AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 14


__ADS_3

Matahari mulai bergeser dari pusat menuju Barat. Gersang. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun untuk beberapa hari ke depan. Rutinitas burung-burung gereja yang biasa bergelantungan di depan pohon mangga perkarangan sekolah pun telah vakum sejak empat hari belakangan ini. Orang-orang mulai menggerutu mengingat hujan yang tak kunjung jatuh dari atas langit.


Begitulah manusia! Panas sedikit saja sudah mengeluh, hujan sedikit saja sudah kebingungan takut banjir. Serba salah. Andai mereka dapat bersyukur sedikit saja, pasti hal-hal kecil semacam ini tak akan terasa sebagai beban.


Begitulah yang saat ini tengah terjadi pada gadis berkuncir tinggi yang sedang berputar-putar di dalam kelas. Ia mengibas-ngibaskan tangannya ke area wajah, mulutnya komat kamit menuturkan keluhan demi keluhan.


“Aduh panas banget ini sumpah.”


“Kok ga mempan juga ya dua gelas es yang aku minum tadi.”


“Gimana kalo aku masuk neraka nanti ya? Pasti lebih panas nih.”


“Astaga Tuhaaaan! Ga tahan aku tuh.”


“Astagfirullah Irene. Kamu kenapa teriak-teriak sih? Syukuri aja apa yang ada Re.” Suara seorang wanita terdengar menginterupsi dari penjuru kanan. Irene menoleh mencari sumber suara.


Oh itu Fatimah.


Gadis berparas teduh dengan balutan kerudung putih itu geleng-geleng kepala sesaat sebelumnya menyaksikan kelakuan Irene yang tidak memiliki rasa syukur itu. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama, panas. Namun sebagai manusia yang sudah diberi banyak kenikmatan oleh Allah Swt. hal seperti ini lantas tak menjadi alasannya untuk mengeluh. Malah sebaliknya, ia senantiasa merasa bersyukur atas rasa panas yang masih bisa ia nikmati di hari ini. Bagaimana dengan mereka-mereka yang terbaring di rumah sakit? Jangankan menikmati teriknya mentari, untuk menghirup udara dengan bebas sajapun mereka sudah susah. Subhanallah, semoga Irene suatu saat akan menjadi para penganut rasa syukur terhadap apapun yang telah dianugerahi Tuhan kepada dirinya.


“Memangnya kamu ga ngerasain panas apa?” Tanya Irene yang saat ini memilih duduk berhadapan dengan Fatimah.


“Bersyukur dalam setiap keadaan Re.”


“Hmmm.”


Bisa-bisanya ia tidak mengeluh dalam situasi seperti ini, batin Irene. Fatimah tidak berkata apapun lagi. Ia tengah fokus memantengi layar pipih seraya mesem-mesem sendiri. Entah sebab apa yang menjadikannya seperti itu.


“Kenapa kamu?” Tanya irene yang mulai penasaran dengan deretan huruf yang bersumber dari ponsel Fatimah. Gadis itu tersimpul girang menampakkan barisan giginya yang tertata rapi.


“Aku mau ketemu F- Astagfirullah.” Fatimah tersontak kaget. Hampir saja ia membocorkan penyebab kebahagiaannya di hari ini. Tapi dari beberapa kata yang telah disebutkannya barusan, sepertinya ia akan bertemu dengan seseorang. Entahlah, hanya dia yang tahu.


“Hah? Apa? Yang jelas dong kalau ngomong.”


“Engg- engga Re. Maksudku aku mau ada acara sore nanti bareng anak-anak pengajian.”


“Kamu guru ngaji?”


“Iya. Cuman kali ini lagi ada acara bareng anak-anak dari pengajian lain.”


“Oh meet and great ya?”

__ADS_1


“Sejenis itulah. By the way, kemana Ester?”


“Tau ah!” Irene tampak kesal mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Fatimah. Ester sedang tidak masuk hari ini, juga tidak memberi kabar pada Irene. Mungkin gadis itu masih kesal karena telponnya yang tidak diangkat oleh sahabatnya sendiri. Ah! Ester lebay sekali. Siapa dia bisa mendikte seseorang untuk harus selalu menjawab panggilannya?


“Re, ada yang nyariin tuh.” Suara dari arah lain membuat Irene dan Fatimah menoleh bersamaan. Itu Aldi, teman sekelas mereka juga. Ia melenggang mendekati meja yang saat ini tengah ditumpangi oleh Irene dan juga Fatimah.


“Siapa?”


“Katanya dari anak IPS. Liat gih sana.”


Penasaran siapa gerangan yang mencarinya siang bolong begini, Irene pun mengambil langkah menuju pintu kelas kemudian mencari keberadaan orang tersebut. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan sesaat setelah menyembulkan diri ke area beranda kelas. Tidak ada siapa-siapa. Ia merasa dipermainkan oleh Aldi.


“Hei.”


Deg!


Suara itu sangat familiar ditelinga Irene. Tanpa berpikir panjang ia sudah dapat menebak sosok siapa yang mecarinya sedari tadi.


Sial!


Tumben-tumbenan pria itu menemuinya pada jam istirahat. Mau apa dia? Irene berbalik badan dengan perlahan. Ternyata orang yang mencarinya sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi hanya saja Irene tidak melihatnya saat berjalan menuju teras kelas. Pantas saja ketika ia menyapu pandangan ke seluruh bagian depan ia tidak menemui sosok itu.


“Pergi atau aku akan teriak!” Setiap manusia normalnya bisa mengendalikan emosi dalam keadaan apapun. Namun berbeda dengan gadis yang satu ini. Jangankan melihat orangnya, mendengar namanya saja pun ia merasa sudah seperti kebakaran jenggot.


“Tenang. Aku tak akan menyakitimu sayang.”


“Jadi sesudah kekerasan apa yang kau lakukan pada ku malam itu, kau masih berani menampakkan wajah?” Rahang Irene mengeras, mukanya merah padam tersulut emosi. Sam memang pria gila. Ia memperlakukan Irene bak ratu, namun sesekali ia bisa berubah menjadi ular besar yang siap menyantap seekor tikus yang tak berdaya. Psikopat.


“Bisa ikut sebentar?”


“No!”


“Aku mohon. Aku ga akan sakiti kamu Re.”


“Kamu kira aku bakal percaya gitu aja?”


“Eh kalian tau ga kalau Irene ini mant-“


“Eh eh apa-apaan kamu!”


Sam nekat. Ia memekik banter agar suaranya dapat didengar oleh semua orang. Ini adalah bagian dari akal-akalannya saja agar Irene segera manut. Namun beberapa pasang mata sempat mendengar penuturan dari Sam barusan tadi.

__ADS_1


“Lanjutin dong bro.”


“Nanggung. Mau ngomong apa tadi?”


“Jangan digantung dong.”


Semua anak-anak yang melintas dari beranda kelas mendadak riuh tak beraturan. Mereka menebak bahwa lelaki yang saat ini sedang bersitatap dengan Irene akan menembaknya di depan umum.


Muka Irene merah padam. Ia mencengkram tangannya kuat-kuat. Ingin sekali rasanya gadis itu menonjok wajah Sam yang tidak tahu malu.


“Fuck! Yaudah ayok.” Geram Irene kemudian menarik langkah menuju gedung belakang.


Sam tersenyum puas. Mengumumkan bahwa Irene adalah mantan kekasihnya akan menjadi umpan yang suaktu-waktu dapat ia lakukan kembali agar Irene menuruti permintaanya. Sebenarnya bukan perihal siapa yang menjadi mantan Irene, namun hal apa yang pernah Irene lakukan pada mantannya itulah yang saat ini tengah ditutup rapat oleh gadis itu.


“To the point!” Bentak Irene setelah mereka sampai di pelataran buntut sekolah.


“Aku kangen banget sama kamu Re.”


“What!”


“Jadi kamu jauh-jauh ajak aku kesini cuman buat ngomongin sesuatu yang ga penting? Gila ya sumpah!”


“Tapi bagiku itu penting banget Re. Mmmm aku juga minta maaf ya sama kejadian malam lalu. Aku nyesel banget. Pasti kamu kesakitan ya?”


“Damn Sam! Kamu masih nanya itu sakit atau engga? Jangan bodoh!”


...***...


*Bersambung


Comment & vote guys


Dukungan kalian semangat buat aku


Sehat selalu yaaaa🤗


BTW


Dilirik juga ceritaku "CHEVANI" di novel sebelah yaaa


Ceritanya ga kalah seru loh

__ADS_1


See u


😚*


__ADS_2