AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 47


__ADS_3

“Apa lagi Sam?”


“Aku kan hanya ingin bertamu. Tidak boleh?”


“Kalau sudah keseringan itu namanya bukan tamu lagi.”


“Lalu apa?”


“Perusuh!”


“Astagfirullah kenapa ini? Kok pada ribut?”


Keduanya saling membuang pandangan ke sumber suara. Seorang wanita berkerudung merah tampak menyembul dari dalam sana.


“Loh ibu tidak pergi?” Sam menyipitkan matanya menatap Aisyah yang kini menampikkan raut tegang.


“Tidak. Memangnya siapa yang bilang kalau ibu pergi?”


“Tuh.” Pria berjambang lebat itu memanyunkan bibirnya menghadap Aisyah yang langsung disambut oleh cengengesan dari dara tersebut.


“Ya Allah nak kan sudah diberitahu abi tadi kalau tidak baik menolak tamu.”


“Nah iya benar itu.”


“Hmmm.”


Aisyah tak lagi berbicara. Entah kenapa hatinya seperti belum bisa membuka pintu maaf untuk Samuel. Saat ini dia lebih memilih untuk duduk di sebuah musholla kecil di dalam rumah dan membiarkan Fizhan menemui Umi dan Abinya yang sebenarnya tidak pergi kemana-mana.


“Sayang lihatlah siapa yang datang.” Kini sang wanita paruh baya dan Sam telah tiba di halaman buntut rumah.


“Hei Sam. Apa kabar?”


“Baik. Bapak sendiri?”


“Alhamdulillah baik juga nak. Oh iya sini duduk.”


“Ehm iya Pak.”


Abi Zulfan yang tadinya sendiri kini telah ada seseorang yang menemani. Selalu ada saja bahan yang mereka diskusikan entah itu tentang wisata, bisnis, keluarga bahkan mengenai wanita sekalipun pernah mereka bicarakan tanpa sepengetahuan Umi Umayyah maupun Aisyah. Huh dasar lelaki!


Awalnya Sam juga memanggil kedua orang tua itu dengan sebutan om dan tante. Namun Abi Zulfan mengarahkan agar menabalkan nama bapak dan ibu saja pada keduanya. Kalau kata Abi Zulfan sih mereka ga kota-kota banget meskipun sebenarnya hidup di tengah perkotaan.


“Oh iya nak bagaimana dengan pendidikanmu selanjutnya?”


“Saya akan berkuliah di kampus A Pak.”


“Eum berarti beda dengan Aisyah.”


“Memangnya Aisyah di mana?”


“Univ X.”


“Memang pantas tipe-tipe wanita seperti dia duduk di sana.” Sam membenarkan posisi duduknya kemudian menyeruput teh yang sempat dihidangkan oleh Umi Umayyah tadi. “Oh iya pak. Kenapa sampai sekarang Aisyah selalu bersikap seolah tak suka padaku?”

__ADS_1


Deg!


Abi Zulfan sontak membisu di tempat. Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Sam.


“Bapak kira kau tak merasakan hal itu nak.”


“Jelas aku merasakannya. Aisyah selalu marah-marah bila bertemu aku.”


“Putri bapak itu masih sebal denganmu karena kejadian lalu.”


“Sampai kapan?”


“Entah lah. Sebenarnya Aisyah itu anak baik, mungkin pintu hatinya saja yang belum saatnya untuk terbuka.” Pria paruh baya itu menyebutkan satu di antara dua alasan putrinya mengapa tidak menyukai Sam. Sebenarnya penyebab pertama adalah karena Sam hampir menimpuk wajah Fizhan suwaktu di café kala itu.


Entah sudah kemana-mana topik obrolan dua lelaki berbeda usia itu kali ini. Tak terasa dua jam telah berlalu. Dirasa cukup sudah bertamu Sam pun segera izin pamit sesaat sebelumnya mencium punggung tangan Abi Zulfan.


“Hati-hati ya nak. Keluar sendiri saja ya.”


“Iya pak saya permisi dulu.” Sam beringsut memasuki rumah itu kembali guna mengeluarkan diri dari dalamnya. Ia tak ditemani oleh Abi Zulfan dan Umi Umayyah pun entah kemana.


“Aku selalu merasa memiliki semangat baru setiap bertemu keluarga Aisyah.”


Gedebuk.


“Eh!”


“Aduuuuh!”


OMG! Ada yang sedang bertabrakan di ambang pintu.


Begitu pun dengan yang menimpali dari bagian atas. Pria itu dapat dengan jelas melihat guratan wajah ayu Aisyah dari arah dekat. Bahkan deru napas dan jedag jedug jantunya pun sangat begitu kentara di telinga Sam.


“Astagfirullah apa-apaan kamu!”


“Astaga maafkan aku Syah. Sungguh aku tak melihatmu.”


Keduanya langsung membangkitkan tubuh dan saling membersihkan pakaian mereka yang ditempeli oleh debu-debu lantai. Tak ada percakapan lagi setelah itu. Baik Sam maupun Aisyah sama-sama dihantui oleh rasa nerfes yang tak ada obat.


...***...


Ting nong ting nong.


Bel berdentang dari arah depan. Irene membangkitkan tubuh dengan malas seraya memboyong guling yang sedari tadi dipeluknya di dalam kamar.


“Eh ada tamu.” Nada bicaranya terkesan sedikit melece.


Yang diledek pun sama sekali tak merasa bahkan langsung menyembulkan diri ke dalam gedung putih berukuran gedi itu.


“Re, bosan.”


“Kemana pacarmu yang paling tampan se seantero Indonesia itu hem?”


“Itu pernyataan atau penghinaan?”

__ADS_1


Irene tak lagi menjawab. Sebenarnya akhir-akhir ini dara itu sangat kesal dengan tingkah sahabatnya sendiri. Ester berubah semenjak kenal sama Alan, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan pacar barunya itu ketimbang sahabatnya sendiri. Jujur saja, Irene juga ingin sekali mengungkapkan unek-uneknya pada Ester. Namun mau bagaimana? Bertemu Ester saja susah kunun pula hendak berbicara.


“Apa kau ingat kapan terakhir kali kita bermain di bar?”


“Kenapa?”


“Bagaimana kalau kita ke sana?”


“Tidak!”


“Kenapa?”


“Jangan melakukan hal-hal yang unfaedah Nyuk.”


“WHAT? Apa aku sedang tuli?”


“Ada yang salah?”


Ester terperanjat. Ia menempelkan tangannya ke jidat Irene lalu meletakkannya ke bagian bokong, sama panas. Seperti berada di alam mimpi, bagaimana mungkin konconya yang begitu binal mendadak berubah menjadi baik budi dan menghindari dunia gelap.


“Sejak kapan kau menjelma sebagai ibu peri hah?”


“Apa maksudmu?”


“Oh astaga! Bahkan gaya bicaramu pun sudah sangat berubah Sob.”


“Ah kau! Mungkin ini karena sudah saking lamanya kau tak mengunjungiku dan hanya bermain dengan pacar barumu itu.”


Blush!


Singkat tapi nyelekit.


Omongan Irene sungguh menampar hati orang yang mendengar. Seketika Ester sadar bahwa memang benar selama ini dirinya sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Alan, seorang pria yang baru saja muncul di hidupnya.


Tapi seperti yang kita ketahui bahwa Ester adalah tipe wanita yang mudah mengambil hati atas ucapan orang lain tentang dirinya. Kali ini juga seperti itu, telinganya sontak panas sesaat setelah mendengar ucapan Irene yang membawa-bawa kata ‘pacar di sana.’


“Eum aku permisi dulu.”


“Kenapa? Kau tak sanggup menerima kata-kata faktaku tadi?”


Oh shit! Ester malah pergi dan tak perduli dengan gadis yang masih keukeuh berdiri di ambang pintu. Irene tak dapat berbuat banyak apalagi sampai harus menahan konconya itu agar tak beranjak dari tempat ini. Dia hanya menyaksikan punggung Ester yang mulai menjauh lalu benar-benar hilang dari pandangan.


Bagus! Irene berada di jalan yang benar.


Hati manusia mana yang tak sakit bila sahabatnya sendiri lebih memilih pacar yang baru dikenalnya dalam hitungan hari ketimbang kita? Pasti semua bukan? Irene pun begitu. Jauh di dalam dirinya dia juga sangat merindukan sosok Ester yang dahulu pernah menjadi teman binalnya saban hari saban malam.


“Semoga suatu saat kau bisa kembali seperti dulu Nyuk."


...***...


Bersambung


Hayo siapa di sini yang juga pernah ngalamin peristiwa kaya Irene? hihi 😅

__ADS_1


Don't forget like & comment guys


Happy reading ❤️


__ADS_2