
“Jaga dirimu baik-baik di sana ya Re. Selalu laksanakan sholat lima waktu dan jangan lupa mengaji. Kami di sini selalu mendo’akan yang terbaik. Semoga kuliahmu selalu lancar dan kembali ke sini dengan sebuah gelar,” Fizhan berkata panjang lebar yang langsung disusul oleh Aisyah.
“Kalau sudah dapat teman baru di sana, jangan pernah lupakan kami ya. Sering-seringlah melihat kami di sini,”
“Hei tapi aku ti-“
“Kuharap kau bisa membeli buku-buku keagamaan tanpa aku ya. Kalau bingung, tinggal kontak saja nomorku,” Fizhan kembali memotong sebelum Irene selesai berbicara.
“Iya tapi a-“
“Aku sama Fizhan selalu merindukanmu,” Aisyah kembali menimpali, kemudian langsung mengahamburkan diri memeluk tubuh Irene. Wanita itu membalas rengkuhan tersebut sama erat, namun setelahnya ia kembali bersuara.
“Dengan dulu apa ka-“
“Iya iya, kami tahu bahwa kau akan merindukan kami. Begitu pun kami yang akan selalu merindukanmu,”
“Ah, sepi sekali rasanya tanpa hadirmu di gazebo kita lagi Re. Anak-anak pasti pada kecarian dengan kakak-kakak yang saban harinya selalu tersenyum ramah pada mereka,”
“Iya, ketika aku datang ke rumah ini. Pasti aku tak akan menemukan siapapun lagi kecuali kakakku sen-“
“TEMAN-TEMAN DENGARKAN AKU DULU!”
Hening.
Teriakan maut Irene spontan membungkam dua mulut manusia yang sedari tadi tiada henti-hentinya mengoceh panjang. Irene memanjangkan lehernya seraya berkacak pinggang, urat biru begitu kentara di plipis itu.
“Aku tidak jadi pindah rumah,”
“APA?”
...***...
Bep bep bep.
Getaran ponsel membuat Ester sontak melirik ke meja nakas di sebelah kirinya. Spontan kedua alisnya saling tertaut mendapat nomor tak dikenal muncul di atas sana.
“Halo, dengan siapa?” tanyaya ingin memastikan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, suara besar khas pria terdengar dari seberang ”Benarkah ini kontak Ester?”
“Iya, saya sendiri. Ini siapa dan ada apa ya?” lagi-lagi garis tegak lurus itu saling berjumpa.
“Bisa kita bertemu sekarang di taman Teladan?” kata penculik langsung muncul di kepala Irene. Orang mana yang tanpa memperkenalkan diri langsung minta bertatap muka?
“Maaf saya tidak mengenal anda,”
Hampir saja Ester mematikan nomor telponnya, namun perkataan pria asing itu membuatnya terperanjat.
“Ini tentang Alan. Kita bertemu dan aku bukan orang jahat,”
Setelah itu tak ada lagi suara yang terdengar. Ester bahkan sampai mengecek kembali layar ponselnya yang ternyata sudah tidak ada lagi nomor baru itu di depan. Fix, berarti sudah dimatikan secara sepihak.
Ada apa lagi ini? Apa Alan kembali membuat ulah? Pikiran Ester berkelebat ke mana-mana.
Mungkin jika topiknya tentang hal lain, ia tak akan sudi menemui seseorang yang sampai detik ini pun tidak diketahui siapa namanya. Namun karena semua ini menyangkut Alan, maka mau tak mau dia harus ikut andil demi mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Siapa tahu memang sedang ada informasi yang penting.
Seperti saat ini, dia telah berada di sebuah bangku panjang guna menantikan kehadiran sosok penelpon misterius tadi. Perasaannya tidak enak, apakah telah terjadi sesuatu dengan tajuk hatinya itu?
“Ester?” sebuah bariton besar membuat kepalanya mendongak ke arah atas. Pria dengan jaket jeans dan rambut gondrong membuat matanya membeliak kunci.
“Sudah lama?” tanya pria itu memulai obrolan.
“Belum. To the point saja,” Ester memindai tatapannya ke penjuru arah. Kalau siang begini taman memang masih sunyi, takut kalau-kalau ternyata lelaki tegap ini adalah sekawanan penculik yang sengaja menjebaknya.
“Oke baiklah baiklah,” pria yang kelihatannya menyadari bahwa Ester mulai tidak nyaman langsung saja mengatakan maksud dari pertemuan mereka.
“Alan hanya memperalatmu demi sebuah uang,” sebuah kalimat yang sempat membuat netra Ester membulat sementara. Setelahnya ia tersenyum miring.
“Jangan mencoba mengelabuiku. Bahkan untuk mengatakan hal ini pun kau tidak memperkenalkan diri hahaha,” sindiran Ester membuat lelaki gondrong itu menarik napas dalam.
“Aku Dian, teman satu base camp Alan. Kemarin aku tak sengaja mendegar bahwa ia sengaja memperalatmu untuk melancarkan misi dari Sam,”
Ester diam sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan pembicaraan. “Misi apa?” kelihatannya wanita itu mulai tertarik untuk membahas hal ini.
“Tidak ada waktu lagi. Ayo!” tiba-tiba saja seoang pria yang lain datang entah dari mana dan langsung menarik lengan Dian hingga lelaki itu terikut. Ketegangan di antara mereka jadi pecah, Dian pun sepertinya tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
“Aku akan menghubungimu kembali setelah urusanku selesai,” Ester membuang napas kasar, frustasi. Padahal dirinya sudah tidak sabar untuk menunggu kebenaran yang akan disampaikan oleh lelaki asing itu.
Dian mengenal Alan dan juga Sam. Itu tandanya memang benar kalau pria itu adalah teman dari kekasihnya sendiri. Lalu bagaimana dengan perkataannya tadi?
Gemuruh hebat mulai merambat di dalam dada Ester. Perasaannya jadi tak tenang, wajah Alan membayang-bayang. Benarkah ia sekeji itu? Ah, rasaya Ester sudah tidak sabar untuk bertemu Dian lagi guna memastikan semua ucapannya barusan.
...***...
“Jika tahu begini aku tak akan berbicara panjang lebar tadi,” baru kali ini Fizhan memasang muka masam. Agak sedikit salah tingkah juga pastinya.
Irene baru saja selesai menceritakan penyebab ia tidak jadi pindah rumah. Berbeda dengan Fizhan yang kelihatannya agak sedikit kesal, Aisyah malah terpingkal-pingkal mendengar kabar itu dari Irene. Ah, lebih tepatnya ia menertawakan wajah kakanya sendiri yang sudat kusut seperti pakaian belum disetrika.
“Siapa yang punya ide seperti ini?” Irene memandangi kotak persegi panjang yang tergenggam di tangannya. Kedua sudut bibir mungilnya tersimpul membentuk huruf U.
“Fizhan,” Aisyah menjawab cepat.
Mendengarnya, Irene jadi senang bukan kepalang. Tidak sangka bila pria itu akan seperduli ini. Meskipun dia belum tahu isinya, namun Irene tidak memandang itu semua. Melainkan keikhlasan hati dan sebuah perhatian lah yang ia pertimbangkan.
“Shhhhht,” yang mendapat perlakuan seperti itu pun sontak menutup mulut adiknya sendiri menggunakan telapak tangan. Rona merah terlukis di wajah.
“Hahahaha,” tawa Irene pecah. Betapa baiknya Sang Pencipta yang telah mengirimkan sahabat seperti mereka. Meskipun Ester tak lagi membersamainya, setidaknya hatinya tak terlalu kosong karena sudah ada Aisyah dan Fizhan di dalam sana.
“Huh, ketawamu jelek,” pria itu mengusap wajahnya kasar. Rasa malu yang luar biasa meliputinya kali ini. Andai saja dia punya jurus untuk menghilang, pasti lah sudah ia lakukan sedari tadi.
“Oke baiklah,” baals Irene seraya menggigit bibir bagian dalamnya, mencoba untuk tidak tertawa. Namun setelahnya, sebuah pertanyaan dari Aisyah membuat suasana riuh tadi berubah menjadi tegang lalu hening.
“Memangnya rumahmu di mana sih Re? Padahal aku ingin tahu sekali, tapi kau malah ke sini,”
...***...
Bersambung
Sebenarnya author agak kurang fit nih
Cuma karena gamau buat kalian para readers aku kecewa, sebisa mungkin aku usahain buat tetap update :)
Jangan lupa di like + comment nya ya
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu, okeh :)