AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 13


__ADS_3

“Hah? Mahram? Apa itu?”


Deg.


Seketika Fizhan yang mendengar pertanyaan itu membulatkan sepasang matanya. Bimbingan seperti apa yang disajikan oleh orang tuanya sampai-sampai hal yang sangat mendasar tentang agama pun ia tidak tahu. Benar-benar harus dibimbing dari awal, batinnya berkata.


“Ehmm. Jadi, mahram itu adalah orang-orang yang memiliki ikatan darah yang sama dan berada di dalam lingkungan orang tersebut seperti kakak, abang atau adik. Dan ada pula mahram yang diakibatkan oleh sebuah hubungan pernikahan. Misalnya nih wanita yang menikah dengan seorang lelaki, maka lelaki tersebut telah menjadi mahramnya. Dengan kata lain mereka boleh melakukan apa saja yang berkaitan dengan ibadah suami istri dan contoh kecilnya itu duduk tanpa jarak ketika berada di atas motor.”


“Oh gitu ya? Terus, aku sama kamu harus nikah dulu nih supaya jadi mahram dan bisa deket-deketan di atas motor?”


“Uhuk uhuk uhuk ehmm.” Bersama dada yang bergemuruh ia mencerna kata demi kata yang baru saja dilontarkan Irene dengan gamblangnya. Ia menepuk-nepuk dadanya seraya terperenyuk di bibir trotoar. Peluh dadakan sekonyong-konyong anjlok menjatuhi pelipisnya yang putih, hampir saja ia terbang arwah akibat pertanyaan polos namun mencekik yang keluar dari bibir mungil wanita berambut bujur itu.


“Eh kamu kenapa?”


“Egghh engga. Mari.” Lelaki yang sedang salah tingkah itu pun berlalu tanpa menoleh Irene yang sebenarnya masih menanti deretan kata sebagai jawaban.


Sesekali ia menyeka bulir keringatnya yang masih anteng menggenangi kawasan dahi. Polos sekali gadis itu! Ah, biarlah. Mungkin ia memang benar-benar belum tahu, positif Fizhan agar degub jantungnya kembali normal.


...***...


Allazi yuwaswisu fi sudurin-nas


Minal-jinnati wan-nas


Shodaqallahul Adzim


Gema ayat suci Al-qur’an terdengar sangat indah memenuhi seisi bangunan berdominasi cokelat muda tersebut.


Irene menebarkan pandangan dari ujung hingaa ke ujung. Beberapa perempuan dewasa tengah sibuk memilih-milih mukena yang terlipat di dalam almari kaca untuk mereka kenakan. Sisanya lagi adalah anak-anak yang tengah berlarian ke sana dan ke mari lalu melaungkan suara seolah bangunan ini adalah tempat bermain bagi mereka.


Di emperan mesjid Irene mendapati seorang anak lelaki bertubuh bulat tengah asyik menyantap jajanannya seorang diri. Ada permen karet, roti cokelat, wafer, minuman bersoda dan beberapa jajanan yang tidak dapat dipastikan jenisnya apa, semua tersimpan rapi di dalam sebuah kantong kresek. Anak itu memakan semuanya dengan lahap seolah tak ingin berbagi dengan siapapun.


Tapi.

__ADS_1


Eits.


Sepertinya ia pernah melihat bocah gemuk itu sebelumnya.


“Astaga! Itu kan anak yang ngatain aku orang gila di gazebo Fizhan ya? Wah gawat bin darurat nih! Bisa-bisa aku jadi bahan ejekan si gendut itu lagi.” Dan benar saja, tak lain dan tak bukan itu adalah bocah gembul bergigi ompong yang pernah ia temui beberapa hari lalu.


Seketika itu juga Irene membatalkan niatnya untuk masuk dan bergabung di dalam rumah ibadah itu. Ia yakin yang belajar mengaji di mesjid tersebut bukanlah hanya ia saja. Tetapi para bocah termasuk si gembul itu pasti akan membersamai mereka mengaji seusai magrib. Jenis ledekan seperti apa lagi yang akan dilayangkan oleh bontot berpipi balon itu jika mengetahui dirinya tidak mengenal huruf-huruf Hijaiyah sedikitpun.


Seketika itu juga Irene memutar balik motornya yang sempat terpakir rapi di pelataran mesjid. Bukannya Fizhan itu adalah lelaki yang baik? Ia pasti tak akan mempermasalahkan ketidakhadiran Irene yang ke dua kali dalam majelis mereka.


Irene pun beringsut menerobos riuhnya jalanan Magrib bersama sahut-sahutan azan yang berlaung dari segala penjuru. Ada kucuran air sejuk yang menderu di dalam kalbunya mana kala ia menghayati setiap bait demi bait Asma Allah tersebut. Ah! Dia jadi teringat Fizhan. Hal-hal yang sedemikian rupa pernah ia dengar sebelumnya dari mulut seorang lelaki yang kala ini menjadi objek hatinya. Tidak-tidak! Dia sama sekali tidak mencintai Fizhan melainkan hanya rasa kagum dan penasaran semata.


Gadis bermata hazel itu kian menikmati pendar-pendar lampu jalanan kota. Hingga tak terasa ia telah menapakkan kaki di sebuah gedung karamel yang di depannya terdapat air pancur berwarna biru. Rumah Ester.


Ceklek.


Seolah ini adalah rumahnya, wanita itu menceburkan diri dengan sembarang tanpa mengetuk pintu pertanda ada tamu. Kemudian ia melirik ruang kecil yang berada di sebelah kanan lalu kembali mendobrak pintu untuk yang kedua kali tanpa permisi.


“Woi! buruan.” Titahnya dengan kedua tangan tercegak dipinggang.


“Dari mana?”


“Siapa? Aku?”


“Engga. Tuh abang rujak depan!”


“Hhhh! Ya dari rumahlah. Katanya mau ngemall yaudah ayok.”


“Telat!”


“Sial!” Irene mengeplak kasar pintu kamar Ester dengan salah satu telapak tangannya. Kalau tahu begini ia pasti enggan bermotor-motor ria di jalanan itu. Membuang waktu!


Ia pun bergeser menuju shofa hitam yang berada di ruang tengah. Kebetulan, ada setoples kacang polong rebus di sana. Kemudian ia melahap kedelai hijau itu dengan ganas, seakan menjadikan makanan tesebut sebagai luapan emosinya.

__ADS_1


“Terus kenapa telpon aku kamu matiin? Bahkan setelah beribu-ribu kali aku telpon kamu juga ga angkat. Kesel tau ga!” Suara seorang wanita tiba-tiba saja muncul menghentikan aksi berangasan tersebut. Tatapannya pun kini beralih menangkap perawakan makhluk yang tadinya sempat membuat emosinya tersulut.


Kriuk.


Kriuk.


Sepertinya perang dingin masih berlanjut. Irene sama sekali tidak menggubris pertanyaan dari sahabatnya itu. Bahkan dengan sadis ia mencekik segenggam kacang lalu menelannya bulat-bulat.


“Jawab atau aku ambil tuh kacang!” Kali ini suara Irene terdengar mengancam.


“Damn! Aku buru-buru mandi terus langsung kesini. Gitu aja pake dihebohin segala, apaan sih!”


“Ya tapi kesel tau ga! Harusnya kamu bisa dong ngabarin aku du-“


“Pssst pssst. Shut up!” Bak sepasang kekasih yang sedang bertengkar, Ester yang saat ini tengah terbakar api itupun menyuarakan isi hatinya yang sedang bergemuruh. Di sisi lain Irene yang mendengar dumelan itu pun secepat kilat menempelkan jari telunjuknya tepat di atas bibir manyun sang putri perajuk itu.


“Satu gelas bir gimana?” Irene menaikturunkan garis tegas hitam yang berada di atas kedua matanya. Ingin sekali rasanya ia menyecap cairan terkutuk itu kemudian beringsut ke dalam alam entah berantah sehingga terbuanglah beban pikirannya barang sejenak.


“Lagi ga pengen.”


“Terus kamu maunya apa wahai Maria Ester Kristina?”


“Tau ih!”


“Terserah kamu aja deh, cape juga!”


Keadaan semakin kacau. Ester yang tidak terima telponnya tidak diangkat oleh Irene mendadak tak perduli dengan apapun, termasuk ajakan konco dekatnya itu untuk menghabiskan waktu di bar tempat biasa mereka melepas penat. Hahaha bisa bertengkar juga mereka rupanya.


Irene beringsut pergi meninggalkan toples yang masih terbuka dengan beberapa biji kacang di dalamnya. Nafsu makannya hilang seketika. Ia pun bergegas pergi bersama rasa dongkol yang bergelayut di hatinya. Kejadian magrib tadipun terulang kembali, ia menjelma menjadi pembalap dadakan yang menyebabkan para pengendara lainnya mengelus dada.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Comment & Vote guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2