AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 12


__ADS_3

“Nah ini dia. Ok guys let’s start.” Lagaknya seraya mengambil kerudung berpoleng kuning lalu berpose layaknya beauty vlogger yang kerap tayang di video youtube.


Malangnya, belum lagi benda tersebut membungkus apik bagian kepalanya lagi-lagi ia harus dipusingkan dengan bagaimana cara menggunakan kain persegi itu. Hei! Seharusnya ia mencari tahu terlebih dahulu tadi.


Irene melayangkan pandangan ke arah jendela luar, mengingat-ingat bagaimana wajah Fatimah temen sekelasnya itu pada saat memakai kerudung seraya mereka-reka bagaimana jika balutan kain itu telah terpasang rapi menyungkup rambutnya.


Seketika dalam waktu yang bersamaan sebuah ide lain pun muncul dalam benaknya. Ia kembali mengambil benda pipih yang masih tergeletak di atas kasur. Selanjutnya wanita itu pun melangsungkan idenya dengan bersila kemudian menonton tutorial hijab style seperti yang baru saja ia peragakan tadi, hingga tanpa sadar matahari nyaris menyusup ke ufuk Barat pertanda magrib akan segera tiba.


Drrrt.


Drrrt.


Dering telpon membangunkan remaja yang tengah lupa waktu itu dari kegiatannya. Ia menempelkan benda gepeng tersebut setelah menggeser tombol hijau pada layar depannya.


“Halo, apaan?”


“Temenin ngemall dong.” Sahut seseorang dari seberang sana yang tak lain adalah Ester.


“Kapan?”


“Sekarang aja gimana? Mumpung masih jam enam, enak nih cahayanya kalau dipake buat foto.”


“Apa! Jam enam?”


Tuuuuuut.


Sambungan terputus secara sepihak.


“Mampus aku lupa waktu.” Seketika Irene membangunkan tubuhnya dengan gesit lalu memasangkan kerudung itu pada kepalanya.


“Aduh kok ga bisa sih?”


“Kok miring-miring gimana nih?”


“Astaga! Bukan begini.”


“Ah bodo! Mending langsung pergi aja.”


Usahanya kali ini benar-benar tidak membuahkan hasil. Ia kemudian memboyong kerudung itu ke arah luar lalu tergopoh-gopoh menancap gas motornya menuju rumah Fizhan. Ia pasti sudah terlambat saat ini.

__ADS_1


Tin.


Tin.


Tin.


Bunyi-bunyi klakson bertebaran mana kala Irene memencet tombol berlogo terompet pada mesin beroda dua tersebut. Ia berkendara dengan asal, menyalip dari segala arah yang mengakibatkan ia nyaris saja menabrak penjual jengkol keliling.


“Woy pake mata dong. Emangnya kalo gerobak saya jatuh kamu mau ganti rugi? Udah untungnya cuma dua ribu juga.” Teriak bapak bergerobak cokelat yang tidak mendapat sahutan apapun dari sang pembalap dadakan. Jangankan untuk menyahut, menoleh saja pun tidak. Bahkan ia semakin menarik kencang gas motornya hingga membuat beberapa pengendara lainnya mengalah secara paksa.


Setelah berkendara layaknya Valentino Rossi gadungan akhirnya sampailah Irene pada tempat yang dituju. Ia pun memusatkan pandangan pada gazebo tempat biasa anak-anak berkumpul, kosong. Mungkin mereka sudah pulang mengingat waktu yang sebentar lagi akan beranjak malam.


Sesaat sebelumnya celingkungan selama beberapa detik, akhirnya wanita sang pembalap gagal tersebut memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang saat ini tengah terkatup rapat. Sejenak ia mencerup udara lama, takut kalau-kalau dirinya kembali kalang-kabut bila memandang raut firdaus itu.


Tok tok tok.


“Ada orang?” Pekiknya dari luar setelah tidak mendapat sahutan apapun dari arah dalam.


Manik matanya bertukar haluan mengitari area rumah biru tersebut. Asri sekali. Sebuah bangunan yang memiliki luas sekitar 60m2 bersama tanaman-tanaman kecil yang dirawat dengan sistem hidroponik. Tak lupa pula mawar-mawar berbeda warna tersusun rapi di dalam pagar putih mini yang terbuat dari bambu semakin memperindah pelataran gedung bernuansa belau tersebut.


Ada lagi yang lebih menggoda indra pengelihatan. Di bagian samping kiri rumah tersebut terdapat kebun mungil yang ditumbuhi oleh pohon-pohon cabai, sawi, bayam dan beberapa jenis sayuran hijau lainnya. Rajin sekali sang pemilik rumah mengatur perkarangannya dengan sedemikian rupa.


“Pulang aja deh.” Irene pasrah. Mungkin pria itu sedang tidak berada di rumah atau memang sengaja tidak membukakan pintu mengingat kehadirannya yang sudah di ambang malam. Akhirnya ia pun mengambil keputusan untuk kembali ke rumah dari pada harus berlama-lama di sana jika sang empunya rumah juga tidak berkenan membukakan pintu. Besok, ia akan datang tepat waktu bahkan jauh lebih awal sebelum ucul-ucul itu sampai.


“Siapa ya?”


“Eh-“


Drama love at second sight pun terjadi. Baik Irene maupun sang pemilik rumah sama-sama tak bergeming kala pandangan mereka saling bertemu. Sebagaimana Raphael yang terbius dengan jantung hatinya, maka begitu pula lah tayangan yang kini sedang sepasang insan itu lakoni.


Jedag jedug.


Andai saja saat ini ada stetoskop di antara mereka, pastilah benda bertubing itu sudah memberitahu selaju apa deguban jantung yang tersimpan rapi di dalam tubuh dua anak manusia yang nyaris membatu itu.


“Ehmm aku kira ga jadi datang.” Kata Fizhan membuyarkan pandangan keduanya. Matanya berkelebat kesana kemari, memandangi apa saja yang bisa dipandang asal jangan paras wanita yang saat ini sedang bertapak di hadapannya.


“A- a- iya maaf. Aku telat.”


“10 menit lagi azan Magrib. Tetap mau belajar ngaji sekarang?”

__ADS_1


“Kalau boleh.” Irene berdesis lirih. Sebenarnya ia juga sungkan mengingat sebentar lagi lelaki di hadapannya itu akan melaksanakan ritual keagamaan. Namun egonya tidak tahu diri, ia berpikir tak akan menyia-nyiakan momen emas ini terlebih saat ini mereka sedang berdua. Ya, hanya berdua. Irene dan Fizhan.


Fizhan tersenyum seraya tetap menilik sembarang arah. Terlampau rupawan. Parasnya yang teduh membius kalbu makhluk mana pun yang memandang. Tak luput pula deretan gigi putihnya yang tersusun rapi semakin membangkitkan daya pukau pada lelaki bertubuh jenjang tersebut.


“Kalau gitu kita sholat dulu ya. Mesjidnya ada di sebenrang sana.”


Deg.


Dalam hitungan sepersekian detik raut gadis yang tadinya terlihat anteng kini menjelma layaknya papan setrika yang siap untuk digunakan. Tegang. Kembang-kembang yang juga semula bermekaran di dalam hatinya lantas bersilih membentuk beton raksasa yang siap menghantamnya habis-habisan.


Bagaimana mungkin ia bisa melakukan sesuatu yang kali ini kelewat bertubrukan dengan hatinya, bahkan ajarannya. Mirisnya lagi apa yang akan dilakukannya di sana? Bagaimana caranya? Ah! Benar-benar terperangkap ia kali ini.


“Kamu kenapa?” Tanya Fizhan yang lagi-lagi membuat ia semakin merasa terpojok. Tahu apa lelaki itu? Yang ia saksikan saat ini hanyalah buliran keringat yang mendadak muncul membanjiri pelipis Irene. Apapun yang kita lakukan di dunia ini pastilah memiliki konsekuensinya masing-masing termasuk kebohongan yang telah ia lakukan sekarang dan hari-hari sebelumnya.


“Terlanjur. Nyebur aja biar sekalian basah.” Spekulasi bodoh itu sontak berkelebat dalam kepalanya. Dasar gadis dungu! Enteng sekali dia menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam jebakan batman.


“A- i- iya. Ini aku juga mau ke sana.” Jawabnya terbata seraya menunjuk bangunan berkubah silver di seberang jalan.


Tidak ada sahutan lagi dari Fizhan setelah itu. Ia bergegas mengunci pintu rumah lalu beranjak menuju mesjid.


Irene yang masih bermukim dengan kebebalannya senantiasa membatu menyaksikan langkah kaki Fizhan yang kian menjauh dari pandangan mata. Sebenarnya wanita itu pun juga kelabakan harus melakukan apa, ia benar-benar terjerembab dalam situasi yang dapat memecahkan kepala.


“Hei! Ayo.” Pria nan peka atas ketidakikutsertaan dara yang bertamu magrib-magrib ke rumahnya itu pun segera melaungkan suara ke arah belakang. Dari awal memang ia merasa ada yang aneh dari tingkah wanita itu. Namun sebagai seseorang yang memang menganut prinsip positif thinking, maka ia selalu berpikir bahwasanya gelagat ganjil itu memang merupakan tabiat Irene sedari dulu.


“Kenapa kita ga barengan aja? Nih kamu yang bawa motor aku.” Tawar gadis yang saat ini telah merombak posisinya dari halaman gedung biru itu. Ia menyerahkan kendaraan itu kepada Fizhan, namun secara beradab anak jejaka itu menolak ajakannya untuk bercampur di atas tempat yang sama.


“Aku jalan aja lagian juga dekat kok.”


“Loh! Emangnya kenapa? Kan bakal lebih cepat nyampe kalo kamu naik motor bareng aku.”


“Iya benar. Tapi maaf Re, kita kan bukan mahram. Jadi ga boleh.”


“Hah? Mahram? Apa itu?”


Deg.


...***...


Bersambung

__ADS_1


Comment & vote guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2