
“Ya sudahlah terserah kau saja. Aku hanya mengikuti permainanmu dan yang penting selalu ada pelicin untukku.” Alan tersenyum licik seraya menepuk-nepuk bahu Sam kemudian berlalu dan pergi entah kemana.
Si jambang lebat itu benar-benar keterlaluan. Dia memanfaatkan kepolosan Ester demi mendapatkan cintanya yang hilang. Huh sebaiknya dia banyak-banyak berkaca dan sadar diri kalau Irene sudah tidak memiliki rasa apapun terhadapnya lagi.
Lagipula kan dia sudah ada Lyora. Bukannya mereka pacaran? Lalu untuk apa si pria licik itu mengejar-ngejar wanita lain lagi. Dasar buaya cih!
...***...
“Emmph eum.”
Pendar-pendar kuning kemerahan mulai menyeruak dan sukses menembus retina seorang gadis yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Gadis itu membuka matanya perlahan kemudian menangkap sebuah jam yang tercantel di atas dinding.
“Hooaaaam sudah jam setengah lima ternyata.” Irene bergegas turun kemudian beringsut ke toilet untuk membersihkan diri. Bahkan ia tidak teringat bahwa yang membungkus sekujur tubuhnya saat ini adalah seragam SMA.
Setelah selesai dengan urusannya di kamar kecil tersebut, Irene pun bergegas untuk segera menuju lemari dan mencari pakaian serta kerudung yang cocok untuknya di Rabu sore ini.
“Um sepertinya ini dan ini sangat manis.” Gemingnya seraya mengambil kulot hitam, kaos merah muda serta kerudung yang senada dengan bajunya.
Tidak ada selain kumpulan kulot dan beberapa kaos panjang yang cocok untuk dipakai saat mengaji. Pakaiannya memang banyak tapi kesemuanya kekurangan bahan dan tidak mungkin ia berpakaian seperti itu ke rumah Fizhan. Bisa-bisa lelaki itu mengusirnya dari sana.
Sebenarnya bisa saja ia membeli pakaian seperti gamis-gamis yang sering dipakai oleh bocah-bocah wanita di sana. Namun hatinya masih menolak, seumur hidupnya ia tak pernah memakai pakaian besar seperti itu.
“Okay let’s go.” Irene menutup pintu kamarnya kemudian beringsut ke lantai satu dan menuju garasi untuk mengambil maticnya di dalam sana.
...***...
“Halo, ada apa Del?” Seorang wanita tengah menempelkan sebuah benda pipih ditelinganya seraya menyetir mobil.
“Pacar kamu itu nanti mau kuliah di mana Ly?” Suara lembut seorang gadis terdengar dari seberang sana.
“Ya di sekitar sini aja sih. Mana mungkin dia mau ke luar kota.”
“Iya maksudku kampusnya.”
“Di Universitas A. Kenapa?”
“Kau serius?”
“Apa aku akan bercanda untuk hal yang meyangkut dengan kekasihku sendiri?”
“Oh Astaga Ly! Sepertinya kau harus membatalkan rencana studimu ke luar negri.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku mendapat info kalau Irene akan melanjutkan studinya di kampus yang sama dengan kampus pacarmu.”
Deg!
Lyora terkulai lemas tak percaya. Dela sang detektif Irene itu benar-benar membuatnya berpikir keras kali ini. Bagaimana mungkin Sam dan Irene akan berada di dalam satu kampus? Bisa-bisa semakin dekat saja mereka nanti, batin Lyora.
“Lalu bagaimana Del? Bahkan aku sudah berbicara pada daddy bahwa aku akan melanjutkan studi kedokteran di Australia.”
“Ajak saja pacarmu ke Australia.”
“Mana mungkin dia mau meninggalkan Kota Medan ini Del. Bahkan sebelum kau memberi saran ini aku sudah lebih dulu melakukannya.”
“Lalu bagaimana?”
“Hum entahlah, aku juga tidak tahu. Terimakasih atas informasinya.”
Tuuuuut.
Sambungan terputus.
Lyora tak habis pikir. Ia menebak-nebak bahwa antara Sam maupun Irene pasti ada yang ikut-ikutan untuk masuk ke dalam kampus yang sama.
...***...
“Hei.” Seorang gadis dengan balutan kerudung merah jambu mendadak muncul di depan gazebo. Ia menampilkan deretan gigi putih dan rapinya itu di sana.
Rumah Fizhan telah dipenuhi oleh suara bocah-bocah cilik yang sedang membaca ayat suci Al-qur’an. Irene terlambat lagi kali ini, tapi tak apalah selagi matahari masih terlihat.
“Sini.” Fizhan melambai ke arah Irene.
Gadis yang dimaksud pun segera beringsut ke gazebo dan mendaratkan apik bokongnya di sana. Ia duduk di sebelah anak perempuan yang usianya kurang lebih delapan tahun.
Irene memperhatikan hikmat setiap gerakan mulut unyil-unyil di sana. Ada sedikit rasa minder di hatinya melihat mereka bisa dengan lancarnya melafazkan Ayat-ayat suci Al-qur’an.
“Kamu mau belajar ngajinya kapan?” Suara Fizhan terdengar berbisik-bisik dari arah lain.
“Nanti saja setelah mereka pulang.”
Fizhan mengangguk tanda mengerti. Kemudian ia melanjutkan bacaannya bersama bocah-bocah itu hingga selesai.
__ADS_1
...***...
Argh! Kepalaku pusing sekali. Lyora berkali-kali memijat kepalanya sendiri. Rasa bahagianya setelah bertemu dan berbelanja dengan Sam tadi spontan hilang begitu saja.
Sam adalah murid baru di kelasnya sejak dua bulan yang lalu. Pada waktu itu Lyora kehabisan tinta pulpen dan lelaki berjambang lebat yang menyadari akan hal itu langsung meminjamkan pulpen miliknya pada Lyora. Sejak saat itu mereka mulai akrab dan lima hari setelahnya Sam menyatakan rasa cintanya pada Lyora. Gadis yang mendapati hal tersebut pun dengan terbuka hati menerima cinta Sam, hingga sampai sekarang hubungan mereka masih berjalan dengan baik.
Terakhir kali Lyora tidak sengaja mendapati Sam menarik tangan seorang gadis bermata hazel dan membawanya ke buntut sekolah. Ia tidak tahu persis apa yang sedang mereka bicarakan kala itu karena Lyora memantaunya dari kejauhan, namun yang pasti Sam seperti orang yang sedang memohon pada gadis itu untuk dikasihani.
“Aku harus bicara dengan Sam.” Lyora mengambil sebuah benda pipih kemudian menempelkannya di telinga.
...***...
“Alhamdulillah sudah selesai. Besok kita lanjut lagi yaaa.” Fizhan menutup mushafnya.
Pengajian telah usai dan anak-anak mulai beranjak pergi dari sana untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
“Azzam tunggu!” Teriak Fizhan takkala melihat bocah terakhir yang akan beranjak dari lokasi itu.
“Ada apa pak?” Azzam menoleh.
“Kamu bisa tunggu sekitar 30 menit lagi tidak?”
“Loh kenapa?” Kali ini Irene pula yang menyela dari arah lain.
“Tidak baik berduaan Re. Cukup lah kemarin.”
“Ya tapi kenapa harus sama anak itu? Ck!” Irene berdecak kesal. Ia tahu betul bagaimana sikap si gendut itu pada dirinya. Pasti banyak cibiran yang dilayangkan oleh Azzam apabila mengetahui bahwa Irene tidak pandai mengaji.
“Di antara semua anak-anak itu, Azzam adalah orang yang rumahnya paling dekat dari sini Re. Jadi tak akan jadi masalah apabila ia pulang lebih lambat, lagipula setelah ini kita akan bersama-sama pergi ke mesjid.”
“Jadi ga nih? Kalau engga biar aku pulang aja.” Kata Azzam tiba-tiba menyela.
Fizhan yang mendengar hal itu pun sontak mendekati Azzam kemudian menarik tubuh bocah itu agar segera kembali dan duduk di gazebo. Meskipun sudah terbiasa dengan Irene namun Fizhan tetap tidak mau duduk berduaan tanpa orang ketiga di sana.
“Lagipula apa yang akan bapak lakukan dengan kakak itu?”
...***...
Bersambung
Comment, like & vote
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗