
Alan terkejut bukan main saat mendapati Ester telah berdiri tegak di belakangnya. Ia berusaha menoleh ke belakang kemudian menelan salivanya dengan berat.
“Ada yang sedang kau rencanakan?” Suara wanita itu kembali menginterupsi.
“Sejak kapan kau berdiri di sini?”
“Barusan. Dompet dari saku jaketmu terjatuh saat kau hendak ke sini tadi.”
Huuuh, hati Alan lega bukan kepalang. Kalau Ester baru sampai di sini berarti dia tidak mendengar percakapannya tadi kecuali tentang rencana itu. Bagus lah, Alan berkata dalam hati.
“Oh sayang kau baik sekali. Terimakasih ya.” Pria beralis tebal itu mencoba mengalihkan pembicaraan kemudian membawa wanitanya ke tempat semula.
“Kupikir ini adalah masalah pribadi antara aku dan keluargaku. Maaf aku belum bisa memberitahumu ya sayang.” Alan ngeles. Ia memungut anak-anak rambut Ester yang menutupi wajah cantiknya itu dan menyelipkannya pada telinga sebelah kanan.
“Oh begitu. Baiklah.” Jawab Ester seraya menyunggingkan senyum.
Sebenarnya siapa Alan? Siapa sosok manusia yang selalu menelponnya itu? Dan rencana apa yang telah mereka siapkan?
...***...
“Kalian kelihatan seperti sudah kenal akrab.” Aisyah mulai membuka suara sesaat setelah dia dan rekannya itu mendaratkan bokong di sebuah angkutan umum.
“Gadis itu setiap sore selalu ke gazebo Syah.”
“Ohya? Untuk apa?” Wanita yang mendengar pun lantas setengah terkejut.
“Dia belum bisa mengaji dan aku mengajarinya. Kau tahu dia itu sangat lucu.”
“Maksudnya?”
Pria yang sedang bersebelahan dengan Aisyah itu pun memulai cerita bagaimana pertemuannya dengan Irene. Mulai dari perjumpaan tidak sengaja mereka di café hingga saat di mana gadis berambut panjang itu mengenal huruf-huruf hijaiyah. Semua terasa sangat cepat berlalu, jika dihitung-hitung perkenalannya dengan Irene sudah memasuki bulan ke dua namun rasanya baru beberapa hari saja.
“Dia itu sangat polos bahkan sangkin polosnya arti dari kata ‘mahram’ pun dia tidak tahu Syah.” Kata Fizhan menutup dongeng di siang harinya.
“Serius?”
“Iya.”
“Dia Muslim kan?”
“Tentu. Kalau tidak mana mungkin dia mau memakai kerudung apalagi sampai belajar mengaji.” Fizhan menjawab dengan percaya diri. Ah pria bodoh! Entah bagaimana akhir cerita dari kalian nanti bila kau tahu siapa sebenarnya wanita yang saat ini sedang kau ceritakan.
“Apa kau tak melihat kalau seragamnya tadi kekurangan bahan Zhan?”
“Akhir-akhir ini dia selalu memakai kerudungnya Syah ya walaupun belum sempurna. Dan yang membalut tubuhnya tadi adalah seragam sekolah dan aku yakin kemeja putih dan rok abu-abu itu memang sudah ia gunakan semenjak kelas sepuluh.
“Sebaiknya kau sarankan saja agar dia berhijab total. Tidak sayang apa menyedekahkan lekukan tubuhnya setiap hari kepada pengguna jalan!”
__ADS_1
“Aku juga pernah terlintas seperti itu. Akan kucoba.”
“Apa katamu? Coba ulangi?” Aisyah menautkan kedua alisnya takkala mendengar penuturan Fizhan barusan. Apa ada yang salah?
“Akan kucoba.” Fizhan mengulangi perkataannya.
“Tidak-tidak, sebelum itu.”
“Yang mana?”
“Sebelum akan kucoba.”
“Aku tidak tahu.”
“Ck!” Aisyah berdecak sebal. “Pernah terlintas katamu? Berarti selama ini kau memikirkannya?”
Deg!
Aisyah yang pendengarannya masih sangat bagus itu pun tidak mungkin salah tangkap dengan perkataan yang beberapa detik lalu dilayangkan oleh Fizhan. Berbagai spekulasi berseliweran di dalam kepalanya, ia menatap rekannya itu lekat-lekat berharap ada jawaban yang akan memuaskan hatinya.
“A- aku? Ah siapa bilang aku memikirkannya, mustahil.” Pria yang mendapat selaan seperti itu pun sontak membulatkan sepasang netranya. Tradisi selalu terbuka dan berbagi cerita pada Aisyah tidak bisa membuat ia mengerem kata-katanya sehingga hal yang seharusnya tidak ia ceritakan pun kini mencelos begitu saja dari bibirnya.
“Jangan berbohong. Apa kau menyukainya?”
Mati aku! Batin Fizhan.
...***...
Uhuk uhuk.
Seorang remaja berseragam SMA menepuk-nepuk dadanya yang mendadak sesak. Dia memang berada persis di belakang angkutan umum, tapi sepertinya kendaraan itu tidak mengeluarkan asap yang begitu banyak. Lagipula saban hari tradisi Irene memang menelan asap, jadi apa mungkin dia tersedak-sedak hanya karena hal biasa ini?
“Aduh manusia mana yang sedang menceritakanku uhuk uhuk.”
“Dadaku sesak sekali.”
Irene memperlambat laju kuda terbangnya seketika. Ia tidak ingin peristiwa di mana ia nyaris menabrak tukang sate beberapa hari lalu terulang kembali. Saat ini kendaraan berada pada kecepatan di bawah rata-rata namun masih mampu menjangkau angkutan umum berkelir kuning yang sedari tadi diikutinya.
...***...
“Jaga mulutmu Aisyah. Mana mungkin aku menyukai seorang gadis yang baru saja kukenal.” Fizhan menyela tidak terima.
Entahlah. Sebenarnya dia juga bingung dengan kondisi ini. Seumur-umur belum pernah ada wanita mana pun yang tercantel di hatinya. Namun pada saat seorang perempuan bermata hazel mulai masuk ke kehidupannya seperti ada sesuatu yang berbeda di sana. Setiap kali berpapasan dengan dara itu desiran darahnya menjadi lebih deras. Apa ini yang dinamakan cinta? Ah sepertinya tidak! Mana mungkin Fizhan bisa menaruh hati kepada seorang gadis brutal seperti Irene.
“Astagfirullah jaga pikiranmu Zhan.” Fizhan berkata pada dirinya sendiri.
Kendaraan terus melaju membelah keriuhan Kota Medan. Lima belas menit telah berlalu, tidak ada percakapan apapun lagi antara Fizhan maupun Aisyah hingga pada akhirnya angkot yang mereka tumpangi berhenti di depan gang yang bersebelahan dengan sebuah ruko kelontong.
__ADS_1
“Duluan ya.” Seorang wanita berkerudung putih menepuk-nepuk bahu pria yang berada di sebelahnya. Kemudian gadis itu pun turun dan beringsut masuk ke sebuah gang kecil yang di dalamnya terdapat jejeran rumah-rumah warga.
Irene yang masih setia membuntuti kendaraan beroda empat itu pun juga berhenti dan memandang betul-betul ke rumah mana si wanita yang saat ini sedang berjalan di sebuah gang itu berlabuh.
“Apa itu rumahnya?” Batin Irene takkala melihat Aisyah memasuki sebuah gedung berwarna putih dan besi hitam sebagai pagarnya.
...***...
Matahari kian bergeser ke arah kanan dan bumi masih terasa sangat panas namun tidak sepanas pukul dua belas tepat tadi. Ester menyesap sebuah botol yang berisi cairan berwarna kuning, uhh segar sekali rasanya ketika air itu mengaliri tenggorokannya.
“Apa kau memiliki sahabat wanita?” Pertanyaan dari seorang pria yang berada di sebelahnya membuat ia sedikit tersedak.
“Uhuuk.”
“Ehm ada.” Ester menjawab.
“Siapa namanya?”
“Irene Natalia, dia sahabatku sejak kecil.”
“Ohya?”
“Iya. Kau tahu? Hampir semua orang mengibaratkan kami seperti pulut dengan intinya.”
“Mengapa begitu? Bisa kau ceritakan asal mulanya?”
Dengan gamblangnya Ester menceritakan semua kisah tentang dirinya dan Irene. Mulai dari ibu Irene yang meninggal sehingga mereka menjadi teman dekat sampai semua kebrutalan yang pernah mereka lakukan bersama pun juga ia ceritakan.
Alan mendengarkan cicitan kekasihnya itu dengan antusias, nampak sekali dari sorot matanya yang berbinar-binar menatap Ester.
“Sam. Aku membawakan kabar terbaru lagi untukmu.” Alan bergeming di dalam hati.
Apa tadi katanya?
Sam?
Sam mana? Pria berjambang lebat itu?
...***...
Bersambung
Comment, like & vote guys:)
Dukungan kalian semangat buat aku
Sehat selalu yaaa🤗
__ADS_1