
“Seharusnya tadi malam aku di rumah aja. Nyesel banget aku keluar tanpa kamu nyuk.” Irene bergidik ngeri. Ia menceritakan kejadian tadi malam pada Ester. Joinnya itu memang sedang tidak bisa menyertainya di bar karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan.
Jarum jam mematok pada angka dua sore, yang berarti matahari sedang gencarnya menerjunkan sinar tepat di atas permukaan kulit. Ruang kelas terasa senyap setelah bel pulang berdentang dari 30 menit yang lalu, hanya menyisakan dua sejoli itu dan detikan jarum jam yang tercantel di atas dinding.
“Aku bilang juga apa, kamu sih ga nurut. Udah ah pulang yuk, laper nih.” Celetuk Ester yang berakhir pada rengekan pulang. Ia sudah cukup puas menjadi pendengar budiman untuk kicauan Irene sore hari ini. Perutnya kerucukan, pertanda cacing putih sedang menuntut jatah nasinya.
“Ih lagi asik juga, yaudadeh.” Irene menghentak sebal seraya memanyunkan bibir tipisnya. Keduanya beranjak pergi setelah menutup rapat pintu kelas XII IPA II. Selama Antonius berada di Bandung, Irene memang selalu pulang berbarengan dengan Ester. Ini juga tidak luput dari perintah Antonius kepada putri tunggalnya itu, jika tidak Irene pasti lebih memilih untuk mengendarai motornya yang sudah ngangkrak di bengkel mas Ari.
“Udah belum?” Tanya Ester yang kini sudah mengambil ancang-ancang menancap gas motornya untuk keluar dari kawasan sekolah. Keduanya saling melayangkan pandangan ke penjuru lokasi parkir yang terasa lengang, tidak ada seorangpun di sana kecuali mas Jito, satpam sekolah yang bertugas hari ini.
Irene mengangguk dehem pertanda iya. Bokongnya sudah mendarat apik di atas jok motor.
Tiba-tiba.
“Tunggu!” Seorang pria bertubuh besar muncul dari tembok belakang parkiran sekolah. Ia berlari kecil seraya menodongkan jari telunjuknya tepat mengarah Irene.
Keduanya tercengang melihat kemunculan pria itu yang tanpa tanda-tanda. Ester berusaha menarik gas motornya, namun terlambat. Lelaki itu lebih dulu menjambak tangan Irene hingga terpental dari tempat duduknya.
“Sam! Apa-apaan kamu!” Teriak Ester yang kini mulai tersulut emosi. Giginya merapat tanpa celah, bersamaan dengan tangannya yang mengepal di atas kedua paha.
Sam tidak menggubris jeritan Ester. Ia hanya fokus membangkitkan tubuh Irene yang kini terduduk di bidang tanah, lalu menariknya ke halaman buntut sekolah.
“Shut up!” Teriaknya dari kejauhan sesudah ia sukses menggeret Irene untuk menjauh dari sana. Gadis itu tampak pasrah, ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda perizinan pada Ester.
Sam tampaak mengulum senyum setelah menyaksikan ringisan Irene yang tengah bersandar pada tembok putih. Ia memajukan langkahnya hingga membuat jaraknya dengan gadis itu hanya terpaut beberapa centi meter.
“Well gadis manja! Kamu itu gabisa diperlakuin secara lembut. So, jangan salahin aku kalau mulai sekarang aku gunain cara kasar ke kamu!” Bisik Samuel lirih pada telinga kanan Irene seraya menjepitkan jari besarnya membungkus dagu gadis itu. Irene terpatung . Ia kehilangan tenaga untuk menjorokkan tubuh Samuel ke belakang.
“Aku ga pernah cinta sama kamu, cih!” Umpatnya kasar. Ia melabuhkan cairan berbuih tepat di permukaan pipi kiri Sam.
“Irene Natalia, ternyata kamu belum berubah juga ya!” Kata Sam dengan nada melece, ia mengusap jijik air liur Irene yang mulai mengalir ke area dagunya. Wajah sam memerah padam, ia menatap tajam mata Irene yang kini mulai menjatuhkan titik air.
“Well girl. Kalo kamu masih kaya gini, jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti rahasia kamu terbongkar, holy shit!” Ancam Sam yang kini mulai menjauhkan jaraknya dari Irene.
Seketika mata Irene mendelik sempurna, ia tercengang dengan mimik yang sangat gampang untuk ditebak. Tubuhnya limbung, ia berusaha sekuat mungkin menetralisir darahnya yang sudah mengepul di wilayah mercu kepala.
__ADS_1
Rahasia itu.
Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali mereka berdua dan Ester, sahabatnya.
Irene benar-benar terjepit dalam situasi berat. Ia sangat menyesal telah mamasukkan Samuel ke dalam bagian hidupnya.
Sam kembali
Ia kembali dengan perangai singa yang tak pernah ditunjukkannya kepada Irene sedari dulu.
Gadis itu benar-benar kacau, kepalanya nyaris meletus memikirkan ancaman Sam.
Bagimana jika Sam benar-benar akan membocorkan rahasia itu?
Bagaimana jika Antonius tahu tentang masa lalu Irene?
Bagaimana jika masa depan Irene akan hancur atas perbuatannya?
Bagaimana?
...***...
“Re, kamu dimana?” Suara seorang dara merebak dari sisi tembok bagian kiri disertai dengan ketukan kaki yang melanglang di atas serakan papan bangunan sekolah. Hentakan itu kian kentara hingga mengekspos raut seseorang yang memampang mimik awas.
“Ester.”
Buru-buru Irene menghapus luruhan biji-biji kristal yang mengairi pipi bulatnya. Jawaban demi jawaban telah berkelebat di dalam kepalanya, ia tahu jika Ester akan menodonginya dengan 1001 pertanyaan.
“Re, are you okay?” Ester membeliak kaget takkala mendapati tubuh konconya yang limbung tersender pada tembok sekolah. Mata gadis itu tampak sembab, juga wajahnya yang memerah seperti tomat.
“I’m fine. Udah yuk kita pulang.” Sahut Irene yang sepertinya tidak ingin membahas lebih dalam.
“Kemana Sam? Apa yang udah dia lakuin ke kamu Re?” Ester memanjangkan lehernya mengedari seluruh kawasan buntut sekolah, ia benar-benar akan mengutuk Sam bila sesuatu yang buruk terjadi pada sahibnya itu.
“Dia udah aku usir.” Bohongnya seraya menarik tangan Ester menuju area parkir. Nafasnya masih memburu, dan wanita ini tahu jika Irene tengah menutupi sesuatu dari dirinya.
__ADS_1
“Tapi Re-“
“Everything is okay.” Kalimat terakhir itu sukses mengunci mulut Ester yang sebenarnya masih ingin berkicau lebih panjang lagi. Irene semakin melajukan langkahnya hingga mereka sampai di tempat dimana Sam menarik paksanya hingga tersungkur ke atas tanah.
Keduanya berbalas bungkam. Tidak ada yang menyelak percakapan hingga roda motor itu melintas tepat di depan bangunan besar berdasar hijau.
Deg.
“Apa!”
Seketika keringat dingin mulai berhimpun di seputaran pelipisnya saat melihat sepasang manusia yang saling menarik garis bibir di tepi trotoar. Di depan gedung itu mereka berjeda, membagi sobekan roti yang diberi oleh sang lelaki.
Sekujur bagian tubuhnya terasa kelu, berat, tak mampu dikendalikan, bahkan untuk sekedar memegang dadanya yang berdegub kencangpun ia tak mampu lagi. Saat itu juga kedamaian yang diharapkannya atas kejadian tadi semakin nihil. Darahnya serasa mandek mengalir, panasnya pemandangan itu menggencet erat jantungnya yang seakan tertindih batu uluru, otaknya memasok intruksi lain: jangan hiraukan, siapa dia dalam hidupmu?
“Fizhan.”
“Dan perempuan itu.”
“Jadi mereka benar-benar."
Seluruh indranya terasa berhenti saat merasakan sugesti otaknya yang tidak dapat berfikir jernih. Seperti dirajam dengan belati, hatinya tercabik hingga tak bersisa meskipun hanya cuilan keping.
“Turunin aku Nyuk.” Pekiknya di tengah keramaian yang pada akhirnya membuat Ester terkejut dan berhenti secara mendadak.
“Hah! A-apa maksud-“
“Aku bisa pulang sendiri. Kamu jangan khawatir.” Tidak ingin mendengar perkataan Ester lebih lama lagi, gadis itu langsung melompat begitu saja dari tempat duduknya. Ia berlari, menujukan diri ke arah gedung hijau itu seraya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
***
Bersambung
Comment and vote ya guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1