AKU KAU DAN ISLAM

AKU KAU DAN ISLAM
BAB 36


__ADS_3

Pukul empat tepat.


Seperti biasa di kediaman seorang gadis bermata hazel. Sore ini akan menjadi first time baginya untuk menyemplungkan diri ke dalam sebuah gedung berkubah silver. Jedag jedug di dalam hati itu sudah pasti ada, karena dirinya belum mengetahui sesuatu apa yang akan ia dengar dan lakukan di sana.


Irene membalutkan sebuah kain moca pada bagian kepalanya. Ajaran Fizhan waktu itu benar-benar manjur karena saat ini ia sudah bisa memakai kerudung dengan apik tanpa harus compang camping seperti yang lalu-lalu.


Setelah semua selesai gadis itu beringsut ke bawah untuk mengambil maticnya di dalam garasi. Namun sebelum itu ia menuliskan deretan huruf di kertas dan meletakkannya di atas nakas kecil yang berada di ruang tamu. Kertas itu berisi pesan perizinan pada papanya yang kemungkinan akan tiba sebelum ia kembali ke rumah ini. Sebenarnya Irene tidak tega meninggalkan rumah sebelum kepulangan Antonius, namun mau bagaimana lagi? Dara itu juga akan merasa sungkan bila tidak mengindahkan ajakan Fizhan.


Tak butuh waktu lama, Irene telah tiba di sebuah gedung belau tempat biasa ia belajar mengaji. Bocah-bocah yang lain juga sudah berkumpul di sana bersama Fizhan. Kini mereka sudah siap untuk berangkat ke mesjid yang letaknya ada di seberang jalan.


Satu hal yang menarik perhatian Irene, lelaki yang biasa dilihatnya itu tampak sangat berbeda hari ini. Kupluk putih yang dililit oleh sorban berwarna senada dan baju koko yang dipadu dengan sarung serta parasnya yang teduh membuat ia terlihat bak pangeran syurga.


“Mari.” Yang dibatinkan pun kini angkat suara.


Kesemuanya melangkah kan kaki menuju mesjid. Anak-anak tampak sedikit gugup saat menyebrangi jalan yang dipenuhi oleh kendaraan lain. Fizhan memboyong mereka dari arah kanan dan Irene di sebelah kirinya. Mereka tampak seperti sepasang suami istri yang tidak mengikuti program KB alias banyak anak.


“Yeay berhasil!” Mereka bersorai kegirangan seraya mengepalkan tangan membidik udara takkala telah sukses menjejakkan kaki di halaman mesjid.


Fizhan memerintahkan kepada anak-anak itu untuk segera masuk ke dalamnya karena acara akan dimulai. Di dalam sana juga tampak beberapa remaja mesjid yang sudah duduk apik dan siap mendengarkan materi yang akan disampaikan oleh sang penceramah.


Irene memasuki zona bersajadah merah tersebut. Jantungnya berpacu lebih kencang, sesekali ia membuang napas kasar untuk menetralkan kembali deguban organ yang tersemat di balik dadanya itu.


Setelah dirasa sudah aman dan tidak ada lagi yang berkeliaran di pelataran masjid, sang MC membuka acara mereka dengan salam kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an dan do’a.


Di sudut sana Irene hanya bisa mendengarkan hikmat apa-apa saja yang menjadi rundown acara mereka pada hari ini. Sebenarnya ia juga tidak tahu arti dari keseluruhan bahasa yang masih asing di telanginya itu, namun sebagai bentuk penghargaan ia menyimak khusyuk meskipun masih diliputi oleh rasa ketidaktahuan.


Ketika memasuki acara pokok, sang MC meminta si penceramah untuk segera mengambil posisi di depan. Namun betapa terkejutnya dia saat mendapati siapa sosok yang saat ini muncul di hadapan mereka.


Fizhan.


Lelaki itu meraih sebuah mikropon dari tangan sang MC kemudian mulai menyampaikan isi materi yang didahului oleh lafaz salam.

__ADS_1


Irene benar-benar tidak menyangka. Pantas saja penampilan pria itu sangat berbeda, ternyata dia adalah sang penceramahnya. Huft! Kenapa tidak dari kemarin saja Fizhan memberitahunya? Kalau begitukan dia bisa bertanya hal-hal yang lebih jauh lagi tentang kegiatan ini.


...***...


“Hello baby. Kau sedang berada di mana?” Alan menyesap batang rokoknya di dalam kamar. Tangannya menggenggam sebuah benda pipih persegi panjang.


“Aku sedang di rumah. Ada apa?” Suara seorang wanita menyahut dari seberang sana.


“Bagaimana jika malam ini kita jalan-jalan?”


“Kemana?”


“Ke mana saja asalkan kita bersama.”


“Eum.” Ester memutar bola matanya ke atas. “Maaf Alan tapi aku sedang tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Irene?”


“Ya.”


“Apa tidak bisa ditunda saja? Ah aku sangat merindukanmu manis.”


“Aku ada undangan makan malam untuk menyambut kepulangan papa Irene dari Bandung dan mana mungkin aku menolaknya. Kuharap kau mengerti ya.”


“Oh baiklah honey. Kalau begitu besok saja ya.”


“Iya.”


Alan memutuskan sambungan telponnya. Sebenarnya pria itu sedang merencanakan sesuatu. Dia akan mengajak kekasihnya itu keluar dan membuat rencana agar mereka tak bisa pulang pada malam itu juga, dengan begitu mau tidak mau Ester harus ikut tidur dengannya di suatu tempat.

__ADS_1


Alan bukanlah orang berada, maka dari itu dia harus melakukan apapun demi mendapatkan rupiah untuk menghidupi diri. Dan tugas dari Sam ini telah membuat pria beralis tebal itu memiliki uang dalam jumlah banyak. Bagaimana tidak? Ia menjalankan suatu misi dari seorang anak pengusaha kaya raya di Kota Medan. Setip informsi yang disampaikannya pada si bos, pasti Alan selalu mendapatkan imbalannya.


Alan mengedarkan pandangan ke seantero kamar. Otaknya sedang mencari cara terbaik untuk bisa mengelabui Ester.


...***...


“Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. Orang tersebut berkata “Apakah mungkin orang Mukmin itu pelit?” Dan Rasul menjawab; “Mungkin saja.” Kemudian sahabat bertanya kembali “Apakah mungkin orang Mukim itu pengecut?” Nabi menjawab; “Mungkin saja.” Dan sahabat pun bertanya untuk yang ketiga kali; “Apakah mungkin orang Mukmin itu berbohong?” Maka Rasullullah SAW. pun menjawab; “tidak.” (HR Imam Malik dalam Kitab Almuwathaa).” Hadirin yang dirahmati Allah. Hadits tersebut mengajarkan kepada kita untuk berkata jujur. Karena kejujuran adalah semua pangkal kebaikan manusia. Tidak ada ucapan dan perbuatan selain kejujuran, oleh karenanya Allah SWT. memerintahkan kepada setiap umat Muslin agar selalu benar dalam perkataan dan tindakannya.” Fizhan menjelaskan panjang kali lebar.


Irene terpaku, bagaimana mungkin materi yang Fizhan sampaikan sesuai dengan kondisinya saat ini? Irene bukanlah orang yang jujur. Bahkan saat ini gadis itu pun tengah memainkan sandiwaranya sebagai seorang wanita Muslimah gadungan.


Bagaimana jika suatu saat Fizhan mengetahui kedoknya?


Apa laki-laki itu akan marah kemudian pergi menjauhi dirinya?


Atau mungkin dia akan dengan legowo menerima kebusukan Irene?


Huft! Sederet pertanyaan bergelayut di dalam otak Irene. Ia sungguh takut kalau-kalau rahasia ini akan terbongkar. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga tak mungkin berbicara sekarang pada Fizhan. Gadis itu sungguh tak sanggup menerima konsekuensi dari kesalahan yang ia ciptakan sendiri.


Namun di sisi lain Irene juga tidak memungkiri bahwa ada rasa kagum yang kian bertambah darinya pada sosok Fizhan. Sedari tadi gadis itu memperhatikan sang pemateri menyampaikan isi pidatonya dengan sangat lancar dan jelas. Bahkan Irene yang baru pertama kali mendapat ilmu seperti ini pun langsung mengerti apa makna dari yang si pembicara sampaikan di depan.


“Aku memang tidak mengetahui ayat-ayat yang disampaikan oleh Fizhan bahkan sosok yang ia katakan sebagai Nabi atau pun sahabat itu aku juga tidak tahu. Namun dari sisi lain aku juga dapat menangkap bahwa kejujuran itu adalah pondasi utama dalam perbuatan. Ah Fizhan! Kenapa aku jadi kagum begini sih.” Irene bergeming dalam hati. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk huruf U


...***...


Bersambung


Like, comment & vote


Mampir juga di SUAMI KITA BERSAMA ya guys :)


Semoga kalian sehat selalu 🤗

__ADS_1


__ADS_2