
Libur panjang belum kunjung usai. Anak pensiunan putih abu-abu sibuk mempersiapkan berkas ini dan itu untuk menyambut ujian perguruan tinggi. Sisanya, bagi mereka yang belum mendapatkan rezeki untuk menyambung pendidikian, semakin bekerja dengan giat. Berharap suatu saat akan mengecap kursi perkuliahan. Namun setidaknya, apabila hal itu tidak kesampaian, mereka telah mencatat sejarah bahwa tidak berpacu untuk memperebutkan bangku pernikahan semasa selesai masa sekolahnya.
“Kita akan beda kampus Re,” Aisyah menyerup sisa jeruk terakhir. Cuaca panas begini memang paling cocok kalau dinikmati dengan minuman segar begitu.
“Tak apa. Lagi pula kita selalu bertemu di tempat lain,”
“Kenapa kau tidak masuk di kampus kami saja?” kali ini pria berparas teduh itu menimpali. Tenda biru yang ditembus oleh sinar matahari, membuat wajahnya sedikit kemerahan.
“Ya, aku kan bukan I- eh,” nyaris saja pernyataan itu keluar. Secepat mungkin Irene menutup mulutnya sehingga membuat camilan yang tengah bersarang di dalam sana tertelan bulat-bulat.
“Eh eh, kau ini kenapa?” Aisyah menepuk bahu Irene berulang kali. Ia kira dengan begitu Irene akan lebih mudah untuk menghirup oksigen.
Setelah semua dirasa cukup aman, pria tadi kembali mengajukan pertanyaan.
“Kau mau bilang apa tadi?”
“Ehm tidak ada,” Irene berseru pendek. Sebaiknya di lain waktu, gadis itu wajib lebih berhati-hati lagi kalau ingin berbicara.
Warung tenda biru menjadi tempat pilihan nongkrong mereka kali ini. Fizhan sempat mengajak dua gadis itu untuk duduk di café saja. Namun ditolak dengan alasan “bosan di tempat yang itu-itu saja”.
“Oh ya Syah,” Fizhan beralih menatap adik perempuannya itu. “Fatimah bertanya aku sedang di mana,”
“Fatimah yang waktu itu…” Aisyah menjeda kalimatnya. Matanya was-was melihat Irene yang melirik keduanya dengan serius.
“Iya,” Fizhan yang mengerti kemana arah pembicaraan adiknya itu sontak mengiyakan. Ia juga enggan bertahan pada keadaan seperti itu. Takut kalau tiba-tiba Irene akan bertanya.
Dua minggu setelah kejadian antara Fizhan dan Fatimah, pria itu menceritakan semuanya kepada Aisyah. Dengan catatan ia harus janji agar tidak memberitahu orang tuanya alias Paman dan Bibi Fizhan. Terpingkal-pingkal bukan main gadis berkerudung lebar itu mendengar cerita dari kakaknya sendiri.
“Mau apa dia?” lagi-lagi Aisyah menahan tawa.
“Entahlah. Apa harus dijawab saja?”
“Ya sudah. Siapa tahu memang penting,” Fizhan mengangguk paham, kemudian ia langsung menyentuh kembali layar seluas telapak tangan itu.
Irene kelabakan. Fatimah mana? Apakah Fatimah teman sekelasnya? Kalau memang iya, gadis itu tak berani ambil posisi duduk lebih lama lagi di tempat itu. Entah apa jadinya kalau sampai Fatimah mengetahui ia tengah bersama dua orang itu dengan kerudung yang terbalut di kepalanya.
__ADS_1
“Aku pulang duluan ya,” akhirnya ia menyerah.
“Loh, kenapa?”
“Aku harus menemani Papaku di rumah,” Irene terpaksa berbohong. Sejatinya, kalau siang begini pasti Antonius sedang berada di luar.
“Kenapa harus ditemani, sakit?” Fizhan menebak asal, yang kemudian langsung diberi anggukan oleh Irene.
Sayang sekali, pertemuan mereka masih terbilang anom di tempat ini. Wanita bermata hazel itu membenakan posisi motornya menghadap jalanan cepat-cepat. Dia tidak tahu di mana Fatimah saat ini. Bisa jadi beberapa detik kemudian anak itu muncul.
Dan benar saja. Satu menit setelah kepergian Irene, Fatimah datang.
“Fizhan,” sebuah suara lembut membuat sepasang insan yang tengah asyik ngobrol mendadak diam.
“Wah, cepat sekali.”
Gadis itu mendekat. Ia dihadiahi oleh senyum sumringai dari Aisyah.
“Aku hanya ingin memberikan ini,” serunya sambil mengangkat sebuah benda persegi berwarna cokelat muda.
Fizhan terus memperhatikan tanpa bergeming. Setelahnya, Fatimah menyodorkan kotak tersebut.
“Iya,” gadis itu beranjak. Namun sebelum ia benar-benar pergi, kembali kepalanya menoleh ke belakang. “Maaf, atas kejadian waktu lalu,”
Fizhan tak sempat menjawab. Ia masih senantiasa menjadi patung pemegang kotak di bawah tenda. Membiarkan Fatimah ngeloyor entah ke mana. Sesaat setelahnya, Aisyah menyenggolnya dan membuat ia kembali ke alam nyata.
...***...
Dara berbadan ramping itu terus saja memegangi ponsel seraya mengigit bibir bagian bawah. Nomor lelaki asing yang waktu lalu pernah menemuinya di taman, masih tersimpan apik di dalam benda gepeng tersebut.
“Aku penasaran sekali,” gumamnya dalam hati.
Beberapa hari ke belakang, kerjaannya hanya melihat empat deret huruf di atas sana. Rasa sungkan kian bergelayut, terlebih kala itu ia terlalu ketus seolah tak perduli. Padahal, sejatinya ia menginginkan informasi itu.
Lama Ester mematung, hingga keberaniannya tiba-tiba muncul. Ditekannya logo telpon, sesaat setelahnya nada dering terdengar di telinga.
__ADS_1
Lima detik, sepuluh detik, sambungan telpon juga belum terjawab.
“Apa dia sedang sibuk? Ah, aku jadi menyesal,” lagi-lagi gadis itu merutuki kebodohannya.
Sehari setelah kejadian itu, Ester tak lagi menghubungi Alan hingga detik ini. Pria kurus itu kerap kali bertanya tentang apa yang terjadi melalui pesan udara. Namun, Ester tak kunjung menjawab. Dia hanya ingin suatu kebenaran, sebelum rasa cintanya terhadap Alan semakin dalam. Maka dari itu, lebih baik ia mencari tahu dulu melalui Dian. Itu pun tidak akan diterima mentah-mentah. Masih banyak hal yang harus dibuktikan sebelum memutuskan sesuatu.
Di tengah lamunannya, benda pipih itu bergetar panjang. Matanya membulat, dan langsung menemukan nama pemanggil di atas layar.
Dian.
“Ah, syukurlah. Akhirnya kau menelponku juga,” Ester bernapas lega.
“Halo,” terdengar suara serak khas pria di seberang sana.
“Apa kau sedang sibuk?” Ester bertanya dengan nada hati-hati.
“Kerjaanku baru saja selesai. Ada apa?”
“Aku hanya ingin mendengar kelanjutan ceritamu kemarin,”
“Oh, hahahah.” suara menggelegar memekakkan telinga Ester. “kukira kau tak perduli dengan ucapanku, Nona.”
“Kapan kita bisa bertemu?” wanita itu tak membalas ledekan Dian. Informasi. Hanya itu yang dia inginkan saat ini.
“Aku harus mencari bukti kuat agar kau percaya. Sangat lucu rasanya kalau mulutku sudah berbuih menjelaskan, namun pada akhirnya kau hanya anggap itu bualan belaka,” Dian mulai serius. Kali ini tak ada lagi candaan seperti tadi.
Ester membenarkan. Lagi pula, jika bukti itu memang benar ada, maka dia tak perlu repot-repot lagi mengumpulkan informasi. Jantungnya terasa berdegub lebih cepat. Belum siap jika perkataan Dian, benar adanya.
“Baiklah. Tapi, aku tak ingin menunggu lama,” Ester inervensi. Huh, tidak tahu diri sekali. Sudah dia yang butuh jawaban, dia pula yang memaksa.
Terdengar suara deheman dari seberang sana. Sesaat setelahnya, sambungan terputus tanpa izin. Hal itu tentu saja membuat Ester kesal, namun ia juga tak dapat marah. Ada sesuatu yang harus segera ia peroleh dari Dian.
“Alan. Bagaimana jika kau benar-benar telah memperalatku?” sekelebat bayangan wajah pria kurus itu bernaung dalam kepala Ester.
...***...
__ADS_1
Bersambung
LIKE & COMMENT