
“Eum eh engga. Maksudku itu anu- Ah sudah dulu ya, aku masih ada pekerjaan Assalamu’alaikum.”
Tuuuuut.
Sambungan terputus secara sepihak.
Fatimah kalang kabut. Ia sungguh tak menyangka jika kalimat itu akan benar-benar lolos dari mulutnya. Saat ini gadis itu hanya bisa merutuki kebodohannya seraya menerka-nerka apakah Fizhan mendengar kalimat tersebut atau tidak.
Di sisi lain seorang pria yang barusan mendengar deretan kata yang menurutnya sedikit ganjil itu terus mencerna hingga pada detik berikutnya ia mengerti bahwa sedang ada seorang gadis yang saat ini mencemburuinya.
“Fatimah cemburu padaku?” Fizhan berkata di dalam hati.
...***...
“Ah sayang kau ini baik sekali.” Lyroa merangkul lengan Sam sembari menenteng barang-barang belanjaannya di tangan sebelah. Setelah selesai makan di café tadi mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah mall terbesar di Kota Medan.
“Asalkan setelah ini akan ada imbalan untukku.” Sang empunya duit berkata seraya mengerlingkan sebelah mata.
“Kau ingin apa sayang?”
“Seperti biasa.”
“Eum baiklah, yang penting akan selalu ada barang-barang branded setiap harinya di lemariku.”
“Kau tenanglah. Pacarmu ini sangat kaya bukan?” Sam menowel dagu wanita yang saat ini masih keukeuh menggaet lengan kirinya.
Drrrt.
Drrrt.
Drrrt.
Tiba-tiba saja getaran handphone membuat Sam mengalihkan perhatiannya pada sebuah benda gepeng yang tersemat di dalam saku celana. Ia merogoh kain berlubang itu kemudian mengambil benda pipih tersebut dari dalam sana.
“Halo.”
“Aku sudah berada di sini.”
“Tunggu di sana!”
Tuuut.
“Sayang. Sepertinya kau harus pulang sendiri kali ini.” Sam kembali memberi perhatiannya yang sempat terhenti tadi pada Lyroa.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Aku harus segera menemui temanku. Ini kau ambil lah kunci mobilku, aku akan ke rumahmu setelah urusanku selesai.” Sam menyerahkan sebuah kunci kendaraan beroda empat kemudian berlalu meninggalkan Lyora.
...***...
“Mampus mampus mampus! Semoga saja Fizhan tak mencurigai bahwa sebenarnya aku mengikutinya sedari tadi.” Irene menghembus napas kasar. Saat ini ia telah berada di rumahnya sendiri sesaat sebelumnya sempat menyantap nasi gurih di sebuah warung kaki lima. Ya ampun, masih ada saja makanan pagi seperti itu sore-sore begini.
Gadis itu menarik kenop pintu kamar kemudian menyembulkan diri ke dalamnya. Sejenak bayangan wajah Fizhan menari-nari kembali di sana.
“Ck! Kenapa semakin lama aku selalu memikirkan pria itu sih! Ayo lah Re, kau tahu kalian berbeda bukan?” Irene mencampakkan dirinya ke atas ranjang sembarangan.
Akhir-akhir ini paras Fizhan memang sering sekali menghantui setiap aktivitasnya. Mulai dari bangun tidur hingga ingin tidur lagi dan bahkan pada saat buang air pun raut teduh lelaki itu bergelayut dan memadati isi otak Irene. Sebenarnya ia tidak suka berada dalam kondisi seperti ini terlebih dia memang sudah mengetahui siapa dirinya dan siapa Fizhan. Namun mau bagaimana? Dihapus secara paksa pun sepertinya tak akan berefek juga.
“Terserah lah mau bagaimana akhirnya nanti. Aku terlalu lelah untuk memikirkan semua ini, lebih baik aku tidur.” Irene mulai memejamkan matanya dan berangsur masuk ke dalam alam entah berantah.
...***...
“Hei Sam aku di sini.” Seorang pria beralis tebal melambaikan tangannya pada Sam dari kejauhan.
“Alan bodoh! Kupikir kau akan menungguku di tempat yang kita janjikan tadi.”
Hei! Apa tadi katanya? Alan? Jadi mereka, ah sudahlah.
“Di sana terlalu panas jadi aku mencari tempat teduh di sini.”
“Dasar lemah! Lalu untuk apa kau menemuiku di sini?”
“Ester?”
“Yaps!”
“Kau apakan anak itu sampai-sampai kau bisa menggali informasi darinya?”
“Ah targetmu itu terlalu polos, bahkan hanya dengan bualan busuk saja pun ia begitu mempercayainya.” Alan terkekeh geli.
Ternyata memang benar. Alan dan Sam memiliki rencana khusus di balik kedekatannya dengan Ester. Heum, kasihan wanita itu.
“Ceritakan padaku apa saja yang kau dapat.”
“Eits sepertinya tidak ada yang gratis di dunia ini.”
“Ck!” Sam berdecak kesal. Dia sangat tahu persis dengan apa yang diinginkan oleh lelaki dihadapannya itu. “Ini ambil lah.” Sam menyerahkan tujuh lembar uang seratusan kepada Alan.
Yang menerima pun sontak sumringai dan merasa puas. Ouh ternyata sangat mudah untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah di dunia ini. Lalu dengan senang hati Alan pun kemudian menceritakan apa-apa saja yang Ester bicarakan tadi mengenai sahabatnya, Irene.
“Jadi gadis itu memang benar-benar belum memiliki seorang kekasih?” Sam memegang dagunya sendiri sebelah tangan. Telinganya sudah cukup puas mendengar penjabaran dari Alan.
__ADS_1
“Ya, begitu info yang kuterima dari Ester tadi. Tapi jujur, sebenarnya aku belum tahu motif apa yang membuatmu melakukan hal ini.” Alan mengernyitkan dahi.
“Apa penting bagimu untuk tahu?”
“Tentu saja bodoh! Karena dengan begitu akan lebih mudah bagiku untuk melancarkan aksi.”
“Baiklah.” Sam memulai ceritanya. “Aku pernah berpacaran dengan sahabat Ester yang bernama Irene. Kau sudah tahu bukan orangnya? Aku sangat mencintainya dan bahkan sampai saat ini aku semakin mencintainya. Sebenarnya aku sudah pernah meminta bantuan pada Ester agar menyatukan aku dengan sahabatnya itu, namun dengan mentah-mentah ia menolakku kala itu. Namun aku tak kehabisan akal, aku kemudian menyuruhmu untuk mendekati Ester dan membuat wanita bodoh itu sangat cinta lalu takut kehilanganmu. Dan jika hal itu sudah terjadi, kau akan kuperintahkan untuk mendekati Irene secara terang-terangan di depan Ester. Dan kau tahu bukan apa yang akan terjadi bila seorang wanita sudah cemburu terlebih pada sahabatnya sendiri?”
“Dia akan melakukan hal apapun demi merebut kebahagiannya kembali.” Alan menjawab dengan pasti.
“Benar! Setelah Ester si bodoh itu benar-benar terbakar api dengan sahabatnya sendiri maka aku akan masuk ke tengah-tengah kalian lalu memintanya untuk membujuk Irene agar segera menerima cintaku kembali dengan dalih bahwa dia akan mendapatkan dirimu lagi. Dengan begitu impianku untuk menikahi Irene akan segera terwujud.”
“Lalu apa yang akan kulakukan setelah kau dengan Irenemu itu bersatu?”
“Tidak ada! Kau bisa segera mencampakkan Ester atau jika kau ingin lebih berlama-lama dengan gadis bodoh itu ya silahkan saja.” Sam menyugar rambutnya ke belakang.
Licik sekali! Ternyata ini yang direncanakan oleh pria berjambang rimbun itu.
“Kau menjadi Ester sebagai umpan kawan!”
“Memang. Ada masalah?”
“Apa kau yakin bahwa rencanamu akan berhasil?”
“Ester sudah mulai tertarik denganmu bukan?”
“Ya. Gadis bodoh itu mulai termakan bujuk rayuanku.”
“Dari situ saja kita sudah bisa mendapat jawabannya.” Sam berkata percaya diri. Picik sekali dia!
Dapat ditebak bahwa suatu saat akan terjadi pertengkaran hebat antara Ester dengan Irene. Kemudian Ester akan bekerjasama dengan Sam demi mendapatkan kembali Alannya yang berangsur pindah hati mendekati Irene.
Astaga! Kekejian semacam apa ini, cih!
...***...
Bersambung
Cuman mau bilang kalo aku nulis ini udah bener-bener di ambang rasa kantuk wkwk
Semua demi kalian para readers setia, supaya kalian bisa baca up terbaru dari cerita AKU KAU DAN ISLAM dari aku 😉
Jangan lupa comment, like & vote ya
Semoga kalian sehat selalu 🤗
__ADS_1
Selamat malam:)