nyenyak? " Gumam Violet menatap putranya yang sedang tidur.
Henric tidak bergeming, sebenarnya ini pertama kalinya Henric tidur pulas seperti itu, selama ini dia tidak bisa tidur, apalagi setelah kepergian Violet.
" Syukurlah kau tidak mengigau lagi, Henric. " Gumam Violet.
Violet kemudian pergi dari kamar Henric setelah dia memastikan bahwa Henric tidur dengan nyenyak.
Violet memutuskan untuk kembali ke kamarnya, untuk tidur. Tapi saat dia sampai di kamarnya, Violet yang bersiap membuka kamar, dia ingat bahwa kamarnya di pakai oleh Edward.
" Ahh....kamarku di ambil alih saat ini. Sepertinya aku harus mencari ruangan lain. " Gumam Violet.
Violet melepas gagang pintu, dan bersiap untuk pergi, tapi saat dia pergi, tiba-tiba suara benda jatuh terdengar didalam ruangan.
' Bruk! Brak! '
" Apa itu?! " Violet kaget.
" Edward? " Violet bertanya memastikan.
Saat dia memanggil, suara seseorang samar-samar terdengar memanggilnya.
__ADS_1
" .....Lee...." Suara serak yang rendah terdengar di dalam ruangan.
" Lee.....
" .......Lee....
Suara itu terus terdengar, saat itu pula, Violet tahu itu suara siapa, hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.
" Edward....." Gumam Violet, dia langsung membuka pintu kamar tersebut.
Saat dia membukanya, dia kaget, tubuh Edward sudah jatuh di lantai.
" Apa-apaan dia!! Kenapa dia tidur di lantai!! " Violet tanpa pikir panjang menghampiri Edward yang tergeletak di lantai.
" Edward!! " Panggil Violet.
" Lee.....tetap di sampingku..." Edward membuka sedikit matanya, dia memegang selendang yang di pakai Violet.
" Badannya panas. " Ucap Violet yang menaruh tangannya di dahi Edward.
" Kau sakit?! " Tanya Violet.
" .....Huh?...tidak, itu....
" Itu efek samping dari sihirku. " Jawab Edward sulit.
" Kau jangan khawatir, ini hanya sebentar. " Ucap Edward pelan.
" Ayo kembali ke atas...." Ucap Violet, tapi Edward menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.
" Tidak.....Di sini lebih sejuk. " Jawab Edward.
Edward perlahan bergeser, dan mulai tidur lagi di paha Violet. Nafasnya terasa tidak karuan, dan panas.
" Apa kau yakin ini baik-baik saja? " Tanya Violet.
" Hmmm...." Edward mengangguk, matanya sudah terpejam lagi.
" Tetap seperti ini.....karena ini sangat nyaman. " Edward bergumam pelan.
Violet memutuskan untuk tetap seperti itu, sampai Edward bangun, dan pulih.
Memang benar setiap sihir yang di keluarkan pasti ada efek sampingnya. Edward juga sama, dia akan merasakan panas di jantungnya.
Sama halnya dengan Kerajaan tetangga, yaitu Kerajaan Turnatara, di mana sang Raja Brayen Damian Turnatara, juga memiliki mana yang besar, bahkan saking besarnya mana tersebut harus di kunci.
Begitu pula dengan Edward, mana miliknya juga terkunci sejak masih bayi, tapi mana itu akhirnya dapat dia kuasai, setelah dia menerima siksaan dari ayahnya.
Walau akhirnya dia harus merasakan hawa panas setelah menggunakan sihir tersebut, tapi itu di anggap wajar, dan tidak berbahaya. Karena itu memang efek sampingnya.
...----------------...
BERSAMBUNG......
__ADS_1