
“Maaf,”
“Untuk?”
“Karena sudah menuduhmu yang bukan-bukan,”
“Aku mengerti posisimu,”
Malu. Hanya itu yang dapat menggambarkan perasaan hati gadis bermata hazel seperti Irene. Menyesal? Sudah pasti. Tak seharusnya ia menunda lama untuk membicarakan hal ini terhadap Fizhan. Andai saja dia sudah mengetahui dari dulu, pasti kejadian semacam ini tak akan pernah ada. Lalu bagaimana dengan pernyataan cinta tadi? Ah bahkan wajah Irene rasanya sudah menebal tiga kali lipat.
“Maaf,” ujar sang dara tersebut seraya menggigit bibir bagian dalamnya.
“Untuk apa lagi?”
“Atas ucapanku yang tadi,”
“Soal Aisyah?”
“Tidak,”
“Lalu?”
“Eumm,” suara Irene terjeda. Memang benar kata orang, kalau kita sedang dalam mode emosi, pasti apapun yang kita rasakan bisa keluar begitu saja. Lain halnya dengan ketika amarah sudah meredup, susah sekali untuk berkata yang sejujurnya.
“Ada apa?” kali kedua Fizhan bertanya. Sebenarnya pria itu juga sudah berusaha sebisa mungkin unutk menahan tawa karena melihat wajah Irene yang begitu polos dan menggemaskan.
“Untuk pernyatan cinta tadi,” jawab si gadis pada akhirnya. Oh, sepertinya setelah ini dia harus mandi kembang tujuh rupa untuk mengembalikan semua mentalnya yang nyaris hilang.
“Kau mencintaiku?”
“Iya,”
“Sejak kapan?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu,” lagi-lagi Irene mengingat masa pertemuannya bersama Fizhan sewaktu di café dulu. Fizhan benar-benar menarik, bahkan bisa memecahkan bebatuan di hati Irene yang telah lama mendekam.
...***...
“Bisa tidak kalau sekali saja tidak mengangguku!”
Hari ini adalah hari di mana sepasang insan itu kembali bertemu. Seperti biasa dan di tempat yang biasa. Sam mengganggu Aisyah yang tengah sibuk berkutat dengan rerumputan hijau di perkarangan rumahnya.
Sudah lama pria itu tak berkunjung ke rumah Aisyah karena menjalani kehidupan di luar sana. Mulai hari ini dan seterusnya tak akan ada yang perlu ia pikirkan lagi. Mau di mana dan sedang bersama siapapun tak akan menjadi beban. Dia benar-benar sendiri. Mungkin nanti setelah gadis itu kembali ke pelukannya, barulah ia mulai menata dirinya untuk menjauhi semua wanita termasuk Aisyah saat ini.
“Hei! Aku hanya ingin membantumu,”
“Bukan membantu namanya kalau kau terus memindahkan bunga-bunga itu ke sembarang tempat,”
__ADS_1
Ya. Kali ini Aisyah sedang memotong rerumputan yang panjangnya nyaris setinggi lutut manusia. Dan Samuel? Dia malah sibuk meraih pot-pot bunga kemudian meletakkannya sesuka hati. Benar-benar tidak memiliki seni berhias si pria berjambang rimbun itu.
Abi dan Umi Aisyah juga ada di sana. Mereka hanya bisa mesem sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anak yang sama usia tersebut. Wajah si wanita kian memerah, sedangkan sang pria senantiasa asyik dengan perlakuan konyolnya.
“Mungkin si Samuel itu akan jadi menantu kita kalau saja tidak berbeda ya Abi,” wanita paruh baya itu meraih sebuah cangkul dan menyerahkannya kepada sang suami.
“Shhht. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Siapa tahu suatu saat Samuel mendapat hidayah,”
Siapa yang tahu ke depannya akan bagaimana. Bahkan untuk satu detik ke depan saja pun tak ada yang bisa menebak.
“Eum kalau dilihat-lihat Aisyah cantik juga, lucu lagi,” yang dibicarakan pun membatin sendiri. Sejenak ia menghentikan aktivitas tidak berguna itu seraya menatap paras Aisyah yang terbingkai dengan kerudung marun. Teduh, hanya itu yang bisa menggambarkan raut adik dari seorang guru ngaji tersebut.
“Jaga pandanganmu!”
“Hah? E- eng-“
Perkataan Aisyah spontan membuat jantung Samuel berdenyut kencang. Bodohnya ia sampai gadis itu bisa tahu apa yang tengah dilakukannya dari depan sana. Samuel mendadak gagap, mulutnya terasa keluh untuk berbicara.
“Dalam agamaku tidak baik memandang wajah yang bukan pasangan atau ada ikatan darah dengannya,” Aisyah kembali berbicara. Tangannya masih terus sibuk memotong rerumputan tua hingga kandas.
Samuel tak membalas barang sepatah pun. Ia menghargai apa yang baru saja dikatakan oleh Aisyah. Begitulah jika berteman namun beda keyakinan. Apa yang menurut kita boleh, belum tentu diterima oleh yang lain.
...***...
“Kalau memang benar perkataan itu, maka aku akan menikahimu setelah kita benar-benar siap,”
Deg!
“Kenapa kau malah bengong?” suara itu kembali terdengar. Haruskah ia menampar pipinya sekali lagi?
“Kau sedang berbohong kan?” ucap Irene pada akhirnya setelah lama bermain dengan pikiran. Tidak! Tidak mungkin secepat ini semua terbalaskan. Bukannya selama ini Fizhan selalu bersikap biasa saja?
“Kau tahu jika berbohong itu dilarangkan?” Irene mengangguk yakin.
“Ya sudah. Apa lagi?”
Fizhan benar-benar sudah gila. Bahkan mengucapkan kata sesakral itu bagi Irene, dia tetap menatap ke sembarang arah tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, atau sejenisnya. Lalu bagaimana menilai sebuah keseriusan itu?
“Aku bahkan sudah mengemas semua buku-buku itu untuk kuberikan kepadamu,” sebuah dus kuning kuning kecokelatan yang sedari tadi teronggok di depan pintu.
“Kenapa?”
Irene bungkam. Mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Netranya menatap seantero langit. Matahari mulai beranjak, pertanda ucul-ucul itu akan segera datang.
“Tapi besok aku akan pindah rumah ke Bandung,”
Deg!
__ADS_1
“Pergilah. Setelah semuanya selesai, aku akan menjemputmu,” ucap Fizhan pada akhirnya setelah mematung selama beberapa saat.
“Kau sama sekali tidak keberatan?”
“Keberatan untuk apa?”
“Katamu kau ingin menikahiku. Kalau menikah, tandanya cinta. Jika cinta, lalu mengapa tidak ada guratan sedih di wajahmu barang sedikit pun?” Irene memasang wajah garang. Kesal bercampur sedih. Jangan-jangan Fizhan hanya sedang berusaha untuk mengelabui dirinya dengan kata cinta.
“Untuk apa sedih? Bahkan seharusnya aku bahagia karena sudah menemukan jodohku,”
“Ah, kau ini!”
Di depan sana Fizhan spontan menyembunyikan tawanya dengan menundukkan wajah. Menggemaskan sekali takkala menangkap pemandangan wajah cemberut di hadapannya itu.
Irene berdecak kesal sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan kawasan rumah biru tersebut setelah sebelumnya berpamitan pada Fizhan. Dus besar tadi kembali dia bawa pulang. Janjinya, ia tak akan pernah membuang lembaran-lembaran ilmu tersebut lagi.
“Aku harus menemui Aisyah,” gumamnya dalam hati.
Di tempat lain, seorang gadis berkerudung marun tengah menikmati sejuknya air kelapa yang mengalir di depan tenggorokan. Acara berkebun telah selesai, semuanya sudah bisa beristirahat saat ini.
Drrrt.
Tiba-tiba benda pipih yang bersemayam di dalam saku roknya bergetar. Ia segera meraih alat penghantar suara tersebut.
“Kirim lokasi rumahmu sekarang. Aku segera ke sana,” sebuah pesan sukses mendarat tepat sasaran pada ponsel Aisyah. Memang sudah lama mereka saling menyimpan kontak namun baru saat ini ada yang menyapa. Kemarin-kemarin hanya menjadi penonton history saja.
Aisyah menautkan sepasang alis tegaknya. Ada apa? Apa dia bersama Fizhan datang ke sini?
“Kau pulang sajalah. Teman wanitaku akan datang ke sini sebentar lagi,” suara itu terdengar jelas di telinga Samuel. Ia memasang raut heran. Ap itu sebuah kode untuk mengusir?
“Siapa? Aku tak ingin pulang sebelum berkenalan dengan temanmu itu,”
...***...
Bersambung
Aduh sebenarnya Fizhan itu beneran atau cuma main-main aja sih? 🤣
Temukan jawabannya on next part okay ;)
Btw
Mohon maaf lahir dan batin para readers
Terimakasih sudah mengikuti cerita aku sejauh ini ya :)
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1
LIKE& COMMENT
Double luvvv❤️