
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Oh benarkah sayang?”
“Iya.”
Lyora jingkrak-jingkrak bukan main. Ini adalah kali pertama Sam mengajaknya kembali berjumpa setelah sekian lamanya. Segera gadis itu mempoles wajahnya dengan make up natural serta menunggu kehadiran pria tersebut di depan rumah.
Tak butuh waktu lama, sebuah kendaraan beroda empat muncul dengan manampikkan bayangan seorang pria dari balik kaca. Lyora sumringah, secepat kilat ia ngacir ke arah benda hitam itu.
“Sayang aku sangat merindukanmu uhhhh.” Sebuah kecupan mesra mendarat di dahi Samuel sesaat setelah ia keluar dari dalam mobilnya sendiri. Lyora sungguh agresif, baru saja ketemu sudah langsung nyosor.
“Kenapa kau menjadi kurus?”
“Benarkah?”
“Apa aku kelihatan sedang bercanda?”
“Eum ini semua gara-gara kau!”
“Kenapa jadi aku?” Dahi Sam sontak berlipat-lipat.
“Dinginmu membuatku selalu kepikiran sayang.”
“Ah kau ini terlalu lebay. Sudah lah cepat naik!”
Lyora benar. Gadis itu terlalu banyak memendam rasa kesal pada tajuk hatinya sendiri. Jika dihitung-hitung dia sudah kehilangan berat badan sebanyak sembilan kilo selama satu bulan penuh.
“Kita mau ke mana?”
“Terserah asalkan bersamamu.”
“Apakah kita akan bersenang-senang kembali?”
“Ya.”
Wajah orang yang mendapati hal tersebut pun mendadak merah merona. Hatinya kembali bergejolak seolah ada getaran listrik yang mondar-mandir pada aliran darahnya. Lyora itu perempuan agresif yang sudah pasti akan merindukan saat-saat di mana ia dan Sam melakukan perbuatan itu. Dan apakah hal itu akan terulang kembali di hari ini? Pikiran Lyora sudah menjalar ke mana-mana.
...***...
“Fizhan. Bisa kah kau menamaniku hari ini membeli buku?” Seorang gadis bermata hazel mendadak muncul tanpa diundang. Stelannya sudah rapi bersama bubuhan make up yang melekat di wajah manisnya. Ah iya jangan lupakan juga kerudung yang tak pernah tinggal setiap kali ia menemui lelaki itu.
“Buku apa?”
“Tentang wanita muslimah.”
“Ehm baik lah, mari.”
__ADS_1
Fizhan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Kemunculan Irene membuat pria itu mendadak harus pergi pagi-pagi begini. Belakangan ini mereka memang kerap sekali pergi bersama, entah itu karena acara maupun membeli buku seperti saat ini. Sesekali mereka mengajak Azzam dan sesekali mereka juga pergi berdua. Dan jangan lupakan angkutan umum yang selalu mereka jadikan kendaraan untuk sampai ke tempat tujuan. Karena sampai sekarang Fizhan tak pernah mau berduaan di atas motor bersama Irene.
“Mau beli di mana Re?”
“Di mall saja.”
“Eum kenapa tidak di tumpukan buku pusat kota saja?”
“Jika ada yang lebih bagus dan baru kenapa tidak?”
Fizhan terdiam. Benar juga apa yang Irene katakan. Selama ini gadis itu memang tak pernah membeli buku di lokasi yang Fizhan sebutkan tadi mengingat di sana merupakan lapak dagangan buku-buku bekas.
Dan jujur saja, sebenarnya Irene juga tak pernah numpak angkutan umum jika berpergian. Kalau karena bukan Fizhan yang memintanya pasti dia tak akan pernah menumpangi kereta kencana yang di dalamnya harus empit-empitan itu.
“Sudah sampai mana perkembangan bacaanmu Re?”
“Masih basic. Do’akan saja semoga aku bisa memahami semuanya.”
“Aamiin.”
Tanpa sengaja Fizhan mengukir senyum tipis di bibirnya. Entah kenapa perasaan bangga dan kagum kepada Irene mendadak bergelayut begitu saja. Dan di sisi lain hati orang yang ditanya pun spontan kembat kembut. Tidak! Bukan karena sosok Fizhan, melainkan kebohongan yang selama ini ia ciptakan. Entah apa jadinya nanti, semoga saja semuanya akan tetap apik.
Saat ini mereka telah tiba di sebuah bangunan besar yang didominasi oleh bahan kaca. Megah, gedung itu diisi oleh orang-orang dari segala penjuru Medan. Fizhan mengambil langkah lebih dulu kemudian disusul oleh Irene dari belakang. Keduanya menyambangi sebuah toko buku yang berada di dalam sana.
“Menurutmu yang mana?”
“Kalau aku tahu aku tak akan mungkin bertanya padamu Zhan.”
“Ehm kalau begitu yang ini saja.” Fizhan menunjuk sebuah buku merah muda yang bertuliskan Fiqih Wanita di atasnya.
“Ini sejenis apa Zhan?”
“Ini buku yang berisi seputar panduan ibadah wanita Re, problematikanya juga ada di sana.” Irene meraih buku tersebut. Kakinya melangkah ke arah lain seraya mencari novel-novel yang ia ingini.
...***...
“Sial! Susah sekali mengambil punya anak satu itu!” Alan berdecak kesal sembari menyesap batang rokoknya yang nyaris habis.
Pagi ini sama seperti kemarin. Tak ada yang bisa dikonsumsinya kecuali rokok yang tersisa hanya dua batang itu. Rencananya belum berhasil dan otomatis Samuel belum memberikan lembar-lembar rupiah kepadanya. Ester sangat susah digapai, sekalipun dia polos tapi entah kenapa seperti ada tangan tak kasat mata yang menggagalkan rencananya.
“Sebaiknya kucoba saja sekali lagi.” Alan mengambil ponsel yang tergeletak di meja panjang. Batinnya meronta-ronta untuk segera dipertemukan dengan si Ester.
“Halo sayang ada apa?” Sapa seseorang dari seberang sana.
“Bagaimana jika kita keluar malam ini?”
“Kenapa hampir setiap malam kau mengajakku keluar sayang?”
__ADS_1
“Eum kau tak suka ya?”
“Bukan tak suka, aku hanya heran saja sayang.”
“Memangnya mau ke mana?”
“Kemana saja asal bersamamu.”
“Baiklah.”
Alan girang bukan main, berbagai rencana sudah tersusun di dalam otaknya. Kali ini dia pasti berhasil, Alan yakin itu. Dan sam? Dia akan memberikan banyak rupiah atas keberhasilan dirinya menjalankan perintah si jambang rimbun itu.
...***...
“Apa kau lapar?”
“Lumayan.”
“Ya sudah kita makan dulu di sana ya.”
Dag dig dug.
Jantung Irene berpacu lebih kencang. Apa dia sedang bermimpi? Senyumnya mendadak mengembang di pipi, gadis itu menatap lekat-lekat wajah Fizhan yang masih keukuh menatap sembarang arah.
“Iya.”
Akhirnya mereka pun menuju sebuah restoran yang berada di dalam kawasan bangunan luas tersebut. Keduanya mengambil meja ketiga dari pojokan karena memang hanya itu yang tersisa di sana.
“Silahkan mbak mas, ini daftar menunya.” Seorang waiters menghampiri keduanya dengan buku menu ditangan kanan.
Irene dan Fizhan sama-sama menoleh ke arah benda bergambar makanan dan minuman itu kemudian langsung memesan pada si pelayan. Semakin hari keduanya semakin akrab, Fizhan juga sudah jarang membahas perihal Aisyah kepada Irene. Dan tentu hal itu semakin membuat si gadis bermata hazel berpikir bahwasanya mereka sudah tak memiliki hubungan apapun. Ya meskipun sebenarnya Irene tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kurasa selama kita berteman kau tak pernah memberitahu di mana rumahmu.”
Blussh!
Mati aku!
Sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Fizhan. Irene kikuk, memang sesuatu ini yang sudah ia khawatirkan sedari dulu.
“Aku harus jawab apa?” Sang gadis bergeming sendiri di dalam hati. Pikirannya buntu, dia tak mungkin membocorkan letak tempat tinggalnya kepada Fizhan. Karena jika pria itu tahu, sudah dapat dipastikan bahwa rahasia besar yang ia tutupi selama ini akan terbongkar begitu saja dan membuat kekacauan baru.
...***...
Bersambung
Halo semua
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di SUAMI KITA BERSAMA yaaa 😍