
“Ya sebentar” Sahutnya dari atas. Gadis itu pun bergegas turun untuk melihat siapa tamu yang sebenarnya tidak ia undang.
Irene membuka pintu berdominasi putih itu dengan perlahan. Namun betapa terkejutnya ia takkala mendapati siapa yang saat ini tengah berkacak di hadapannya. Pria berjambang lebat itu tersenyum ramah, tatapannya berbinar-binar sebagaimana singa yang hendak memangsa kijang muntiacus.
“Ka- kamu? Mau apa kamu kesini!” Irene terkejut bukan kepalang. Secepat kilat ia menutup kembali pintu yang kadung ternganga tadi. Samuel, lelaki itu mendatanginya di saat Irene tengah seorang diri, seperti sudah tahu bahwasanya Antonius sedang tidak berada di rumah ini.
“Eit eits tunggu dulu. Aku bawain makanan kesukaan kamu nih, martabak cokelat mini plus susu putihnya.” Sam menjinjing plastik yang berisi makanan itu sepantaran dengan wajah Irene. Ingin sekali rasanya ia menyuapkan olahan tepung terigu itu pada Irene sebagai bentuk nostalgia yang pernah ia lakoni bersama wanita itu beberapa tahun silam.
“Cuih! Kamu makan aja sendiri!” Dengan zalimnya Irene melayangkan jelijih busuknya tepat di atas plastik putih itu. Ini bukan tentang makanan, tetapi siapa yang memberikan makanan tersebut. Benar-benar tidak sudi ia mengimpor sesuatu ke dalam perutnya melalui tangan bekas tali hatinya itu.
“Kamu ludahi makanan yang udah susah payah aku beli Re? Kamu tau ga aku hampir kecelakaan loh tadi hanya karena martabak ini.”
“Kamu pikir aku perduli! Lagian aku juga ga suruh kamu bawain itu buat aku. Pergi Sam, pergi! Aku ga mau kamu ada di sini.” Irene melabuhkan sepasang tangannya tepat di atas dada Sam, mendorongnya dengan kasar seraya melayangkan sumpah serapah yang seyogyanya tak pantas ia ucapkan.
“Iblis!”
“Damn!”
“Get the hell outta here!”
Mendengar ujaran itu Sam benar-benar tak kuasa lagi mengendalikan amarah. Ia mencampakkan plastik itu hingga terberailah semua isinya ke atas tanah. Hatinya sungguh teriris, Irene betul-betul sudah tidak menghargainya sama sekali.
“Ah! Fucking lady!” Serunya geram.
Dengan gesit Sam mendorong wanita berbadan mungil itu hingga terpental ke ambang pintu. Emosinya sudah mencemuk ke ambang batas, kini ia tak segan-segan menarik dan membawa Irene ke dalam rumah besar itu untuk dieksekusi.
Tak ubah wong kesetanan, Sam menyeret tubuh Irene yang tergelempang lemah di atas lantai secara paksa, menyandarkan tubuh mini gadis itu pada tiang peyangga di ruang tamu. Ia semakin gila, jejari buasnya ia gunakan untuk menjambak rambut Irene hingga tercabut sampai ke akar.
Irene yang dihadiahi perlakuan kasar itu pun secepat kilat mencoba berdiri. Napasnya tersenggal-senggal, jantungnya memompa beribu-ribu kali lebih cepat.
“Mau kemana kamu nona manis hah?” Sam tersenyum sinis. Ia mencengkram kuat lengan gadis yang saat ini mulai mendaratkan rintikan air dari pelupuk matanya.
“Lepasin aku!”
__ADS_1
“Sam!”
“Lepasin!”
”Ah!”
Bugh
Sebuah tendangan keras dari Irene mengudara tepat mengenai bagian tengah ************ pria ayan itu. Matanya membeliak ngilu, seperti ada beton raksasa yang telah menimpa barang pentingnya.
Keberuntungan masih berpihak pada Irene. Secepat mungkin ia melarikan diri dan berteriak meminta pertolongan. Sam yang mendapati peristiwa itu langsung terbirit-birit keluar rumah untuk kabur, takut kalau-kalau ada warga yang akan menyerangnya balik di tempat ini.
Ia melangkah dengan tertatih seraya memegangi buah bundarnya. Lirikannya sangat intens ke arah Irene. Entah dendam seperti apa yang akan ia miliki pada gadis berambut panjang itu setelah ini.
“Savage!” Teriaknya dari kejauhan lalu berangsur pergi meninggalkan lokasi.
...***...
“Serius Sam ngelakuin itu ke kamu Re?” Ester membeliak tak percaya, Sam betul-betul kelewat biadap. Andai saja ada bukti kuat yang merekam kejadian tersebut pastilah si jambang lebat itu sudah dijebloskan ke dalam jeruji.
Irene mengisahkan secara rinci kejadian demi kejadian yang ia alami tadi malam seraya memegang kepalanya yang terasa nyeri. Sudah dua less terlewati hanya untuk mendengarkan cicitan Irene di tengah hari yang silau ini. Dua sejoli itu sengaja mengambil jatah bolos mengingat pelajaran hari ini yang juga tidak seronok. Ah! Lebih tepatnya bagi mereka tidak ada sesuatu yang lebih menggembirakan kecuali bergunjing-gunjing ria di lapak ekor sekolah seraya menyesap jus jeruk buatan si mbok penjaga kantin.
“Dua rius malah. Nih rambut aku jadi rontok semua.” Irene menggeronyotkan bibirnya ke depan, mengusap-usap rambutnya yang nyaris tercabut 20 persen dari akar kepala.
“Kurang ajar! Perlu dikasih pelajaran tuh anak!” Ester yang tidak sudi sahabatnya dijadikan objek kekejian langsung saja mengambil posisi kacak pinggang ala Elizabeth Batroy, wanita terkejam di bumi Tuhan. Lengan bajunya ia gulung hingga ke pangkal, gejolak murka membuatnya memburu-buru langkah.
“Kamu mau kemana nyuk?” Tanya Irene kebingungan.
“Iblis biadap itu harus dikasih pelajaran Re. Bisa mati kamu lama-lama dibuatnya."
“Jangan! Percuma nyuk, ga akan berhasil. Kamu kan tau sendiri dia gimana.”
“Ga bisa! Ini ga bisa dibiarin!” Ester bersicepat angkat kaki, tak acuh dengan larangan Irene atas dirinya.
__ADS_1
“Nyuk” Gadis bernetra hazel itu menatap dengan paras sendu. Mata cokelat pekatnya seketika meredup seraya menggapai tangan Ester yang masih kukuh membentuk cengkraman.
“Kamu tahu sendiri kan ada satu rahasia besar yang pernah aku lakuin ke dia? Kamu bisa ngebayangin andai kata aku hidup di bui kalau rahasia itu sampai terbongkar? Tolong nyuk, ngertiin aku. Sam itu lelaki licik, ga sembarang cara untuk ngebuat dia kapok.”
Hati dara yang tengah tercegak itu lantas luluh takkala mendengar leretan kalimat terenyuh dari lisan Irene. Ia tahu persis perlakuan sadis apa yang telah diperbuat oleh sohib kecilnya itu. Tidak, ia memang tidak bisa menyabet posisi aman bila hal itu ditindaklanjuti oleh pihak yang berwajib.
Ester kembali duduk pada posisi semula, membenahi kondisi hatinya yang nyaris meleduk.
Tidak terasa jam pelajaran sekolah telah berakhir. Entah ilmu apa yang akan terpaut pada otak mereka di hari ini, yang jelas dari kejauhan sana seorang guru yang sedari tadi ternyata memantau mereka telah siap menyidang keduanya pada esok hari.
Ya, itu bu Angeli.
Kepala yayasan sekaligus guru terkiller satu sekolahan.
...***...
“Loh! Kok ga pulang bareng aku sih Re? Bukannya selama satu minggu om Antonius suruh kamu bareng aku terus ya?” Tanya Ester kebingungan sesaat setelah mendengar penuturan Irene bahwa mulai hari ini ia akan pulang sendiri seperti biasanya.
Keduanya telah menjejakkan kaki di zona parkir sekolah sepuluh menit setelah bel pulang berdencing. Berbeda dari hari lain yang apabila mereka bolos pasti akan disidang saat itu juga. Namun khusus hari ini tidak ada tanda-tanda guru yang akan menyergap mereka, semua serba repot dengan persiapan Ujian Try Out yang akan diselenggarakan sembilan hari lagi.
“Um ini anu.”
“Anu apa?”
“Anu Nyuk mmm.”
“Anunya siapa? Anunya kenapa?”
Irene tampak gelagapan menyahuti rentetan tanya dari Ester. Matanya berkelebat kesana kemari, mencari alasan apa yang tokcer untuk menanggapi pertanyaan dari rekannya tersebut.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Vote and comment guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗