
Ester menempatkan dengan sukar tubuh Irene yang berat sebelah ke dalam mobil. Gadis itu masih kukuh dengan delusinya yang berlabuh pada alam entah berantah. Batas tidak lagi munjukkan pukul normal, ia khawatir jika setibanya di rumah Irene, Antonius akan memergoki hal ini. Ia menancap gas mobil di atas rata-rata, melintasi gelitanya malam pada Pusat Kota Medan.
Jalanan sudah benar-benar lenggang, tidak ada yang berkelebat disana kecuali keduanya dan komplotan motor yang ditumpangi oleh lajang nakal seusia mereka. Irene yang sedari tadi menidurkan kepalanya diatas dashboard mobil seketika mencoba untuk bangkit, menyaksikan iring-iringan jantan remaja yang beradu sorak di jalan raya. Entahlah mereka terlalu kampungan, bisik Irene pada batinnya sendiri.
30 menit berlalu. Mobil mereka telah terparkir rapi di dalam garasi rumah Irene. Keduanya menghela nafas lega karena tidak ada tanda-tanda Antonius yang sedang berkacak pinggang di beranda rumah. Pria setengah abad itu memang tidak pernah mengetahui persoalan putrinya yang nyaris setiap malam menyemplungkan diri ke dalam kawasan bar. Bagaimana tidak, Irene keluar pada pukul tujuh malam dan kembali ketika jam membidik angka dua, disaat Antonius sudah beradu mimpi dengan airland hitamnya. Ia selalu menggunakan dalih menyelesaikan tugas kelompok atau menginap di rumah Ester takkala ditanya tentang kepergiannya.
“Pelan-pelan Re.” Kata Ester seraya memapah tubuh Irene. Rautnya serampangan, mungkin ia lelah semalaman ini menemani Irene yang telewat syur dengan zona cairan cokelat karamelnya.
...***...
Kleek
“Dari mana aja kalian?” Suara Antonius mengagetkan keduanya, ia berdiri tegak persis di pusat pintu, memampang wajah cemas yang dibalut dengan paras kesal.
Irene terkejut bukan main. Bagaimana mungkin papanya yang konsisten tidur dibawah jam sebelas kini tegak berdiri di hadapannya. Ia kalang kabut, bola matanya berputar-putar mencari alasan.
“Ah iya om, maaf ya. Tadi aku yang ajak Irene buat nginap di rumah, tapi perutnya sakit tiba-tiba om, mangkanya aku antar pulang. Mungkin kalau dirumah Irene bisa lebih tenang.” Jawab Ester mencoba santai menutupi rasa gugupnya. Ia was-was bila Antonius tidak mempercayai ucapannya, jantungnya terpompa lebih kencang.
“Kamu sakit nak?” Mendadak mimik Antonius berubah empot-empotan. Ia memegangi dahi Irene walaupun Ester berkata kalau yang sakit itu adalah perutnya. Ini sebabnya Irene sangat merindukan kasih sayang mamanya, Antonius tidak terlalu tahu menahu mengurus orang sakit.
Keduanya saling bertatapan seraya menautkan kedua alis. Mereka tidak menyangka Antonius akan begitu mudah meyakini ucapan Ester.
“Iya pa.” Kata Irene dengan wajah lusuh kebawah. Kali ini ia tidak perlu bersandiwara pada papanya karena memang ia sedang tidak baik-baik saja karena alkohol itu.
“Kalau gitu kalian langsung istirahat di dalam kamar ya.” Bukan berinisiatif untuk memberi obat, Antonius malah menyuruh keduanya untuk bersarang di dalam bilik. Bagaimna jika saat ini Irene benar-benar sakit? Bisa mati di berdiri Irene karena tidak diberi obat.
Keduanya tidak menjawab sepatah katapun. Mereka segera manut dengan perintah Antonius mengingat sangsi bila sandiwara mereka akan tercium. Namun belum lagi tiga langkah mereka beranjak pergi, Antonius kembali menginterupsi keduanya dengan nada naik satu oktaf.
“Ah Irene papa lupa.” Katanya seraya melenggang kearah sofa, mengisyaratkan agar keduanya untuk merembet kesana. “Istri tulang kamu barusan telpon papa, katanya tulang Kev lagi sakit keras dan papa harus pergi besok.” Terang Antonius dengan menyiutkan volume suara. Ternyata ini alasan kenapa Antonius tercacak dari tidurnya, bukan mutlak karena menunggu ratnanya pulang. Tulang Kev adalah sebutan untuk paman Irene yang tinggal di Bandung, adik semata wayang Antonius.
__ADS_1
“Ke Bandung?” Tanya Irene penuh penekanan. Matanya melotot bulat, bisa jadi apa bentuk rumah tanpa sosok Antonius? Irene hanya gadis malas yang seluruh pekerjaan rumah ia layangkan pada papanya.
“Iya Re. Kamu ga keberatankan?”
“Yaudadeh pa, mau gimana lagi.” Jawabnya pasrah. Sebenarnya Irene juga tidak rela jika Antonius harus meninggalkannya di rumah sendirian mengingat ruangan ini akan hampa tanpa sosok papanya. Namun di sisi lain ia juga mengerti, saat ini tulang Kev benar-benar membutuhkan kehadiran kakak tunggalnya untuk pengobar semangat.
...***...
Pagi ini matahari menyorot lebih kentara dari kemarin, tidak ada gelagat akan turun hujan ataupun terlihat gerempelan awan hitam beserta sabitan kilatan petir yang membelah keheningan. Di setiap lorong komplek yang mulai disinari oleh sang mentari, terdengar suara biyung-biyung komplek bersahut-sahutan tentang menu makanan apa yang akan mereka masak untuk keluarganya hari ini. Sesekali terlihat balita-balita mungil yang berlarian di perkarangan rumahnya, mereka tampak tertawa bahagia tanpa beban sedikitpun yang terlukis di rupanya.
Irene menitikpusatkan perhatiannya pada suasana komplek pagi ini dari balik jendela yang terbuka, hatinya tersampuk melihat keharmonisan masing-masing keluarga di kawasan sini. Andai saja wanita itu masih hidup pasti dia akan merasakan kemesraan yang sama seperti keluarga lainnya, atau bahkan dia sudah memiliki seorang adik.
“Pa, kita keluar yuk cari sarapan.” Irene memekik suara setelah beranjak dari tontonannya lewat jendela kamar. Ia meninggalkan kamar dan Ester yang masih lelap dalam peraduan singkatnya.
“Pa.” Panggil Irene sekali lagi setelah ia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah. Ruangan itu terlihat hampa, tidak ada siapapun disana.
Irene menuju pintu depan untuk mengintip Antonius yang ditaksirnya sedang mengurus kebun bonsai di halaman depan.
Lelaki itu tidak ada di sana.
Gadis itu mulai gelisah, ia mengelilingi seisi rumah bahkan sampai menyinggung ruangan yang sangat jarang dimasukinya sekalipun, gudang. Ada yang ganjil, tidak biasanya Antonius keluar rumah pagi-pagi buta tanpa permisi.
Ia setengah berlari, menyusuri halaman rumahnya yang dapat dikategorikan dalam ukuran luas. Matanya berkelebat mengedarkan pandangan pada setiap inci dari kawasan itu, berharap Antonius ada di salah satu bagiannya.
Namun belum sempat ia menarik langkah menuju bagian paling belakang dari rumahnya, mendadak kakinya terhenti setelah mengingat deretan kalimat yang disampaikan oleh Antonius lewat pesan singkat yang dibacanya dalam keadaan setengah sadar pasca bangun tidur tadi.
Beloved Daddy
“Sayang, maaf papa harus pergi sekarang. Papa tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena sakit tulang Kev semakin parah dan papa tidak tega membangunkan kamu yang sedang tertidur pulas. See u dear.”
__ADS_1
“Ya Tuhan. It’s time to alone!” Getirnya seraya menepuk jidatnya sendiri. Ia kembali berputar haluan untuk menuju beranda rumahnya dengan iringan bayang aktivitas pagi Antonius di seputaran kepalanya. Pagi ini terasa sepi, seisi rumah terasa tawar tanpa comelan dari lelaki paruh baya itu.
...*** ...
Ceklek
Decit pintu terdengar takkala Irene menarik kenopnya dari luar, pagi ini ia akan mengisi perut sendiri tanpa Antonius. Hal yang sangat jarang dilakukan, namun sepertinya ia harus membiasakan hal ini selama beberapa hari kedepan sembari menunggu kepulangan papanya dari Bandung.
Irene menoleh ke kanan dan ke kiri setibanya di jalan raya, tidak terlalu banyak kendaraan yang berwara-wiri mengingat hari ini adalah hari weekend, dan orang-orang akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di rumahnya masing-masing.
Ia terus melanglang meninggalkan kawasan komplek yang di dalamnya tidak terdapat warung atau restoran untuk disinggahi. Hingga pada detik berikutnya langkah kakinya terhenti di salah satu rumah yang tidak asing dalam pengawasan matanya. Bangunan itu didominasi oleh warna biru dan terdapat pohon mangga di pelataran depannya.
Gadis berbaju hijau itu tertegun singkat, mengingat-ingat peristiwa apa yang pernah membawanya pada gedung belau itu. Namum belum sempat ingatannya terkumpul sempurna, ia menangkap bisingan anak-anak kecil yang bermain di atas gazebo rumah biru itu. Kakinya seakan mengajak untuk merapat lebih dalam lagi menyaksikan permainan mereka, hingga kini ia tercegak tepat di hadapan riuhan entong-entong unyil yang tengah merapikan rekal-rekal kecil.
Ah tidak, ternyata mereka bukan bermain. Disana terdapat jibunan buku berbeda ukuran yang tertata rapi di dalam almari kecil. Dan anak-anak itu, mereka sedang tidak berteriak untuk sebuah dolanan. Semuanya melisankan sesuatu yang sama sekali absen dari indra pendengarannya.
Shodaqallahul Adzim
“Alhamdulillah. Pagi ini kita padakan sampai disini dulu ya anak-anak, jangan lupa kajiannya diulang-ulang di rumah.” Mendengar suara itu mendadak jantung Irene kembali menggembut dengan frekuensi banter. Seketika ingatannya kembali berpadu bahwa itu adalah rumah orang yang pernah menolongnya suwaktu insiden beberapa tempo lalu. Ya, itu dia. Lelaki yang sampai saat ini masih terayan-ayan dalam benaknya.
Dengan sigap Irene memutar badan bersamaan dengan anak-anak yang mulai turun dari gazebo untuk beranjak balik. Namun belum sempat ia angkat kaki untuk menghilang dari sana, suara lelaki itu menginterupsinya seolah tahu tentang keberadaanya yang tengah menelik mereka.
“Ada apa?”
🐾
Bersambung
Vote and comment guys
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗